Inicio / Romansa / Andai Waktu Berpihak / Bab 50 - Pria Itu Lagi

Compartir

Bab 50 - Pria Itu Lagi

Autor: Arcelia V
last update Fecha de publicación: 2026-11-02 14:13:09

Kala

["Axel dalam bahaya!"]

Pesan itu singkat sekali. Tanpa identitas, hanya tertera nomornya saja.

"Kamu kenapa?" tanya Gunawan.

Kala menunjukkan ponselnya kepada Gunawan. "Katanya, Axel dalam bahaya. Bahaya gimana maksudnya?"

Gunawan memeriksa nomornya terlebih dahulu, mencocokkan nomor yang ada pada kontak di ponselnya.

"Nggak ada, gue gak punya nomor itu," kata Gunawan.

"Gimana kalau Axel beneran dalam bahaya dan nyawanya terancam?"

Gunawan nampak berpikir. "Nggak mungkin sih, apa yang
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 55 - Obsesi Gerry

    Gunawan akhirnya berhasil masuk ke dalam ruangan itu. Warung 24 jam milik Gerry yang berada di Jalan Mawardi. "Kalau bukan karena urusan pekerjaan, ogah gue datang-datang ke tempat beginian," gerutunya dalam hati. Sebagai seorang intel, Gunawan tentu tidak mungkin menunjukkan identitas aslinya. Dia masuk dengan berpura-pura menjadi pelanggan biasa. "Saya ada perlu dengan Gerry." "Maaf, Tuan. Tapi Bang Gerry lagi nggak bisa diganggu," jawab penjaga yang berdiri di dekat pintu. "Saya ada urusan penting. Sudah ada janji pula." Mendengar itu, sang penjaga akhirnya bereaksi. Dia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Gerry. Namun, belum sempat panggilan tersambung, sebuah suara terdengar dari arah belakang. "Cari siapa?" Ternyata Gerry sedang tidak berada di ruangannya. Dia justru baru saja kembali dari luar warung. Entah dari mana. Gunawan menoleh. Gerry memperhatikan wajahnya beberapa saat, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu. "Lo?" Gunawan sempat bingung. Namun, dia te

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 54 - Penyelidikan

    Keesokan pagi harinya, Axel sudah duduk di depan laptop dengan secangkir kopi yang mulai dingin di sampingnya.Sejak bangun tidur, pikirannya terus dipenuhi persoalan yang sedang dihadapinya. Batas waktu tiga hari dari Propam membuatnya harus bergerak cepat. Dia tidak boleh menyia-nyiakan waktu satu menit pun jika tidak ingin kehilangan kesempatan membersihkan namanya.Axel membuka kembali rekaman video yang dikirimkan Baskara semalam.Suara keributan warga langsung memenuhi ruangan. Beberapa orang terlihat berkumpul di sekitar kantor desa. Ada yang berteriak menyampaikan protes, sementara sebagian lainnya sibuk merekam situasi.Axel memperbesar salah satu bagian video."Ini pasti bukan tanpa alasan," gumamnya.Dia menghentikan rekaman ketika seorang warga terlihat berbicara dengan nada tinggi.Dari penjelasan Baskara, warga tersebut termasuk orang yang mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial, meskipun namanya tercantum sebagai penerima.Axel mengernyit."Kalau namanya terdaftar,

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 53 - Yang Tak Diketahui

    Axel"Di desa lagi ada keributan, kondisinya kacau banget," bisik Gunawan pada Axel."Ada masalah apa?"Gunawan menunjukkan rekaman video dari Baskara. "Ini rekaman video yang dia kasih ke gue.""Rame banget," tukas Axel."Dari video ini, Baskara bilang kalau ada beberapa warga yang komplain soal bansos yang nggak mereka dapatkan. Ada juga yang komplain soal akses jalan.""Korupsi?""Iya. Kalau masalahnya seperti itu, apalagi kalau bukan korupsi?""Sebanyak itu dananya dihabiskan buat apa?"Gunawan mengedikkan bahu. "Mana gue tahu. Justru itu yang harus kita selidiki."Kala baru saja keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti sejenak ketika mendengar kedua pria itu sedang serius berbincang. Dia kemudian menghampiri mereka dan duduk di sebelah kanan Axel."Ngobrolin apa?" tanyanya."Pak Gandi kayaknya korupsi," jawab Axel. "Aku benar-benar butuh orang buat mengumpulkan semua bukti kejahatan Pak Gandi. Besok aku harus ketemu sama orang Propam," jelasnya."Suruh Baskara aja, nggak sih?

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 52 - Berita Buruk

    "Akhirnya kepdes kita datang juga," ujar salah satu warga begitu melihat Gandi datang ke kantor. Masih dengan wajah antagonisnya, Gandi berlalu begitu saja tanpa menyambut beberapa warga yang memang menyempatkan untuk datang. "Ada apa itu mereka datang berbondong-bondong begitu?" tanya Gandi pada beberapa karyawannya di dalam. "Mereka itu adalah orang-orang yang gak dapat bansos, Pak," kata Levi."Iya, Pak. Sebagiannya lagi ngeluh katanya jalan yang menyambungkan jalan besar ke kampungnya nggak dibener-benerin terus," ujar Hasna menambahi. "Suruh mereka semua pergi, bilang aja saya banyak urusan!" kata Gandi tak ingin membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting. "Tapi, Pak. Kalau bapak nggak mau temui mereka, mereka nanti malah bikin spekulasi macam-macam," ujar Levi. "Setidaknya bapak temui dulu mereka, menurut saya itu jauh lebih terhormat," ujar Levi. Tetapi, Gandi tetap tak mendengarkan saran dari pemuda-pemudi di dalam ruangan. Akhirnya, Levi yang memutuskan untu

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 51 - Kesepakatan Tersembunyi

    Gandi"Aish.. Sialan!" Gandi tampak marah dan meremas kain bajunya setelah Kala berhasil lolos dan kembali pada Axel. "Kamu kenapa nggak bisa sih nanganin anak itu?" bentak Gandi pada sosok pria yang sedang menyetir di depan. "Maaf, Pak. Mau bagaimana lagi, saya juga takut kalau saya celaka," ujar pria itu merasa tertekan. Ia segera merogoh saku celananya, meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Sore, Pak. Tolong, seseorang yang bernama Axel telah membawa anak saya lagi. Tolong segera amankan orang yang bernama Axel itu!" ucap Gandi marah-marah. Panggilan pun ditutup dan melempar ponselnya kasar ke jok mobil. Suasana hati Gandi sangat buruk sekali, sesampainya ia di rumah pun, ia tak bisa mengendalikan wajah dan emosinya sendiri sehingga membuat istrinya bingung keheranan. "Ada masalah apa di kantor, pa?" tanya Hani sambil mengambilkan segelas air untuk suaminya. Gandi malah tak menggubrisnya, ia masih sibuk berkutat dengan emosi dan harapannya yang hancur saat itu. "Ak

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 50 - Pria Itu Lagi

    Kala["Axel dalam bahaya!"]Pesan itu singkat sekali. Tanpa identitas, hanya tertera nomornya saja. "Kamu kenapa?" tanya Gunawan. Kala menunjukkan ponselnya kepada Gunawan. "Katanya, Axel dalam bahaya. Bahaya gimana maksudnya?"Gunawan memeriksa nomornya terlebih dahulu, mencocokkan nomor yang ada pada kontak di ponselnya. "Nggak ada, gue gak punya nomor itu," kata Gunawan. "Gimana kalau Axel beneran dalam bahaya dan nyawanya terancam?"Gunawan nampak berpikir. "Nggak mungkin sih, apa yang bikin nyawa dia terancam?"Karena Kala penasaran dan terlalu cemas berlebihan. Ia tak bisa menahan dirinya sendiri diam menunggu tanpa kepastian di rumah itu. Begitu Kala keluar, ia bertemu dengan seorang pria mengenakan seragam polisi. "Nona Kala?" tanya lelaki itu. Kala mengangguk. "Benar, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"Gunawan baru saja menyusul Kala keluar. "Kal, jangan sembarangan bicara!""Tapi dia polisi, Gun!""Kami dari propam, kami butuh kesaksian Anda untuk membantu Axel," ujar l

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status