MasukAnna terkejut ketika membuka pintu ruangan Victor dan mendapati Sherly yang berada dalam ruangan tersebut dengan wajah terkejut dan rambut yang sedikit berantakan. Anna mendapati kancing kemeja bagian atas wanita itu bahkan terlepas menyisakan helaian kecil benang membuat dada montoknya sedikit terekspose. Anna menggelengkan kepalanya pelan, seharusnya dokter muda itu mendapatkan surat peringatan dari pihak rumah sakit karena berpakaian tidak pantas.Anna berusaha tersenyum, “Maaf menganggu, saya ingin bertemu dokter Victor.” Ucap Anna datar.Sherly hanya mengangguk kecil dan Anna melewati wanita yang masih berdiri mematung di samping pintu ruangan Victor. Dengan gerakan anggun dan penuh percaya diri, Anna menyenggol pundak wanita itu dengan sedikit kasar membuat tubuh Sherly sedikit oleng.“Anna? Ada apa?” tanya Victor sedikit terkejut melihat kehadiran tunangannya di depan matanya.“Saya hanya mau menyerahkan hasil lab pasien yang baru selesai operasi kemarin.” Ucap Anna sambil mele
Anna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah selesai membersihkan diri. Gadis itu bersiap untuk tidur dan memejamkan matanya. Namun ketika matanya terpejam, bayangan dirinya dan Calvin satu jam yang lalu muncul memenuhi benaknya. Bahkan dengan mengingatnya saja tubuh bagian bawah Anna terasa berdenyut dan sangat menyiksa.Anna menyentuh kembali bibirnya yang lembut, rasa bibir Calvin begitu membekas di bibirnya. Bahkan kini dengan bisa dia rasakan belaian lidah Calvin di dalam mulutnya. Astaga Tuhan, aku sedang memikirkan apa. Anna cepat-cepat mematikan lampu di atas meja nakas sebelah tempat tidurnya. Kemudian ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.Niatnya ingin tidur agar tidak memikirkan Calvin lagi, namun yang malah terjadi adalah sebelah tangan kanan Anna perlahan mulai memasuki bawah piyamanya dan perlahan naik ke arah dadanya. Dengan gerakan lembut Anna mengikuti apa yang dilakukan Calvin padanya tadi, jari jempolnya mulai mencari celah untu
Suara desahan Anna membuat Calvin menyudahi kegilaan itu, pria itu segera menjauhkan tubuhnya dari Anna. Kedua mata mereka saling bertatap penuh arti, ada sisa-sisa kabut gairah di sana. Keduanya mencoba menstabilkan nafas mereka yang masih naik turun.“Ma.. maaf.” Akhirnya suara parau Calvin terdengar. Sebenarnya Calvin terkejut ketika Anna mendesah menyebut namanya karena itu artinya dalam kesadaran penuh Anna tau dia sedang melakukannya bersama Calvin, bukan Victor.Anna hanya terdiam, tenggorokannya terasa kering tidak mampu bersuara.“Aku akan mengantarmu pulang, sudah malam.”Anna tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk pelan dan memperbaiki posisi duduknya dan juga merapikan kembali bajunya.Mobil Calvin pun kembali melaju di jalanan, namun kali ini terasa sangat panjang dan sepi. Bahkan terasa lebih sepi daripada ketika mereka menyetir mobil sendiri. Masing-masing larut dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam dan juga rasa tersiksa yang mereka rasakan.Anna
Anna memandang seksama pria yang ada di hadapannya. Hidung mancung, bibir tipis, dan wajah maskulin yang sangat tampan membuat jantung Anna berdetak dua kali lebih cepat. Mengapa ketika dirinya ingin mencium Calvin, rasa gemuruh begitu terasa di dalam dadanya, berbeda ketika beberapa hari lalu dirinya mencium Victor. Apakah karena saat itu dirinya tiba-tiba mengecup bibir pria itu tanpa persiapan hanya karena Sherly lewat di hadapan mereka?Sayang sekali pria setampan dan sebaik ini harus ditolak cintanya oleh Olivia, padahal menurut Anna pria di hadapannya itu adalah pria idaman setiap wanita. Anna pun ingin dicintai seperti Calvin mencintai Olivia. Entah pria seperti apa yang dicintai Olivia, tiba-tiba saja Anna berdecak dalam hatinya.“Pantas saja Victor kecewa sama kamu.”Anna terkejut karena pria di hadapannya tiba-tiba membuka matanya dan menatap mata Anna dengan lekat. Jarak mereka sangat dekat, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan hingga Anna dapat merasakan deru nafas Calv
“Sudah, tapi rasanya gagal.” Ucap Anna dengan nada sendu.“Gagal?”Anna kembali mengangguk, “Karena itu aku mencarimu.”Dahi Calvin semakin berlipat, “Maksudnya gagal gimana?”“Aku mencoba berbicara pada Victor, karena selama ini dia selalu menghindar. Hubunganku dengannya tidak jelas arahnya, komunikasi kami sangat buruk. Alasannya dia sangat sibuk.”“Sibuk atau tidak itu soal prioritas. Jika kamu adalah prioritasnya, maka dia akan selalu ada waktu untukmu walau hanya semenit.”“Ya, I know. Karena itu ketika dia kembali mencoba menghindar, aku terpaksa menyebut nama Sherly sehingga dia mau berbicara padaku di mobil. Awalnya dia terus berkelit, menyalahkan aku yang selalu overthinking.”“Lalu?” Calvin memarkirkan mobilnya di bukit bintang.Anna tiba-tiba tersenyum, “Saat itu tanpa sengaja aku melihat Sherly yang sedang berjalan ke arah mobil Victor, aku sengaja mencium Victor agar dilihat Sherly.” Anna menceritakan sambil cekikikan.Victor pun ikut tertawa, “Aku tidak menyangka kamu b
Jam telah menunjukkan jam sepuluh malam dan hingga saat ini Calvin masih berkubang dalam pekerjaannya di kantor. Pria itu berusaha berkonsentrasi pada layar laptop yang ada di hadapannya. Ya ini adalah salah satu caranya menjadi sibuk agar tidak membiarkan pikirannya melalangbuana ke mana-mana.Saat ini saudara sepupunya Ivander Elio sedang berusaha keras untuk merebut kembali hati Olivia Cristy, gadis pujaan hatinya. Rasanya memang aneh jika dilihat dari kacamata awam, mantan kekasih sendiri harus bersanding dengan saudara sendiri. Seharusnya Calvin merasa marah dan kecewa karena saudaranya sendiri berkhianat padanya. Tapi mengingat ucapan Steffany yang memang benar, Ivan maupun Olivia tidak bersalah padanya, mereka tidak menyelingkuhi atau berkhianat pada Calvin karena memang Calvin dan Olivia tidak berpacaran saat itu dan gadis itu memang belum bisa menerima cintanya, jauh sebelum mengenal Ivan.Calvin tersenyum sinis, takdir hidup memang tidak bisa diprediksi. Mengapa rasanya hidu







