Share

Bab 7

Penulis: Delf
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 17:28:06

“Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.

“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.

Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Dan Olivia kembali mengalihkan pandangannya pada Calvin. “Ka.. kalian berdua membohongiku!” Suara kecewa Olivia tidak dapat dia sembunyikan dan sebulir air mata mengalir sempurna di pipi gadis cantik itu.

Anna yang berada di ruangan tersebut merasa canggung karena harus terjebak di dalam kondisi seperti ini. Ini gadis cantik yang menolongku di toko buku.. Astaga, sepertinya Calvin ketahuan selingkuh.

“Aku bisa jelasin, Liv.” Ucap Calvin dengan suara parau.

“Ma.. maaf saya permisi dulu.” Anna memilih untuk keluar ruangan, menghindari drama pertikaian yang terjadi di ruangan itu, walau sebenarnya dirinya pun sangat penasaran.

Olivia tersenyum patah, “Aku pikir.. hanya kamu pria satu-satunya yang bisa aku percaya.”

“Maaf Liv, aku tidak bermaksud..”

“Sejak kapan?”

Steffany menghembuskan nafas berat, menepuk pundak Calvin sambil tersenyum memberi semangat, “Dia berhak tau. Kamu pasti bisa.” Kemudian berjalan mendekati Olivia, dia merangkul sahabatnya itu, namun tidak mendapat balasan apapun, “Maafkan aku.” Dan berjalan keluar ruangan.

Calvin menghembuskan nafas berat. Dia sudah berusaha menyembunyikan ini semua, tapi memang sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.

“Aku tidak ingin dibohongi lagi.” ucap Olivia tenang namun tersirat ketegasan di sana.

“Aku mengidap MDS, kelainan sel darah. Sejak aku SMA.”

“Apakah berbahaya?” Olivia berjalan mendekat dan kemudian duduk di tepi ranjang Calvin.

Calvin menghela nafas berat, dipandanginya wajah cantik gadis itu yang membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.

“Please..” Olivia memohon.

Calvin berdeham, entah mengapa rasanya begitu sulit untuk diungkapkan. “Jika dibiarkan bisa menjadi kanker darah.”

Kali ini Olivia tidak lagi menjawab dengan kata, namun tumpahan air mata telah mengungkapkan semua isi hatinya. Olivia menjatuhkan tubuhnya di dada Calvin, terisak sambil memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan.

Calvin membalas pelukan itu dan membelai rambut Olivia, mencoba menenangkannya. “Aku baik-baik saja.”

Olivia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Calvin, “Apakah Ivan tau soal ini?”

Calvin mengangguk, “Dia yang pertama kali menolongku ketika aku pertama kali kolaps di lapangan basket.”

“Jadi, hanya aku yang tidak tau soal ini?” wajah Olivia jelas menunjukkan kekecewaan mendalam.

“Maaf. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir.”

“Kamu membuatku semakin khawatir!”

Calvin tersenyum sambil menghapus air mata yang menempel di pipi gadis bermata indah itu. “Aku tidak ingin kamu merasa kasihan padaku dan menerima cintaku.”

Olivia menarik nafas panjang, berusaha menjaga ketegaran hatinya. “Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?”

“Cangkok sumsum tulang belakang.”

Seketika raut wajah Olivia menampakkan harapan, “Kalau begitu masih ada harapan, Vin.”

“Tidak semudah itu, Liv. Papa dan Mama sudah mencoba melakukan tes dan hasilnya ternyata tidak cocok.” Ucap Calvin dengan hembusan nafas kasar.

“Aku akan mencobanya.”

“Liv, jika kedua orangtuaku saja tidak cocok, maka kemungkinan untuk mendapatkan pendonor yang cocok dari pihak luar sangat kecil.”

“Calvin, gagal itu hanya terjadi jika kamu berhenti berharap dan mencoba! Apa kamu sudah bosan hidup? Kamu mau tinggalin aku? Bukannya kamu selalu bilang kalau kamu cinta sama aku? Tapi buktinya apa? Kamu bahkan sama sekali enggak mau mencoba berjuang hidup demi aku!” ucap Olivia berapi-api penuh emosi.

Andai kamu tau selama ini aku bertahan hanya untuk melihatmu lebih lama lagi, Liv. “Aku baru tau kalau kamu ternyata seorang gadis yang pemarah.” Calvin terkekeh menutupi kesedihannya.

“Calvin, please, aku serius.. Jangan bercanda lagi, jangan sok kuat!” Air mata Olivia kembali mengalir.

“Aku tidak suka melihatmu menangis Liv, apalagi karena aku.” Calvin menghapus air mata gadis itu, ada rasa sesak di dalam dadanya. Bukan pertama kalinya Olivia menangis di dalam pelukannya, tapi baru pertama kali Olivia menangis karenanya, dan itu sangat menyiksa.

“Aku akan berhenti menangis asal kamu janji sama aku tidak akan menyerah, akan terus berjuang. Percayalah, tidak ada perjuangan yang sia-sia Vin. Kamu orang baik, Tuhan pasti tolong.” Olivia berusaha meyakinkan Calvin.

Calvin tersenyum, “Aku uda berjuang lama untuk mendekatimu tapi..”

Belum selesai Calvin menyelesaikan kalimatnya, namun langsung dipotong oleh Olivia. “Aku mau..” ucap Olivia menganggukkan kepalanya.

“Mau apa?” Calvin mengangkat sebelah alisnya, menggoda gadis yang ada di hadapannya.

“Jadi pacar kamu kan?”

Mulut Calvin menganga, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. “Liv, jika kamu merasa kasihan karena penyakitku...”

Olivia menggeleng, “Kamu tau kenapa aku mencarimu beberapa hari ini? Karena aku sadar, hanya kamu pria yang benar-benar mencintaiku. Dan aku... aku ingin mencoba membuka hatiku untukmu.” Ucapnya dengan nada terpatah-patah.

Calvin terdiam, dia tau Olivia sedang berusaha meyakinkan hatinya sendiri. Walau terkesan egois, tapi dia bukanlah pria yang suka menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Karena kesempatan tidak datang dua kali.

“So, kamu mau kencan pertama kita di mana?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antidote   Bab 119

    Calvin terkejut, “Bukankah kalian...”Anna mengangguk, “Ya, dia memintaku untuk balikan tapi...” Anna menghela nafas panjang, “Aku nggak tau, aku hanya takut ketika aku memberinya kesempatan dan dia mengulangi hal yang sama, aku nggak yakin akan sekuat ini lagi.”“Even the strongest heart gets tired.” Ucap Calvin.“Ya, jadi.. aku hanya harus belajar untuk merelakan dan kehilangan sosok pria yang dulu aku kagumi. Ternyata mencintai dengan tulus itu tidak cukup. Batubara tidak akan menjadi berlian kan?” Ucap Anna sambil tersenyum sarkas.“Anna, a diamond is just a piece of coal that did well under pressure. When your intentions are pure, you don’t lose people, people lose you.” Calvin membelai halus pipi Anna. Gadis itu terdiam, kemudian mengangguk.“Kita tidur sekarang. Good night.” Ucap Anna bersiap memejamkan mata, namun kemudian dirasakan bahwa keningnya disentuh oleh sesuatu yang terasa dingin dan juga kenyal. Calvin mengecup keningnya dengan sangat lembut. Sebuah sentuhan yang mem

  • Antidote   Bab 118

    Calvin menggeserkan tubuhnya ketika Anna mulai merebahkan tubuhnya di samping pria itu, memberi ruang lebih pada gadis itu.“Kamu tidur biasa pakai guling nggak?” tanya Calvin, mengarahkan tubuhnya ke arah Anna. Kini dengan posisi mereka miring saling menatap.Anna mengangguk, “Biasanya pakai.”“Sayang banget nggak ada guling di sini, tapi kalau memang harus banget pakai guling, nggak apa-apa aku relain aja akunya jadi guling.” Ucap Calvin ringan.Mata Anna membulat, mulutnya terbuka ingin protes namun tidak ada kata yang berhasil dikeluarkan.Calvin terkekeh, “Aku bercanda. Kamu gemesin banget kalau lagi kaget gitu.” Ucap Calvin sambil mengacak lembut rambut Anna, sebuah gerakan sederhana yang menimbulkan gelenyar aneh di seluruh tubuh gadis itu. “Ya uda, kita tidur deh.” Ucap Calvin sambil memejamkan matanya.Anna mengangguk dalam diam, walau mungkin Calvin tidak melihat jawabannya. Anna kemudian membalikkan posisinya menjadi terlentang karena jantungnya tidak sanggup lagi. Janganka

  • Antidote   Bab 117

    Suara dering handphone Calvin menghentikan ciuman mereka yang baru saja dimulai. Anna segera mengambil kesempatan untuk beranjak dari atas tubuh Calvin, karena jujur saja posisi tadi sangat membahayakan bagi mereka berdua. Anna bahkan tidak pernah sedekat dan seintim ini dengan seorang pria, apalagi pria itu bukanlah miliknya.“Hallo, Ma?” Calvin segera menahan lengan Anna, tidak membiarkan gadis itu meninggalkannya.“Vin, kata Stef kamu sakit?” suara panik terdengar di seberang telpon.Calvin mendecakkan lidahnya, sepupunya satu itu memang selalu saja heboh. Pria itu menghela nafas panjang, “Cuma sedikit demam kok, Ma. Mungkin kecapean aja.”“Yakin nggak apa-apa? Apa papa dan mama jemput kamu sekarang pulang?”“Ma, nggak perlu. Calvin beneran nggak apa-apa kok.”“Kamu itu suka nutupin kalau kamu sakit, mama kan khawatir.”Calvin tersenyum, “Mama nggak perlu khawatir, ada suster cantik yang jagain aku kok, Ma.” Ucapnya sambil memandang Anna yang wajahnya kini semerah tomat.“Suster? K

  • Antidote   Bab 116

    Anna terdiam, tebakannya benar. Calvin telah menemukan pengganti Olivia dan... anehnya membuatnya patah hati.Mencoba tersenyum, gadis itu tetap menyuapi Calvin dengan pelan. “Bagus kalau kamu sudah bisa menemukan seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum.”“Ya... kadang ketika patah hati, kita merasa seolah dunia akan berakhir, nyatanya... life must go on dan kita tidak pernah tau akan dipertemukan dengan sosok lain yang terbaik buat kita.”Anna tersenyum, “Sepertinya aku harus belajar dari kamu cara menyembuhkan patah hati dengan cepat.”“When pain turns into lessons, the real healing starts. Sometimes, the right way to love is to leave.” Ucap Calvin tersenyum.Anna terdiam kemudian mengangguk. Gadis itu kemudian menghela nafas panjang, “Lalu.. jika kamu sudah menemukan yang baru.. berarti.. maksud aku.. bukankah seharusnya dia yang ada di sini sekarang?” Anna berdehem, “Maksud aku, kita tidak perlu pura-pura pacaran lagi kalau memang kamu sudah ada pacar sungguhan.” kenapa rasanya

  • Antidote   Bab 115

    Walaupun Anna tidak tau apakah ucapan yang dikatakan Calvin barusan hanya sebuah bualan atau serius, gadis itu memilih untuk menganggukkan kepala dengan rona wajah memerah. Calvin mengajakku ke tempat romantis?“Kata Stef mereka nggak balik.” Ucap Anna menutupi kegugupannya.“Hah?” Calvin terkejut.“Iya, katanya sekalian nungguin sunrise aja, karena kalau mereka balik pun pasti nyampe ke sini udah subuh.” Ucap Anna kemudian berdiri dari kasur. “Aku buatin bubur dulu ya.”“Nggak usah, aku nggak begitu laper.” Ucap Calvin.“Makan dikit biar perut nggak kembung. Habis itu minum obat biar cepat sembuh.” Ucap Anna lembut namun penuh penekanan.“Baik, Sus.” Ucap Calvin yang kemudian mendapat cubitan dari Anna dan membuat Calvin terkekeh.Anna segera berlalu ke dapur untuk menghindari kecanggungan di antara mereka. Ya Tuhan kenapa jantungku berdetak nggak karuan?Cukup lama Anna berdiam diri di dapur mencoba mengulur waktu untuk kembali menenangkan jantungnya yang berpacu layaknya kuda yang

  • Antidote   Bab 114

    Kecupan sangat lembut dan ringan itu ternyata memberikan efek yang luar biasa, setidaknya itu yang dirasakan oleh Anna. Udara dingin yang sebelumnya memenuhi seisi ruangan tiba-tiba tergantikan oleh kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Anna terkesiap beberapa detik, menghentikan kecupan tersebut namun bibirnya masih menempel pada pria itu, seolah jantungnya terkejut dengan tindakan yang baru saja tuannya lakukan. Terbukti dengan denyut jantungnya yang meningkat tajam.Bukannya memilih untuk berhenti, Anna malah kembali mencium bibir pria tampan di hadapannya yang masih menggigil di tengah tidurnya. Aku hanya mencoba membantunya, nggak salah kan Tuhan? Entah Calvin terbangun atau memang respon tubuhnya yang otomatis membuka mulutnya dan menyambut girang kecupan yang telah berubah menjadi lumatan. Hingga akhirnya Anna tersadar dan menjauhkan wajahnya dari pria tersebut.Anna membuka matanya dan cukup terkejut mendapati pria di hadapannya juga ikut membuka mata perlahan dan kemu

  • Antidote   Bab 4

    Knock..knock..“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir

  • Antidote   Bab 3

    “Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t

  • Antidote   Bab 2

    Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari

  • Antidote   Bab 1

    Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status