Teilen

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada
Nenas

Bab 1

Nenas
Aku mengangkat tas anyamanku.

"Sana pergi, cari aja ibumu yang mata duitan itu."

Ayah mengibaskan tangan, seolah sedang mengusir lalat.

Rika bersembunyi di balik punggung ayah sambil menjulurkan lidah ke arahku.

Mulutnya komat-kamit mengejek, "Kak, nanti jangan sampai berlutut mohon-mohon pinjam duit ke aku ya."

Aku tersenyum tipis tanpa berkata-kata.

Lalu berbalik dan berjalan menembus hujan.

Aku mengerutkan leher, merasa hawa dingin menusuk sampai ke sela-sela tulang.

Sebenarnya pergi ke mana pun sama saja.

Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk menghabiskan sisa waktuku.

Tidak perlu lagi mendengar suara gedoran pintu dari para penagih utang si pejudi itu.

Tidak perlu lagi mencium bau asap rokok murahan yang memuakkan itu.

Mobil Mercedes-Benz hitam milik ibu terparkir di ujung gang.

Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan wajah ibu yang terawat dengan baik.

Dia mengernyit menatapku yang basah kuyup, sorot matanya penuh rasa jijik.

"Kok bisa jadi begini? Cepetan naik, jangan sampai mobilnya kotor."

Aku membuka pintu kursi belakang dan baru saja mau duduk.

"Taruh tas itu di bagasi."

Ibu menunjuk tas anyaman di tanganku. "Kotor banget, entah udah kena bakteri apa aja."

Aku tertegun sejenak.

Tapi, aku tetap menurut dan menutup pintu, lalu meletakkan tas itu ke dalam bagasi.

Saat naik kembali ke mobil, aku sebisa mungkin meringkuk di sudut, tidak berani menyentuh jok kulitnya.

Pemanas di dalam mobil sangat hangat, tapi aku tetap merasa dingin.

"Riana, kalau udah sampai di sana, kamu harus tahu diri."

Ibu bicara sambil menyetir, sesekali melirikku dari spion tengah.

"Ayah tirimu nggak suka keributan, kalau nggak ada perlu jangan keluar kamar."

"Makan jangan mengecap, jalan jangan menyeret kaki."

"Terus, jangan bahas ayahmu. Bawa sial."

Aku menatap tirai hujan yang melesat di balik jendela, lalu mengangkuk.

"Iya, Bu."

Rasa sakit seperti tusukan duri di otakku muncul lagi.

Pandanganku sempat menggelap sekejap, aku pun memegang dahi.

"Kenapa kamu?" Ibu bertanya dengan nada tidak sabar.

"Nggak apa-apa, cuma mabuk perjalanan."

"Cuma mabuk perjalanan," jawabku.

Ibu mendengus dingin. "Sama aja kelakuannya kayak ayahmu."

Aku memejamkan mata, menelan kembali rasa amis manis yang naik ke tenggorokan.

Kehidupan selanjutnya, benar-benar tidak mau datang lagi.

Mobil berjalan lima jam.

Langit sudah gelap total, baru memasuki kawasan vila di lereng gunung itu.

Lampunya terang benderang, tapi terasa mati.

"Udah sampai."

Ibu memarkir mobil, memoles lipstik, lalu menarik napas panjang.

Dia sedang mengatur keadaan.

Dari wanita ketus padaku, berubah jadi istri yang lembut dan perhatian.

"Turun yuk, inget panggil om."

Aku menenteng tas anyaman dan mengikutinya di belakang.

Di sofa ruang tamu duduk seorang pria.

Kakinya ditutupi selimut, tangannya memegang buku.

Dia mendongak begitu mendengar suara.

Inilah ayah tiriku, Tonny Johan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 9

    Kondisi tubuhku makin memburuk setiap harinya.Penglihatanku mulai kabur. Aku sering tidak bisa mengenali wajah orang dengan jelas.Aku hanya bisa mengenali mereka lewat suaranya saja.Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak seperti buah persik.Dia mulai percaya Tuhan dan setiap hari merapal doa di dalam kamar rawat.Katanya untuk mendoakan keselamatanku.Aku malah gusar mendengar doa-doa itu."Bu, nggak usah doa lagi," kataku."Kalau Tuhan beneran punya mata, Tuhan nggak bakal biarin aku nanggung semua penderitaan ini."Ibu tertegun, kitab sucinya terjatuh ke lantai."Riana...""Aku mau makan iga asam manis." Aku memotong bicaranya."Iya, iya, Ibu pulang sekarang buat masakin."Ibu dengan panik memungut kitab sucinya dan berlari keluar.Aku tahu, aku sudah tidak bisa makan lagi.Aku cuma ingin menyuruhnya pergi karena aku ingin tenang sebentar.Di dalam ruangan hanya tersisa aku dan Tonny."Om Tonny," panggilku."Iya." Dia menulis di telapak tanganku.Memberitahuku kalau dia ada di

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 8

    Ibu benar-benar hancur.Dia menatapku, lalu menjerit histeris dan jatuh pingsan.Rumah menjadi kacau balau, Tonny segera menelepon ambulans.Dia mengirim ibu dan Rika ke rumah sakit.Aku juga ikut pergi ke sana.Karena hidungku kembali mimisan dan tidak bisa berhenti.Dokter memberikan penanganan darurat kepadaku.Rongga hidungku penuh gumpalan kapas, sehingga aku hanya bisa bernapas melalui mulut.Di ruang rawat, ibu sudah sadar.Dia duduk di tepi ranjangku sambil menatap surat diagnosis itu dan menangis tersedu-sedu."Kenapa? Kenapa bisa jadi begini?""Kamu 'kan masih kecil banget...""Kenapa kamu nggak bilang dari awal ke Ibu?""Ibu salah... Ibu bener-bener salah..."Dia menggenggam tanganku, air mata dan ingusnya membasahi tanganku.Aku menatapnya, tapi hatiku ternyata tidak merasa terusik sedikit pun."Bu, jangan nangis lagi," kataku dengan suara yang agak sengau. "Berisik."Ibu segera membekap mulutnya, tidak berani mengeluarkan suara.Hanya saja air matanya masih terus mengalir.

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 7

    "Dokter bilang, kalau nggak ditangani, sewaktu-waktu bisa..."Dia tidak menyelesaikannya, tapi aku mengerti.Sewaktu-waktu bisa mati."Baguslah." Aku tersenyum tipis. "Lebih cepat dari bayanganku."Tonny menatap senyumku, sorot matanya tampak sedih."Riana, kamu baru 18 tahun.""Kenapa emangnya kalau 18 tahun?""Ada orang yang hidup sampai 80 tahun pun cuma jadi mayat hidup.""Aku hidup 18 tahun, udah cukup."Tepat saat itu, terdengar keributan dari lantai bawah.Ada suara ibu, juga suara tangisan histeris."Bu, aku nggak mau hidup lagi, aku nggak mau hidup lagi."Suara Rika, dia datang.Aku mengernyitkan dahi.Tonny berdiri."Kamu rebahan aja, aku turun buat lihat.""Aku juga mau ikut." Aku menyibakkan selimut."Kamu...""Aku mau lihat."Aku ingin melihat seberapa hancur Rika di kehidupan ini setelah dihajar oleh kenyataan.Tonny tidak melarangku.Dia memapahku, berjalan pelan menuruni tangga.Ruang tamu berantakan sekali.Rika berlutut di lantai. Sekujur tubuhnya luka-luka, wajahnya

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 6

    "Aku nggak bakal mohon," kataku.Satu tamparan keras mendarat di wajahku.Kepalaku sampai terlempar ke samping, telingaku berdenging kencang.Tepat di saat itu, terdengar dengusan dingin dari arah pintu."Siapa yang suruh kamu mukul dia?"Tonny berdiri di sana, wajahnya muram dan sangat menakutkan.Ibu seketika panik."Ton... Tonny, kok kamu udah pulang?"Tonny melangkah masuk, melihat wajahku yang merah dan bengkak.Dia juga melihat buku yang tergeletak di lantai."100 juta, aku kasih," ucapnya tiba-tiba.Ibu kegirangan. "Beneran? Makasih ya, Tonny."Aku tersentak dan mendongak menatapnya.Namun, Tonny tidak melihat ibu, dia hanya menatapku.Tatapannya mengandung makna dalam yang hanya aku yang mengerti."Anggap aja buat beli ketenangan."Dia memungut buku di lantai, menepuk-nepuk debunya, lalu meletakkannya di atas meja."Lagian, aku mau lihat, setelah adikmu dapat duit itu, dia bakal bikin ayahmu makin manja kayak apa.""Kadang, kasih duit itu bukan berarti menolong.""Tapi ngantar

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 5

    Tanganku yang sedang memegang bidak catur mendadak kaku, jantungku serasa berhenti berdetak.Dia sudah tahu.Lagi pula, di rumah ini, selama dia ingin tahu, tidak akan ada yang bisa disembunyikan."Om bongkar barang-barangku?" Suaraku terasa kering."Kamu sendiri yang nggak nyembunyiin dengan baik."Tonny menarik tangannya, bersandar pada sandaran sofa dengan ekspresi datar."Tumor otak stadium akhir, bisa mati kapan aja.""Kenapa nggak berobat?"Aku tidak perlu pura-pura lagi, toh sudah ketahuan."Nggak ada duit, dan nggak mau berobat juga."Aku menatapnya dengan tenang."Sembuh pun cuma bakal menderita, mending cepet bebas."Tonny terdiam cukup lama."Botol obat di tempat sampah ruang kerjaku, kamu pasti udah lihat juga, 'kan?" tanyanya tiba-tiba.Aku pun tidak membantah."Iya, udah lihat.""Itu obat buat orang mati." Tonny tertawa mengejek diri sendiri."Aku juga orang yang sebentar lagi mati."Di saat itu, ketegangan yang menyesakkan di udara lenyap begitu saja."Kalau ibumu tahu,

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 4

    Tonny punya rahasia, aku tahu itu.Karena di tempat sampah ruang kerjanya, aku pernah melihat botol obat yang sama denganku.Itu obat pereda nyeri dosis tinggi, khusus untuk pasien kanker stadium akhir.Hari itu ibu menyuruhku mengantar buah ke ruang kerja.Tonny tidak ada, dia pergi ke rumah sakit untuk cuci darah.Aku pun meletakkan piring buah dan baru saja mau pergi saat melihat botol putih yang familier di keranjang sampah.Aku memungut dan memperhatikannya.Itu botol ibuprofen, tapi isinya tablet morfin.Trik ini juga pernah aku pakai.Memasukkan obat penyelamat nyawa ke dalam botol vitamin biasa, membohongi diri sendiri juga orang lain.Ternyata, ayah tiri yang terlihat berkuasa itu ....Pria yang disebut Rika sebagai monster berdarah dingin itu, juga sedang menanggung siksaan neraka sendirian.Aku meletakkan kembali botol itu dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.Malamnya, Tonny pulang.Wajahnya lebih pucat dari biasanya, langkah kakinya agak limbung.Ibu menghampirinya, hendak

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 3

    Aku tinggal di rumah ini seperti orang yang tidak kasat mata.Tonny suka ketenangan, bahkan para pelayan di rumah ini pun berjalan sambil berjinjit.Ibu setiap hari mencari berbagai cara untuk mengambil hati Tonny.Membuatkan sup, memijat, sampai menemaninya menonton berita ekonomi yang membosankan.

  • Andai Sinar itu Tak Pernah Ada   Bab 2

    Orang yang membuat Rika mati di kehidupan sebelumnya."Udah pulang?"Suaranya datar tanpa emosi."Tonny, ini Riana."Ibu mendorongku sambil tersenyum lebar. "Riana, sapa Om Tonny."Aku maju dan membungkuk sedikit."Halo, Om Tonny."Tonny membalik halaman buku, seolah tidak dengar.Beberapa detik kem

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status