Share

Part 7 : Interview kerja

Author: ETI KUSMAWATI
last update Petsa ng paglalathala: 2024-01-03 20:49:24

Pagi hari yang cerah menyambut matahari dan seolah mengusir gelapnya malam, Zora bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan untuk interview. Dia memakai baju formal yang sesuai dengan kriteria seorang karyawan kantoran.

Zora menghadap cermin memperhatikan pantulan dirinya dari atas sampai bawah, dia berpikir masih ada yang kurang dari penampilannya lalu meraih laci di sampingnya dan mangambil sebuah kacamata dan memakainya.

"Sempurna" gumam Zora.

Setelah selesai dengan urusan penampilan, Zora berangkat keperusahaan dengan mengendarai mobil pribadinya. Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai ke perusahaan jadi Zora berangkat lebih awal karena jam intervewnya pukul sembilan.

Sesampainya didepan gedung Zora memperhatikan area sekitarnya dengan saksama lalu melangkahkan kakinya dengan tenang memasuki gedung itu dan berjalan menuju resepsionis. Zora dia antar keruangan tunggu karyawan.

Ada banyak orang yang melamar di perusahaan di berbagai macam posisi, tetapi berbeda dengan posisi yang Zora lamar. Karena pekerjaan sebagai pengawal membutuhkan kekuatan fisik jadi tidak banyak yang melamar.

"Waahhh ternyata ada perempuan juga yah." ucap seorang yang duduk di samping Zora.

"Apa kamu tidak salah ruangan nona? Di sini ruangan tunggu untuk karyawan pria khusus bodyguard." ungkap pria lain yang datang menghampiri dan menanyainya dengan sopan.

"Iya, kamu hanya seorang gadis kecil. Ada urusan apa disini?" ejek pria satunya lagi.

Di ruangan itu ada 6 pria pelamar kerja di perusahaan tersebut, mereka memiliki badan kekar dan sangat tinggi, dan hal itu membuat kehadiran Zora layaknya tikus yang dikelilingi 6 kucing.

Zora tidak menanggapi ucapan mereka dan hanya duduk diam, sambil meperhatikan struktur ruangan itu. Melihat itu salah satu dari mereka geram dan menegurnya.

"Nona, ketika diajak mengobrol anda harus menjawab supaya tidak dianggap kurang ajar." ucap salah satu pria itu.

"Betul, gadis kecil ini kenapa kurang ajar sekali. dia sama sekali tidak menghormati orang dewasa" sahut pria lainnya.

"Merepotkan sekali, inilah kenapa aku tidak suka seseorang berada di dekatku. Haruskan kubunuh mereka semua".

"Hahh, tidak, tidak. Ini adalah misi yang Han berikan padaku, jadi aku harus melakukan yang terbaik supaya dia memujiku." tenggelam dalam pikirannya setelah mendengar ocehan yang menurutnya mengesalkan, Zora menggelengkan kepala dan mengalihkan pikirannya.

"Maafkan saya tuan-tuan, saya tidak pandai bersosialisasi." jawab Zora santai.

"Benarkah? Tapi kamu terlihat seperti orang yang acuh tak acuh dengan keadaan sekitarmu." balas pria disamping Zora.

"Saya tidak tau kenapa tuan-tuan sampai repot-repot menegur saya, jika tuan tidak suka abaikan saja saya dan juga saya berada di ruangan yang benar." ucap Zora berusaha mengakhiri percakapan yang membuatnya jengkel.

"Dasar gadis sombong, kamu pikir kamu siapa hah?" bentak pria itu.

Hal itu semakin membuat Zora tidak mengerti kenapa orang-orang yang ada di depannya terlihat marah sampai meninggikan suaranya, hanya karena dia meminta untuk mengabaikannya, bukankah hal itu sangat mudah untuk dilakukan apalagi untuk orang dewasa seperti mereka.

Ketika salah satu dari pria itu ingin angkat bicara tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan salah satu staf masuk keruangan itu dan duduk disalah satu dari tiga kursi yang ada di ruangan itu.

"Selamat pagi semuanya, mohon maaf karena telah membuat anda sekalian menunggu. Untuk intervewnya akan dilakukan langsung oleh pak direktur jadi mohon tunggu sebentar lagi." ucap Andika yang baru memasuki ruangan itu.

"Baik pak." jawab mereka serentak.

Mendengar itu Zora menyipitkan matanya dan menatap tajam andika yang sedang mengotak-atik berkas, sebentar lagi dia akan bertemu orang yang menjadi targetnya kali ini dan akan segera menyusun rencana kedepan setelah melihatnya secara langsung.

"Kenapa pak direktur belum datang juga" guma Andika, lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu.

Sedangkan di ruangan direktur Satya sedang melamun, pikirannya melayang dan mengingat saat kemarin makan malam di rumah orang tuanya.

"Pa, ada yang mau aku omongin sama papa" ucap Aryan, dan William hanya melirik tanpa mengatakan apapun.

Sesaat sebelum Arya mengatakan sesuatu dia melirik adik bungsunya dan mata mereka bertemu, Aryan tersenyum menyeringai lalu mengalihkan pandanganya kearah ayahnya.

"Pa, ada seorang wanita yang mendatangiku dan dia mengaku sudah tidur bersama Satya. Wanita itu mengancam akan mengungkapkan hal itu kepada media kalau Satya tidak mau bertanggung jawab." ungkap Aryan.

"Kalau wanita itu melakukannya nama baik keluarga kita akan buruk dimata media dan akan mempengaruhi nama baik perusahaan." lanjut Aryan.

Mendengar itu Satya kaget dan menatap kakaknya dengan tajam, dia mempertanyakan apa maksud dari tuduhannya. Satya tidak bisa langsung membantah karena ayahnya belum angkat bicara, dia paham betul bagaimana sifat ayahnya.

William menatap putra bungsunya lekat-lekat, dan ia bertanya apakah yang dikatakan oleh kakaknya itu benar.

"Itu bohong pa, aku nggak dekat dengan siapapun. Aku sangat sibuk jadi tidak memiliki waktu untuk hal seperti itu." bantah Satya meyakinkan ayahnya.

"Wanita itu punya buktinya pa, dia nggak mungkin berani datang padaku mengatakan sesuatu tanpa bukti." tegas Aryan tak mau kehilangan kesempatan.

"Jadi kenapa wanita itu mendatangimu bukannya Satya?" tanya Walliam.

"I-itu, itu karena wanita itu takut kalau Satya menyakitinya untuk menghilangkan bukti." resah Aryan.

"Kalian bukan anak kecil lagi sehingga mengadukan hal yang tidak bermoral seperti itu, apa perlu aku turun tangan hanya untuk menyelesaikan masalah kalian." ujar William.

"Kalian urus masalah itu, dan juga aku tidak tau kalau ada yang berani mengancam Bintara Grup dengan hal remeh seperti itu. Kedepannya aku tidak ingin mendengar hal semacam itu lagi, kalian membuat selera makanku hilang." William berdiri dan melempar garpu yang ia pegang.

Suara benturan antara garpu dan piring itu membuat Aryan gugup dan mengartikan perkataan ayahnya barusan itu ditujukan padanya. Dia sudah membuat ayahnya kesal dan kehilangan perhatian sang ayah.

"Sial, aku benar-benar tidak mengerti pemikiran pak tua itu." batin Aryan jengkel.

"Sayang tunggu, kamu mau kemana? kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini, kamu tidak berniat meninggalkan kami begitu saja kan?" ucap nyonya Sofia yang bangun dan meraih tangan suaminya.

"Aku sudah kehilangan selera, jadi untuk apa aku disini?" ujar William tanpa berhenti terus, dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.

"Sayang tunggu." Sofia menyusul suaminya dan ikut meninggalkan ruang makan.

"Hahaha, makan malam jadi kacau berkatmu Ar. Aku sangat berterimakasih karena kamu sangat bodoh." ejek Surya sambil tertawa, dia juga ikut pergi meninggalkan ruang makan. Karena makan malam ini tidak ada gunanya tanpa kehadiran ayahnya.

"Pak, pak, bangun. Waktunya untuk mewawancarai para pelamar." ucap Andika membangunkan Satya yang sedang duduk menyandarkan kepalanya.

Perlahan mata Satya membuka mata, ingatannya tentang makan malam terhenti. Pandangannya yang buram butuh waktu untuk kembali jernih karena sesaat yang lalu dia seperti tertidur. Satya memperhatikan Andika yang berdiri dihadapannya, lalu melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 08:47 AM.

"Ada apa?" tanya Satya sambil merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.

"Waktunya untuk mewawancarai para pelamar pak." jawab Andika.

"Oh, aku lupa. Baiklah, pergilah dulu aku akan menyusul." pinta Satya.

Andika berjalan keluar, sedangkan Satya menghela nafas memperhatikan punggung Andika yang menghilang dibalik pintu. Dia merenung dan memikirkan tentang ingatannya barusan.

Satya memikirkan apa yang akan kakaknya lakukan selanjutnya, kakaknya pasti akan mencari cara lain untuk mengganggunya lagi. Kegagalannya tadi malam tidak akan membuatnya jera, bagaimanapun dia harus menyiapkan sesuatu untuk menghadapi kakaknya.

Ketukan pintu kembali terdengar, itu pasti Andika yang datang untuk memanggilnya lagi. Satya bangun dari kursi kebesarannya sebagai direktur dan memakai jasnya, dia harus melakukan pekerjaanya dulu saat ini.

Ada 2 orang yang menunggu Satya didepan pintu ruangannya termasuk Andika, sedangkan 1 orang lainya adalah HRD yang akan menemani Satya untuk mewawancarai para pelamar di perusahaan itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 28: Pencuri Ulung

    Di pinggir kolam renang luas, dengan cahaya lampu yang redup. Air kolam yang jernih memantulkan bayangan sosok Han yang berbadan kekar, dengan rambut basah yang sudah memutih di bagian dan pelipisnya. Mengenakan kemeja coklat tua dengan kancingnya dibiarkan terlepas, memperlihatkan dadanya yang dipenuhi bekas luka jahitan dan sayatan.Han duduk santai menyilangkan kedua kakinya sambil menyesap wine yang berwarna merah darah.Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang memakai jas formal berwarna gelap, tidak lain adalah Agra. Ia berdiri menatap lurus tanpa bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Fokus arah pandangannya tidak bergerak dari pantulan cahaya bulan yang dikelilingi bintang kecil di tengah kegelapan malam. Ia berdiri diam, pikirannya menjadi misteri. Ketika ia mendengar suara serak dari Han yang sudah beralih menghisap rokok.“Tidak biasanya anak itu tidak menghubungiku.” Asap terlihat mengepul di udara, membentuk bulatan sempurna lalu menghilang ditelan udara.“Seperti

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 27: Mencurigakan

    Kegelapan mulai menyelimuti semesta, jalan kota yang tidak pernah sepi. Lampu jalanan dengan segala warna yang cerah mulai berkelap-kelip menghiasi jalanan. Di dalam kamar luas bernuansa kelabu, pandangan Satya fokus menatap lurus, menembus cahaya temaram lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia bisa bernapas dan menenangkan pikirannya. Beberapa waktu lalu saat ia tertidur karena kelelahan, sebuah pesan singkat dari Andika telah membangunkanya. Pesan itu mengatakan bahwa operasi Gea berjalan dengan lancar dan ia telah melewati masa kritis, kini tengah dirawat intensif di rumah sakit. Kabar itu membuat Satya sedikit merasa lega. Namun kelegaan itu tak datang sendiri. Bahagia atas masa krisis telah berlalu, rasa bersalah atas situasinya yang telah menyeret Gea dalam bahaya. Serta perasaan lega karena nyawa gadis itu masih tertolong, semuanya membuncah, saling berbenturan dalam dadanya membu

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 26: Mimpi

    Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Satya akhirnya sampai di rumah sakit.Tepat di depan lobi mereka disambut oleh beberapa dokter yang siap dengan perannya masing-masing.Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zora langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Satya dengan setia menemaninya sampai akhir, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang yang diarahkan padanya. Beberapa dokter yang mengenali dirinya merasa heran kenapa seorang Direktur terlihat sangat berantakan, dan ikut berlari bersama mereka mendorong tandu bersama mereka. Namun satu hal yang terlintas dipikiran para dokter, bahwa orang yang akan mereka tangani adalah orang yang sangat penting bagi Satya. Fakta itulah yang membuat semua dokter yang merawat Zora semakin fokus dan penuh dengan kehati-hati selama mereka berlari dan hingga sampai ke ruang IGD.Dengan rambut acak-acakan, kemeja penuh bercak darah Satya menghela napas kasar. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya.“T

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 25 : Penyesalan

    'Sial, aku lengah...' batinnya, getir."Ukhhh..." ringisnya Zora, suara nyaris tak terdengar. Darah mengucur deras dari luka di sisi kanan perutnya. Telapak tangannya berusaha aliran darahnya, tapi itu sia-sia cairan merah kental yang hangat itu terus mengalir, menodai kemeja putih polosnya yang tidak lagi bersih. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak. Pandangannya buram tapi ia masih bisa melihat Satya sudah mendekat dan berlutut di depannya.“J-jangan.. jangan mendekat. Bodoh, kau bisa ikut tertembak…” tak lagi memiliki tenaga untuk bicara, kata-kata Zora terhenti di ujung lidah, terkubur bersama rasa sakitnya. "G-gea." panggil Satya. Suaranya Satya gemetar, ia menunduk perlahan hingga berlutut di sisi Zora, tangannya ikut menekan luka Zora mencoba membantu untuk menghentikan darah yang mengalir tak terkendali. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat di depannya, tangannya tidak berhenti gemetar, rasa dingin dari tubuh gadis itu membua

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 24: Tertembak

    "Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Zora memutar tubuhnya di tengah teriknya matahari menyapa, matanya menyapu area sekitar yang diliputi kesunyian mencekam. Tidak satu pun kendaraan melintas, tak ada tanda keberadaan orang-orang. Tempat ini nyaris seperti lukisan mati tanpa sentuhan kehidupan. Kesunyian yang mengelilingi Zora hingga ia meragukan bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Ia menghela napas kasar, rambutnya yang lurus tergerai acak-acakan, pipinya tertoreh luka sayatan yang nyaris kering membuat Zora merasakan pipinya seolah ditarik oleh benang kasar. Rasa sakit tidak membuatnya berhenti berpikir. Sekali lagi Zora mengamati sekelilingnya, iris matanya yang tajam menangkap sosok yang menyerangnya, masih menggeliat dan merintih kesakitan dalam sisa nyawa mereka yang tertinggal. Mereka memegangi luka yang masih mengucurkan darah merah pekat tanpa henti membasahi aspal. Zora sengaja tidak mengakhiri mereka, hidup mereka akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Zora dari

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 23 : Penyerangan

    Kaca mobil hampir pecah akibat pukulan, memperlihatkan retakan-retakan halus yang siap meledak menjadi serpihan-serpihan tajam. Zora memutar sorot matanya dengan tajam, masih belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawan.Rasa penyesalan menghampiri hati Zora, penyesalan terbesar yang menggerogoti dirinya. Ia ceroboh, menjadi terlena dalam kehidupan yang tampak normal dan cerah hanya dalam waktu 1 bulan. Seharusnya ia tidak pernah melupakan bayangan kehidupan gelapnya yang penuh darah.Nafas berat masih bergema di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa Satya belum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Namun, kedipan matanya semakin lambat dan terasa berat, rasa sakit di dahinya seakan menusuk dan menjalar diseluruh bagian kepalanya.Darah yang keluar dari luka di dahinya terus mengalir tak terbendung, menyusul saat Zora merobek lengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk menutupi luka tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama, ia kembali fokus mencari objek yang b

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 5 : Keluarga Bintara

    "Huufftt akhirnya selesai." lirih Satya sembari meregengkan tubuhnya yang lelah karena dari pagi dia sudah duduk memeriksa dokumen yang berkaitan dengan pekerjaannya. Tok tok tok. Terdengar ketukan pintu, Satya sedang bersandar dikursinya sambil memejamkan mata tidak bereaksi. Beberapa saat kemud

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 4 : Identitas Baru

    Setelah Zora memeriksa dan melihat semua isi dari paper bag, ada 2 kotak makanan favorit Zora yaitu kue macaron yang berasal dari Prancis dan 1 gelas dark choco drink. Lalu Zora dengan cepat menyantap kue favoritnya, hingga satu kotak yang berisi 6 kue bulat dengan varian rasa yang berbeda itu habi

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 3 : Kehidupan Normal

    Di tengah kendaraan yang berlalu lalang, suara bisik mesin dari segala arah. Zora melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia memperhatikan dan melirik matanya sendiri. Penampilannya sudah berubah, dia memakai sweater oversize berwarna abu dengan kacamata bulat serta rambut diikat kun

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 2 : Sensasi Menggelitik

    "Kau akan segera mati, jadi tidak ada gunanya bertanya" tutur pria yang ada dibelakangnya. "Dasar pengecut, jadi kau tidak bergerak sendiri." cecar Sam, dia sadar nyawanya terancam dan mengarahkan pandangannya ke arah Zora.Sesaat sebelum benda tajam itu menembus kulitnya lebih dalam, tiba-tiba or

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status