Masuk"Udah selesai?" tanya Arya. "Udah," jawab Laras dan Dina hampir bersamaan. "Mau balik sekarang?" tanya Arya lagi. Laras melirik ke Dina sesaat, lalu menganggukkan kepalanya. "Boleh."Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat parkir. Seperti biasa, Arya mengantar Laras dan Dina pulang terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih santai dibanding saat mereka berangkat. Sesekali Dina menyela percakapan ringan antara Laras dan Arya, sementara Arya sendiri tampak belum bisa menyembunyikan kebahagiaannya.Setibanya di depan rumah, Arya turun lebih dulu untuk membukakan pintu."Hati-hati ya," ucap Arya.Laras tersenyum kecil. "Iya."Arya lalu menoleh ke arah Dina."Kamu juga. Jangan tidur terlalu malam."Dina mengangguk sambil tersenyum kecil. "Siap, Pak."Setelah berpamitan, Arya kembali masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan perlahan meninggalkan halaman rumah.Laras dan Dina sengaja berdiri beberapa saat di teras sebelum akhirnya masuk k
"Kamu, serius?" tanya Arya. Ia masih memandangi Laras beberapa saat setelah jawaban yang ia tunggu-tunggu itu ke luar dari bibir wanita tersebut.Senyumnya pun belum juga hilang. Seolah-olah, ia ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi dan bukan hanya harapan yang selama ini ia simpan sendiri.Laras tertawa kecil. "Barusan aku bilang apa?""Aku cuma mau mastiin kalo aku nggak salah denger, Ras," ucap Arya, masih menatap lurus ke arah Laras. "Mau aku ulang jawabannya sampe lima kali?"Arya menggeleng pelan sambil tertawa. Raut wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat jauh lebih ringan.Dina yang melihat keduanya langsung menghela napas panjang."Aku seneng Ibu ambil jawaban yang tepat.""Oh ya? Kamu keliatan paling lega ya, Din?" tanya Laras."Iya. Soalnya kalian kalo nggak digerakkin, lama banget."Arya dan Laras langsung saling pandang."Bener kan?" lanjut Dina.Arya mengangguk tanpa merasa perlu membela diri."Mungkin emang bener.""Tuh, kan..."Mereka bertiga akhir
"Nah, kita udah sampe," ucap Arya. Setelah tiga puluh menit dalam perjalanan dari rumah Laras, mobil akhirnya memasuki area parkir restoran. Namun begitu turun dari mobil, Laras langsung menyadari sesuatu yang berbeda. Biasanya, restoran yang dimiliki Arya itu, cukup ramai pada jam makan malam. Tapi malam ini justru terlihat sangat sepi. Ketika mereka masuk ke dalam, Laras semakin heran. Seluruh area utama restoran kosong. Lampu-lampu dibuat lebih redup dengan pencahayaan hangat yang nyaman di mata. Beberapa rangkaian bunga segar menghiasi sudut ruangan. Dari arah panggung kecilc terdengar alunan piano yang dimainkan secara langsung. Laras menoleh ke arah Arya. Sedangkan Dina justru terlihat menahan senyum. Senyum penuh arti yang sudah ia tau jawabannya. "Kok sepi banget ya?" tanya Laras. Arya terlihat tenang. "Memang." "Maksud kamu?" tanya Laras, dengan kening berkerut. "Nanti juga kamu tau jawabannya." Laras semakin curiga dengan sikap Arya. Namun ia tidak bert
"Dina...""Apa sih, Bu? Aku kan cuma nanya," tanya Dina, seolah ia tidak paham dengan sikapnya barusan. "Kamu tuh, seneng banget ngeledek Ibunya sendiri."Dina malah tertawa kecil. "Gemes banget sama kalian berdua. Udah sih Bu, langsung nikah aja.""Kamu nih, kalo nih kalo ngomong seenaknya aja. Bukannya dipikir dulu.""Itu udah dipikirin lama Bu, cuma Ibunya aja yang lama geraknya.""Bener-bener nih, kamu gemesin banget sih, Din..."Dina kembali tertawa. "Terus gimana? Masih lama nggak Bu, Pak Arya datengnya?"Laras menggelengkan kepala sebelum akhirnya berkata, "Sebentar lagi juga dia bakal sampe. Barusan sih dia bilang sepuluh menit lagi.""Oh, gitu."Dan, benar saja. Tidak sampai lima menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti dari halaman depan rumah."Itu kayaknya Pak Arya deh, Bu," ucap Dina.Mereka berdua berjalan menuju teras. Sedangkan Arya baru saja turun dari mobil ketika melihat mereka keluar dari rumah."Selamat malam Ras, Din," sapa Arya sambil tersenyum."Malam,"
"Astaga!" ucap Doni, pelan. "Sampe lupa nawarin minum," lanjutnya. Ia membuka matanya seketika dan mengusap wajahnya sekali lagi sebelum akhirnya mengangkat tangan memanggil pelayan. "Mbak, minta bill ya." Pelayan mengangguk sopan lalu berjalan menuju kasir. Sedangkan Doni kembali bersandar di bangku. Pandangannya tanpa sadar jatuh pada kursi kosong yang tadi ditempati Lila. Ia baru menyadari satu hal. Sejak tadi Lila duduk di sana, ia tidak sempat menawari minum. Padahal biasanya, hal sederhana seperti itu tidak pernah ia lupakan. Ia mengembuskan napas panjang. Bukan karena menyesal atas keputusan yang baru saja ia ambil. Namun karena ia sadar betapa besar rasa emosi yang menderanya hingga akhirnya hal itu benar-benar mengambil alih dirinya. Beberapa menit kemudian, struk tagihan yang ia minta datang. "Makasih, ya," ucap Doni, setelah membayarnya. "Sama-sama, Pak." Setelah selesai, ia bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan restoran. Cuaca di luar mulai
"Hmm..," gumam Doni pelan. Tadi, ia sempat diam beberapa saat. Namun kini, tatapannya jatuh ke meja yang berada di antara mereka berdua. Kopi yang tinggal sedikit dan tadi masih hangat, kini hampir dingin seluruhnya. Ia mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya menegakkan duduknya kembali dan menghembuskan napas panjang."Aku udah mikirin ini dari tadi. Menurut aku, yang paling baik sekarang adalah kita anggap kejadian semalam berhenti sampai di sini."Lila mengangkat pandangannya perlahan. Matanya masih merah karena menangis cukup lama. Ia hanya terdiam mendengar ucapan Doni. Karena, meski sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, tetap saja kalimat itu terasa berat saat mendengarnya langsung dari mulut Doni."Cukup kita berdua yang tau. Dan biarkan masalah ini selesai di antara kita berdua."Suasana kembali hening.Doni menatap lurus ke arahnya sebelum melanjutkan pembicaraan. "Mulai sekarang hubungan kita cukup sebatas rekan kerja. Di kantor kita kerja seperti biasa. Tapi







