Share

Part 5 : Keluarga Bintara

Penulis: ETI KUSMAWATI
last update Tanggal publikasi: 2023-12-08 23:44:45

"Huufftt akhirnya selesai." lirih Satya sembari meregengkan tubuhnya yang lelah karena dari pagi dia sudah duduk memeriksa dokumen yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Tok tok tok.

Terdengar ketukan pintu, Satya sedang bersandar dikursinya sambil memejamkan mata tidak bereaksi. Beberapa saat kemudia Andika masuk dan dia melihat Satya sedang tidur dikursinya.

'Tuan muda pasti sangat kelelahan' batin Andika.

"Tuan muda, mohon untuk bersiap-siap. Sudah waktunya kita berangkat." ucap Andika membangunkan Satya dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.

"Tuan, saya sudah menyediakan setelan jas yang akan tuan muda kenakan. Ayo cepat bangun." ucap Andika dengan nada suara yang sedikit meninggi.

Andika tidak bisa membiarkan Satya beristirahat, karena malam ini ada jadwal penting yaitu makan malam dengan ayah Satya dan seluruh keluarga akan menghadiri acara malam itu.

"Aku sangat malas bertemu dengan kedua kakakku." keluh Satya.

"Walaupu begitu anda harus tetap hadir tuan, kalau tidak tuan besar akan marah." ujar Andika meyakinkan.

"Baiklah" balas Satya pasrah.

"Saya akan menunggu diluar." kata Andika pergi meninggalkan ruangan.

Mereka tidak punya waktu untuk pulang kerumah dan bersia-siap karena sibuk dengan pekerjaan, oleh karena itu Andika hanya menyediakan baju ganti untuk di pakai oleh tuannya.

Satya sudah kehabisan waktu, tidak sempat mandi dan hanya membersihkan wajah dan merapikan rambutnya. Di depan cermin ia menatap wajahnya sejenak, Satya meraba dagunya dan merasakan sedikit rambu-rambut yang ditumbuh disana.

Penampilan yang sangat menarik dengan garis wajah yang tegas dan alis rapi yang sedikit tebal, diantara kedua kakaknya Satya si putra bungsulah yang paling menonjol dan menarik perhatian. Itu menurun dari gen ayahnya sedangkan kedua kakaknya lebih condong mirip dengan ibunya.

Melihat kumis dan janggutnya yang mulai tumbuh, Satya mengerutkan kening. Sudah selama itukah dia tidak memperhatikan penampilannya karena sibuk.

Seusai membersihkan wajahnya Satya dengan cepat memakai setelan jas berwarna biru tua dan kemeja putih yang dibawah oleh Andika, tidak lupa ia juga mengenakan jam tangannya.

Lalu meninggalkan wastafel dan keluar dari kamar mandi yang ada diruangan kerjanya dengan penampilan yang sudah rapi, karena sekertarisnya sedang menunggu dibawah Satya bergegas turun mennggunakan lift dari lantai 12 menuju lobby.

"Silahkan masuk tuan muda." sambut Andika sambil membukakan pintu mobil ketika melihat tuannya keluar gedung.

Lalu Andika menyusul masuk ke dalam mobil bagian depan bersama sopir, mereka berangkat 1 jam sebelum acara makan malam dimulai. Jarak antara kantor Satya dan rumah kedua orang tuanya tidak terlalu jauh tetapi karena macet di tengah jalan, hingga perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam.

***

Dikediaman keluarga besar Bintara.

Seiring matahari mulai terbenam, kesibukan mulai melanda rumah mewah keluarga Bintara. Malam ini, akan diadakan acara makan malam untuk keluarga besar, dan setiap sudut rumah tampak sibuk dengan persiapan.

Di dapur, pelayan-pelayan berlomba-lomba menyiapkan hidangan. Aroma rempah-rempah dan bumbu mulai mengisi udara, sementara suara panci dan penggorengan menambah irama kesibukan. Setiap pelayan tampak fokus dan serius.

Di ruang makan, meja besar sudah disiapkan dengan piring-piring mewah dan peralatan makan berwarna perak. Pelayan-pelayan berlari kesana-kemari, memastikan bahwa setiap detail telah disiapkan dengan sempurna. Mereka menata bunga-bunga segar di pusat meja, menyalakan lilin, dan memeriksa setiap detail dengan hati-hati.

Sementara itu, di ruang tamu, pelayan lainnya sedang menyiapkan area untuk tamu. Mereka menata sofa dan kursi, membersihkan rak buku dan meja kopi, dan memastikan bahwa setiap sudut ruangan tampak rapi.

Meskipun kesibukan dan tekanan tampaknya tak terhindarkan, setiap pelayan tampak tenang dan terkendali, karena diarahkan oleh batler yang sangat kompeten.

'Sudah lama rumah tidak sibuk seperti ini' gumam Jeev.

Jeev adalah batler keluarga besar Bintara, pria paru baya yang memegang tanggu jawab tentang kebutuhan rumah tangga keluarga Bintara, hampir semua permasalahan dan lika-liku kehidupan keluarga Bintara disaksikan oleh Jeev. Dia sudah bekerja untuk keluarga tersebut sejak umurnya 20 tahun, hingga umurnya yang sekarang sekitar 45 tahun. 

"Para tuan muda sudah datang. Aku harus memberikan sambutan sembari menunggu tuan besar pulang" ucap Jeev.

Hingga waktu makan malam sudah tiba, satu-persatu mobil mulai memasuki gerbang utama. Jeev yang melihat itu dengan cepat menuju kepintu masuk bersama dua pelayan mengikutinya dari belakang, untuk menyambut kedatangan dari para tuan muda keluarga Bintara.

"Selamat datang tuan muda Aryan." sapa Jeev dengan ramah.

"Yoo, Jeev bagaimana kabarmu?" balas Aryan tersenyum ramah sembari bertanya.

Aryan Arga Bintara adalah putra kedua dari keluarga Bintara, keluar dari kediaman utama sejak lulus kuliah. Memiliki sifat yang kekanak-kanakan dan sangat manja, tetapi sangat licik, sehingga diwaspadai oleh para saudaranya.

"Kabar saya baik tuan muda, terimakasih atas perhatiannya. Silahkan masuk." balas Jeev tanpa basa-basi.

"Kaku sekali. Hahaha" ejek Aryan, terdengar ia tertawa kecil.

Tidak lama setelah Aryan masuk, datanglah seorang pria dengan setelan jas berwarna abu gelap tampa dasi. Terlihat senyum menyeringai di sudut bibirnya, hal itu ia tujukan pada supir yang membukakannya pintu mobil.

"Selamat datang tuan muda Surya." sapa Jeev sembari menunduk.

Surya Arga Bintara adalah putra sulung dari keluarga Bintara. Dikenal dengan sifatnya yang arogan tetapi sangat kompeten, orang yang sangat mudah marah dengan hal kecil yang tidak ia sukai.

"Ya, selamat malam." balasnya singkat, dengan wajah datar Surya memasuki rumah orang tuanya. Berbeda dengan adiknya yang datang dengan wajah ceria.

'Apa tuan muda ketiga tidak datang?' batin  Jeev.

Karena sudah cukup lama menunggu dan yang ditunggu tak kunjung tiba akhirnya Jeev memutuskan untuk masuk, ketika Jeev ingin membalikan badan tiba-tiba ia mendengar klakson mobil dari arah gerbang.

'Akhirnya tamu terakhir tiba' gumam Jeev dengan antusias.

"Selamat datang tuan muda Satya, para tuan mudah sudah menunggu. silahkan masuk." sapa Jeev tidak  lupa juga ia menundukan kepalanya dengan sopan.

Satya yang baru keluar dari mobil tidak mengatakan apapun, berbeda dengan kedua kakaknya Satya sangat tidak ramah bahkan untuk sekedar basa-basi. Dia masuk tanpa melirik orang yang menyambutnya, diikuti oleh Andika dari belakang, Andika menggantikan tuannya membalas sapaan Jeev dengan tersenyum.

"Tuan muda Satya, anda semakin asing dimata saya. Di mana tuan muda yang baik hati dan ramah yang dulu saya kenal, semoga anda kembali menjadi diri anda sendiri seperti  dulu." Jeev bergumam sembari meperhatikan punggung Satya yang perlahan menjauh.

Sikap Satya berubah sejak ia mengalami percobaan pembunuhan, dulu Satya merupakan anak yang sangat disayangi dan dihormati oleh para pelayan termasuk Jeev. Itu kerena sikapnya yang ramah dan baik, dia sering mengobrol dengan para pekerja dirumahnya. Sifatnya yang ramah mampu membuat suasana rumah menjadi hidup ditengah kesibukan para penghuni kediaman.

Hal yang paling dikagumi oleh para pelayan dirumahnya adalah Satya tidak pernah merendahkan pekerjaan orang lain sekalipun Satya adalah tuan muda. Tetapi hal itu berubah total ketika Satya mengalami percobaan pembunuhan dari pengasuhnya sendiri, orang yang sudah merawatnya sejak kecil.

Pengasuh yang menggantikan sosok ibu bagi Satya, karena sudah lama bersama dengan pengasuh Satya memutuskan untuk memaafkan pengasuhnya. Tidak mudah bagi Satya mengambil keputusan itu, hal itu dia lakukan karena sudah terlanjur menyayangi pengasuhnya.

Tetapi hal yang sama terjadi lagi, pengasuh yang gagal mencobah membunuh Satya dengan cara melukai menggunakan benda tajam, akhirnya memilih untuk meracuni makanan Satya lalu membunuh dirinya sendiri. Walau pada akhirnya hal itu gagal,

Satya yang trauma akan hal itu mengambil keputusan untuk tidak mempercayai siapapun bahkan keluarganya sendiri.

             ~Bayanganmu pun akan meninggalkanmu sendiri saat berdada dalam kegelapan~

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 28: Pencuri Ulung

    Di pinggir kolam renang luas, dengan cahaya lampu yang redup. Air kolam yang jernih memantulkan bayangan sosok Han yang berbadan kekar, dengan rambut basah yang sudah memutih di bagian dan pelipisnya. Mengenakan kemeja coklat tua dengan kancingnya dibiarkan terlepas, memperlihatkan dadanya yang dipenuhi bekas luka jahitan dan sayatan.Han duduk santai menyilangkan kedua kakinya sambil menyesap wine yang berwarna merah darah.Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang memakai jas formal berwarna gelap, tidak lain adalah Agra. Ia berdiri menatap lurus tanpa bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Fokus arah pandangannya tidak bergerak dari pantulan cahaya bulan yang dikelilingi bintang kecil di tengah kegelapan malam. Ia berdiri diam, pikirannya menjadi misteri. Ketika ia mendengar suara serak dari Han yang sudah beralih menghisap rokok.“Tidak biasanya anak itu tidak menghubungiku.” Asap terlihat mengepul di udara, membentuk bulatan sempurna lalu menghilang ditelan udara.“Seperti

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 27: Mencurigakan

    Kegelapan mulai menyelimuti semesta, jalan kota yang tidak pernah sepi. Lampu jalanan dengan segala warna yang cerah mulai berkelap-kelip menghiasi jalanan. Di dalam kamar luas bernuansa kelabu, pandangan Satya fokus menatap lurus, menembus cahaya temaram lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia bisa bernapas dan menenangkan pikirannya. Beberapa waktu lalu saat ia tertidur karena kelelahan, sebuah pesan singkat dari Andika telah membangunkanya. Pesan itu mengatakan bahwa operasi Gea berjalan dengan lancar dan ia telah melewati masa kritis, kini tengah dirawat intensif di rumah sakit. Kabar itu membuat Satya sedikit merasa lega. Namun kelegaan itu tak datang sendiri. Bahagia atas masa krisis telah berlalu, rasa bersalah atas situasinya yang telah menyeret Gea dalam bahaya. Serta perasaan lega karena nyawa gadis itu masih tertolong, semuanya membuncah, saling berbenturan dalam dadanya membu

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 26: Mimpi

    Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Satya akhirnya sampai di rumah sakit.Tepat di depan lobi mereka disambut oleh beberapa dokter yang siap dengan perannya masing-masing.Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zora langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Satya dengan setia menemaninya sampai akhir, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang yang diarahkan padanya. Beberapa dokter yang mengenali dirinya merasa heran kenapa seorang Direktur terlihat sangat berantakan, dan ikut berlari bersama mereka mendorong tandu bersama mereka. Namun satu hal yang terlintas dipikiran para dokter, bahwa orang yang akan mereka tangani adalah orang yang sangat penting bagi Satya. Fakta itulah yang membuat semua dokter yang merawat Zora semakin fokus dan penuh dengan kehati-hati selama mereka berlari dan hingga sampai ke ruang IGD.Dengan rambut acak-acakan, kemeja penuh bercak darah Satya menghela napas kasar. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya.“T

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 25 : Penyesalan

    'Sial, aku lengah...' batinnya, getir."Ukhhh..." ringisnya Zora, suara nyaris tak terdengar. Darah mengucur deras dari luka di sisi kanan perutnya. Telapak tangannya berusaha aliran darahnya, tapi itu sia-sia cairan merah kental yang hangat itu terus mengalir, menodai kemeja putih polosnya yang tidak lagi bersih. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak. Pandangannya buram tapi ia masih bisa melihat Satya sudah mendekat dan berlutut di depannya.“J-jangan.. jangan mendekat. Bodoh, kau bisa ikut tertembak…” tak lagi memiliki tenaga untuk bicara, kata-kata Zora terhenti di ujung lidah, terkubur bersama rasa sakitnya. "G-gea." panggil Satya. Suaranya Satya gemetar, ia menunduk perlahan hingga berlutut di sisi Zora, tangannya ikut menekan luka Zora mencoba membantu untuk menghentikan darah yang mengalir tak terkendali. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat di depannya, tangannya tidak berhenti gemetar, rasa dingin dari tubuh gadis itu membua

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 24: Tertembak

    "Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Zora memutar tubuhnya di tengah teriknya matahari menyapa, matanya menyapu area sekitar yang diliputi kesunyian mencekam. Tidak satu pun kendaraan melintas, tak ada tanda keberadaan orang-orang. Tempat ini nyaris seperti lukisan mati tanpa sentuhan kehidupan. Kesunyian yang mengelilingi Zora hingga ia meragukan bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Ia menghela napas kasar, rambutnya yang lurus tergerai acak-acakan, pipinya tertoreh luka sayatan yang nyaris kering membuat Zora merasakan pipinya seolah ditarik oleh benang kasar. Rasa sakit tidak membuatnya berhenti berpikir. Sekali lagi Zora mengamati sekelilingnya, iris matanya yang tajam menangkap sosok yang menyerangnya, masih menggeliat dan merintih kesakitan dalam sisa nyawa mereka yang tertinggal. Mereka memegangi luka yang masih mengucurkan darah merah pekat tanpa henti membasahi aspal. Zora sengaja tidak mengakhiri mereka, hidup mereka akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Zora dari

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 23 : Penyerangan

    Kaca mobil hampir pecah akibat pukulan, memperlihatkan retakan-retakan halus yang siap meledak menjadi serpihan-serpihan tajam. Zora memutar sorot matanya dengan tajam, masih belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawan.Rasa penyesalan menghampiri hati Zora, penyesalan terbesar yang menggerogoti dirinya. Ia ceroboh, menjadi terlena dalam kehidupan yang tampak normal dan cerah hanya dalam waktu 1 bulan. Seharusnya ia tidak pernah melupakan bayangan kehidupan gelapnya yang penuh darah.Nafas berat masih bergema di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa Satya belum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Namun, kedipan matanya semakin lambat dan terasa berat, rasa sakit di dahinya seakan menusuk dan menjalar diseluruh bagian kepalanya.Darah yang keluar dari luka di dahinya terus mengalir tak terbendung, menyusul saat Zora merobek lengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk menutupi luka tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama, ia kembali fokus mencari objek yang b

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 21 : Darah Satya Mendidih

    Seakan tidak terjadi apa-apa, Zora memasuki lift. Masih memegang tangan Johan, dia menekan tombol lantai 1. Mengabaikan Satya yang menatapnya dengan tajam, membuat jantung Zora berdetak tidak karuan. Entah mengapa dia merasa seperti telah tertangkap basah telah mencuri sesuatu. "Lepaskan tanganku."

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 19 : Saling Mengejek

    'Apa aku harus ikut mengantri juga?' batin Satya sambil melirik jam tangannya, mengangkat kepalanya menatap antrian panjang yang membentang di depannya. Dengan alis berkerut, Satya memejamkan matanya dan memantapkan pikirannya yang enggan mengantri. Mau tidak mau dia harus ikut mengantri, tidak mung

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 14 : Menginap

    Satya masih menunggu Zora di meja makan, dia berpikir mungkin Zora kesulitan dalam mengatasi rasa malu untuk makan bersamanya setelah apa yang terjadi. Memikirkan itu membuat bibir Satya sedikit naik tanpa sadar. 'Apa yang gadis itu lakukan?' gumam Satya kesal. Tak kunjung keluar kamar Satya ingin m

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 11 : Berniat Menggoda

    Melihat Zora datang Alan berniat memerasnya dengan kejadian pagi ini, dimana dia mendapatkan cidera. Alan berpikir Zora datang karena takut kehilangan pekerjaannya, bagaimanapun Zora membuat keributan dihari pertamanya. "Haha, jackpot." batin Alan dengan wajah berbinar begitu dia melihat Zora mengha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status