Masuk“Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.
“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.
Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Dan Olivia kembali mengalihkan pandangannya pada Calvin. “Ka.. kalian berdua membohongiku!” Suara kecewa Olivia tidak dapat dia sembunyikan dan sebulir air mata mengalir sempurna di pipi gadis cantik itu.
Anna yang berada di ruangan tersebut merasa canggung karena harus terjebak di dalam kondisi seperti ini. Ini gadis cantik yang menolongku di toko buku.. Astaga, sepertinya Calvin ketahuan selingkuh.
“Aku bisa jelasin, Liv.” Ucap Calvin dengan suara parau.
“Ma.. maaf saya permisi dulu.” Anna memilih untuk keluar ruangan, menghindari drama pertikaian yang terjadi di ruangan itu, walau sebenarnya dirinya pun sangat penasaran.
Olivia tersenyum patah, “Aku pikir.. hanya kamu pria satu-satunya yang bisa aku percaya.”
“Maaf Liv, aku tidak bermaksud..”
“Sejak kapan?”
Steffany menghembuskan nafas berat, menepuk pundak Calvin sambil tersenyum memberi semangat, “Dia berhak tau. Kamu pasti bisa.” Kemudian berjalan mendekati Olivia, dia merangkul sahabatnya itu, namun tidak mendapat balasan apapun, “Maafkan aku.” Dan berjalan keluar ruangan.
Calvin menghembuskan nafas berat. Dia sudah berusaha menyembunyikan ini semua, tapi memang sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.
“Aku tidak ingin dibohongi lagi.” ucap Olivia tenang namun tersirat ketegasan di sana.
“Aku mengidap MDS, kelainan sel darah. Sejak aku SMA.”
“Apakah berbahaya?” Olivia berjalan mendekat dan kemudian duduk di tepi ranjang Calvin.
Calvin menghela nafas berat, dipandanginya wajah cantik gadis itu yang membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.
“Please..” Olivia memohon.
Calvin berdeham, entah mengapa rasanya begitu sulit untuk diungkapkan. “Jika dibiarkan bisa menjadi kanker darah.”
Kali ini Olivia tidak lagi menjawab dengan kata, namun tumpahan air mata telah mengungkapkan semua isi hatinya. Olivia menjatuhkan tubuhnya di dada Calvin, terisak sambil memeluknya dengan sangat erat seolah takut kehilangan.
Calvin membalas pelukan itu dan membelai rambut Olivia, mencoba menenangkannya. “Aku baik-baik saja.”
Olivia menjauhkan tubuhnya dari pelukan Calvin, “Apakah Ivan tau soal ini?”
Calvin mengangguk, “Dia yang pertama kali menolongku ketika aku pertama kali kolaps di lapangan basket.”
“Jadi, hanya aku yang tidak tau soal ini?” wajah Olivia jelas menunjukkan kekecewaan mendalam.
“Maaf. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir.”
“Kamu membuatku semakin khawatir!”
Calvin tersenyum sambil menghapus air mata yang menempel di pipi gadis bermata indah itu. “Aku tidak ingin kamu merasa kasihan padaku dan menerima cintaku.”
Olivia menarik nafas panjang, berusaha menjaga ketegaran hatinya. “Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?”
“Cangkok sumsum tulang belakang.”
Seketika raut wajah Olivia menampakkan harapan, “Kalau begitu masih ada harapan, Vin.”
“Tidak semudah itu, Liv. Papa dan Mama sudah mencoba melakukan tes dan hasilnya ternyata tidak cocok.” Ucap Calvin dengan hembusan nafas kasar.
“Aku akan mencobanya.”
“Liv, jika kedua orangtuaku saja tidak cocok, maka kemungkinan untuk mendapatkan pendonor yang cocok dari pihak luar sangat kecil.”
“Calvin, gagal itu hanya terjadi jika kamu berhenti berharap dan mencoba! Apa kamu sudah bosan hidup? Kamu mau tinggalin aku? Bukannya kamu selalu bilang kalau kamu cinta sama aku? Tapi buktinya apa? Kamu bahkan sama sekali enggak mau mencoba berjuang hidup demi aku!” ucap Olivia berapi-api penuh emosi.
Andai kamu tau selama ini aku bertahan hanya untuk melihatmu lebih lama lagi, Liv. “Aku baru tau kalau kamu ternyata seorang gadis yang pemarah.” Calvin terkekeh menutupi kesedihannya.
“Calvin, please, aku serius.. Jangan bercanda lagi, jangan sok kuat!” Air mata Olivia kembali mengalir.
“Aku tidak suka melihatmu menangis Liv, apalagi karena aku.” Calvin menghapus air mata gadis itu, ada rasa sesak di dalam dadanya. Bukan pertama kalinya Olivia menangis di dalam pelukannya, tapi baru pertama kali Olivia menangis karenanya, dan itu sangat menyiksa.
“Aku akan berhenti menangis asal kamu janji sama aku tidak akan menyerah, akan terus berjuang. Percayalah, tidak ada perjuangan yang sia-sia Vin. Kamu orang baik, Tuhan pasti tolong.” Olivia berusaha meyakinkan Calvin.
Calvin tersenyum, “Aku uda berjuang lama untuk mendekatimu tapi..”
Belum selesai Calvin menyelesaikan kalimatnya, namun langsung dipotong oleh Olivia. “Aku mau..” ucap Olivia menganggukkan kepalanya.
“Mau apa?” Calvin mengangkat sebelah alisnya, menggoda gadis yang ada di hadapannya.
“Jadi pacar kamu kan?”
Mulut Calvin menganga, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. “Liv, jika kamu merasa kasihan karena penyakitku...”
Olivia menggeleng, “Kamu tau kenapa aku mencarimu beberapa hari ini? Karena aku sadar, hanya kamu pria yang benar-benar mencintaiku. Dan aku... aku ingin mencoba membuka hatiku untukmu.” Ucapnya dengan nada terpatah-patah.
Calvin terdiam, dia tau Olivia sedang berusaha meyakinkan hatinya sendiri. Walau terkesan egois, tapi dia bukanlah pria yang suka menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Karena kesempatan tidak datang dua kali.
“So, kamu mau kencan pertama kita di mana?”
“Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,
Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya
Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany
“Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha
Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h







