Partager

Bab 59

Auteur: Liontin
last update Date de publication: 2026-11-06 22:49:59

"Soal Andi," bisik Vanessa pelan, pandangannya meredup. "Kamu benar-benar sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama dia?"

Aku mendengus pelan, menaruh sendokku di tepi mangkuk. "Vanessa, kita ini sedang di kantin kantor. Lagipula, aku dan Andi sedang dalam proses perceraian. Untuk apa aku memikirkan pria yang sudah menghancurkan hidupku?"

"Tapi semalam..." Vanessa menggantung kalimatnya, menatapku selidik dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Andi menghubungi aku lagi tadi pagi. Suaranya
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Antara Kita Bertiga   Bab 62

    "Andi, aku datang ke sini bukan untuk bernostalgia atau mendengarkan teori konspirasimu," potongku tajam, suaraku bergetar menahan amarah yang bergejolak di dada. "Aku menegaskan sekali lagi: kita akan tetap bercerai. Lepaskan aku, jangan ganggu hidupku lagi! Kalaupun kamu sudah sadar dan berniat baik sekarang, maaf... aku sama sekali tidak butuh itu semua."Andi terperanjat. Tatapannya menatapku nanar, menyuratkan kepedihan yang teramat dalam seolah ada belati tak kasat mata yang menghujam dadanya."Sher... kumohon, jangan bicara begitu," suara Andi melemah, sarat akan permohonan yang memilukan. "Sampai detik ini, aku masih mencintaimu, Sherine. Aku tahu aku brengsek, aku tahu aku sudah menghancurkan kepercayaanmu. Tapi bayangan kehilangan kamu untuk selamanya membuatku gila. Pikirkan kembali soal perceraian ini... sebentar lagi kita harus menghadapi persidangan. Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku janji, aku akan berubah total demi memperbaiki semuanya jika kamu mau memaafkanku."

  • Antara Kita Bertiga   Bab 61

    "Ketemu?" Andi, tolong sadarlah. Kita ini sudah di ujung tanduk perceraian. Hubungan kita sudah lama mati, dan kamu masih punya tanggungan moral yang jauh lebih besar di sana. Kenapa kamu masih sibuk mencariku?""Sherine, kumohon... dengarkan aku sebentar saja, aku tidak sedang ingin berbasa-basi atau mempermainkanmu lagi. Ada hal krusial yang menyangkut keselamatanmu, pekerjaannmu, dan masa depan kita yang tidak bisa kujelaskan lewat telepon seluler ini. Malam ini, sepuluh menit saja di kafe seberang apartemenmu. Aku tunggu."Klik.Panggilan itu langsung diputus sepihak oleh Andi sebelum aku sempat melontarkan penolakan. Aku tertegun memandangi layar ponsel yang kini kembali gelap.Jantungku bergemuruh hebat. Otakku berputar liar, mencoba menimbang-nimbang apakah ajakan ini adalah jebakan baru, sebuah manipulasi licik lainnya dari pria yang sudah merusak kepercayaanku, ataukah justru sebuah petunjuk penting di tengah labirin kekacauan yang sedang kuhadapi hari ini? Bayangan wajah Ren

  • Antara Kita Bertiga   Bab 60

    "Renata?" tanyaku dengan suara bergetar tak percaya, mataku membelalak lebar menatap atasanku. "Mbak Tika, ini pasti ada kekeliruan. Aku staf HRD, tugasku di divisi ini, mengurus administrasi kepegawaian internal, bukan diperintah langsung di bawah sekretariat eksekutif!"Kartika menghela napas panjang, bahunya merosot turun seolah menanggung beban berat. Ia menundukkan pandangannya pada tumpukan berkas di meja tanpa berani menatap mataku lebih lama."Ini instruksi langsung dari atas, Sherine," ucap Kartika dengan suara parau dan kaku. "Aku tidak punya wewenang untuk membantah atau mempertanyakan perintah dari lantai dua belas. Bawalah dokumen validasi absensi itu ke meja kerjanya sekarang juga, jangan buat masalah di hari pertama kamu.""Tapi, Mbak—" protesku tertahan di tenggorokan."Sudah, jangan membantah lagi!" potong Kartika tegas, meski ada nada gamang di balik suaranya. "Cepat laksanakan."Dengan kaki yang terasa lemas, berat, dan gemetar hebat, aku berbalik keluar dari ruang

  • Antara Kita Bertiga   Bab 59

    "Soal Andi," bisik Vanessa pelan, pandangannya meredup. "Kamu benar-benar sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama dia?"Aku mendengus pelan, menaruh sendokku di tepi mangkuk. "Vanessa, kita ini sedang di kantin kantor. Lagipula, aku dan Andi sedang dalam proses perceraian. Untuk apa aku memikirkan pria yang sudah menghancurkan hidupku?""Tapi semalam..." Vanessa menggantung kalimatnya, menatapku selidik dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Andi menghubungi aku lagi tadi pagi. Suaranya frustrasi banget. Dia bilang dia ketemu kamu kemarin dan mungkin kalian bakal balik lagi"Aku membelalak kaget. "Apa?! Dia bilang begitu ke kamu?""Iya," jawab Vanessa dengan tawa pahit. Ia meraih gelas teh manisnya dan meminumnya sedikit. "Konyol, kan? Aku yang hamil anaknya, tapi dia justru sibuk mengejar kamu... tapi ternyata dia cuma memanfaatkan aku."Aku terdiam, mengaduk-aduk isi mangkuk sotoku yang mendadak terasa hambar. Rasa kasihan dan benci bercampur aduk di dalam dada saat melihat r

  • Antara Kita Bertiga   Bab 58

    Sosok pria tinggi tegap berjas kelabu yang baru saja melangkah keluar dari ruang Direktur Utama membuat seluruh koridor mendadak membisu. Namun, belum sempat mataku fokus menangkap detail wajahnya dari kejauhan, Vanessa langsung menyenggol lenganku pelan."Jangan menatap Pak Bos terlalu lama, Sher," bisik Vanessa serak, setengah menarik lenganku menuju pintu kaca bertuliskan Divisi Human Resources. "Di sini ada aturan tak tertulis: kalau Pak Bos lewat, cukup tundukkan kepala atau pura-pura sibuk."Aku terperanjat, mengedipkan mata berulang kali. Sosok tegap itu sudah menghilang dan langkah kakiku terseret mengikuti Vanessa masuk ke dalam ruangan HRD yang luas dan bernuansa serba putih-biru."Pagi, semuanya," panggil Vanessa dengan nada ceria yang sedikit dipaksakan saat melintasi meja-meja kubikel. "Ini Sherine, anggota baru di tim HRD kita."Beberapa kepala menoleh. Seorang wanita berambut papak dengan kacamata bingkai tebal tersenyum tipis dari meja paling depan. "Halo, Sherine. Say

  • Antara Kita Bertiga   Bab 57

    "Stop! Stop, Andi, jangan ganggu aku dan jangan memanipulasi aku lagi!" sergahku dengan suara bergetar, menepis tangan Andi yang hendak menyentuh daguku.Aku memundurkan langkahku, menatapnya tajam dengan dada yang naik-turun menahan emosi. "Urus saja Vanessa dan anak dalam kandungannya itu! Jangan pernah mencampuri urusanku lagi. Kita akan segera bertemu di ruang sidang perceraian, jadi berhenti bersikap seolah-olah kita masih memiliki hubungan!"Andi tertegun sejenak. Sorot matanya yang tadinya penuh intrik perlahan meredup, menyisakan luka dan keputusasaan yang nyata. Ia menatapku lekat-lekat sebelum akhirnya tersenyum pahit."Apa kamu yakin, Sher?" tanya Andi pelan dengan suara serak. "Kamu benar-benar tidak akan memberikan satu kesempatan pun untuk aku memperbaiki semuanya... padaku?"Aku membuang muka, mengabaikan debaran aneh yang sempat mencubit dadaku. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik dan meninggalkan keranjang belanjaan itu begitu saja di dekat rak buah, lalu berjala

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status