Short
Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya

Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya

Oleh:  MerissaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
8.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya. "Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku." Telepon ditutup. Darahku seolah-olah mengalir terbalik. Suamiku berdiri tepat di depan pintu toilet dan tangannya bahkan belum dikeringkan dari air. Aku menarik sudut bibirku. "Gajimu 16 juta, cicilan rumah 6 juta, kasih aku 4 juta, kamu simpan sendiri 2 juta. Kamu bilang kasih orang tuamu 4 juta, kok jadi 20 juta?" Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Wajahnya sangat pucat, sementara tanganku gemetar hebat. Selama lima tahun, aku tak pernah sekali pun melihat kartu banknya. Lalu, apa lagi yang tidak aku ketahui?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Saat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya.

"Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku."

Telepon ditutup. Darahku seolah-olah naik ke kepalaku. Suamiku berdiri tepat di depan pintu toilet dan tangannya bahkan belum dikeringkan dari air.

Aku menarik sudut bibirku. "Gajimu 16 juta, cicilan rumah 6 juta, kasih aku 4 juta, kamu simpan sendiri 2 juta. Kamu bilang kasih orang tuamu 4 juta, kok jadi 20 juta?"

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Wajahnya sangat pucat, sementara tanganku gemetar hebat.

Selama lima tahun, aku tak pernah sekali pun melihat kartu banknya. Lalu, apa lagi yang tidak aku ketahui?

Setelah telepon itu, aku terpaku di tempat. Sepuluh menit penuh, kepalaku kosong. Hanya kata "20 juta" yang berdengung tanpa henti.

Saat hari raya, aku ingin memberi orang tuaku 2 juta. Dia bilang uangnya sudah tidak banyak, lain kali saja. Aku percaya, bahkan merasa sedikit bersalah karena sudah meminta.

Orang tuaku malah menenangkanku, bilang kelak semuanya akan menjadi milikku, menyuruhku jangan terlalu memikirkannya. Tak pernah terpikir olehku, itu karena setiap bulan dia memberi orang tuanya 20 juta.

"Istriku, dengarkan aku ...." Dia mendekat, ingin memegang tanganku.

Aku mengempaskannya dengan keras, tatapanku sedingin es. "Mau jelasin apa? Jelasin kalau 20 juta itu bohong?"

Potongan-potongan masa lalu menyerbu tanpa bisa dihentikan. Aku pernah mengincar mantel diskon, ragu setengah bulan dan akhirnya tidak jadi beli.

Setiap hari aku belanja dengan hemat di pasar, menawar habis-habisan demi selisih beberapa ribu. Bahkan mau tambah membeli daging 10 ribu pun harus menghitung lama, takut saldo bulan ini tidak cukup.

Lalu dia? Aku menatapnya dengan mata memerah, jantungku seperti diremas, sakit sampai aku hampir tak bisa bernapas. Aku mengepalkan tangan erat-erat, kukuku menancap dalam ke telapak.

Wajahnya semakin pucat. Dia menghindari tatapanku.

"Ruslan baru nikah, istrinya juga hamil, pengeluarannya besar. Orang tuaku bilang gajinya rendah. Aku sebagai kakak nggak mungkin tinggal diam. Aku juga merasa orang tuaku benar, toh kami cuma dua bersaudara, harus saling bantu."

Aku bersandar ke dinding agar tidak roboh. Benar-benar konyol.

Aku mati-matian menopang rumah kecil kami dan dia malah mengisi lubang tak berdasar milik adiknya.

"Dua puluh juta itu dibagi bagaimana?" Tatapanku menancap padanya.

Bibirnya bergetar beberapa kali, sebelum akhirnya dia menyahut, "Enam belas juta buat Ruslan. Dia pakai 10 juta buat bayar cicilan rumah, 6 juta buat biaya hidup mereka berdua."

Aku tak sanggup menahan lagi. Lima tahun kepahitan meledak. Sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.

"Adikmu cacat ya, sampai kamu harus menghidupi istri dan anaknya? Terus, aku gimana? Kamu kasih adikmu 16 juta setiap bulan, tapi ke aku cuma 4 juta? Haris, di matamu, aku ini orang luar ya?"

Kemudian, aku tiba-tiba teringat senyuman penuh pengertian orang tuaku saat hari raya. Aku merasa diriku adalah lelucon terbesar di dunia.

Air mata jatuh satu per satu. Suaraku bergetar. "Sebenarnya berapa gajimu sebulan?"

"Tiga puluh ...." Aku merebut ponselnya, membuka SMS bank. Empat puluh juta setelah dipotong pajak.

Aku tertawa dingin, lalu membanting ponsel itu dengan keras ke wajahnya. "Penghasilanmu 40 juta sebulan, tapi cuma kasih 4 juta? Haris, sebenarnya aku ini apa di matamu?"
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Yenita Siregar
Yenita Siregar
haris dan keluarganya yg benalu, untung istrinya cepat sadar, keluarga toxic mmg gak pantas utk diperjuangkan
2026-03-28 18:42:34
1
0
Chantiqa Chiqa
Chantiqa Chiqa
jijik dengan karakter mina yg gak bisa bacot. cuma bisa nangis doank
2026-05-09 15:33:55
0
0
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status