Mag-log inSatu persatu anggota keluarga memasuki kediaman, tuan dan nyonya rumah belum menunjukan diri. Kedua orang tersebut masih sibuk dengan urusan masing-masing, tuan besar sibuk dengan pekerjaan dan nyonya besar sibuk dengan kegiatan sosialita.
"Halo tuan, para tuan muda sudah datang. Mereka sedang menunggu kehadiran tuan besar." ucap Jeev setelah menghubungi majikannya untuk mengabari bahwa ketiga putranya sudah hadir."Baiklah, sebentar lagi aku sampai." setelah mengatakan hal itu William yang ada dibalik telepon itu langsung mengakhiri telepon."Baik tuan." balas Jeev. Seusai menelpon Jeev berjalan keruang tamu untuk menjamu para tuan muda yang sudah berkumpul.William Arga Bintara adalah ayah dari Satya sekaligus orang yang memimpin perusahaan Bintara Grup, sebetar lagi dia akan memasuki masa pensiun dan sedang mempersiapkan untuk menyerahkan posisinya pada salah satu putranya yang di anggap mampu olehnya.William orang yang sangat dingin, tidak pandai menunjukan perasaannya bahkan pada istrinya dan anak-anaknya sendiri, dia dan istrinya jarang sekali terlihat bersama kecuali ada acara yang mengharuskan mereka untuk bersama."Yoo, apa kabar kak." sapa Aryan melambaikan tangannya saat ia memasuki ruangan.Surya baru saja memasuki pintu, dan mendengar seseorang menyapanya dengan ramah yang tak lain adalah adiknya, namun ia tak menanggapi sapaan sang adik dan hanya melirik lalu membuang wajah dengan sombong. Sambil melihat sekitar, tidak ada orang lain selain mereka disini."Kakak, seperti biasa kakak masih saja arogan, itulah kenapa kakak tidak mendapatkan tempat dihati ayah" sindir Aryan tak terima diabaikan."Kamu juga tidak berubah, seperti biasa sangat cerewet. Telingaku sakit mendengar ocehanmu, pantas saja ayah membuangmu ketempat yang seharusnya." balas Surya memutar matanya malas."Hahaha. Oh ya, apa kakak tau si bungsu katanya akan datang kali ini." ucap Aryan sembari mengepal tangannya berusahan menyembunyikan emosinya karena merasa tersinggung dengan perkataan kakaknya."Ya aku tau, dasar bajingan kecil itu, masih saja tidak tau tempatnya." cemooh Surya.Setelah obrolan singkat itu mereka kembali diam, keduanya tidak ada niat untuk memulai kembali percakapan dan suasana terasa mencekik. Mereka memilih untuk melakukan kegiatan yang menurut mereka menyenangkan, Surya membakar sebatang rokok yang ada disakunya dan Aryan mengotak-atik ponselnya.Tibalah Satya di depan ruang tamu, begitu ia masuk ruangan mata kedua orang yang ada diruangan tersebut langsung tertuju kepadanya, tatapan benci yang di tujukan oleh kakak pertamanya dan tatapan licik yang diarahkan kakak keduanya yang tidak bisa ia pahami.Satya tidak mengerti kenapa kedua kakaknya sangat membencinya, ia tidak mengetahui alasannya. Setiap kali Satya ingin mendekati mereka, ia selalu saja diabaikan bahkan tidak pernah dianggap ada oleh kedua kakakknya.Satya memperhatikan keduanya secara bergiliran, begitu mata mereka bertemu tidak ada yang memulai percakapan. Suasana begitu suram dan mencekam, Satya sudah terbiasa dengan hal itu karena sudah sejak lama di abaikan oleh keduanya."Ku dengar kamu diangkat menjadi direktur." ujar Aryan memecah suanan.Satya mendengar itu hanya mengangguk ringan, tanpa melihat sumber suara yang ia dengar."Kalau begitu selamat, karena hanya kamu yang disayangi oleh ayah bukankah itu hal yang wajar." ucap Aryan lagi sembari tersenyum kecut."Apa?" ucap Satya spontan karena mendengar perkataan konyol kakak keduanya."Bukankah ayah langsung memberikan posisi itu padamu dengan cepat?" tanya Arya sengaja menekan suaranya."Ayah bahkan tidak perna melirik kami, tapi dia memberikan posisis setinggi itu untuk orang bodoh seperti mu!" lontar Aryan tak terima.Mendengar itu Satya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia langsung memahaminya bahwa kedua kakaknya tidak suka kalau posisinya lebih tinggi dari mereka. Kedua kakaknya menganggap posisi itu diberikan oleh ayah mereka, kedua kakaknya mengabaikan fakta bahwa Satya bekerja keras untuk mendapatkan posisi itu."Kamu berani mengabaikan perkataannku?" tanya Aryan kesal lantaran diabaikan oleh sang adik."Maafkan aku kak, tapi aku sangat lelah." ujar Satya memberi alasan. Bukan hal baik jika memicu pertengkaran dengan alasan yang konyol seperti itu, apalagi ini hari mereka berkumpul setelah sekian lama."Beraninya kau." bentak Aryan, suaranya menggema di ruangan itu."Permisi tuan muda, tuan besar akan segera sampai. Silahkan ikut saya." Jeev tiba-tiba membuka pintu, berusaha melerai perdebatan yang akan terjadi.Aryan mengepal tangannya menahan kesal, matanya menatap tajam ke arah Satya tanpa berkedip sedikitpun. Sedangkan kakak sulung mereka yang memperhatikan hal itu diam-diam menertawakan kebodohan mereka berdua."Jeev, kau baru saja menganggu hal yang menarik." kilah surya sembari tersenyum."Maafkan saya tuan muda." balas Jeev."Hahaha, lain kali tunjukan yang lebih menarik dari ini." bisik Surya pada Aryan sembari menepuk pundak Aryan, dan berlalu meninggalkan ruangan itu dan membuang puntung rokoknya kesembarang arah.Arya mengepal tangannya kesal, dia tidak bisa membalas karena sudah dipanggil untuk menghadap ayahnya.'Sial, dasar bajingan. beraninya dia mengabaikanku, tunggu saja aku akan menunjukan hal yang menarik untuk kalian sebentar lagi.' batin Aryan menatap tajam Kearah Satya.-Di meja makan sudah tersedia semua makanan untuk disantap malam ini, satu persatu orang menduduki kursi yang sudah disediakan untuk mereka, keriga putra keluarga bintara sudah ikut duduk di ruang makan.Selain mereka ada juga om dan tente dari pihak ayah mereka, dan terjadi lagi suasana sunyi diantara mereka. Tidak ada orang yang berniat membuka obrolan atau sekedar basa-basi Sampai William datang dan menduduki kursi di ujung meja yang berbentuk oval tersebut."Halo sayang, ya ampun putra-putra mama kelihatan makin gagah." sapa Sofia begitu ia datang dan langsung menghampiri kedua putranya yang sedang duduk di sebelah kiri meja."Halo mam." ucap Surya."Mami juga keliatan makin cantik." kata Aryan membalas pelukan sang mama yang bergantian setelah menyapa kakaknya."Halo sayang, kamu sampai rumah kok nggak ngabarin aku." cetus Sofia yang ditujukan pada suaminya yang hanya diam memperhatikan."Kamu juga akan pulang untuk apa repot-repot memberi kabar." terang William.Mengabaikan putra bungsunya yang duduk seberang meja, Nyonya Sofia langsung duduk tanpa memberi sapaan yang sama seperti yang ia berikan kepada kedua anaknya, dia diabaikan oleh ibunya sendiri seakan Satya tak ada di ruangan itu.Satya meremas jari jemarinya, dia hanya bisa menunduk tanpa bisa mengangkat kepalanya dan hanya menajamkan telinga mendengarkan sapaan hangat yang diberikan oleh ibunya terhadap kedua kakaknya.Walaupun hal itu sudah sejak lama ia rasakan, namun tetap saja Satya tidak mampu membiasakan diri dengan perasaan sakit diabaikan oleh ibunya sendiri.'apa aku hanya terlihat sebagai bayangan redup dimatamu ma?''Aku berjuang keras untuk mendapatkan perhatianmu, tapi ternyata itu masi belum cukup.' batin Satya masih dalam keadaan menunduk.Satya tidak mampu mengangkat kepalanya dan menyaksikan kehangatan yang terjadi diantara kedua kakak dan ibunya. Sebisa mungking ia menyingkirkan perasaan sedihnya, ia harus bersyukur karena masih bisa bertemu dengan sang ibu tanpa bersenda gurau dengannya.Om dan tentenya yang duduk di samping Satya melihat hal itu, dan hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan ipar mereka yang memandang anak-anak dengan cara berbeda seperti itu tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membatu."Bagaimana kesibukannmu dikantor Sat? Om dengar kamu sedang merekrut karyawan baru." tanya Liam, paman dari Satya sekaligus adik dari William."Iya sat, kamu pasti sibuk." lanjut Sintia istri Liam.Tidak tega melihat keponakan mereka berlarut-larut dalam perasaan sedih, mereka berusaha mengajaknya mengobrol. Walaupun hal itu tidak menghibur setidaknya ada yang melihat dan memperhatikan Satya diruangan itu."E-ehh iya om, tente." balas Satya gelagapan."Karena beberapa waktu lalu ada karyawan yang resign." ungkap Satya setelah mendapatkan kembali ketenangannya."Om, tante juga gimana kabarnya?" tanya satya untuk melanjutkan obrolan mereka."Kabar tante baik, kamu kalau kerja jangan berlebihan loh. Nanti telat dapat jodohnya." canda tante Sintia."Haha, tante bisa aja." balas Satya tertwa kecil, hatinya sedikit terhibur.Di pinggir kolam renang luas, dengan cahaya lampu yang redup. Air kolam yang jernih memantulkan bayangan sosok Han yang berbadan kekar, dengan rambut basah yang sudah memutih di bagian dan pelipisnya. Mengenakan kemeja coklat tua dengan kancingnya dibiarkan terlepas, memperlihatkan dadanya yang dipenuhi bekas luka jahitan dan sayatan.Han duduk santai menyilangkan kedua kakinya sambil menyesap wine yang berwarna merah darah.Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang memakai jas formal berwarna gelap, tidak lain adalah Agra. Ia berdiri menatap lurus tanpa bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Fokus arah pandangannya tidak bergerak dari pantulan cahaya bulan yang dikelilingi bintang kecil di tengah kegelapan malam. Ia berdiri diam, pikirannya menjadi misteri. Ketika ia mendengar suara serak dari Han yang sudah beralih menghisap rokok.“Tidak biasanya anak itu tidak menghubungiku.” Asap terlihat mengepul di udara, membentuk bulatan sempurna lalu menghilang ditelan udara.“Seperti
Kegelapan mulai menyelimuti semesta, jalan kota yang tidak pernah sepi. Lampu jalanan dengan segala warna yang cerah mulai berkelap-kelip menghiasi jalanan. Di dalam kamar luas bernuansa kelabu, pandangan Satya fokus menatap lurus, menembus cahaya temaram lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia bisa bernapas dan menenangkan pikirannya. Beberapa waktu lalu saat ia tertidur karena kelelahan, sebuah pesan singkat dari Andika telah membangunkanya. Pesan itu mengatakan bahwa operasi Gea berjalan dengan lancar dan ia telah melewati masa kritis, kini tengah dirawat intensif di rumah sakit. Kabar itu membuat Satya sedikit merasa lega. Namun kelegaan itu tak datang sendiri. Bahagia atas masa krisis telah berlalu, rasa bersalah atas situasinya yang telah menyeret Gea dalam bahaya. Serta perasaan lega karena nyawa gadis itu masih tertolong, semuanya membuncah, saling berbenturan dalam dadanya membu
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Satya akhirnya sampai di rumah sakit.Tepat di depan lobi mereka disambut oleh beberapa dokter yang siap dengan perannya masing-masing.Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zora langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Satya dengan setia menemaninya sampai akhir, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang yang diarahkan padanya. Beberapa dokter yang mengenali dirinya merasa heran kenapa seorang Direktur terlihat sangat berantakan, dan ikut berlari bersama mereka mendorong tandu bersama mereka. Namun satu hal yang terlintas dipikiran para dokter, bahwa orang yang akan mereka tangani adalah orang yang sangat penting bagi Satya. Fakta itulah yang membuat semua dokter yang merawat Zora semakin fokus dan penuh dengan kehati-hati selama mereka berlari dan hingga sampai ke ruang IGD.Dengan rambut acak-acakan, kemeja penuh bercak darah Satya menghela napas kasar. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya.“T
'Sial, aku lengah...' batinnya, getir."Ukhhh..." ringisnya Zora, suara nyaris tak terdengar. Darah mengucur deras dari luka di sisi kanan perutnya. Telapak tangannya berusaha aliran darahnya, tapi itu sia-sia cairan merah kental yang hangat itu terus mengalir, menodai kemeja putih polosnya yang tidak lagi bersih. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak. Pandangannya buram tapi ia masih bisa melihat Satya sudah mendekat dan berlutut di depannya.“J-jangan.. jangan mendekat. Bodoh, kau bisa ikut tertembak…” tak lagi memiliki tenaga untuk bicara, kata-kata Zora terhenti di ujung lidah, terkubur bersama rasa sakitnya. "G-gea." panggil Satya. Suaranya Satya gemetar, ia menunduk perlahan hingga berlutut di sisi Zora, tangannya ikut menekan luka Zora mencoba membantu untuk menghentikan darah yang mengalir tak terkendali. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat di depannya, tangannya tidak berhenti gemetar, rasa dingin dari tubuh gadis itu membua
"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Zora memutar tubuhnya di tengah teriknya matahari menyapa, matanya menyapu area sekitar yang diliputi kesunyian mencekam. Tidak satu pun kendaraan melintas, tak ada tanda keberadaan orang-orang. Tempat ini nyaris seperti lukisan mati tanpa sentuhan kehidupan. Kesunyian yang mengelilingi Zora hingga ia meragukan bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Ia menghela napas kasar, rambutnya yang lurus tergerai acak-acakan, pipinya tertoreh luka sayatan yang nyaris kering membuat Zora merasakan pipinya seolah ditarik oleh benang kasar. Rasa sakit tidak membuatnya berhenti berpikir. Sekali lagi Zora mengamati sekelilingnya, iris matanya yang tajam menangkap sosok yang menyerangnya, masih menggeliat dan merintih kesakitan dalam sisa nyawa mereka yang tertinggal. Mereka memegangi luka yang masih mengucurkan darah merah pekat tanpa henti membasahi aspal. Zora sengaja tidak mengakhiri mereka, hidup mereka akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Zora dari
Kaca mobil hampir pecah akibat pukulan, memperlihatkan retakan-retakan halus yang siap meledak menjadi serpihan-serpihan tajam. Zora memutar sorot matanya dengan tajam, masih belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawan.Rasa penyesalan menghampiri hati Zora, penyesalan terbesar yang menggerogoti dirinya. Ia ceroboh, menjadi terlena dalam kehidupan yang tampak normal dan cerah hanya dalam waktu 1 bulan. Seharusnya ia tidak pernah melupakan bayangan kehidupan gelapnya yang penuh darah.Nafas berat masih bergema di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa Satya belum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Namun, kedipan matanya semakin lambat dan terasa berat, rasa sakit di dahinya seakan menusuk dan menjalar diseluruh bagian kepalanya.Darah yang keluar dari luka di dahinya terus mengalir tak terbendung, menyusul saat Zora merobek lengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk menutupi luka tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama, ia kembali fokus mencari objek yang b
Satya kembali sibuk dengan urusan kantor, dan ada Andika yang membantunya dengan setia keluar masuk ruangan setiap kali Satya memanggil. Lagi-lagi pikiranya terbayang-bayang tentang Zora yang ia lihat tadi pagi. Alasan Satya memanggil Zora untuk interview karena dia sedikit penasaran tentang dirinya
Klikkk... Ada 3 orang memasuki ruang tunggu, diantara nya ada Satya yang akan mewawancarai para pelamar, Zora memperhatikan orang-orang yang memasuki ruangan. Mata Zora langsung tertuju kepada satu orang yaitu Satya, dia terlihat mencolok dan sangat mudah menarik perhatian dengan penampilannya. Wib
Pagi hari yang cerah menyambut matahari dan seolah mengusir gelapnya malam, Zora bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan untuk interview. Dia memakai baju formal yang sesuai dengan kriteria seorang karyawan kantoran. Zora menghadap cermin memperhatikan pantulan dirinya dari atas sampai bawah, d
"Huufftt akhirnya selesai." lirih Satya sembari meregengkan tubuhnya yang lelah karena dari pagi dia sudah duduk memeriksa dokumen yang berkaitan dengan pekerjaannya. Tok tok tok. Terdengar ketukan pintu, Satya sedang bersandar dikursinya sambil memejamkan mata tidak bereaksi. Beberapa saat kemud







