LOGINHari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari kecil. Namun sejak pertemuannya dengan Victor, seluruh rencana hidupnya tiba-tiba berubah.
Sebuah buku menarik perhatian Anna, dan sayangnya buku tersebut berada di rak buku paling atas. Anna yang bertubuh mungil berusaha meraihnya, walau sudah berjinjit namun usahanya sia-sia. Anna menoleh ke kanan kiri dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dia berusaha melompat untuk meraihnya, namun tetap gagal juga.
“Hai.. mau buku yang mana? Saya ambilin.” Sebuah suara merdu mengagetkannya.
Anna menoleh ke sumber suara tersebut, dan dia terkejut melihat sesosok gadis yang sangat cantik dengan mata luar biasa indah sedang memandang sambil tersenyum padanya. Yang membuat Anna terkejut bukan hanya soal paras cantik wanita itu, namun juga badannya yang tinggi menjulang dengan tubuh langsing, sangat berbeda jauh dengan dirinya yang memiliki tubuh mungil.
“Halo…” gadis cantik itu melambaikan tangannya di depan mata Anna yang masih ternganga kagum.
“Oh.. ma..maaf.. boleh tolong ambilin buku yang warna merah?” Ucap Anna akhirnya.
“Ini?” ucap gadis itu sambil menyerahkan buku merah tersebut pada Anna. “Ada lagi?”
Anna menggeleng, “Terima kasih banyak.”
“Sama-sama.” Balas gadis itu ramah sambil tersenyum.
“Liv, uda dapat bukunya?” seorang pria tampan mendekati gadis cantik tersebut dengan senyum tulus.
Gadis tersebut mengangguk sambil tersenyum yang menampilkan lesung pipinya, “Uda Vin.”
“Mau makan sekarang?”
“Boleh. Saya duluan ya.” Ucap gadis itu pada Anna sambil tersenyum, dan pria di sampingnya juga ikut tersenyum pada Anna.
Anna membeku di tempatnya. Dia belum pernah melihat gadis sesempurna itu. Dan pria tadi, oh Tuhan, Anna mengira Victor adalah pria tertampan di dunia, namun ternyata dia salah. Mereka benar-benar pasangan sempurna yang terlihat saling mencintai. Anna tersenyum, berdoa dalam hati semoga suatu hari dia merasakan hal yang sama.
Anna segera membayar bukunya dan berjalan keluar dari toko buku, namun langkah kakinya kembali terhenti ketika dari kejauhan dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya terasa berhenti seketika. Victor sedang berjalan dengan dokter Sherly, sang dokter koas cantik, sambil tertawa bahagia. Hal yang sama sekali tidak pernah Victor lakukan saat bersama Anna.
***
Anna menarik nafasnya, menghembuskannya, menariknya kembali, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia sedang berusaha mengontrol suasana hatinya.
“Kamu ini kayak ikan lohan aja, mangap-mangap enggak jelas. Lama-lama kentut loh.”
Anna kembali menghembuskan nafas berat, “Kak, memang Victor enggak pernah cerita apapun ke kamu?” Anna sedang duduk di atas kasur kamar Vino, berusaha kembali mengorek informasi.
Vino menggeleng, “Aku uda sebulan enggak pernah ketemu dia. Bukannya harusnya kamu lebih tau soal dia, kalian kan sering dapat jadwal bareng?”
“Ya memang, tapi..”
“Na, kamu dan Victor kan enggak ada hubungan apapun. Dia itu enggak ada perasaan sama kamu. Jadi kalaupun dia jalan sama cewe lain, ya enggak masalah dong.”
“Ih Kak Vino kok gitu sih?” Anna langsung memukul lengan sepupunya tersebut dengan wajah cemberut. “Kak Vino jahat deh, Victor itu jodoh aku, dia itu sebenarnya cinta sama aku.”
“Ouch sakit, Na. Aku itu bukan jahat, tapi omongin fakta. Kalau dia cinta sama kamu, kenapa dia enggak pernah menyatakan perasaannya? Sudah dua tahun loh, Na.”
“Ck.. Kak Vino ini sekali-kali dukung adikmu yang imut ini loh.”
Vino mendekat kemudian merangkul sembari mengelus rambut Ana, “Justru karena kamu adikku, aku enggak pingin kamu terluka.”
Ana menghela nafas panjang, “Tapi Victor baik kan, Kak?”
Vino ikut menghela nafas panjang, dia tau betul tipe gadis yang disukai sahabatnya itu, dan yang pasti bukan seperti adiknya. “Dia baik, tampan, smart..”
“Nah itu. Victor itu paket komplit.” Ucap Anna sumringah.
Vino memejamkan matanya, mencoba mengatur emosinya, bagaimana cara dia menjelaskan pada adiknya yang bebal ini, “Yeah, tapi buat cewe seimut kamu, kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia.”
“Kak Vino ini, mana ada sih cowo yang seperfect Victor.” Dan tiba-tiba telpon berbunyi, “Eh bentar Kak, Victor telpon, bentar ya.. Halo Kak?” Anna berdiri dengan wajah sumringah menjawab telpon. Vino yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Anna, kamu lagi di mana?” ucap pria di seberang telpon.
“Hmm.. di rumah Kak Vino, ada apa?”
“Nanti malam jadwal kamu jaga ya?”
“Iya, sama dokter Sherly. Kenapa, Kak?”
“Enggak apa. Eh kamu kan suka baca novel tuh, ada rekomendasi judul novel yang bagus enggak?”
“Kak Victor mau baca novel?” Anna mengerutkan alisnya merasa heran. Tapi di satu sisi hatinya senang karena ternyata Victor tau hobby membaca novelnya.
“Enggak, buat Sherly. Maksud aku dokter Sherly.”
“Heh? Memang dokter Sherly suka baca novel juga ya?”
“Hmm enggak tau juga sih, cuma biasa kan kalau jaga malem biar enggak ngantuk bisa baca novel.”
“Oh.. hmm tergantung sih mau genre apa. Horror mau?”
“Ish kamu ini, masa horror?”
“Lah kan biar enggak ngantuk.”
“Ya enggak gitu juga kali. Romansa aja deh. Yang bagus apa? Yang ada dijual di toko buku dekat rumah sakit aja. Soalnya aku enggak keburu beli, lagi bentar jadwalku praktek.”
“Hmm Kak, aku masih punya beberapa novel yang baru aku beli tapi belum sempat aku baca, masih segel. Kalau mau ambil saja punyaku dulu.”
“Serius? Boleh boleh, nanti aku ganti. Kamu tolong bawain nanti ya.”
“Iyah, nanti sore aku bawain.”
“Kamu memang the best. Thanks a lot, Na. Aku praktek dulu. Bye.”
Anna kemudian menutup telponnya dan kembali duduk di samping Vino yang menatapnya sambil tersenyum penuh ejekan, “Sampai kapan kamu mau terus begini?”
"Mungkin dia hanya belum menyadari perasaannya saja, Kak." ucap Anna dengan senyum yang sangat dipaksakan.
“Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,
Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya
Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany
“Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha
Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h







