Share

Bab 16

Author: Liontin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-11 16:19:48

Hanya dalam waktu lima belas menit sejak meninggalkan restaurant, kami sudah duduk berdampingan di sofa sudut ruangan yang temaram, dikelilingi keremangan lampu neon dan dentuman musik yang menghentak pelan. Aroma khas alkohol, parfum maskulin, dan asap tipis bercampur menjadi satu di udara.

Aku menoleh, menatap sosok pria di sebelahku dengan rasa penasaran yang menggelitik. "Johan, apakah kamu sering ke bar ini?" tanyaku pelan, berusaha mengatasi suara musik yang berdengung di telinga.

Johan m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Antara Kita Bertiga   Bab 41

    "Tidak, Tuan Arman. Sepertinya malam ini saya sudah cukup melayani Anda," kataku dengan suara dingin, mendadak kehilangan selera untuk pura-pura ramah.Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menyambar nampan perak di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan sofa nomor dua belas. Arman sempat memanggil namaku pelan, namun aku sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatian dan fokusku kini sepenuhnya tersedot ke arah sofa VIP di seberang ruangan—tempat di mana Johan dan Sasa duduk terlalu dekat, tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.Aku berjalan cepat menuju area bar utama, meletakkan nampan dengan sedikit sentakan keras hingga pelayan lain menoleh kaget. Napasku memburu, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena gejolak emosi aneh yang mendadak membakar dada. Cemburu? Apakah aku baru saja merasa cemburu melihat Johan bersama wanita lain?Tidak mungkin! batinku menyangkal keras. Aku yang memilih kabur darinya. Aku yang menolak sangkar emasnya demi kebebasan. Jadi

  • Antara Kita Bertiga   Bab 40

    Dadaku bergemuruh kencang, napasku memburu tak beraturan di balik sekat pembatas lorong. Aku buru-buru melangkah mundur, menjauh dari pemandangan panas antara Clara dan Arman sebelum mereka sadar ada yang mengintip. Sambil menepuk-nepuk pipiku yang terasa panas membara, aku mencoba merapikan apron dan ekspresi wajahku agar kembali terlihat normal. Sialan, batinku bergejolak. Kenapa malah aku yang jadi ikut bergairah begini?Aku langsung berjalan cepat menuju area bar utama untuk memproses pesanan dua botol wine vintage termahal yang diminta oleh Arman."Mbak, tolong siapkan dua botol wine vintage meja nomor dua belas ya. Ini uang mukanya," kataku pada pelayan bar di sana sambil menyerahkan segepok lembaran uang tunai.Tak butuh waktu lama, botol minuman mahal itu pun siap di atas nampan perak. Dengan sisa-sisa kesadaran yang coba kukumpulkan, aku melangkah kembali menuju meja nomor dua belas di pojok ruangan. "Wah, cepat sekali datangnya, manis," sambut Arman begitu aku meletakkan bo

  • Antara Kita Bertiga   Bab 39

    "Aduh, Clar! Eyeliner-ku ini kenapa malah miring begini sih? Kalau kelihatan galak kayak penyihir, gimana mau melayani tamu?" keluhku panik sambil memegang kuas kecil di depan cermin kecil, mengikis garis hitam di kelopak mata kiriku.Clara yang sedang sibuk melilitkan syal sutra kecil di lehernya langsung menoleh, tertawa renyah melihat kepanikanku. "Sini, biar aku benerin! Makanya jangan grogi gitu dong, Sher. Anggap saja kita lagi mau dandan buat kondangan mantan," candanya santai sambil merampas alat makeup dari tanganku."Bukan masalah kondangan, Clar. Ini kan malam pertamaku kerja di tempat hiburan malam itu. Rasanya masih ada deg-degan aneh di dada," kataku jujur, merapikan lipstik merah marun di bibirku."Udah, tenang aja! Pokoknya malam ini target kita cuma satu: cari uang sebanyak-banyaknya buat nutupin uang sewa bulan depan," balas Clara penuh semangat sambil memakaikan blazer hitam panjang di tubuhku. "Oh, iya, aku lupa ngasih tau aturan emas di bar ini? Kalau ada tamu yan

  • Antara Kita Bertiga   Bab 38

    Deru kereta api mengantarkanku kembali ke stasiun kota besar yang bising dan penuh sesak. Begitu aku melangkah keluar dari gerbang kedatangan, sosok Clara langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat, mengenakan jaket denim kesayangannya."Sherine!" teriak Clara histeris, langsung berlari menerjang dan memelukku erat-erat begitu kami bertemu. Air mata kebahagiaan menitik di sudut mata sahabatku itu. "Aku kangen banget, tahu!""Aku juga kangen, Clar," balasku sambil tersenyum tulus, membalas pelukannya tak kalah erat.Setelah melepas rindu sejenak di kedai kopi dekat stasiun, Clara langsung mengajakku menaiki taksi menuju tempat tinggal barunya—sebuah apartemen studio mungil yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat hiburan kota."Meskipun kecil, tapi ini aman dan murni pakai uangku sendiri, Sher," kata Clara bangga sambil meletakkan koperku di sudut ruangan. Ia lalu mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menatapku serius. "Ngomong-ngomong soal bertahan hidup, dan pekerjaan yang

  • Antara Kita Bertiga   Bab 37

    Sudah satu bulan sejak pergiaannya aku dari kehidupan Johan dan Andi, mengasingkan diri dan hidup di kampung terpencil ini. Rasanya, hari-hari yang kuhabiskan di bawah bayang-bayang pegunungan dan kabut tipis berhasil mengembalikan kewarasan serta ketenangan yang sempat meredup di dalam diriku. Tidak ada lagi teror, tidak ada tatapan tajam yang menuntut, dan tidak ada cengkeraman kekuasaan yang membuatku merasa seperti boneka. Namun, kedamaian batin itu perlahan diiringi oleh kenyataan pahit ketika aku membuka dompetku pagi ini.Aku menatap sisa lembaran uang di tangan dengan desahan napas panjang. Tabunganku sudah mulai menipis drastis. Biaya hidup di desa memang murah, tetapi uang simpanan dari hasil kerja keras masa lalu tidak akan bertahan selamanya jika aku hanya berpangku tangan di rumah Pak Karto. Aku harus kembali mandiri.Tanpa berpikir panjang, aku segera berjalan menuju titik di desa yang memiliki sinyal telepon seluler cukup stabil. Ponselku bergetar beberapa kali sebelum

  • Antara Kita Bertiga   Bab 36

    Langkah kakiku mendadak terhenti tepat di ambang pintu rumah Clara yang berantakan. Genggaman hangat di pergelangan tanganku tidak mampu membuatku melangkah lebih jauh. Aku menarik tanganku perlahan dari genggaman Johan, membuat pria itu menoleh dengan kening berkerut dalam."Tidak, Johan," ucapku tegas, suaraku bergetar namun menyiratkan tekad bulat yang tidak bisa diganggu gugat.Johan menatapku tajam. Sorot matanya menyiratkan ketidakpercayaan sekaligus bara api yang mulai tersulut. "Apa maksudmu, Sherine? Kamu baru saja melihat sendiri apa yang terjadi di sini. Andi dan orang-orangnya tidak akan berhenti mencarimu!""Ya, aku tahu!" bentakku pelan, air mataku kembali tumpah membasahi pipi. "Tapi kalau aku ikut denganmu, apa bedanya aku dengan burung dalam sangkar emas? Kamu, Andi, keluargaku... kalian semua sama saja! Kalian semua ingin mengatur hidupku, mengurungku, dan menjadikanku bidak dalam permainan kalian!"Clara yang berdiri di sudut ruangan menahan napasnya, menutup mulut

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status