MasukTiba-tiba, suara langkah sepatu pantofel terdengar nyaring di tengah keheningan.Jantung Arra berdegup lebih kencang. Tubuhnya menegang, mencoba menebak siapa yang datang diam-diam di jam seperti ini. Ia ingin menoleh, tapi rasa takut menahannya. Ingatannya melayang pada cerita-cerita horor yang pernah Dinda ceritakan.Dan tepat saat itu, sebuah tangan menyentuh bahunya.“Ah!” Arra berjengkit kaget. Ia langsung menoleh untuk melihat siapa pelakunya.Dan ternyata…Sosok itu adalah Niko. Arra seketika menghela napas lega setelah menyadari siapa yang datang. Namun kebingungan segera menyusul. Mengapa Niko belum pulang di jam segini? Kenapa pria itu ikut lembur seperti dirinya?“Kak Niko belum pulang?” tanya Arra dengan raut bingung.Niko tersenyum tipis. Sebenarnya, ia tidak tega meninggalkan Arra sendirian di tempat ini. Terlebih lagi, Arra harus pulang larut hanya karena mengerjakan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya. Karena itu, Niko sengaja menyelesaikan pekerjaannya yang seharus
Dengan langkah berat dan hati yang dongkol, Arra menaiki lantai atas. Ia yakin semua ini pasti berhubungan dengan sesuatu, meski ia tak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya kali ini hingga Revan melampiaskan amarah kepadanya.Begitu memasuki ruangan CEO, udara seolah membeku. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena aura dingin pria yang duduk di balik meja besar itu. Revan sama sekali tidak menatap Arra. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, wajahnya kaku tanpa ekspresi.“Duduk,” perintah Revan dingin.Arra menuruti, duduk di kursi di hadapan Revan.“Pak, maaf… soal tugas audit itu, apa tidak ada kesalahan? Jumlahnya sangat banyak, Pak. Saya rasa tidak mungkin bisa selesai malam ini.”Revan menghentikan ketikannya. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap Arra dengan sorot mata tajam yang membuat nyali Arra seketika menciut.“Kamu keberatan?” tanya Revan datar.“Bukan keberatan, Pak. Tapi…” Arra menelan ludah. “Kasihan anak saya. Dia sendirian di rumah dan harus menungg
Revan membanting tabletnya ke atas meja dengan keras.Brak!Guncangannya membuat kopi di dalam cangkir bergoyang sebelum akhirnya tumpah sedikit, menodai taplak meja putih bersih. Rahang Revan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya memburu, cepat dan berat, dipacu oleh panas yang membakar dadanya.“Sialan,” desisnya.Ia berusaha menetralkan perasaan cemburu yang menyerangnya saat melihat Arra pergi bersama pria lain. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, pikiran itu justru kian mengusik. Revan benar-benar tidak suka melihat Arra tertawa bersama Niko. Terlebih karena sampai saat ini Arra masih menjaga jarak darinya. Sikap itu menimbulkan rasa iri yang menyengat. Arra bersikap berbeda padanya, meski Revan sudah berusaha mendekat dengan cara yang baik. Namun Arra tetap menghindar.Revan tahu, Niko adalah pria baik. Pria yang telah menjaga Arra selama dua tahun terakhir di perusahaan ini, jauh sebelum Revan menjabat. Apalagi Niko terlihat begitu akrab dengan Rafa. Fakta it
Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit Jakarta. Cahayanya jatuh tanpa ampun, seolah mengejek kekalutan hati Arra yang masih diselimuti mendung, sisa tangisan semalam yang belum sepenuhnya mengering.“Mami! Rafa udah siap!” seru Rafa dari arah teras, berlari kecil dengan ransel yang hampir lebih besar dari punggungnya sendiri.Arra menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia berjongkok, merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.“Pinter banget anak Mami. Yuk, kita berangkat. Nanti keburu telat.”Mereka melangkah keluar rumah, meninggalkan keheningan pagi yang masih setengah terjaga.Baru saja tiba di pinggir jalan raya untuk menunggu taksi, sebuah mobil SUV berwarna silver menepi perlahan di depan mereka. Suaranya halus, nyaris tak mengganggu hiruk-pikuk pagi yang mulai ramai.Kaca jendela diturunkan. Wajah Niko yang ramah dan menenangkan muncul dari balik kemudi, disertai senyum khas yang selalu terasa hangat.“Pagi, Arra. Pagi juga, Rafa,” sapanya.Arra tertegun sejenak.“Kak Niko
“Papi? Kok bisa nggak suka?” Rafa mengernyit heran. “Padahal enak, tahu. Kalau Om Revan, suka nggak pizza keju mozzarella?”Revan menatap Arra dengan ragu. Seolah tengah menimbang apakah harus mengiyakan atau tidak. Faktanya, ia memang benar-benar tidak menyukai keju mozzarella. Namun, apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu Rafa bahwa dirinya adalah ayah kandungnya?Sebelum Revan sempat menjawab dengan jujur, ponselnya berdering. Nama asistennya, Kevin, terpampang di layar. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan itu.Arra mengembuskan napas lega. Hampir saja ia membongkar rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia merutuki ucapannya sendiri, terdengar seperti sedang menantang Revan. Ia lupa bahwa pria itu selalu jujur, dan jika Revan menjawab apa adanya, Rafa pasti akan kebingungan. Anak itu bisa saja curiga, menyamakan selera Revan dengan sosok papi yang selama ini ia ceritakan. Padahal papi itu adalah Revan sendiri.“Baik, saya akan ke sana,” ucap Revan datar sebelum mematikan
Revan duduk di samping Rafa yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. Sementara itu, Arra mengambilkan piring untuk Revan dan menyerahkannya pada pria tersebut. Dengan wajah antusias, Revan menyendok nasi goreng buatan Arra ke piringnya, lalu menghirup aromanya perlahan. Harumnya masih sama seperti dulu.Pemandangan dua pria di hadapannya menikmati nasi goreng buatannya membuat hati Arra mengembang bahagia. Ia ingin sekali menghentikan waktu, mengabadikan momen sederhana antara ayah dan anak itu. Dari cara mereka makan hingga kebiasaan mengelap sudut bibir saat ada sisa makanan, semuanya terasa begitu mirip. Tanpa perlu tes DNA, Arra tahu, kebiasaan Revan menurun sempurna pada Rafa.Bahkan cara mereka meminum air dari gelas pun sama. Jari kelingking keduanya terangkat tanpa sadar. Arra menghela napas lirih. Ia yang mengandung sembilan bulan dan membesarkan Rafa selama lima tahun, namun hampir semua kemiripan justru berasal dari Revan.Satu-satunya sifat Rafa yang ia rasa menurun







