Share

Bab 2

Author: Delf
last update publish date: 2026-04-09 18:59:39

Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari kecil. Namun sejak pertemuannya dengan Victor, seluruh rencana hidupnya tiba-tiba berubah.

Sebuah buku menarik perhatian Anna, dan sayangnya buku tersebut berada di rak buku paling atas. Anna yang bertubuh mungil berusaha meraihnya, walau sudah berjinjit namun usahanya sia-sia. Anna menoleh ke kanan kiri dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dia berusaha melompat untuk meraihnya, namun tetap gagal juga.

“Hai.. mau buku yang mana? Saya ambilin.” Sebuah suara merdu mengagetkannya.

Anna menoleh ke sumber suara tersebut, dan dia terkejut melihat sesosok gadis yang sangat cantik dengan mata luar biasa indah sedang memandang sambil tersenyum padanya. Yang membuat Anna terkejut bukan hanya soal paras cantik wanita itu, namun juga badannya yang tinggi menjulang dengan tubuh langsing, sangat berbeda jauh dengan dirinya yang memiliki tubuh mungil.

“Halo…” gadis cantik itu melambaikan tangannya di depan mata Anna yang masih ternganga kagum.

“Oh.. ma..maaf.. boleh tolong ambilin buku yang warna merah?” Ucap Anna akhirnya.

“Ini?” ucap gadis itu sambil menyerahkan buku merah tersebut pada Anna. “Ada lagi?”

Anna menggeleng, “Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.” Balas gadis itu ramah sambil tersenyum.

“Liv, uda dapat bukunya?” seorang pria tampan mendekati gadis cantik tersebut dengan senyum tulus.

Gadis tersebut mengangguk sambil tersenyum yang menampilkan lesung pipinya, “Uda Vin.”

“Mau makan sekarang?”

“Boleh. Saya duluan ya.” Ucap gadis itu pada Anna sambil tersenyum, dan pria di sampingnya juga ikut tersenyum pada Anna.

Anna membeku di tempatnya. Dia belum pernah melihat gadis sesempurna itu. Dan pria tadi, oh Tuhan, Anna mengira Victor adalah pria tertampan di dunia, namun ternyata dia salah. Mereka benar-benar pasangan sempurna yang terlihat saling mencintai. Anna tersenyum, berdoa dalam hati semoga suatu hari dia merasakan hal yang sama.

Anna segera membayar bukunya dan berjalan keluar dari toko buku, namun langkah kakinya kembali terhenti ketika dari kejauhan dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya terasa berhenti seketika. Victor sedang berjalan dengan dokter Sherly, sang dokter koas cantik, sambil tertawa bahagia. Hal yang sama sekali tidak pernah Victor lakukan saat bersama Anna.

***

Anna menarik nafasnya, menghembuskannya, menariknya kembali, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia sedang berusaha mengontrol suasana hatinya.

“Kamu ini kayak ikan lohan aja, mangap-mangap enggak jelas. Lama-lama kentut loh.”

Anna kembali menghembuskan nafas berat, “Kak, memang Victor enggak pernah cerita apapun ke kamu?” Anna sedang duduk di atas kasur kamar Vino, berusaha kembali mengorek informasi.

Vino menggeleng, “Aku uda sebulan enggak pernah ketemu dia. Bukannya harusnya kamu lebih tau soal dia, kalian kan sering dapat jadwal bareng?”

“Ya memang, tapi..”

“Na, kamu dan Victor kan enggak ada hubungan apapun. Dia itu enggak ada perasaan sama kamu. Jadi kalaupun dia jalan sama cewe lain, ya enggak masalah dong.”

“Ih Kak Vino kok gitu sih?” Anna langsung memukul lengan sepupunya tersebut dengan wajah cemberut. “Kak Vino jahat deh, Victor itu jodoh aku, dia itu sebenarnya cinta sama aku.”

“Ouch sakit, Na. Aku itu bukan jahat, tapi omongin fakta. Kalau dia cinta sama kamu, kenapa dia enggak pernah menyatakan perasaannya? Sudah dua tahun loh, Na.”

“Ck.. Kak Vino ini sekali-kali dukung adikmu yang imut ini loh.”

Vino mendekat kemudian merangkul sembari mengelus rambut Ana, “Justru karena kamu adikku, aku enggak pingin kamu terluka.”

Anna menghela nafas panjang, “Tapi Victor baik kan, Kak?”

Vino ikut menghela nafas panjang, dia tau betul tipe gadis yang disukai sahabatnya itu, dan yang pasti bukan seperti adiknya. “Dia baik, tampan, smart..”

“Nah itu. Victor itu paket komplit.” Ucap Anna sumringah.

Vino memejamkan matanya, mencoba mengatur emosinya, bagaimana cara dia menjelaskan pada adiknya yang bebal ini, “Yeah, tapi buat cewe seimut kamu, kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia.”

“Kak Vino ini, mana ada sih cowo yang seperfect Victor.” Dan tiba-tiba telpon berbunyi, “Eh bentar Kak, Victor telpon, bentar ya.. Halo Kak?” Anna berdiri dengan wajah sumringah menjawab telpon. Vino yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Anna, kamu lagi di mana?” ucap pria di seberang telpon.

“Hmm.. di rumah Kak Vino, ada apa?”

“Nanti malam jadwal kamu jaga ya?”

“Iya, sama dokter Sherly. Kenapa, Kak?”

“Enggak apa. Eh kamu kan suka baca novel tuh, ada rekomendasi judul novel yang bagus enggak?”

“Kak Victor mau baca novel?” Anna mengerutkan alisnya merasa heran. Tapi di satu sisi hatinya senang karena ternyata Victor tau hobby membaca novelnya.

“Enggak, buat Sherly. Maksud aku dokter Sherly.”

“Heh? Memang dokter Sherly suka baca novel juga ya?”

“Hmm enggak tau juga sih, cuma biasa kan kalau jaga malem biar enggak ngantuk bisa baca novel.”

“Oh.. hmm tergantung sih mau genre apa. Horror mau?”

“Ish kamu ini, masa horror?”

“Lah kan biar enggak ngantuk.”

“Ya enggak gitu juga kali. Romansa aja deh. Yang bagus apa? Yang ada dijual di toko buku dekat rumah sakit aja. Soalnya aku enggak keburu beli, lagi bentar jadwalku praktek.”

“Hmm Kak, aku masih punya beberapa novel yang baru aku beli tapi belum sempat aku baca, masih segel. Kalau mau ambil saja punyaku dulu.”

“Serius? Boleh boleh, nanti aku ganti. Kamu tolong bawain nanti ya.”

“Iyah, nanti sore aku bawain.”

“Kamu memang the best. Thanks a lot, Na. Aku praktek dulu. Bye.”

Anna kemudian menutup telponnya dan kembali duduk di samping Vino yang menatapnya sambil tersenyum penuh ejekan, “Sampai kapan kamu mau terus begini?”

"Mungkin dia hanya belum menyadari perasaannya saja, Kak." ucap Anna dengan senyum yang sangat dipaksakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antidote   Bab 152 (Ending)

    “Itu bibir disengat tawon apa dihisap calon suami? Ganas banget ampe bengkak begitu.” Goda Feny ketika melihat Anna yang masuk ke dalam ruang istirahat perawat.Anna dengan panik langsung mengambil cermin kecil di tasnya dan mengarahkannya ke wajahnya. Feny tertawa terbahak melihat kepanikan Anna. Anna mengerucutkan bibirnya, dalam hati dia merutuki Calvin yang memang tidak henti-hentinya mencumbu dirinya. Untung saja dia sudah mewanti-wanti pria itu untuk tidak melakukannya di lehernya karena bisa dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan Feny dan teman-teman lainnya.“Ck.. aku masih menuntut penjelasan loh.” Ucap Anna sinis mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuat secangkir cappucino untuknya.Ya bukan hanya keluarga Calvin, keluarganya, Victor, dan Vika yang hadir dalam acara kemarin di sana, tapi juga Feny yang tiba-tiba muncul dengan senyum sumringah di hadapannya.Feny terkekeh sambil menyesap kopinya, “Iya, aku ngaku. Soal hasil lab itu memang udah direncanakan.”Anna men

  • Antidote   Bab 151

    “It’s okay...”“Gimana aku bisa menerima lamaranmu jika kamu tidak memberiku cincin?” ucap Anna sebelum Calvin melanjutkan ucapannya.Mata Calvin terbelalak dan segera melirik ke arah Ivan. Ivan yang sadar segera menurunkan Dariel dari gendongannya dan bocah tampan tersebut berlari ke arah Calvin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.“Om.. maaf Dariel lupa.” Ucapnya polos dan disambut gelak tawa yang lain.“Jadi?” Calvin segera membuka kotak itu dan menunjukkannya pada Anna, “Will you be my soulmate?”Anna mengarahkan tangannya ke Calvin, “Kenapa baru sekarang? Yes I do.” Ucap Anna dan kemudian mendapat sorakan dan tepukan tangan dari semua orang yang hadir di sana. Calvin segera memasangkan cincin bertahta berlian ke jari manis Anna dan memeluk gadis itu dengan erat, bahkan saking senangnya Calvin menggendong Anna sambil berputar membuat Anna berteriak ketakutan dan kedua orangtua mereka menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak mereka yang dimabuk asmara.Satu per

  • Antidote   Bab 150

    Calvin menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya dam seketika gadis itu menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Calvin menghela nafas panjang, sedikit menyesal membuat Anna sedih namun setidaknya dia kini tau bahwa Anna memang menaruh hati padanya.“Maaf...” hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Calvin.Anna tidak menjawab namun tangisnya masih pecah di dalam pelukan Calvin. Calvin semakin mengeratkan pelukannya dan membelai lembut punggung gadis itu.Pelukan itu pada akhirnya terlepas ketika handphone Anna kembali berdering, Anna bahkan lupa kalau dia menyuruh Victor menunggunya.“Ha.. halo Kak, maaf aku..” Anna mencoba menstabilkan suaranya dan menghapus air matanya.“Na, aku tunggu kamu di rooftop ya.”“Rooftop?”“Iya, tadi aku nunggu kamu di lobby dan kata petugas di sini ada rooftop. Bagus deh viewnya. Kamu ke atas ya, aku tunggu.” Ucap Victor dan menutup sambungan telpon itu.Anna masih bergeming memandang handphonenya, rasa bingung mendera dirinya.“Kenapa, Na?”“Kak Victor,

  • Antidote   Bab 149

    Sebuah gambar karikatur sepasang angsa yang sedang berenang. Walau Anna tau gambarnya tidak sebagus gambar yang dilihatnya sekarang, namun gadis itu tau bahwa gambar ini terinspirasi dari gambar yang pernah dibuatnya dulu saat.. astaga Calvin menggambar ulang sketsa yang pernah dibuatnya ketika dia tidur dengan menghasilkan cairan bernama iler, toh tercetak jelas di bawah gambar itu nama Calvin dan tulisan inspired by suster cantik. Wajah Anna seketika memerah hanya membaca tulisan Calvin yang menyebutnya suster cantik.Anna kemudian beralih ke lembaran kedua di mana tulisan tangan Calvin memenuhi seluruh isi surat tersebut.Hai kamu yang sedang membaca suratku,Aku tau mungkin aku terlalu pengecut hanya berani menulis surat tanpa mengungkapkannya langsung padamu. Tapi percayalah, sudah lama ingin aku ungkapkan namun begitu sulit ketika harus menatap wajahmu.Pertemuan kita memang tidak pernah terduga. Jujur saat itu dalam benakku hanya mujizat yang mampu membuatku bertahan, rasanya se

  • Antidote   Bab 148

    Detik itu juga Victor langsung menoleh pada Anna, “Kenapa?”Anna menggigit bibir bawahnya, dia tau bahwa tindakannya ini akan membuat Victor kecewa, atau bahkan marah. Tapi Anna tidak bisa membohongi hati nuraninya bahwa bagaimanapun dia mengkhawatirkan Calvin.“Hmm.. tadi Steffany telpon dan.. katanya Calvin tidak bisa dihubungi dari kemarin.”“Lalu?”“Aku.. pengen ngecek ke apartemennya. Siapa tau dia ada di sana.” Ucap Anna pelan.“Ya udah kalau gitu kita ke sana aja.” Jawab Victor enteng.Anna membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria yang sedang duduk di sebelahnya. Anna cukup tau bagaimana emosi Victor yang sering meledak jika ada yang menyentil egonya.“Kak Victor mau ngantar aku ke apartemen Calvin?” tanya Anna memastikan.“Iya, kita ke sana aja daripada kamu khawatir.”“Tapi.. aku bisa sendiri Kak naik taksi.”“Aku yang khawatir kalau kamu sendirian malam-malam gini naik taksi, pakaianmu cukup terbuka, Na.”Benar yang dikatakan Victor, “

  • Antidote   Bab 147

    “Papa dan Mama mau ke mana?” Anna terkejut ketka membuka pintu rumah dan mendapati kedua orangtuanya sudah berpakaian rapi bahkan mamanya bisa dikatakan sudah dandan maksimal layaknya orang-orang yang mau ke kondangan.Cecilia berdehem, “Ada kondangan.”“Siapa yang nikah?” Anna mengerutkan keningnya karena seingatnya dia tidak melihat ada penampakan kartu undangan dalam minggu ini, yang biasanya sang mama akan menunjukkan pada dirinya.“Bukan nikah, lagi reuni aja sama teman SMA.” Jawab Adrian.“Oh. Ih mama ganjen banget reuni aja sampai dandan cantik gini.” Goda Anna.Cecilia terkekeh, “Itu wajib dong, biar nggak kalah cantik sama mantan papa kamu.”Adrian langsung memeluk sang istri dengan mesra, “Kamu wanita tercantik di dunia, sayangku.” Ucapnya sambil mengecup kening sang istri.Anna memutar bola matanya malas, “Mulai deh...”“Ntar kamu bakal gitu juga Na kalau ketemu sama yang pas.” ucap sang papa.Anna tersenyum nanar, “Dan entah kapan ketemunya.”“Kamu di rumah aja kan, Na?” t

  • Antidote   Bab 5

    “Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pa

  • Antidote   Bab 4

    Knock..knock..“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir

  • Antidote   Bab 3

    “Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t

  • Antidote   Bab 1

    Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status