Mag-log inSaat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya. "Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku." Telepon ditutup. Darahku seolah-olah mengalir terbalik. Suamiku berdiri tepat di depan pintu toilet dan tangannya bahkan belum dikeringkan dari air. Aku menarik sudut bibirku. "Gajimu 16 juta, cicilan rumah 6 juta, kasih aku 4 juta, kamu simpan sendiri 2 juta. Kamu bilang kasih orang tuamu 4 juta, kok jadi 20 juta?" Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Wajahnya sangat pucat, sementara tanganku gemetar hebat. Selama lima tahun, aku tak pernah sekali pun melihat kartu banknya. Lalu, apa lagi yang tidak aku ketahui?
view more道路に立ち尽くしている赤いポストに、真っ白な封筒を投函した。
あれほど愛していたのに、もうどうでもよかった。 ポストの奥で、コトンと小さな音が聞こえた瞬間、雨宮真澄は自由になった気がした。
これを受け取った後、彼がどう処理するかなんて、もう真澄には関係ない。
ポストから離れ、一歩、また一歩と後退する。濡れたアスファルトが靴裏に張りつくような感触を返してくる。この雨も、もうすぐ雪に変わるだろう。そう、彼に、心を奪われた夜の、あの大雪の日のように……振り返ればまだ赤い色が視界の端にあるのに、真澄はもう戻らないと決めていた。
たった2年間の結婚生活。
幸せだった時間は確かにあった。出会った頃の黒瀬司は穏やかで、彼女の話を楽しそうに聞いてくれる人だった。だが社長としての責務が重くなり、離婚した妻が、自分の友人と親しくしていることを知ってから、彼は「離婚した妻と残してきた子供たち」への未練や「血筋」や「未来の相続」という言葉を、悪気もなく会話の端々に混ぜるようになっていった。まるで真澄自身ではなく、彼の人生計画の一部として彼女たちが存在しているかのようだった。それでも、真澄は彼を愛していた。
今、目の前にある、その優しさが本心から来るものでないと気づきながらも、司の笑顔を見るたびに「まだ修復できる」と自分に言い聞かせてきた。転機は妊娠だった。
子供を身ごもったとわかった日、真澄は震えるほど喜んだ。新しい命は、二人の関係を結び直す糸になると思っていた。だが、その話をする前に、司の口からでてくるのは、二人の未来ではなく、「元の妻との子供たち」の話だけだった。その瞬間、真澄の胸の奥で何かが砕けた。胎内の鼓動を感じる前に、現実の重さだけが覆いかぶさった。仲がうまくいっていなかったのも事実だ。
仕事が忙しいと言っては、家に帰って来ない日が増えた。司は「会社に泊まった」「急な仕事で遠方に行った」などと、その都度言い訳をしていた。同じ家にいても食卓の会話は短く、寝室での距離は遠く、互いの沈黙は気まずさで埋まっていた。真澄が話そうとすると司に掛かってきた電話で遮られ、司が語る未来にはいつも「前の家族のため」が主語だった。だから彼女は決断した。
誰にも相談せず、ひとりで病院の予約を入れ、手術台に上がった。手術前の問診票に署名するとき、彼女は涙も迷いもすでに使い果たしていた。医師には「年齢が年齢なので、次に妊娠できる可能性が、限りなく低くなりますよ」と言われ、看護師には「お相手の男性ではなく、あなたの子供として、よく考えてください」と言われた。しかし真澄には、結婚したいほど愛している、司にも話していない、ある“事情”があった。それには、司の血を引く、自分との子どもを産むことはできなかった。真澄は、「母になるため」ではなく「自分でいるため」に選んだ初めての決断だった。
手術後、鏡に映った自分の顔はひどく青白かったが、心は不思議と静かだった。その静けさの中で、司に向けた手紙を書いた。便箋は一枚。インクは黒。文面は淡々としているのに、書き終えた瞬間、指が震えて止まらなかった。それは未練ではなく、長く抑え込んでいた自分自身の声が身体を通って外にあふれた反動だった。
雨は投函前から降っていた。
冬の雨は重く、あの日と同じ雪に変わりそうだった。だが、真澄は傘をささなかった。濡れた髪の先から滴る雫が、これまでの自分を洗い流してくれているような気さえした。
手紙の一部を、彼女は声に出さず唇だけでなぞる。
―この手紙を投函したら、私はあなたの世界から出ていきます。 責めるつもりも、憎むつもりもありません。 あなたはあなたの人生を、私は私の人生を、生きるだけです。
白い封筒はポストの中でもう濡れない。
だが彼女自身は、濡れたまま立っていた。最後にひとつだけ。 あなたを愛した時間は本物でした。 でも、あなたの愛を待ち続けた私はもういません。 私は自由になります。あなたも、どうかあなた自身のために生きてください。
赤いポストの前で、真澄は小さく息を吸い込んだ。
冷たい空気が肺に刺さる。それでも苦しくはなかった。今の彼女は、未来を誰かに託す人間ではなく、自分で未来を選び直す人間だったからだ。コトン という音は確かに終わりだった。
でも同時に始まりでもあった。さようなら。 雨宮 真澄
彼女はゆっくりと歩き出す。
信号は赤だったが、心はもう青になっていた。 踏み出す足取りは静かだが確固としている。濡れた路面に残る足跡はすぐ雨で消える。それでいい、と真澄は思った。消えるものに、もう縋らない。
残すべきは足跡ではなく、自分の人生そのものなのだから。Amarah Haris belum sepenuhnya mereda. Ditambah lagi, alamat rumah barunya bocor. Akhirnya dia memilih pindah rumah.Hanya saja, aku tidak menyangka hal ini juga akan melibatkan diriku. Setelah bercerai dengan Haris, aku mulai bekerja kembali. Tak disangka, di jalan pulang kerja aku dicegat oleh orang tuanya. Mereka berlutut di depanku sambil menangis."Mina, kami yang bersalah padamu.""Kami nggak seharusnya memisahkanmu dan Haris. Semua ini karena kami sudah tua dan pikun."Di sekitar kami mulai banyak orang yang menonton. Aku tidak tahan dan menelepon Haris. "Orang tuamu ada di sini."Beberapa menit kemudian, Haris muncul di hadapanku. Wajahnya tampak sangat lelah, benar-benar seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.Namun, aku sama sekali tidak merasa kasihan.Haris menoleh ke arah orang tuanya, mengerutkan kening dan bertanya, "Kalian ke sini buat apa?"Orang tuanya menggerakkan bibir, seolah-olah mereka juga tahu ini adalah
Begitu kejadian yang menimpa Haris hari ini terjadi, dia merasa bahkan saat pergi membeli sayur pun banyak orang yang menunjuk-nunjuk dan membicarakannya.Harga diri yang kuat membuatnya semakin membenci Haris. Dia pun menatap Haris dengan tajam dan berkata tanpa sungkan, "Kakak juga sudah nggak muda lagi. Walaupun sudah cerai, nggak seharusnya sejatuh ini. Lebih baik cari istri baru dan urus rumah dengan baik, itu baru benar."Ucapan itu jelas-jelas bermaksud mengusir Haris. Bahkan Ruslan yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati.Dia pun menarik ujung lengan baju istrinya. Tak disangka, istrinya langsung naik pitam dan menampar Ruslan dengan keras."Apa aku salah bicara? Kamu tahu nggak, orang-orang memandangku seperti apa hari ini? Kamu mau punya kakak seperti ini, tapi aku nggak mau."Ruslan juga merasa tidak nyaman. Dia juga orang yang sangat menjaga harga diri. Masalah kakaknya membuat wajahnya ikut tercoreng. Memikirkan hal itu, dia hanya bisa berkata dengan suara lemah, "Sud
Aku malas berdebat dan langsung mengurus akta cerai bersamanya.Saat melihat akta cerai itu berada di telapak tanganku, aku sempat tertegun sesaat. Akhirnya berakhir.Haris memasukkan tangannya ke saku, berusaha sebisa mungkin menjaga martabatnya. Dia berkata,"Mina, semoga kamu nggak nyesal."Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengannya walau sepatah kata pun. Bagaimana mungkin aku menyesal? Yang kurasakan justru hanya rasa lega!Dia mengerutkan kening dan berkata, "Soal terakhir kali kamu menghabiskan tabunganku, aku belum mempermasalahkannya. Kapan kamu berencana mengembalikannya?"Baru saat itu aku menatapnya dengan sungguh-sungguh dan bertanya balik, "Mengembalikan apa? Bukankah itu harta bersama kita sebagai suami istri?""Soal pembagian harta, tentu aku akan menyuruh pengacara untuk menghubungimu. Jadi, Haris, semoga kita nggak bertemu lagi."Haris baru menyadari bahwa dia telah terjebak dalam rencanaku. Dia marah dan frustrasi, tetapi tidak berdaya, hanya bisa melihatku pe
Tak disangka, ucapan yang keluar dari mulutnya itujustru dia pakai sebagai alasan untuk menyerangku sekarang.Aku juga tidak berniat memanjakan Haris, jadi aku membuka mulut dan berkata, "Uang 100 juta-mu itu bahkan nggak cukup untuk menyewa seorang pengasuh.""Haris, aku sudah bekerja keras di rumah keluargamu selama ini. Setidaknya aku pantas mendapat sedikit imbalan, 'kan?"Setelah mengatakan itu, aku langsung menutup telepon. Tak disangka, orang yang lebih dulu datang mencariku bukan Haris, melainkan adiknya, Ruslan.Begitu melihatku, dia menyunggingkan senyuman palsu dan berkata, "Kak Mina, sepertinya akhir-akhir ini hidupmu cukup santai ya."Aku juga tidak memberinya wajah ramah. Mengingat dia telah membawa kabur mobilku, aku bertanya dengan suara dingin, "Kapan kamu berniat mengembalikan mobilku?"Wajah Ruslan langsung berubah masam. Dengan suara rendah, dia berkata, "Kak Mina kenapa sih dari kemarin ngomongnya soal mobil melulu? Kita 'kan satu keluarga. Punyamu ya punyaku."Aku






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu