Share

Nayaka dan Selena

Penulis: Erna Azura
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 13:06:00

Suasana kamar rawat inap RS Pondok Indah malam itu berbeda. Setelah hari-hari penuh tegang, kini cahaya lampu putih terasa lebih hangat. Di sudut ruangan, suara mesin infus berdetik lembut, sementara di ruang NICU tak jauh dari sana, dua bayi mungil masih berjuang dalam inkubator transparan.

Cantika bersandar pada bantal besar, tubuhnya lemah, wajahnya masih pucat. Namun kali ini ada senyum samar di bibirnya, senyum yang hanya muncul ketika tatapannya jatuh pada dua foto bayi di layar tablet—Nayaka dan Selena.

Ezra duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan istrinya erat. Meski lelah, sorot matanya lebih teduh daripada malam-malam sebelumnya.

“Mereka belum bisa kita bawa ke sini,” kata Ezra memecah hening.

“Aku juga masih belum bisa ke sana.” Mata Cantika berkaca-kaca.

“Kamu harus pulih dulu ….”

Cantika mengangguk, sesaat dia menatap Ezra. Sorot mata penuh penyesalan masih menggelayut di sana.

Ezra yang peka mengecup kening Cantika le
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tamat

    Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b

  • Antara Ambisi dan Cinta   Bersama-Sama

    Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tempat Aman

    Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.

  • Antara Ambisi dan Cinta   Membangun Masa Depan Bersama

    Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”

  • Antara Ambisi dan Cinta   Baru Menyadari

    Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro

  • Antara Ambisi dan Cinta   Percaya

    Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status