Se connecterSaat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya. "Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku." Telepon ditutup. Darahku seolah-olah mengalir terbalik. Suamiku berdiri tepat di depan pintu toilet dan tangannya bahkan belum dikeringkan dari air. Aku menarik sudut bibirku. "Gajimu 16 juta, cicilan rumah 6 juta, kasih aku 4 juta, kamu simpan sendiri 2 juta. Kamu bilang kasih orang tuamu 4 juta, kok jadi 20 juta?" Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Wajahnya sangat pucat, sementara tanganku gemetar hebat. Selama lima tahun, aku tak pernah sekali pun melihat kartu banknya. Lalu, apa lagi yang tidak aku ketahui?
Voir plusAmarah Haris belum sepenuhnya mereda. Ditambah lagi, alamat rumah barunya bocor. Akhirnya dia memilih pindah rumah.Hanya saja, aku tidak menyangka hal ini juga akan melibatkan diriku. Setelah bercerai dengan Haris, aku mulai bekerja kembali. Tak disangka, di jalan pulang kerja aku dicegat oleh orang tuanya. Mereka berlutut di depanku sambil menangis."Mina, kami yang bersalah padamu.""Kami nggak seharusnya memisahkanmu dan Haris. Semua ini karena kami sudah tua dan pikun."Di sekitar kami mulai banyak orang yang menonton. Aku tidak tahan dan menelepon Haris. "Orang tuamu ada di sini."Beberapa menit kemudian, Haris muncul di hadapanku. Wajahnya tampak sangat lelah, benar-benar seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.Namun, aku sama sekali tidak merasa kasihan.Haris menoleh ke arah orang tuanya, mengerutkan kening dan bertanya, "Kalian ke sini buat apa?"Orang tuanya menggerakkan bibir, seolah-olah mereka juga tahu ini adalah
Begitu kejadian yang menimpa Haris hari ini terjadi, dia merasa bahkan saat pergi membeli sayur pun banyak orang yang menunjuk-nunjuk dan membicarakannya.Harga diri yang kuat membuatnya semakin membenci Haris. Dia pun menatap Haris dengan tajam dan berkata tanpa sungkan, "Kakak juga sudah nggak muda lagi. Walaupun sudah cerai, nggak seharusnya sejatuh ini. Lebih baik cari istri baru dan urus rumah dengan baik, itu baru benar."Ucapan itu jelas-jelas bermaksud mengusir Haris. Bahkan Ruslan yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati.Dia pun menarik ujung lengan baju istrinya. Tak disangka, istrinya langsung naik pitam dan menampar Ruslan dengan keras."Apa aku salah bicara? Kamu tahu nggak, orang-orang memandangku seperti apa hari ini? Kamu mau punya kakak seperti ini, tapi aku nggak mau."Ruslan juga merasa tidak nyaman. Dia juga orang yang sangat menjaga harga diri. Masalah kakaknya membuat wajahnya ikut tercoreng. Memikirkan hal itu, dia hanya bisa berkata dengan suara lemah, "Sud
Aku malas berdebat dan langsung mengurus akta cerai bersamanya.Saat melihat akta cerai itu berada di telapak tanganku, aku sempat tertegun sesaat. Akhirnya berakhir.Haris memasukkan tangannya ke saku, berusaha sebisa mungkin menjaga martabatnya. Dia berkata,"Mina, semoga kamu nggak nyesal."Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengannya walau sepatah kata pun. Bagaimana mungkin aku menyesal? Yang kurasakan justru hanya rasa lega!Dia mengerutkan kening dan berkata, "Soal terakhir kali kamu menghabiskan tabunganku, aku belum mempermasalahkannya. Kapan kamu berencana mengembalikannya?"Baru saat itu aku menatapnya dengan sungguh-sungguh dan bertanya balik, "Mengembalikan apa? Bukankah itu harta bersama kita sebagai suami istri?""Soal pembagian harta, tentu aku akan menyuruh pengacara untuk menghubungimu. Jadi, Haris, semoga kita nggak bertemu lagi."Haris baru menyadari bahwa dia telah terjebak dalam rencanaku. Dia marah dan frustrasi, tetapi tidak berdaya, hanya bisa melihatku pe
Tak disangka, ucapan yang keluar dari mulutnya itujustru dia pakai sebagai alasan untuk menyerangku sekarang.Aku juga tidak berniat memanjakan Haris, jadi aku membuka mulut dan berkata, "Uang 100 juta-mu itu bahkan nggak cukup untuk menyewa seorang pengasuh.""Haris, aku sudah bekerja keras di rumah keluargamu selama ini. Setidaknya aku pantas mendapat sedikit imbalan, 'kan?"Setelah mengatakan itu, aku langsung menutup telepon. Tak disangka, orang yang lebih dulu datang mencariku bukan Haris, melainkan adiknya, Ruslan.Begitu melihatku, dia menyunggingkan senyuman palsu dan berkata, "Kak Mina, sepertinya akhir-akhir ini hidupmu cukup santai ya."Aku juga tidak memberinya wajah ramah. Mengingat dia telah membawa kabur mobilku, aku bertanya dengan suara dingin, "Kapan kamu berniat mengembalikan mobilku?"Wajah Ruslan langsung berubah masam. Dengan suara rendah, dia berkata, "Kak Mina kenapa sih dari kemarin ngomongnya soal mobil melulu? Kita 'kan satu keluarga. Punyamu ya punyaku."Aku
"Pergi! Kalian keluarga lintah pengisap darah, keluar dari sini!"Pintu dibanting keras. Dari luar, terdengar makian histeris ibu mertua dan keluhan Haris yang samar, semakin lama semakin menjauh.Aku bersandar di pintu. Seluruh tubuh terasa dingin.Ibuku mengusap air mata, sementara wajah ayahku sa
Rekaman memperlihatkan dengan jelas bahwa sore hari itu, suamiku membawa pergi mobilku. Beberapa jam kemudian, dia pulang naik taksi. Mobilku tidak pernah muncul lagi.Aku berdiri di depan slot parkir yang kosong. Seluruh darah di tubuhku terasa membeku. Dengan tangan gemetar, aku meneleponnya."Har
Aku menggertakkan gigi kuat-kuat. Ponselnya kembali berdering.Suara adiknya terdengar. "Kak, cepat datang ke rumahku!"Suamiku melirikku dengan sorot mata yang rumit."Sayang, Ruslan lagi ada urusan. Masalah ini ... kita bicarakan setelah aku pulang." Selesai berbicara, dia langsung berbalik pergi,
Saat suamiku pergi ke toilet, ponselnya berdering. Aku melirik sekilas. Telepon dari adik suamiku, Ruslan. Aku mengernyit, tetapi tetap mengangkatnya."Kak, uang bulanan 20 juta buat Ayah dan Ibu kok belum ditransfer? Ibu barusan nanya ke aku."Telepon ditutup. Darahku seolah-olah naik ke kepalaku.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires