LOGIN“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.
“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.
“Kamu yang milih novel ini?”
“Ya iya dong, tadi sempat-sempatin mampir ke mall dulu beli ini.”
“Wah, dokter Victor perhatian sekali, aku merasa tersanjung.” Ucap Sherly dengan suara manja.
Anna yang berjalan melewati ruangan tersebut, seketika menghentikan langkah kakinya. Ada rasa aneh seperti sebuah batu besar yang menghantam dadanya. Dan tanpa terduga, sebulir air mata jatuh di pipi lembut gadis itu.
Ketika mobilnya baru terparkir tadi, Victor dengan wajah sumringah langsung menghampirinya. Anna menyerahkan novelnya yang belum sempat dibacanya pada dokter muda itu, dan alangkah terkejutnya sebuah pelukan langsung dilayangkan oleh Victor, membuat sekujur tubuh Anna panas dingin. Kebahagiaan yang hanya selalu ada di dalam mimpinya mulai terwujud. Namun belum sempat dia menikmati kebahagiaan itu, kini apa yang baru saja didengarnya seolah mendorongnya jatuh ke dalam jurang kesedihan.
“Sus, ada pasien baru masuk IGD.” Sebuah suara dari belakang mengagetkannya. Anna segera menghapus air matanya, dan berbalik ke arah suara itu. Gadis itu mengangguk dan segera berlari mengikuti rekan kerjanya menuju ruang IGD.
“Pasien tidak sadarkan diri, tekanan darah turun drastis, saturasi melemah.” Ucap seorang perawat menjelaskan. “Di mana dokter jaga?”
Anna terdiam, dia tau bahwa yang mendapat jadwal tugas malam ini adalah dokter Sherly, tapi…
“Sus Anna?” tegur perawat di sebelahnya, mengembalikan kesadaran Anna.
“Biar aku yang menangani pasien ini.” Terdengar sebuah suara dari belakang yang sangat dikenal oleh Anna.
“Dokter Alvino?” beberapa perawat terkejut melihat kehadiran Vino.
Vino tersenyum dan menoleh pada sepupunya, “Sus Anna, tolong masukan pasien ke ruang ICU sekarang.”
Anna mengangguk dan segera mendorong brankar dibantu perawat lainnya. Anna sekilas menoleh pada pasien tersebut, dan dirinya sedikit terkejut dan juga bingung, pria ini…
“Detak jantung pasien melemah.” Ucap Anna ketika melihat grafik pada monitor alat yang terpasang di tubuh pasien tersebut.
Vino segera melakukan CPR untuk memacu detak jantung pasien namun tidak kunjung membuahkan hasil. Anna segera mengambil alat defibrillator dan menyerahkannya pada Vino. Dokter muda tersebut tidak menyia-nyiakan waktunya dan segera menghentakkan alat pemacu detak jantung ke dada pasien tersebut.
Wajah panik Anna terlihat, dalam hati dia terus melantunkan doa untuk keselamatan pasien tersebut. Ayo ganteng, kamu harus bertahan!
Detik demi detik berlalu, dan grafik kembali menunjukkan detak jantung pasien tersebut perlahan berangsur normal. Kelegaan luar biasa terpancar di wajah Vino dan juga Anna.
Vino melepaskan maskernya dan kemudian menulis beberapa catatan yang kemudian diserahkan kepada Anna. Anna mengangguk dan kemudian keluar ruang ICU untuk menuju bagian apotek.
“Sus, bagaimana keadaan anak saya?” seorang wanita paruh baya yang sangat cantik berjalan mendekat dengan bulir-bulir air mata yang masih tersisa di pipinya.
Seorang pria paruh baya segera menyusul dan merangkul sang istri, mengelus bahu wanita tersebut untuk menenangkannya, namun tidak menutupi kesedihan yang terpancar di wajah yang mulai terlihat kerutan tipis.
Anna tersenyum tulus, “Sejauh ini cukup baik, nanti dokter akan menjelaskan. Saya permisi dulu karena harus mengambil obat untuk pasien.” Dan dibalas dengan anggukan kedua orangtua pasien.
***
“Anna…”
“Kak?” Anna segera menghapus air matanya. “Kak Vino bukannya hari ini enggak ada jadwal jaga?” ucapnya mencoba menutupi kesedihannya dengan senyum manisnya.
Vino balas tersenyum walau tidak bisa menutupi rasa cemas di wajahnya, “Aku lagi enggak ada kerjaan, bosan di rumah, jadi ya.. aku ke di sini saja. Setidaknya aku bisa menemanimu.” Ucapnya sambil menggidikkan bahunya berusaha terlihat santai.
Kenyataannya adalah tadi siang Victor menghubunginya dan mengatakan bahwa dia sedang tertarik dengan seorang dokter koas dan berencana untuk menyatakan perasaannya. Vino tidak bisa menghalangi keputusan Victor walaupun dia tau sepupunya begitu tergila-gila pada sahabatnya itu, karena kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Yang bisa Vino lakukan adalah berada di sisi sepupunya untuk menenangkannya bila Anna mengetahui kenyataan pahit yang akan dihadapinya.
Anna memaksakan senyumannya, “Pasien tadi? Apakah kondisinya sudah membaik?”
“Sudah cukup stabil, lima belas menit lagi kamu tolong masukan obat yang barusan kamu ambil.”
“Baik, Kak.” Ucap Anna. “Pasien tadi kenapa, Kak? Secara fisik dia baik-baik saja.” lanjutnya.
Wajah Vino sedikit murung, “Dia.. mengidap MDS.”
“MDS?”
“Ya, sindrom mielodisplasia. Ada kerusakan pada sel-sel darah merahnya. Jika dibiarkan bisa berkembang menjadi kanker darah.”
Entah mengapa, ucapan Vino membuat sekujur tubuh Anna merinding, ada rasa asing yang menyergapinya. “Berapa lama dia bisa bertahan?” ucapnya dengan suara bergetar.
“Kemungkinan setahun, tapi..”
“Jika sumsum tulang belakangnya dicangkok, apa ada kemungkinan dia bisa selamat?”
“Hanya itu satu-satunya cara. Cuma untuk mencari pendonor yang cocok itu tidak...”
Anna langsung menyela “Aku akan coba bantu mencari pendonor.”
Vino menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sembari tersenyum, “Kamu sepertinya tertarik dan perhatian dengan pasien kita yang ganteng itu.” goda pria tampan itu.
Anna membulatkan matanya terkejut, “Ngaco deh. Aku itu pernah ketemu sama dia di mall, dia lagi sama ceweknya. Mereka orang yang baik, sempat tolongin aku ambilin buku. Mungkin ini caraku membalas kebaikan mereka.” Anna menggidikkan bahunya.
Vino tersenyum sambil mengelus kepala sang adik, “Kamu memang selalu baik, Na.”
“Itulah gunanya kita hidup kan, Kak?” jawab Anna sumringah.
Vino mengangguk, “Yeah.”
Anna mengangkat pergelangan tangannya melihat jam tangannya, “Aku siapin obatnya sekarang deh.”
“Anna, tunggu.” Vino menghentikan langkah suster manis itu.
Anna menoleh sambil menelengkan kepalanya, “Ya Kak?”
Vino terdiam, nampak berpikir, kemudian berkata, “Anna, bagaimana jika kamu menjadi perawat khusus untuk pasien tersebut?”
“Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,
Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya
Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany
“Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha
Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h







