Se connecterKondisi tubuhku makin memburuk setiap harinya.Penglihatanku mulai kabur. Aku sering tidak bisa mengenali wajah orang dengan jelas.Aku hanya bisa mengenali mereka lewat suaranya saja.Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak seperti buah persik.Dia mulai percaya Tuhan dan setiap hari merapal doa di dalam kamar rawat.Katanya untuk mendoakan keselamatanku.Aku malah gusar mendengar doa-doa itu."Bu, nggak usah doa lagi," kataku."Kalau Tuhan beneran punya mata, Tuhan nggak bakal biarin aku nanggung semua penderitaan ini."Ibu tertegun, kitab sucinya terjatuh ke lantai."Riana...""Aku mau makan iga asam manis." Aku memotong bicaranya."Iya, iya, Ibu pulang sekarang buat masakin."Ibu dengan panik memungut kitab sucinya dan berlari keluar.Aku tahu, aku sudah tidak bisa makan lagi.Aku cuma ingin menyuruhnya pergi karena aku ingin tenang sebentar.Di dalam ruangan hanya tersisa aku dan Tonny."Om Tonny," panggilku."Iya." Dia menulis di telapak tanganku.Memberitahuku kalau dia ada di
Ibu benar-benar hancur.Dia menatapku, lalu menjerit histeris dan jatuh pingsan.Rumah menjadi kacau balau, Tonny segera menelepon ambulans.Dia mengirim ibu dan Rika ke rumah sakit.Aku juga ikut pergi ke sana.Karena hidungku kembali mimisan dan tidak bisa berhenti.Dokter memberikan penanganan darurat kepadaku.Rongga hidungku penuh gumpalan kapas, sehingga aku hanya bisa bernapas melalui mulut.Di ruang rawat, ibu sudah sadar.Dia duduk di tepi ranjangku sambil menatap surat diagnosis itu dan menangis tersedu-sedu."Kenapa? Kenapa bisa jadi begini?""Kamu 'kan masih kecil banget...""Kenapa kamu nggak bilang dari awal ke Ibu?""Ibu salah... Ibu bener-bener salah..."Dia menggenggam tanganku, air mata dan ingusnya membasahi tanganku.Aku menatapnya, tapi hatiku ternyata tidak merasa terusik sedikit pun."Bu, jangan nangis lagi," kataku dengan suara yang agak sengau. "Berisik."Ibu segera membekap mulutnya, tidak berani mengeluarkan suara.Hanya saja air matanya masih terus mengalir.
"Dokter bilang, kalau nggak ditangani, sewaktu-waktu bisa..."Dia tidak menyelesaikannya, tapi aku mengerti.Sewaktu-waktu bisa mati."Baguslah." Aku tersenyum tipis. "Lebih cepat dari bayanganku."Tonny menatap senyumku, sorot matanya tampak sedih."Riana, kamu baru 18 tahun.""Kenapa emangnya kalau 18 tahun?""Ada orang yang hidup sampai 80 tahun pun cuma jadi mayat hidup.""Aku hidup 18 tahun, udah cukup."Tepat saat itu, terdengar keributan dari lantai bawah.Ada suara ibu, juga suara tangisan histeris."Bu, aku nggak mau hidup lagi, aku nggak mau hidup lagi."Suara Rika, dia datang.Aku mengernyitkan dahi.Tonny berdiri."Kamu rebahan aja, aku turun buat lihat.""Aku juga mau ikut." Aku menyibakkan selimut."Kamu...""Aku mau lihat."Aku ingin melihat seberapa hancur Rika di kehidupan ini setelah dihajar oleh kenyataan.Tonny tidak melarangku.Dia memapahku, berjalan pelan menuruni tangga.Ruang tamu berantakan sekali.Rika berlutut di lantai. Sekujur tubuhnya luka-luka, wajahnya
"Aku nggak bakal mohon," kataku.Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Kepalaku sampai terlempar ke samping, telingaku berdenging kencang.Tepat di saat itu, terdengar dengusan dingin dari arah pintu."Siapa yang suruh kamu mukul dia?"Tonny berdiri di sana, wajahnya muram dan sangat menakutkan.Ibu seketika panik."Ton... Tonny, kok kamu udah pulang?"Tonny melangkah masuk, melihat wajahku yang merah dan bengkak.Dia juga melihat buku yang tergeletak di lantai."100 juta, aku kasih," ucapnya tiba-tiba.Ibu kegirangan. "Beneran? Makasih ya, Tonny."Aku tersentak dan mendongak menatapnya.Namun, Tonny tidak melihat ibu, dia hanya menatapku.Tatapannya mengandung makna dalam yang hanya aku yang mengerti."Anggap aja buat beli ketenangan."Dia memungut buku di lantai, menepuk-nepuk debunya, lalu meletakkannya di atas meja."Lagian, aku mau lihat, setelah adikmu dapat duit itu, dia bakal bikin ayahmu makin manja kayak apa.""Kadang, kasih duit itu bukan berarti menolong.""Tapi ngantar
Tanganku yang sedang memegang bidak catur mendadak kaku, jantungku serasa berhenti berdetak.Dia sudah tahu.Lagi pula, di rumah ini, selama dia ingin tahu, tidak akan ada yang bisa disembunyikan."Om bongkar barang-barangku?" Suaraku terasa kering."Kamu sendiri yang nggak nyembunyiin dengan baik."Tonny menarik tangannya, bersandar pada sandaran sofa dengan ekspresi datar."Tumor otak stadium akhir, bisa mati kapan aja.""Kenapa nggak berobat?"Aku tidak perlu pura-pura lagi, toh sudah ketahuan."Nggak ada duit, dan nggak mau berobat juga."Aku menatapnya dengan tenang."Sembuh pun cuma bakal menderita, mending cepet bebas."Tonny terdiam cukup lama."Botol obat di tempat sampah ruang kerjaku, kamu pasti udah lihat juga, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.Aku pun tidak membantah."Iya, udah lihat.""Itu obat buat orang mati." Tonny tertawa mengejek diri sendiri."Aku juga orang yang sebentar lagi mati."Di saat itu, ketegangan yang menyesakkan di udara lenyap begitu saja."Kalau ibumu tahu,
Tonny punya rahasia, aku tahu itu.Karena di tempat sampah ruang kerjanya, aku pernah melihat botol obat yang sama denganku.Itu obat pereda nyeri dosis tinggi, khusus untuk pasien kanker stadium akhir.Hari itu ibu menyuruhku mengantar buah ke ruang kerja.Tonny tidak ada, dia pergi ke rumah sakit untuk cuci darah.Aku pun meletakkan piring buah dan baru saja mau pergi saat melihat botol putih yang familier di keranjang sampah.Aku memungut dan memperhatikannya.Itu botol ibuprofen, tapi isinya tablet morfin.Trik ini juga pernah aku pakai.Memasukkan obat penyelamat nyawa ke dalam botol vitamin biasa, membohongi diri sendiri juga orang lain.Ternyata, ayah tiri yang terlihat berkuasa itu ....Pria yang disebut Rika sebagai monster berdarah dingin itu, juga sedang menanggung siksaan neraka sendirian.Aku meletakkan kembali botol itu dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.Malamnya, Tonny pulang.Wajahnya lebih pucat dari biasanya, langkah kakinya agak limbung.Ibu menghampirinya, hendak







