Chapter: 35. TAMAT Raina berbaring di rumah sakit. Kini dirinya sedang dipasang selang tempat mengalirnya air kencing. Karena nantinya, selama satu sampai dua hari dirinya akan kesulitan untuk menggerakkan badan, hanya bisa berbaring, termasuk tidak akan sanggup jika pergi ke kamar mandi. Masih merasa mimpi, akhirnya dia mengulangi lagi kejadian tujuh tahun lalu, dia harus menjalani oprasi Caesar yang ke dua. Perasaanya kembali resah, tidak jauh beda saat melahirkan Zian dulu. Bedanya adalah, kini dia bebas menggenggam tangan Devan tanpa rasa canggung. Bahkan dia tanpa rasa malu mencubit lengan Devan jika sedang ketakutan. "Aawww ...." teriak Devan. Suster mendongak menatap Devan sambil tersenyum. Tadinya dia heran kenapa Raina yang sedang dipasang selang tapi malah Devan yang teriak, rupanya pasien nya tersebut, sedang meluapkan rasa takut dengan mencubit dan meremas lengan suaminya. "Rileks saja, Bu Raina
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-08-11
Chapter: 34. Infinity PoolDevan dan Raina meluncur berdua ke dalam infinity pool di hotel dengan view menghadap ke laut. Mereka baru akan menikmati pantai sore hari.Raina bahagia bisa berenang bersama suaminya. Raina harus akui, dia terpesona melihat tubuh kekar suaminya saat meluncur dan berenang dengan berbagai gaya. Hingga dia merasa minder dan berdiam diri di pojokan, padahal sebenarnya Raina juga bisa mengimbangi Devan."Rain! Sini, Sayang!"Raina berenang ke tengah, mendekat ke arah Devan, lalu lanjut berenang tak jauh dari posisi Devan berada. Saat tubuhnya di dalam air semua beban pikiran sejenak menghilang diganti dengan kepuasan batin. Sesekali, Devan akan menggoda Raina dengan menangkapnya di dalam air."Bahagia banget ya keliatannya mereka. Gua kapan sama pasangan kaya gitu?" Arka terpaksa bermonolog, ingin mengobrol sama temannya Raina tapi dari tadi Naya jaga jarak.
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-08-10
Chapter: 33. Asal usul tak Jelas Raina memasuki rumah itu lagi, di mana dia menghabiskan waktu kecil dengan suka cita dan bermakna. Walaupun, pada akhirnya dia didepak juga oleh orang baru yang berstatus istri muda dari Arman. Arman dulu sudah merawat Raina dengan baik, mengenalkan Raina pada musik, menyekolahkan di Sekolah ternama, membuat gadis itu berprestasi di usia muda dengan attitude yang bagus. Dalam hatinya, dia ingin Raina kembali. Atau paling tidak, ingin Raina mengunjunginya sambil membawa Zian dan Devan. Tapi Rachel melarangnya."Nona Raina!" sapa seorang asisten rumah tangga yang dulunya dekat dengan Raina. Matanya berbinar saat melihat anak majikannya sudah datang."Mbak Surti apa kabar?""Alhamdulillah, baik, Nona." Surti melihat ke arah Zian, secara alami matanya menggoda balita yang berada di pangkuan Raina. "Lucu sekali anaknya, Non. Sudah b
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-08-10
Chapter: 32. PenjaraRaina lega, ternyata Devan tidak selingkuh dengan Kirana. Tapi dia masih bingung kenapa Dhaka dan Kirana sampai bisa berpacaran. Dia pikir wanita yang ambisius seperti Kirana tidak bisa berpaling pada Devan."Abang serius Kirana dan Dhaka ada hubungan? Aku kaget dengernya, loh.""Aku juga awalnya gak percaya, tapi mereka memang sering nginep bareng.""Aku lega. Itu artinya Bang Dev gak selingkuh sama Kirana. Aku kira semalam kalian habis ngapain."Devan baru sadar Raina tahu lebih banyak dari yang dia pikirkan, dia nampak kesal. "Rain, kamu buka-buka hape, Abang?""Iya. Salah sendiri kenapa semalam bikin orang curiga.""Aku sayang sama kamu, apapun yang aku lakukan itu semua demi kamu. Kalau aku belum cerita apa pun itu karena aku nunggu waktu yang tepat. Bagaimana pun aku gak mau kamu stres berlebihan, aku tahu kamu pasti traum
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-07-30
Chapter: 31. Pesan dari KiranaKirana mengirim pesan pada Devan. Sebuah video, rekaman suara beserta chat yang lumayan panjang. Dia menulis dengan cepat, supaya Dhaka tidak melihatnya. Dhaka menginap di rumah Kirana malam ini. Kirana sudah menyuruh Dhaka pulang, tapi pria itu tidak mau pulang.Lalu, setelah 15 menit berlalu Devan membalas pesan itu. "Makasih banyak, Kirana."Setelah mendapat balasan, Kirana berniat kembali ke kamarnya. Bukan hal baik jika dia terus berada di sini. Tapi, sepertinya sudah terlambat. Dhaka sudah berada di belakang Kirana, melihat semua aktifitas Kirana."Penghianat, berani lo kirim chat sama Abang." Dhaka merebut gawai Kirana. Dia menjambak rambut Kirana, lalu mendorongnya hingga tersungkur. Melemparkan gawai ke wajah Kirana lalu memukul wanita itu.Tidak puas meluapkan emosi, dia menjatuhkan benda apa pun yang dia lihat. Menghampiri Kirana kembali dan menamparnya.
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-07-30
Chapter: 30. Butuh Keadilan Devan duduk di samping Petra yang sedang berbaring. Wajahnya risau menatap ke arah ayahnya yang sudah terlelap tidur dengan tangan di infus. Ada kecewa di hati Devan pada sikap Petra yang menyembunyikan rahasia besar tentang kelakuan Dhaka. Ingin marah, tapi dia tahan karena kondisi Petra yang sedang sakit. Petra terbangun karena tak tenang tidurnya. Saat dia membuka mata, dia melihat wajah anaknya sedang muram, menahan kesal. Petra tak tahu ada hal apa yang membuat anaknya berprilaku seperti itu. "Kamu kenapa Devan?" Devan terperanjat. Dia mendengkus berusaha menahan segalanya tapi gagal. Dia terlalu tertekan dengan kondisi istrinya. "Devan udah tahu tentang kelakuan Dhaka ayah. Devan kecewa kenapa ayah melindungi Dhaka. Berapa puluh kali ayah memaklumi kesal
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-07-05
Chapter: EXTRA PART - POV LUCASAku seakan bermimpi, saat membuka mata di pagi hari, dan yang pertama kali aku lihat adalah sosok wanita yang kucinta. Dulu, dia mengisi hati ini kemudian pergi dengan membawa luka. Aku tidak bisa mencegahnya walaupun sudah berusaha menahannya. Dia tidak setuju dengan tawaran yang aku berikan. Tawaran untuk berpoligami. Entahlah, aku merasa tidak ada yang salah waktu itu. Hatiku tetap ada untuknya. Lalu sudah aku katakan berulang kali bahwa menikahi wanita lain hanya sebatas alasan yang mendesak. Bukankah pria mempunyai hak jika mampu? Tapi istriku tidak mau peduli dengan apa pun alasannya. Amanda mantanku, dia kembali setelah cukup lama tidak berjumpa. Dia datang dengan tidak berdaya, sakit dan menyedihkan. Dia memintaku untuk melindunginya. Karena katanya, tidak ada satu pria pun yang mencintai wanita lumpuh dengan tulus. Karena akulah penyebab dia kecelakaan. Aku merasa bersalah mendengar kata-katanya. Dia memukul terus kakinya yang pincang, dan ha
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-07-05
Chapter: 62. TAMATSemua mata tertuju padaku bukan karena pernyataan Lucas, tapi karena aku tersedak dengan tiba-tiba. Wajahku pasti terlihat konyol saat ini, aku malu. Lucas memberiku segelas air putih dan aku menandaskannya dengan segera. Saat ada kalimat selamat yang terlontar dari mulut mereka secara bergantian, hatiku belum sepenuhnya sadar. Seakan Lucas sedang membuat konten prank di Chanel YouTube untuk menjahiliku. Tapi saat aku melirik ke arahnya dia nampak serius. Kami pulang. Sepanjang perjalanan pulang Lucas nampak tersenyum. Pria gila itu selalu berhasil mewujudkan keinginannya. Sementara aku mendadak gugup, tak berselera untuk bicara namun jiwaku terasa hangat. Walau caranya membuat aku jengkel, tapi aku suka saat dia meminta aku kembali jadi miliknya. Lucas menerima panggilan telepon, entah dari siapa. Namun raut wajahnya nampak lesu dan risau. "Huh, merepotkan!" umpat Lucas. "Ada apa?" tanyaku ragu-ragu. "Papah masuk rumah sakit, dia pecah pembul
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-06-12
Chapter: 61. Lucas Membawaku BersamanyaAku paham, butuh waktu cukup lama untuk seseorang memahami isi hati orang lain. Begitupun bagi Andrean, meskipun Lucas sudah merangkul dan meminta maaf. Dia mematung, tidak ada minat sedikitpun untuk berbicara dengan Lucas. Tak lama dia memilih pulang. Dia hanya pamit kepadaku dan tidak menanggap Lucas ada di dekatnya. Lucas menatap punggung Andrean hingga menghilang. Tertunduk dan melamun, mungkin saja Lucas ingin hubungannya baik seperti dulu kala. Menjalani masa kecil bersama, sekolah dan masuk universitas yang sama dan kini hubungannya retak hanya karena masalah hati. Aku paham pahitnya ditinggalkan sahabat sendiri. Cukup lama aku dan Lucas berada di ruang yang sama namun memilih saling diam dari tadi. Akhirnya Lucas menatap ke arahku dan tersenyum. "Flora, lagi sibuk? Apa bisa minta waktumu sebenar saja buat ikut denganku?" Aku tersenyum, tidak biasanya dia meminta waktuku dengan sesopan itu. Lucas berkata kembal
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-06-09
Chapter: 60. Membesarkan Anak SendiriAku melempar pakaian Lucas ke lantai di kamar. "Cepat pakai pakaianmu! Memalukan! Mentang-mentang tidak ada Renata, so merasa jadi anak muda? Jangan coba-coba tebar pesona padaku! Tidak akan mempan." "Siapa yang tebar pesona? Terus menurutmu, cara pakai handuk seorang bapak satu anak bagaimana? Apa dililitkan di leher, hah? Atau diikat pada dua kaki seperti orang yang sedang diculik penjahat? Kamu akan lebih menjerit histeris jika melihat aku seperti itu." Ah sialan, kenapa Lucas berkata seperti itu aku malah membayangkan Lucas melilitkan handuk ke leher dan kaki. Aku jadi frustrasi membayangkan visual aneh itu. Sepertinya Lucas melangkah mengambil pakaiannya yang tercecer. Entahlah, setelah dengar ocehannya aku langsung menutup pintu tanpa menatap ke arahnya. Kemudian aku menyeduh macchiato untuk kami berdua. Lucas keluar kamar dengan stelan casual warna denim. Seingatku, pakaian itu aku yang pilihkan, belanja di online shop saat ada diskon dan grati
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-06-08
Chapter: 59. Roti Sobek LucasLucas menggendong Andrean. "Mau kita buang ke mana pria brengsek ini?"Aku teramat resah, masa iya Lucas mau membuang Andrean seperti barang bekas. Apa mungkin dia akan melempar Andrean ke lapangan yang tandus seperti halnya membuang Amanda kemarin itu?"Jangan becanda, Lucas." Aku mengikuti langkah Lucas yang pelan karena beban di punggungnya."Kamu parkir mobil di mana?" tanya Lucas."Aku gak bawa mobil, mobil ada di parkiran Cofee Shop. By the way, aku hanya berniat membawa Andrean ke pinggir dekat pohon itu. Kita bisa taruh dia di sana saja, lalu pura-pura tidak tahu apa yang terjadi." Aku menunjuk pohon besar yang di depannya terdapat tong sampah."Andrean tidak akan muat jika masuk ke tempat sampah sekecil itu. Kita butuh TPS berukuran besar.""Ayolah, Lucas! Kamu tahu sendiri maksudku adalah taruh Andrean di pinggir pohon, supaya tidak menghalangi jalan. Bukan menaruh Dean di tong sampah."Lucas tersenyum, sambil terus berjalan
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-06-05
Chapter: 58. Mantan Suami ReseSejenak, aku merasa diri ini kehilangan akal sehat karena membiarkan mantan suami mengecup puncak kepalaku. Dan bisa-bisanya aku memejamkan mata menahan degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Bibir Lucas enggan berpindah selama beberapa menit, mungkin dia keterusan. Aku membuka mata, tersentak saat melihat ada orang yang lewat sehingga tanpa sengaja menyundul kepala Lucas. Menyisir rambut dengan jari, dan merapikan posisi baju yang hampir kusut. Aku hampir melupakan Lucas yang sedang meringis menahan sakit pada bibir. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya, dengan ekspresi bodoh sedang menahan sakit. Lucas menatapku. "Agghh ... dasar cewek preman! Lihat ini! lukaku bertambah lagi di bibir. Apa bedanya kamu dengan scurity di kantor Papah?" Sembarangan, bisa-biaanya Lucas menyamakan aku dengan scurity kantor yang bertubuh besar. "Suruh siapa kamu begitu lancang mencium kepalaku? Lagian kamu pikir kepalaku juga tidak sakit beradu dengan
ปรับปรุงล่าสุด: 2021-06-04
Chapter: BAB 47. Sup AsinPonselku bergetar tepat jam 9 pagi. Layarnya nyala. Nama "Ibu Mira" muncul."Assalamualaikum, Bu," sapaku, berusaha terdengar cerah padahal semalam kepalaku masih mumet mikirin kata "anak tetangga"."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa?" suara Bu Mira riang seperti biasa, seolah insiden kemarin nggak pernah ada."Baru beres nyuapin Denis Azka sarapan, Bu," jawabku sambil melirik dua bocah itu yang lagi rebutan mobil-mobilan di lantai."Nak, siang ini Ibu ada arisan ibu-ibu PKK di rumah. Datang ya, ajak Denis Azka. Biar rame. Rumah sepi kalau cuma Ibu sama Rey," ajak Bu Mira.Tanganku berhenti mengusap kepala Denis. Arisan PKK? Aku bukan warga sini. Statusku masih "calon" juga belum jelas."Bu, Ririn nggak enak... Ririn kan bukan warga sini. Nanti malah canggung," tolakku halus.Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Astagfirullah, Nak. Calon keluarga masa nggak boleh ikut arisan. Ibu yang ngundang, tanggung jawab Ibu. Lag
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-09
Chapter: BAB 46. Iga SapiPonselku bergetar di tas aku mengambil ponsel dan nama "Mamahnya Rey" muncul di layar. Jantungku berdebar pelan. "Assalamualaikum, Bu," sapaku begitu kutekan tombol hijau."Waalaikumsalam, Nak Ririn. Lagi apa? Suaranya rame," suara Bu Mira hangat seperti biasa.Aku melirik keranjang belanja. Isinya sabun mandi dan pasta gigi anak-anak. "Lagi di supermarket, Bu. Denis sama Azka minta beli pasta gigi rasa stroberi."Bu Mira tertawa kecil dari seberang. "Anak-anak pinter. Eh Nak, main lagi ke rumah ya. Kali ini ajak Denis sama Azka, ya. Kita masak bareng-bareng lagi kayak minggu lalu."Aku tersenyum. "Iya, Bu. Ririn ajak Denis dan Azka. Mumpung mereka libur.""Alhamdulillah.""Oh iya Bu, mau sekalian Ririn belanjain bahan-bahannya? Biar Ibu nggak repot-repot keluar lagi," tawar Ririn."Apa, ya? Tunggu!" Suara Bu Mira melangkah, mungkin sedang mengecek kulkas.Lalu, terdengar Bu Mira berbicara pada seseora
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-08
Chapter: BAB 45. Adik IparBu Mira tersenyum padaku. "Ririn, main dulu ya sampai sore. Sore Keisha pulang, biar kalian kenalan."Aku mengangguk. "Iya, Bu. Denis sama Azka udah dijemput Om Alif ke rumah Kakek. Jadi saya santai."Aku duduk di meja makan depan, menikmati tiramisu buatan Bu Mira. Manisnya lumer, tapi obrolan dengan Bu Mira dan Rey lebih manis lagi. Kami ketawa soal Rey yang tadi pagi gagal motong wortel.Suasana hangat itu pecah saat suara ceria terdengar dari depan. "Assalamualaikum!"Keisha datang. Berlari kecil ke arah Rey, memeluk lengan abangnya. "Bang Rey! Kangen!" Tapi begitu matanya menangkap aku, langkahnya berhenti. Senyumnya luntur. Ia jadi dingin. Hanya mengangguk singkat. "Oh... ada tamu."Perubahan itu terlalu terasa. Dadaku langsung sesak. Insecure menyelinap tanpa izin. Bu Mira langsung berdiri. "Keisha, salim dulu sama calon kakak ipar kamu."Keisha menurut. Ia menjabat tanganku. Dingin. Kaku. Seperti forma
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-07
Chapter: BAB 44 Rumah ReyIbu Rey berdiri dari sofa. Langkahnya anggun meski usianya sudah tidak muda lagi. Beliau mengulurkan tangan, tersenyum hangat. "Salam kenal, Ririn. Aku Mira, ibunya Rey."Aku menyambut uluran tangannya. Jabatannya lembut, tapi terasa tulus. "Salam kenal juga, Bu Mira.""Rey sering cerita tentang kamu," kata Bu Mira, matanya berbinar. "Katanya kamu perempuan kuat, mandiri, masakannya enak."Aku tersipu. Wajahku panas. "Rey... suka melebih-lebihkan, Bu."Bu Mira tertawa kecil. Ia mempersilahkanku duduk, lalu membukakan toples kue di meja. Kue kering, brownies, dan tiramisu. Ia menyerahkan toples padaku. "Ini buatan Ibu sendiri. Coba, ya, Rin."Aku mengambil kue itu. "Terima kasih, Bu.""Di depan kamu ada tiramisu sama aneka pastry," lanjut Bu Mira. "Ini produk dari toko kecil Ibu yang berada dekat dari rumah ini. Kata Rey, kamu suka tiramisu. Jadi Ibu produksi lebih banyak. Biar kamu bisa makan kapan pun kamu mau."
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-07
Chapter: BAB 43. Aku MilikmuMasih di restoran. Azka dan Denis makan dessert dengan serius. Sendok kecil mereka menyendok tiramisu lapis demi lapis, seakan sedang mengerjakan ujian. Aku hanya tersenyum melihatnya, lalu menyuap tiramisu di piringku pelan. Manisnya lumer di lidah, tapi pikiranku melayang pada kata-kata Rey barusan.Rey meletakkan sendoknya. Ia menatapku. "Ririn... aku mau perkenalkan kamu sama ibu aku."Tanganku berhenti di tengah jalan. Garpu yang menahan tiramisu bergetar kecil. Aku tertegun. Belum siap. Tapi aku tidak bicara. Hanya menunduk, menatap dessert yang mulai meleleh.Rey menyadari reaksiku. "Kenapa? Kamu seperti nggak suka?"Aku menggeleng pelan. "Belum siap, Rey. Terlalu cepat."Aku melamun. Bayangan lama datang tanpa izin. Bu Sinta. Ibu mertuaku dulu. Setiap kali aku masak, selalu ada komentarnya. "Sayurnya kurang asin." "Masakanmu hambar." "Ibu yang nggak becus." "Parenting anakmu aneh-aneh." Tidak ada yang benar di matanya. Bahkan hal kecil pun bisa jadi masalah besar.Rasanya ses
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-06
Chapter: BAB 42 KalungKeesokan harinya.Pagi Bekasi datang tanpa suara. Matahari naik pelan, menyelinap lewat celah tirai. Aku duduk di sofa, memeluk bantal. Di meja, ponselku bergetar.Nama Rey muncul di layar.Jari-jariku berhenti. Aku menatap nama itu lama. Antara menolak atau menerima. Antara mempertahankan gengsi atau mengubur rasa penasaran yang semalaman tidak bisa tidur.Tiga dering. Empat dering. Akhirnya aku angkat. Suaraku keluar pelan, seperlunya, seformal mungkin. "Halo."Seberang sana, napas Rey terdengar lebih dulu sebelum kata. "Udah sarapan belum?" katanya, basa-basi. "Azka sama Denis udah bangun?" Nada suaranya hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas pecahan kaca.Aku menjawab singkat. "Udah. Udah bangun."Di dalam hati aku menggerutu. _Bukannya sudah dibilang jangan telepon kalau tidak penting? Kenapa Rey keras kepala sekali?_ Tapi kata-kata itu hanya berputar di kepalaku. Tidak sampai ke bibir.Hening. Hanya suara napas kami yang saling bersahutan lewat sambungan telepon. Mun
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-06
Chapter: 90. Suara Berisik dari GudangSiska tak bisa lagi menepis rasa curiganya. Ia berjalan perlahan menuju gudang belakang, telinganya menangkap suara gesekan benda dari dalam. Awalnya ia mengira itu tikus, namun tak lama terdengar suara batuk tertahan yang jelas berasal dari manusia. Dengan hati berdebar kencang, Siska mengetuk pintu pelan—ia sengaja tak bersuara, berharap orang di dalam akan mengira itu Riko dan membukanya sendiri. Benar saja, pintu gudang terdorong terbuka dari dalam. Kepala Ratna menyembul, wajahnya berharap. "Mana makananku?" tanyanya pelan. Seketika Ratna tersentak dan hendak membanting pintu kembali saat menyadari yang berdiri di depan adalah Siska, bukan mantan suaminya. Namun Siska sudah lebih cepat bereaksi, menahan pintu dengan sekuat tenaga lalu melompat masuk. "Jadi benar ada orang jahat yang kau sembunyikan di sini!" bentak Siska meledak. Tanpa pikir panjang, Siska langsung menyerang. Mereka bergulat di tengah ruangan yang berdebu, saling menjambak rambut dengan kasar. Ratna y
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-12
Chapter: 89. Gudang BerdebuRatna, ibu kandung Savana, berhasil melarikan diri hingga ke pinggiran kota. Ia bergegas menuju rumah mantan suaminya, Riko—satu-satunya orang yang ia harap masih mau menolongnya. Beruntung, saat mengetuk pintu, hanya Riko yang ada di rumah; istrinya Siska sedang pergi berbelanja dan belum pulang. "Riko! Tolong aku..." bisik Ratna terengah-engah begitu pintu terbuka. Riko terkejut melihat kehadiran wanita itu, namun melihat wajah Ratna yang ketakutan dan penuh air mata, ia akhirnya mengangguk pelan. Tanpa banyak tanya, ia menuntun Ratna masuk dan menyembunyikannya di dalam gudang belakang yang gelap dan berdebu—tempat yang jarang disentuh istrinya. "Di sini dulu saja. Siska tidak boleh tahu kamu ada di sini," bisik Riko singkat sebelum menutup pintu gudang rapat-rapat. Berjam-jam Ratna menunggu di sana dengan perut lapar dan tubuh gemetar. Menjelang malam, Riko datang diam-diam membawa nasi hangat, lauk, camilan, serta baju ganti bersih. Ia meletakkannya di lantai di depan Rat
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-12
Chapter: 88. Kandungan ViancaPagi itu Vianca sedang duduk di teras sambil membaca buku, saat sebuah mobil tua berhenti perlahan di depan pagar. Seorang wanita paruh baya turun dengan wajah pucat dan gemetar—ia adalah ibu kandung Savana. Tanpa menunggu dipersilakan, ia berlari masuk dan langsung bersujud di kaki Vianca, menangis tersedu-sedu. "Kumohon... kumohon tarik kembali tuntutan itu, Nak! Savana anak tungguku, dia tidak kuat hidup di penjara. Dia pasti hancur kalau harus tinggal di sana!" Ia menyodorkan sebuah amplop tebal. "Ini... ini uang ganti rugi sebesar apa pun yang kamu minta. Tolong lepaskan anakku!" Vianca menggeleng pelan namun tegas, mencoba bangkit dari duduknya. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Jika Savana bebas, saya khawatir dia akan kembali mengganggu saya dan keluarga. Hukum harus berjalan adil. Dan uang ini... saya tidak butuh." Penolakan itu membuat wanita itu seketika berubah amarah. Ia bangkit dengan kasar, matanya melotot penuh emosi. "Kamu keras kepala sekali! Kamu mau menghancurkan masa
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-12
Chapter: 87. Makan Malam dan InsidenMalam itu meja makan di rumah baru Zeva dan Vianca terasa hangat dengan canda tawa berempat. Setelah menyantap hidangan, Reno mulai bercerita dengan jujur tanpa tedeng aling-aling tentang awal mula mereka dekat: mulai dari kejadian mabuk di depan rumah, nyanyian sumbang, sampai kesalahpahaman yang sempat memisahkan mereka sebentar. Zeva tertawa paling keras, bahkan sampai menepuk-nepuk meja karena gemas sekaligus geli mendengar tingkah konyol temannya itu. "Wah, benar-benar tidak pernah berubah ya kamu, Reno! Dikira tenang dan kaku, ternyata awal mulanya penuh kebodohan begitu!" ledek Zeva sambil menghapus air mata tawa. Lalu Zeva menoleh pada Silvi dengan tatapan jahil. "Terus bagaimana rasanya ya, Silvi? Mendengarkan nyanyian Reno yang terkenal itu?" Silvi langsung tertawa tertahan, matanya melirik Reno sekilas yang sudah memerah mukanya malu. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu menjawab pelan namun membuat semua makin tertawa: "Saya... saya tidak berani berkomentar, Pak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-12
Chapter: 86. Cincin untuk SilviPagi itu udara pegunungan terasa sejuk dan segar, embun masih menempel di daun-daun halaman. Reno menunggu di pinggir sawah tak jauh dari rumah, hingga Silvi berjalan mendekat dengan wajah yang masih tampak ragu dan sedih. Reno segera menyambutnya, berdiri tegak di hadapan Silvi dengan tatapan tulus. "Silvi, maafkan aku ya," buka Reno pelan namun tegas. "Lukisan yang kamu lihat itu cuma sisa kenangan lama yang lupa kubuang. Saat itu aku memang mengagumi Vianca, tapi itu sudah selesai jauh sebelum aku mendekatimu. Aku tidak pernah, sedikit pun tidak pernah menjadikanmu pelampiasan. Justru sejak ada kamu, aku sadar kalau hatiku sudah sepenuhnya beralih padamu." Reno merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan cincin berkilau yang indah. "Silvi, aku sudah membuang lukisan itu. Dan sekarang, aku ingin mengikat hatiku hanya untukmu saja. Maukah kamu menerima lamaranku? Menjadi istriku, dan menua bersamaku selamanya?"
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-12
Chapter: 85. Lukisan ituReno kembali ke ruang kerjanya, matanya langsung tertuju pada tumpukan berkas di meja. Ia menyadari posisi lukisan itu sudah bergeser dari tempat semula—seketika ia paham apa yang terjadi. "Itu dia..." gumamnya pelan. Ia ingat betul lukisan itu memang buatannya dulu, tapi setelah hatinya berpindah ke Silvi, ia belum sempat merapikan atau membuangnya. Ia tak menyangka benda lama itu justru menimbulkan kesalahpahaman besar. Tanpa ragu, Reno segera mengambil lukisan itu, berjalan ke tempat sampah, dan membuangnya dengan pasti. Tak ada lagi yang tersisa dari masa lalu yang tak perlu ia simpan. Namun masalah belum selesai: Silvi masih hilang. Reno langsung menyetir ke kontrakan Silvi, mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban. Ia bertanya pada tetangga, tapi tak satu pun yang tahu ke mana gadis itu pergi. Dengan tangan gemetar Reno menekan nomor Vianca. "Vianca... Silvi tidak masuk kerja, tidak ada di rumahnya, dan tak ada yang tahu keberadaannya. Apa kamu tahu sesuatu?"
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-11