Pagi itu udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Aku sibuk di dapur, tangan ini bergerak tanpa henti. Menyiapkan baju ganti, melipat jaket, memasukkan sepatu kecil Denis ke dalam tas. Satu persatu. Seolah dengan kesibukan, aku bisa menahan sesak yang sejak semalam mengendap di dada.Lanjut ke kompor. Memasak ayam teriyaki, menuang susu, membungkus bekal. Aromanya seharusnya menenangkan. Tapi tidak pagi ini.Dari teras, suara tawa kecil itu pecah, cerah seperti matahari yang belum berani muncul sempurna. "Mamah! Mamah!" Tanpa sadar aku menjawab, suaraku terlalu cepat, terlalu berharap. "Apa, Sayang! Bentar, Mamah masih di dapur!"Aku pikir dia memanggilku. Aku pikir untuk sesaat, aku masih jadi "Mamah" yang dia cari. Aku buru-buru menghampiri, jantungku berdetak lebih kencang dari langkahku. Mengintip dari sela jendela.Ternyata Denis sedang menggenggam ponsel. Layar menyala. Di seberang sana, wajah seorang perempuan tersenyum. Bukan aku.Tanganku meremas celemek di pinggang samp
Last Updated : 2026-06-29 Read more