Share

Aral Gendala

Menurutku, beberapa orang di dunia ini sangatlah tidak penting dan tidak punya pekerjaan. Sebab, mereka saling berlomba untuk menjadi orang nomor satu saat ada gossip tersebar bak lonceng yang berdenting.

Untuk kali ini, aku adalah korbannya.

Sejak aku tiba di sekolah ini, pemandangan yang kulihat adalah siswa-siswi saling berbisik sambil melihat ke arahku. Mereka bergiliran melirikku seolah aku ini binatang menjijikkan yang pantas untuk mereka hina dalam diam.

“Kalian tau nggak, sih, Nadia itu ternyata cewek penggoda banget,” ucap salah seorang cewek yang mengomando obrolan tentangku.

“Kenapa gitu?”

“Iya! Soalnya dia genit dan godain Davin melulu. Nggak nyangka ternyata dia murahan, ya.” Oh, hei, sejak kapan kesimpulan itu kalian berikan kepadaku? Sejak kapan pula, aku menggoda Davin? Justru dia yang terus-menerus datang kepadaku!

“Tapi kasian, ya, Nadia Cuma dijadikan bahan taruhan sama Davin.”

HAH. Apa tadi katanya? Aku dijadikan bahan taruhan oleh Davin? Rasanya aku langsung ingin mengutuk seluruh alam semesta ketika mendengar kata taruhan yang mereka ucapkan. Lagi pula, dari mana asal isu tidak jelas ini?

Maka, tanpa ragu, aku pun menghampiri mereka dengan melukiskan ekspresi penuh keangkuhan pada rupa. Rasanya amarahku juga hampir memuncak dan meledak keluar melalui ubun-ubun. Kalau saja bukan di sekolah, barangkali aku sudah mengajak mereka baku hantam.

“Coba kalian ulangi, siapa yang dijadikan bahan taruhan oleh siapa?” kataku, menuntut sebuah konfirmasi dengan tegas, tanpa memberikan celah barang sedikit pun untuk mereka mengelak. Aku menuntut jawaban pasti, tanpa basa-basi.

“Ya, lo, Nad. Emang lo pikir, Davin deketin lo karena dia suka? Alah, lucu,” sindir si cewek provokator yang hampir membuatku naik pitam. Tidak lama, dia kembali melanjutkan, “Davin tuh taruhan sama anak klub voli dia karena mereka tau, lo selalu ada di setiap pertandingan mereka.”

Hoo ... begitu rupanya. 

Ah, aku mengerti sekarang. Aku kelewat mafhum mengapa Davin secara tiba-tiba mendekatiku hingga sok meminta restu kepada ibu. Ternyata baginya, aku tidak lebih dari sebuah bahan taruhan. Aku tidak lebih dari seorang badut yang akan dengan mudah Davin dan teman-temannya tertawakan. Aku dan ibu hanya dianggap Davin sebagai lelucon di panggunh pertunjukkan.

“Oh, gitu. Oke, makasih infonya!” ucapku kemudian. Aku berusaha tegar, meski rasanya ingin sekali membagi dunia menjadi dua bagian. Sakit hati? Tentu. Ada rasa sesak yang menjalar dalam hatiku. Namun, aku tidak boleh terlihat lemah. Tidak sedikit pun.

Paling tidak, sekarang aku tahu bahwa seorang Davin tidak seindah ekspektasiku, bahwa Davin ternyata lebih biadab daripada narapidana di hotel prodeo. Dia memang rupawan, tetapi ternyata tidak lebih dari sekadar bajingan.

Sesungguhnya, aku tidak menyangka hari ini akan tertimpa penuh kesialan. Dari pagi, semua orang sudah berlomba untuk saling mencibir perihal aku yang hanya menjadi barang taruhan. Mereka semua seolah bekerja sama untuk menjatuhkanku dengan beribu cacian dan juga sindiran.

Memang mereka pikir, aku tidak punya hati? Aku diam, bukan berarti aku tuli, tahu.

“Nadia?” suara khas yang akhir-akhir ini sudah sangat kuhapal, tiba-tiba menyapa indra pendengaran. Aku menoleh, pun jelas kudapati pemilik suara itu adalah Davin, Davin Mahesa Gautama. Si pelaku yang menjadikanku bahan taruhan dan pemeran utama dari gossip hari ini. Oh, tidak. Kumohon, aku ingin untuk jam istirahatku kali ini menjadi tenang!

“Kenapa? Udah menang taruhannya?” tanyaku, langsung melempar sarkasme tanpa ragu.

“Kenapa kamu bisa percaya gossip murahan kayak gitu? Saya jadi kecewa.” Begitu katanya. Lagi-lagi aku dibuat ternganga oleh Davin. Maksudku, bukankah di sini seharusnya aku yang kecewa? Mengapa pula dia harus kecewa kepadaku?

“Oh, ya sudah, kamu bisa pergi kalau memang kecewa,” tanpa ada rasa takut, aku menantang Davin, “dari awal, di hidupku ini memang tanpa kamu. Memangnya kamu siapa? Orang aneh yang MEMAKSA masuk ke kehidupanku, ‘kan?”

“Oh, hei, Nona Nadia,” panggil Davin, lalu berkacak pinggang sambil menatapku dengan tatapan ... mengerikan. Davin mengambil satu langkah mendekat, kemudian melanjutkan ucapan, “Jaga ucapan nona. Jika saya orang aneh yang memaksa masuk, lalu nona hanya gadis murahan karena dengan mudah menerima orang aneh masuk?”

Aku bersumpah demi langit, bumi, dan Dewa siapa pun di dunia, rasanya sebuah tamparan ingin sekali kulayangkan pada mulut Davin karena baru saja mengataiku gadis murahan. Namun, aku harus menahan diri. Jika aku termakan amarah dalam diri, itu tandanya kekalahan akan menyambut. Untuk kali ini, aku tidak ingin kalah dari Davin. Lagi pula, segala hal yang diawali dengan kekerasan, menurutku, tidak akan pernah membuahkan hasil baik.

“Kamu kenapa tiba-tiba jadi kayak gini, sih, Nad?” Davin kembali menanyaiku, kali ini lebih ke arah introgasi. Ditambah tatapannya yang begitu intens menatapku seolah tidak mengizinkan aku untuk menghilang barang sedetik pun.

“Kamu mau kita mundur lagi, ke masa di mana saling nggak kenal?” Lelaki dengan perawakan yang lebih tinggi itu kembali menanyaiku menggunakan intonasi yang memaksa; menuntut untuk segera mendapat sebuah jawaban.

Aku benar-benar heran. Di sini, dialah yang menjadikanku bahan taruhan. Kalau begitu, mengapa dia juga yang marah dan bersikap seolah semua yang terjadi adalah karena kesalahanku? Apakah seorang Davin sang idola memang pada dasarnya seangkuh ini?

“Lho, jadi salahku? Kamu yang buat taruhan soal aku, aku juga yang salah?” Aku tidak mau kalah, maka sindiran keras berakhir kulempar kepada si lelaki angkuh di hadapanku saat ini.

“Saya nggak bilang itu salahmu, tapi apa kamu mau dengar dari sudut pandang saya?” Davin mulai terdengar serius. Tidak, justru semakin serius dari sebelumnya.

“Apa kamu nggak mau dengar klarifikasi saya soal berita itu benar atau bohong? Bagaimanapun, saya juga terlibat di pemberitaan itu, ‘kan?” katanya, masih mencoba untuk membujukku agar mau mendengarkan si kapten voli arogan satu itu, “saya punya hak untuk menjelaskan dan membela diri, Nadia.”

Heh, memang hal semacam itu perlu dilakukan, ya?

“Sayangnya nggak. Aku nggak mau denger justifikasi apa pun dari kamu.” Begitu lugas dan tegas aku berujar seolah aku menegaskan kepada si selebriti sekolah itu, bahwa aku benar-benar tidak ingin lagi diganggu oleh Davin. Persekon setelahnya, aku melirik Davin dengan sangat sinis sambil berucap, “Jadi, permisi, saya mau ke kantin.”

Entah bagaimana reaksi Davin setelah itu, aku benar-benar tidak peduli. Sebab, aku langsung berlalu pergi tanpa menoleh ke arahnya barang sedikit pun. Silakan cap aku sebagai gadis yang kekanakan, tetapi apa yang dilakukan Davin kepadaku soal taruhan, lalu mengintimidasi seperti tadi, menurutku hal-hal itu sudah sangat keterlaluan dan tidak dapat ditoleransi.

Aku tidak akan pernah mau lagi bertemu dengannya. Apa lagi mendengar nama Davin. Dasar cecenguk!

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status