LOGINHari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terbahagia dalam hidup Putih Ranum Nirwasita berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Tepat satu jam sebelum mengucap janji suci, Putih menyaksikan dengan mata kepala sendiri calon suaminya, Reno, bercumbu mesra dengan Maya—sepupunya sendiri yang selama ini sudah dianggap seperti saudara kandung. Lebih menyakitkan lagi, Putih mendapati kenyataan pahit bahwa pernikahan itu hanyalah jebakan licik Reno untuk menguasai sepuluh persen saham milik keluarga Nirwasita sebelum menceraikannya. Dikhianati dan dimanfaatkan, Putih menolak untuk tampil sebagai korban yang meratapi nasib. Demi menyelamatkan reputasi keluarganya serta melindungi aset sang ayah, Putih mengambil langkah nekat: ia mencari pengantin pria pengganti saat itu juga. Pilihannya jatuh pada Bumi Zaigar Rasesa, CEO Bumi Corp sekaligus konglomerat paling berpengaruh, dingin, dan ditakuti di kota itu. Sedang didesak dewan direksi untuk segera memiliki istri sah, Bumi menerima tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun dari Putih. Di hadapan ratusan tamu undangan, kilatan kamera wartawan, serta Reno dan Maya yang terpaku syok, Putih mengumumkan pengkhianatan mantannya dan melangsungkan pernikahan sakral bersama Bumi di altar. Status baru sebagai Nyonya Rasesa mendadak membawa Putih ke dalam dunia baru yang penuh marabahaya. Bersama Bumi—pria dingin yang diam-diam selalu pasang badan melindunginya—Putih mulai melancarkan aksi balas dendam untuk meratakan Reno, Maya, hingga rival bisnis yang mencoba menjatuhkannya. Namun, di saat benih-benih cinta mulai tumbuh di antara pernikahan kontrak mereka, sebuah dokumen misterius dari masa lalu mendadak muncul. Sebuah tragedi kecelakaan berdarah 15 tahun lalu yang menewaskan kakak kandung Bumi ternyata menyeret nama ayah Putih, Hardi Nirwasita, sebagai terduga pelaku. Akankah pernikahan kontrak ini berubah menjadi neraka penuh kebencian ketika masa lalu terkuak? Ataukah Putih mampu membongkar dalang sebenarnya di balik tragedi tersebut dan mempertahankan cintanya di sisi sang Penguasa?
View More1 jam sebelum pernikahannya dimulai, Putih Ranum Nirwasita menemukan calon suaminya sedang mencium perempuan lain.
Dan perempuan itu adalah sepupunya sendiri. Aroma bunga lili yang memenuhi lorong hotel mendadak membuat Putih mual. Gaun pengantin putih yang melekat di tubuhnya terasa semakin mencekik ketika langkahnya terhenti di depan pintu ruang rias yang sedikit terbuka. “Reno... gimana kalau Putih tahu?” Suara manja itu membuat jantung Putih seolah berhenti berdetak. Maya. Sepupu yang selama ini selalu berada di sisinya. Perempuan yang pagi tadi membantu memasangkan veil di kepalanya, bahkan memeluknya sambil berkata bahwa ia akan menjadi pengantin paling cantik hari ini. Putih menahan napas, lalu mengintip melalui celah pintu. Di dalam, Reno sedang duduk di sofa dengan Maya dalam pelukannya. Tangan pria yang seharusnya menggenggam tangannya di altar itu justru melingkar mesra di pinggang perempuan lain. “Biarkan saja,” jawab Reno santai. “Aku cuma mengincar saham keluarga dia. Setelah menikah, semua asetnya akan jadi milikku.” Maya terkekeh kecil. “Kamu tega banget sama calon istrimu sendiri.” Reno mengecup keningnya. “Hati dan tubuhku cuma buat kamu, Maya. Putih hanya jalan buat mendapatkan apa yang aku mau.” Dunia Putih seakan runtuh. Jemarinya meremas kain gaun hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ada rasa sakit yang menjalar dari dadanya, tetapi ia menolak membiarkan air matanya jatuh. Tiba-tiba, beberapa kejadian selama berbulan-bulan terakhir berputar di kepalanya. Reno yang terus mendesaknya menandatangani dokumen perusahaan. Reno yang berkali-kali menanyakan saham warisan keluarganya. Reno yang selalu berkata bahwa setelah menikah, semua urusan bisnis akan menjadi lebih mudah karena mereka sudah menjadi satu keluarga. Ternyata, semua itu bukan tentang masa depan mereka. Reno hanya ingin menguasai harta keluarganya. Putih menutup mulutnya, menahan isak yang hampir lolos. Ia mundur perlahan, lalu berbalik sebelum keduanya menyadari kehadirannya. Tidak. Ia tidak akan menangis di depan mereka. Dan ia tidak akan membiarkan Reno mendapatkan apa yang diinginkannya. Putih melirik jam di pergelangan tangannya. empat puluh menit. Dalam waktu setengah jam ke depan, ia seharusnya berjalan menuju altar bersama Reno. Ratusan tamu VIP sudah memenuhi ballroom, sementara beberapa awak media bersiap mengabadikan pernikahan keluarga Nirwasita. Jika pernikahan ini batal, berita itu akan menyebar dalam hitungan menit. Reputasi keluarganya bisa hancur. Saham perusahaan ayahnya mungkin ikut anjlok. Dan Reno? Pria itu pasti akan memanfaatkan kekacauan ini untuk mengambil keuntungan. Putih menarik napas panjang. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. “Harus ada cara,” gumamnya. Matanya menyapu lorong hotel, mencari seseorang yang bisa membantunya. Namun, semakin ia berpikir, semakin ia menyadari betapa sempitnya waktu yang tersisa. Lalu sebuah nama terlintas di benaknya. Bumi Zaigar Rasesa. CEO Bumi Corp. Konglomerat muda yang dikenal dingin, dominan, dan hampir mustahil didekati. Pria yang namanya selalu muncul dalam berita bisnis, terutama setelah keluarganya mulai mendesaknya untuk segera menikah. Putih tidak mengenalnya secara pribadi. Namun, ia tahu satu hal. Jika ada seseorang yang cukup berkuasa untuk menyelamatkan nama baik keluarganya hari ini, pria itu adalah Bumi. Putih mengangkat dagunya. Ia mungkin akan dianggap gila. Namun, lebih baik mengambil risiko daripada membiarkan Reno menghancurkan keluarganya. Area VIP hotel terasa jauh lebih sunyi dibandingkan ballroom. Putih berjalan cepat, mengabaikan tatapan beberapa orang yang heran melihat seorang pengantin perempuan berkeliaran sendirian. Langkahnya berhenti ketika melihat seorang pria berdiri di dekat jendela kaca setinggi langit-langit. Setelan jas hitamnya tampak sempurna. Satu tangan memegang gelas wiski, sementara tatapannya tertuju pada pemandangan kota. Aura dingin dan dominan terpancar begitu kuat dari sosoknya. Bumi Zaigar Rasesa. Putih menelan ludah. Ia merapikan gaunnya, lalu memberanikan diri mendekat. “Tuan Bumi.” Pria itu menoleh perlahan. Tatapannya turun, mengamati gaun pengantin Putih sebelum kembali menatap wajahnya. “Kau salah tempat, Nona.” “Saya tahu.” Putih mengepalkan tangannya, berusaha menyembunyikan kegugupan. “Saya butuh suami. Sekarang.” Bumi terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Putih seolah sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. “Apa katamu?” “Saya butuh seseorang untuk berdiri di altar bersama saya dalam waktu tiga puluh menit.” Bumi mengangkat sebelah alis. “Lantas?” “Karena pengantin pria saya berselingkuh.” Putih menatapnya lurus-lurus. “Kalau pernikahan ini batal, reputasi keluarga saya akan hancur. Bisnis ayah saya juga bisa terkena dampaknya.” Bumi mengangkat gelasnya, menyesap wiski dengan tenang. “Itu bukan urusanku.” “Saya tahu.” “Lalu kenapa kau datang kepadaku?” Putih menarik napas dalam-dalam. “Karena saya tahu keluarga dan dewan direksi Anda sedang menekan Anda untuk segera menikah bulan ini.” Tangan Bumi berhenti sesaat. Tatapannya berubah sedikit lebih tajam. Putih melanjutkan dengan cepat, sebelum keberaniannya menghilang. “Kita bisa menikah secara kontrak selama satu tahun. Anda mendapatkan status menikah yang dibutuhkan, sementara saya menyelamatkan nama baik keluarga saya.” “Dan setelah satu tahun?” “Kita bercerai. Tanpa tuntutan harta. Tanpa campur tangan dalam kehidupan pribadi masing-masing.” Bumi meletakkan gelasnya di atas meja. Kemudian ia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. “Kau bahkan tidak mengenalku, Putih Ranum Nirwasita.” Putih terkejut mendengar namanya disebut lengkap. Namun, ia tidak mundur. “Benar. Tapi saya tahu apa yang saya butuhkan.” Bumi menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencari kebohongan di balik keberanian perempuan itu. “Dan kau yakin pernikahan denganku akan menyelesaikan masalahmu?” “Tidak,” jawab Putih jujur. “Tapi setidaknya saya tidak akan menikahi pria yang hanya menginginkan harta keluarga saya.” Untuk sesaat, keheningan menyelimuti mereka. Kemudian sudut bibir Bumi terangkat tipis. Ia mengulurkan tangannya. “Satu tahun?” Putih menatap tangan itu. Lalu, tanpa ragu, ia menyambutnya. “Satu tahun.” Bumi menggenggam tangannya erat. “Baiklah.” Jantung Putih berdegup kencang. Namun, sebelum ia sempat menghela napas lega, Bumi mendekatkan wajahnya dan berbisik dengan suara rendah yang membuat bulu kuduknya meremang. “Tapi ingat satu hal, Nona Putih.” Tatapan dinginnya mengunci mata Putih. “Begitu kau masuk ke dalam duniaku, kau tidak bisa keluar begitu saja.” Putih terdiam. Ia belum tahu bahwa keputusan nekatnya hari ini akan mengubah seluruh hidupnya.Putih berjalan cepat membelah koridor menuju mobil limousine hitam yang terparkir anggun di depan lobi utama gedung Nirwasita. Langkah kakinya membawa campuran rasa yang saling bertolak belakang, ada perasaan lega yang membuncah karena Reno akhirnya mendapatkan pembalasan yang setimpal, sekaligus kebingungan besar atas tindakan drastis yang baru saja diambil oleh Bumi. Pintu mobil langsung dibukakan oleh Aris dengan sigap begitu Putih mendekat. Begitu melangkah masuk ke kabin penumpang yang luas, Putih mendapati Bumi sedang duduk dengan tenang sambil menyesap kopi hitamnya, bersikap seolah-olah ia tidak baru saja meruntuhkan sebuah perusahaan besar dalam hitungan menit. "Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Putih langsung tanpa basa-basi begitu pintu mobil tertutup rapat dan menyisakan keheningan di antara mereka. Bumi menoleh pelan, menatap Putih dengan pandangan datar yang sulit diartikan. "Melakukan apa maksudmu, Nyonya Pratama?" sahut Bumi tenang. "Membeli perusahaan keluarga Re
Ruang rapat utama Perusahaan Nirwasita terasa begitu tegang.Reno duduk bersedekap di ujung meja dengan gaya angkuh, ditemani dua orang pengacara. Di seberangnya, Tuan Hardi Nirwasita duduk terkulai dengan wajah pucat. Satu tangannya menekan dada yang terasa sesak.“Pasal tujuh sudah sangat jelas, Paman,” ujar Reno dengan nada meremehkan. “Jika pernikahan dibatalkan dari pihak Nirwasita, perusahaan Anda wajib membayar denda lima puluh miliar rupiah.”Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Jika dalam tiga hari tidak dibayar, gedung ini beserta aset yang tercantum dalam perjanjian akan menjadi hak saya.”Tuan Hardi menatapnya tidak percaya.“Kau... sengaja merencanakan semua ini sejak awal, Reno.”Reno terkekeh.“Bisnis adalah bisnis, Paman.”Ia mengangkat bahu.“Putih sendiri yang membatalkan pernikahan itu di depan ratusan tamu. Dia mempermalukan saya. Jadi wajar kalau saya menuntut hak saya.”“Dasar—”Brak!Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.Semua kepala menoleh.Putih berdiri di amba
Makan pagi yang dipenuhi ketegangan itu akhirnya usai. Begitu keluar dari ruang makan keluarga Rasesa, suasana di antara Bumi dan Putih berubah jauh lebih dingin. Rengkuhan tangan Bumi di pinggang Putih sudah terlepas sejak mereka melangkahkan kaki keluar dari mansion. Langkah pria itu lebar dan tergesa, membuat Putih harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal. “Bumi.” Tidak ada jawaban. “Bumi.” Pria itu tetap berjalan. Putih akhirnya berhenti. “Kalau kau terus berjalan seperti itu, kakiku tidak akan bertambah panjang.” Bumi berhenti. Ia menoleh sekilas sebelum melanjutkan langkahnya dengan kecepatan yang lebih wajar. Putih mendengus pelan. Pria menyebalkan. Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke dalam limousine. Begitu pintu tertutup, keheningan kembali memenuhi kabin. Bumi menyandarkan tubuhnya pada jok kulit hitam, menatap lurus ke luar jendela dengan rahang mengeras. Putih memperhatikannya beberapa saat. Ucapan Hendra tadi masih terngiang-ngiang di kepala
Pagi berikutnya, Putih terbangun dan ingatannya kembali pada kejadian semalam. Pernikahan. Kontrak satu tahun. Bumi Zaigar Rasesa. Dan keluarga besar pria itu yang harus mereka temui pagi ini. Putih bangkit dari tempat tidur. Jika pernikahan ini adalah sebuah permainan, maka ia tidak boleh masuk ke dalamnya tanpa persiapan. Satu jam kemudian, Putih keluar dari kamarnya dengan gaun terusan elegan berwarna merah marun. Rambutnya ditata sederhana, sementara riasan tipis mempertegas tatapan matanya. Bumi sudah menunggunya di ruang tengah. Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih yang rapi. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Tatapan Bumi sempat berhenti pada Putih selama beberapa detik. “Kita berangkat.” Putih mengangguk. “Bagaimana keluargamu?” “Tidak ramah.” Jawaban singkat itu membuat Putih menghela napas. “Setidaknya beri aku sedikit gambaran.” Bumi mengambil jasnya. “Nenekku, Nyonya Besar Rosalinda, adalah pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga R












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.