Share

105. Masa SMA 9

Author: Mira Restia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-24 05:32:16

# Bab 9 — Kalimat yang Tertahan

## Denis

Akhir pekan setelah acara pameran, Sifa mengajak Denis bertemu di perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas bersama—bukan lagi soal mural, melainkan tugas kelompok biasa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Mereka duduk di meja sudut, dikelilingi rak-rak buku tinggi, dengan cahaya sore yang masuk lewat jendela besar di samping mereka.

"Kamu tenang banget orangnya," kata Sifa tiba-tiba, di sela mengerjakan soal. "Aku merhatiin dari awal kenal. Jarang ke
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Anak Selingkuhan Suamiku   121. Konsekuensi

    DenisMalam itu, setelah beberapa hari menimbang, Denis akhirnya duduk bersama Ririn, Rey, dan Azka di ruang keluarga, menceritakan detail kejadian di jalan pulang—Leo yang mendorongnya, Rendy yang menendang, dan ucapan-ucapan yang mereka lontarkan soal Maya dan asal-usulnya.Ririn mendengarkan dengan rahang mengeras, matanya berkaca-kaca menahan campuran marah dan sedih. "Kenapa nggak langsung cerita waktu itu?""Aku capek, Ma," jawab Denis, jujur. "Aku pikir kalau aku diem, semuanya bakal reda sendiri.""Kekerasan nggak boleh dibiarin reda sendiri, Denis," kata Rey, tegas. "Besok kita ke sekolah. Ketemu wali kelas, kalau perlu kepala sekolah."Azka menggenggam tangan kakaknya. "Aku temenin, Kak. Kita hadapin bareng."Denis mengangguk pelan, meski masih ada rasa cemas yang mengganjal di dadanya.---Keesokan harinya, Rey dan Ririn datang ke sekolah, ditemani Denis yang duduk di antara mereka di ruang kepala sekolah. Wali kelas Leo, Damar, dan Rendy juga hadir, wajah mereka tegang se

  • Anak Selingkuhan Suamiku   120. Kata-kata yang Tersembunyi

    Pagi setelah malam yang panjang itu, Denis bangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan, meski matanya masih sedikit bengkak sisa tangisan semalam.Ia turun ke ruang makan, mendapati Ririn sudah menyiapkan sarapan seperti biasa—nasi goreng dengan telur ceplok, menu yang sama sejak bertahun-tahun lalu, meski sekarang dengan tambahan sosis dan kerupuk sebagai pelengkap."Tidur nyenyak?" tanya Ririn, tersenyum lembut, meski matanya masih menyisakan sedikit kelelahan dari malam sebelumnya."Lumayan, Ma," jawab Denis, duduk di kursinya.Azka muncul tidak lama kemudian, disusul Rey yang sengaja mengambil cuti sehari untuk memastikan suasana rumah benar-benar tenang sebelum semua orang kembali ke rutinitas masing-masing.Sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya, meski ada kecanggungan kecil yang masih tersisa di udara."Kak," kata Azka akhirnya, memutuskan untuk langsung bertanya. "Kemarin, pas di rumah Ibu kandung Kakak... Kakak sempet nyebut soal Oma Siti. Katanya d

  • Anak Selingkuhan Suamiku   119. Kompak

    Rumah yang Menunggu, mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk situasi Denis saat ini, kehadirannya dintantikan oleh semua anggota keluarga. Karena bagi Ririn sekeluarga, Denis adalah bagian dari keluarga mereka. Motor Azka berhenti di depan rumah tepat ketika gerimis benar-benar berhenti, menyisakan udara malam yang basah dan sejuk. Lampu teras menyala terang, seolah sengaja dibiarkan menyala sejak tadi menunggu kepulangan mereka.Pintu terbuka sebelum Azka sempat mengetuk. Ririn berdiri di sana, matanya sembap, tapi begitu melihat Denis turun dari motor dalam keadaan basah namun utuh, ia langsung berlari menghampiri, memeluknya erat tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu."Maafin Denis, Ma," bisik Denis, suaranya bergetar di bahu Ririn. "Maaf udah bikin Mamah khawatir.""Yang penting kamu pulang," jawab Ririn, suaranya juga bergetar menahan tangis. "Yang penting kamu di sini."Mereka berpelukan cukup lama, membiarkan semua kekhawatiran yang menumpuk sejak sore mencair perlahan.D

  • Anak Selingkuhan Suamiku   118. Kembali Pulang

    DenisPintu terbuka pelan. Denis berdiri di baliknya, matanya membelalak kaget melihat siapa yang datang."Azka? Ngapain kamu ke sini?""Aku nyariin kamu, Kak!" Suara Azka bergetar, campuran antara lega dan marah. "Kamu tau nggak, Mamah panik banget di rumah. Aira lagi demam, Ayah Rey di luar kota, terus Kakak malah kirim pesan aneh terus ngilang!"Denis menunduk, tidak sanggup menatap wajah adiknya yang basah oleh gerimis dan air mata yang jelas ditahan sepanjang perjalanan.Dari dalam, Maya muncul di belakang Denis, menyipitkan mata memperhatikan Azka. "Siapa ini? Adikmu yang katanya, Nis?""Ini bukan urusan Ibu," potong Denis cepat, nadanya lebih tegas dari yang pernah Azka dengar sebelumnya.Maya mendengus, tapi tidak berkata apa-apa lagi, hanya berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang sulit ditebak—antara penasaran dan perhitungan.Azka melangkah maju, menatap kakaknya lurus-lurus. "Kak, pulang, yuk.""Aku udah bilang di pesan, Za," jawab Denis, suaranya pelan tapi keras ke

  • Anak Selingkuhan Suamiku   117. Petunjuk Dari Penjaga Makam

    AzkaSosok yang berdiri di kegelapan itu ternyata seorang bapak tua berjaket lusuh, membawa senter kecil dan sapu lidi—penjaga makam yang biasa berkeliling memeriksa area menjelang malam."Maaf, Pak, bikin kaget," kata Azka, menurunkan senternya, dadanya masih berdebar kencang. "Saya lagi nyari kakak saya."Bapak itu mengangguk pelan, menyipitkan mata memperhatikan wajah Azka yang basah oleh gerimis dan keringat dingin. "Anak muda seragam putih abu-abu? Yang tadi duduk lama di depan makam Bu Sinta itu?"Jantung Azka berdebar lebih cepat. "Iya, Pak! Bapak lihat dia ke mana perginya?""Saya lihat dia nangis sendirian cukup lama," kata bapak itu, nadanya prihatin. "Terus dia jalan kaki keluar gerbang, ke arah jalan besar. Sempat saya tegur, tanya mau ke mana, katanya mau ke rumah ibunya di daerah dekat pasar lama."Azka terdiam sejenak, mencerna kalimat itu. Rumah ibunya. Bukan rumah mereka."Ibu kandungnya, Pak?" tanya Azka, memastikan, meski hatinya sudah bisa menebak jawabannya.Bapak

  • Anak Selingkuhan Suamiku   116. Jejak Tengah Malam

    Jejak di Tengah MalamDenisDenis berdiri terpaku di depan rumah sempit milik Maya, ibu kandungnya. Tangannya terangkat, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu yang sudah terlihat tua itu. Ingatannya melayang ke masa kecil—satu bulan penuh ketakutan yang pernah ia lewati di tempat ini, sebelum Ririn datang menjemputnya dan membawanya pulang ke tempat yang aman.Sekarang aku nggak takut lagi, bisiknya dalam hati, menatap pintu itu dengan tegas. Aku udah bukan anak kecil yang nggak berdaya.Ia mengedarkan pandangan sekeliling. Dinding kusam, halaman sempit dan berantakan—jauh berbeda dari rumah Ririn yang luas dan sejuk. Namun ia menguatkan hati, lalu mengetuk sekali lagi."Siapa sih, malam-malam begini!" Suara wanita dari dalam terdengar kasar dan terganggu.Pintu terbuka. Maya berdiri di sana, matanya membelalak, lalu berkilat—bukan karena rindu, melainkan karena sesuatu yang lain, semacam harapan baru bagi dirinya sendiri."Denis! Masuk, Nak, ayo masuk!" Nada suaranya beru

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status