Short
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

By:  NenasCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
197views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari orang tuaku bercerai, hujan turun deras. Ada dua surat perjanjian di atas meja. Satu untuk ikut bersama ayah yang gila judi dan berutang di wilayah Kota Tua. Satu lagi untuk ikut ibu yang menikah lagi dengan pengusaha kaya ke daerah pesisir. Di kehidupan sebelumnya, adikku menangis tersedu-sedu karena ingin ikut ibu, sementara aku diam-diam mengemas koper untuk mengikuti ayah. Kemudian, ayah berhenti berjudi dan menjadi orang kaya baru karena uang ganti rugi lahan. Dia benar-benar memanjakan aku. Sedangkan adikku justru diabaikan di rumah ayah tirinya dan dilarang keluar rumah, hingga akhirnya dia meninggal karena depresi. Saat mengulang waktu kembali, adikku tiba-tiba merebut rokok dari tangan ayah dan memeluknya erat-erat seolah tidak mau melepaskannya. "Kak, aku kasihan sama ayah. Kamu pergi aja ke sana buat hidup enak, biar aku yang kasih nasib baik ini buat kamu." Ayah terpana sejenak, lalu dengan perasaan lega mengusap kepala adikku. Aku tidak mengatakan apa pun, lalu mengambil tiket kendaraan ke daerah pesisir itu. Tapi, dia tidak tahu kalau di kehidupan sebelumnya ayah bisa berhenti berjudi. Itu karena aku yang menderita tumor otak ini rela bekerja sampai muntah darah demi melunasi utangnya. Pakai nyawaku sendiri baru bisa membuat dia bertobat.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku mengangkat tas anyamanku.

"Sana pergi, cari aja ibumu yang mata duitan itu."

Ayah mengibaskan tangan, seolah sedang mengusir lalat.

Rika bersembunyi di balik punggung ayah sambil menjulurkan lidah ke arahku.

Mulutnya komat-kamit mengejek, "Kak, nanti jangan sampai berlutut mohon-mohon pinjam duit ke aku ya."

Aku tersenyum tipis tanpa berkata-kata.

Lalu berbalik dan berjalan menembus hujan.

Aku mengerutkan leher, merasa hawa dingin menusuk sampai ke sela-sela tulang.

Sebenarnya pergi ke mana pun sama saja.

Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk menghabiskan sisa waktuku.

Tidak perlu lagi mendengar suara gedoran pintu dari para penagih utang si pejudi itu.

Tidak perlu lagi mencium bau asap rokok murahan yang memuakkan itu.

Mobil Mercedes-Benz hitam milik ibu terparkir di ujung gang.

Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan wajah ibu yang terawat dengan baik.

Dia mengernyit menatapku yang basah kuyup, sorot matanya penuh rasa jijik.

"Kok bisa jadi begini? Cepetan naik, jangan sampai mobilnya kotor."

Aku membuka pintu kursi belakang dan baru saja mau duduk.

"Taruh tas itu di bagasi."

Ibu menunjuk tas anyaman di tanganku. "Kotor banget, entah udah kena bakteri apa aja."

Aku tertegun sejenak.

Tapi, aku tetap menurut dan menutup pintu, lalu meletakkan tas itu ke dalam bagasi.

Saat naik kembali ke mobil, aku sebisa mungkin meringkuk di sudut, tidak berani menyentuh jok kulitnya.

Pemanas di dalam mobil sangat hangat, tapi aku tetap merasa dingin.

"Riana, kalau udah sampai di sana, kamu harus tahu diri."

Ibu bicara sambil menyetir, sesekali melirikku dari spion tengah.

"Ayah tirimu nggak suka keributan, kalau nggak ada perlu jangan keluar kamar."

"Makan jangan mengecap, jalan jangan menyeret kaki."

"Terus, jangan bahas ayahmu. Bawa sial."

Aku menatap tirai hujan yang melesat di balik jendela, lalu mengangkuk.

"Iya, Bu."

Rasa sakit seperti tusukan duri di otakku muncul lagi.

Pandanganku sempat menggelap sekejap, aku pun memegang dahi.

"Kenapa kamu?" Ibu bertanya dengan nada tidak sabar.

"Nggak apa-apa, cuma mabuk perjalanan."

"Cuma mabuk perjalanan," jawabku.

Ibu mendengus dingin. "Sama aja kelakuannya kayak ayahmu."

Aku memejamkan mata, menelan kembali rasa amis manis yang naik ke tenggorokan.

Kehidupan selanjutnya, benar-benar tidak mau datang lagi.

Mobil berjalan lima jam.

Langit sudah gelap total, baru memasuki kawasan vila di lereng gunung itu.

Lampunya terang benderang, tapi terasa mati.

"Udah sampai."

Ibu memarkir mobil, memoles lipstik, lalu menarik napas panjang.

Dia sedang mengatur keadaan.

Dari wanita ketus padaku, berubah jadi istri yang lembut dan perhatian.

"Turun yuk, inget panggil om."

Aku menenteng tas anyaman dan mengikutinya di belakang.

Di sofa ruang tamu duduk seorang pria.

Kakinya ditutupi selimut, tangannya memegang buku.

Dia mendongak begitu mendengar suara.

Inilah ayah tiriku, Tonny Johan.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status