LOGINHari orang tuaku bercerai, hujan turun deras. Ada dua surat perjanjian di atas meja. Satu untuk ikut bersama ayah yang gila judi dan berutang di wilayah Kota Tua. Satu lagi untuk ikut ibu yang menikah lagi dengan pengusaha kaya ke daerah pesisir. Di kehidupan sebelumnya, adikku menangis tersedu-sedu karena ingin ikut ibu, sementara aku diam-diam mengemas koper untuk mengikuti ayah. Kemudian, ayah berhenti berjudi dan menjadi orang kaya baru karena uang ganti rugi lahan. Dia benar-benar memanjakan aku. Sedangkan adikku justru diabaikan di rumah ayah tirinya dan dilarang keluar rumah, hingga akhirnya dia meninggal karena depresi. Saat mengulang waktu kembali, adikku tiba-tiba merebut rokok dari tangan ayah dan memeluknya erat-erat seolah tidak mau melepaskannya. "Kak, aku kasihan sama ayah. Kamu pergi aja ke sana buat hidup enak, biar aku yang kasih nasib baik ini buat kamu." Ayah terpana sejenak, lalu dengan perasaan lega mengusap kepala adikku. Aku tidak mengatakan apa pun, lalu mengambil tiket kendaraan ke daerah pesisir itu. Tapi, dia tidak tahu kalau di kehidupan sebelumnya ayah bisa berhenti berjudi. Itu karena aku yang menderita tumor otak ini rela bekerja sampai muntah darah demi melunasi utangnya. Pakai nyawaku sendiri baru bisa membuat dia bertobat.
View MoreKondisi tubuhku makin memburuk setiap harinya.Penglihatanku mulai kabur. Aku sering tidak bisa mengenali wajah orang dengan jelas.Aku hanya bisa mengenali mereka lewat suaranya saja.Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak seperti buah persik.Dia mulai percaya Tuhan dan setiap hari merapal doa di dalam kamar rawat.Katanya untuk mendoakan keselamatanku.Aku malah gusar mendengar doa-doa itu."Bu, nggak usah doa lagi," kataku."Kalau Tuhan beneran punya mata, Tuhan nggak bakal biarin aku nanggung semua penderitaan ini."Ibu tertegun, kitab sucinya terjatuh ke lantai."Riana...""Aku mau makan iga asam manis." Aku memotong bicaranya."Iya, iya, Ibu pulang sekarang buat masakin."Ibu dengan panik memungut kitab sucinya dan berlari keluar.Aku tahu, aku sudah tidak bisa makan lagi.Aku cuma ingin menyuruhnya pergi karena aku ingin tenang sebentar.Di dalam ruangan hanya tersisa aku dan Tonny."Om Tonny," panggilku."Iya." Dia menulis di telapak tanganku.Memberitahuku kalau dia ada di
Ibu benar-benar hancur.Dia menatapku, lalu menjerit histeris dan jatuh pingsan.Rumah menjadi kacau balau, Tonny segera menelepon ambulans.Dia mengirim ibu dan Rika ke rumah sakit.Aku juga ikut pergi ke sana.Karena hidungku kembali mimisan dan tidak bisa berhenti.Dokter memberikan penanganan darurat kepadaku.Rongga hidungku penuh gumpalan kapas, sehingga aku hanya bisa bernapas melalui mulut.Di ruang rawat, ibu sudah sadar.Dia duduk di tepi ranjangku sambil menatap surat diagnosis itu dan menangis tersedu-sedu."Kenapa? Kenapa bisa jadi begini?""Kamu 'kan masih kecil banget...""Kenapa kamu nggak bilang dari awal ke Ibu?""Ibu salah... Ibu bener-bener salah..."Dia menggenggam tanganku, air mata dan ingusnya membasahi tanganku.Aku menatapnya, tapi hatiku ternyata tidak merasa terusik sedikit pun."Bu, jangan nangis lagi," kataku dengan suara yang agak sengau. "Berisik."Ibu segera membekap mulutnya, tidak berani mengeluarkan suara.Hanya saja air matanya masih terus mengalir.
"Dokter bilang, kalau nggak ditangani, sewaktu-waktu bisa..."Dia tidak menyelesaikannya, tapi aku mengerti.Sewaktu-waktu bisa mati."Baguslah." Aku tersenyum tipis. "Lebih cepat dari bayanganku."Tonny menatap senyumku, sorot matanya tampak sedih."Riana, kamu baru 18 tahun.""Kenapa emangnya kalau 18 tahun?""Ada orang yang hidup sampai 80 tahun pun cuma jadi mayat hidup.""Aku hidup 18 tahun, udah cukup."Tepat saat itu, terdengar keributan dari lantai bawah.Ada suara ibu, juga suara tangisan histeris."Bu, aku nggak mau hidup lagi, aku nggak mau hidup lagi."Suara Rika, dia datang.Aku mengernyitkan dahi.Tonny berdiri."Kamu rebahan aja, aku turun buat lihat.""Aku juga mau ikut." Aku menyibakkan selimut."Kamu...""Aku mau lihat."Aku ingin melihat seberapa hancur Rika di kehidupan ini setelah dihajar oleh kenyataan.Tonny tidak melarangku.Dia memapahku, berjalan pelan menuruni tangga.Ruang tamu berantakan sekali.Rika berlutut di lantai. Sekujur tubuhnya luka-luka, wajahnya
"Aku nggak bakal mohon," kataku.Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Kepalaku sampai terlempar ke samping, telingaku berdenging kencang.Tepat di saat itu, terdengar dengusan dingin dari arah pintu."Siapa yang suruh kamu mukul dia?"Tonny berdiri di sana, wajahnya muram dan sangat menakutkan.Ibu seketika panik."Ton... Tonny, kok kamu udah pulang?"Tonny melangkah masuk, melihat wajahku yang merah dan bengkak.Dia juga melihat buku yang tergeletak di lantai."100 juta, aku kasih," ucapnya tiba-tiba.Ibu kegirangan. "Beneran? Makasih ya, Tonny."Aku tersentak dan mendongak menatapnya.Namun, Tonny tidak melihat ibu, dia hanya menatapku.Tatapannya mengandung makna dalam yang hanya aku yang mengerti."Anggap aja buat beli ketenangan."Dia memungut buku di lantai, menepuk-nepuk debunya, lalu meletakkannya di atas meja."Lagian, aku mau lihat, setelah adikmu dapat duit itu, dia bakal bikin ayahmu makin manja kayak apa.""Kadang, kasih duit itu bukan berarti menolong.""Tapi ngantar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.