LOGINGianna Drey rela merubah cita-citanya menjadi seorang perawat hanya demi cintanya pada seorang dokter muda. Namun cinta yang dipendamnya ternyata bertepuk sebelah tangan. Berbagai cara digunakannya untuk merebut hati sang dokter muda, termasuk meminta bantuan aneh pada pasiennya yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Berhasilkah usaha sang suster cantik tersebut merebut hati sang pujaan hati?
View MoreBunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.
“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalami pendarahan hebat. Tekanan darah turun drastis, pasien mulai kehilangan kesadaran.” Ucap seorang perawat yang baru saja turun dari mobil ambulans.
Anna mengangguk menerima informasi yang disampaikan dan kemudian segera mendorong brankar tersebut sambil berlari menuju ruang IGD bersama perawat lainnya.
Perawat cantik itu dengan cekatan membantu sang dokter untuk mengambil alat-alat medis yang diperlukan. Suasana tegang meliputi ruang IGD, ditambah suara panik dan isak tangis keluarga membuat udara terasa mencekat.
“Sus, tolong panggil dokter Victor, pasien harus segera dioperasi.” Ucap sang dokter IGD dan secepat kilat Anna berlari menuju ruangan dokter favoritnya.
“Dok...” belum sempat Anna menyelesaikan ucapannya, gadis manis itu terperangah melihat pria yang sudah ditaksirnya sejak dua tahun lalu itu sedang duduk berduaan, dengan posisi yang cukup ambigu, dengan seorang dokter koas* yang baru saja training tidak lebih dari dua minggu di rumah sakit tersebut.
“Anna! Kamu kalau mau masuk ketok pintu dulu!” tegur Victor dengan wajah tidak bersahabat.
Anna tidak mendengar apa yang diucapkan pria itu, otaknya terasa membeku karena terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Gianna Drey!” suara tinggi Victor seketika mengembalikan kesadaran Anna.
“Dok.. ada pasien di IGD yang harus segera dioperasi.” Ucap Anna ketika mengingat tujuannya ke ruangan ini. Anna menoleh sekilas pada dokter koas cantik yang memasang wajah canggung tersebut dan kemudian kembali berlari meninggalkan ruangan.
Operasi berjalan cukup lama dan menguras energi. Anna berusaha fokus pada tugas dihadapannya, dengan cekatan mempersiapkan peralatan yang sekiranya akan segera dibutuhkan oleh sang dokter. Pengalaman membuatnya cukup mengerti dan sigap dengan kondisi pasien dihadapannya.
Perawat berhidung mancung dan berkulit putih itu sedikit meringis dan menutup matanya ketika darah yang keluar dari kaki pasien cukup banyak, pun ketika Victor menjahit sobekan luka tersebut. Rasanya ngilu, namun dia tetap harus professional. Tepatnya demi cintanya pada Victor.
Victor adalah seorang dokter bedah yang merupakan sahabat kakak sepupunya, Alvino, seorang dokter penyakit dalam. Anna jatuh cinta pada pandangan pertama ketika Vino mengajak Victor datang ke pesta sweet seventeen Anna sepulang praktek koas. Gilanya Anna langsung memanjatkan doa ulang tahunnya berharap Victor adalah jodohnya.
Sejak saat itu, seluruh fokus Anna tertuju pada Victor, termasuk berhasil membuat orangtuanya terkejut ketika gadis ceria yang sangat berbakat menggambar itu tiba-tiba mengalihkan minat kuliahnya menjadi jurusan keperawatan, hanya demi dekat dengan Victor.
Victor menghembuskan nafas berat namun lega sambil membuka sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Keningnya terlihat mengeluarkan bulir-bulir keringat, dan Anna dengan cekatan segera memberikan Victor sehelai tissue.
“Thanks.” Ucap Victor singkat dengan seulas senyum samar.
“Mau minum?” Anna menawarkan segelas air pada dokter tampan tersebut. Victor menerimanya dan segera meminumnya dalam sekali teguk.
“Kamu pulanglah, istirahat.” Ucap Victor menepuk bahu Anna pelan dengan senyum penuh perhatian.
“Ta.. tapi..”
“Aku tau kamu kelelahan, kamu butuh istirahat. Aku tidak ingin kamu sakit.” Victor membelai kepala dan kemudian mengucek-ngucek rambut gadis manis itu dengan senyum tulus.
“Kak Victor enggak pulang juga?”
“Aku masih harus berjaga-jaga, setidaknya sampai pasien tersebut siuman.” Victor kemudian melirik jam tangannya. “Sudah jam sebelas malam. Kamu bawa mobil kan?” lanjutnya.
Anna menggeleng, “Enggak, dipakai papa. Tadinya mikir mau nebeng Kak Victor. Tapi ya sudah aku naik ojek online saja. Aku balik dulu, Kak. Bye.” Ucap Anna sambil bersiap menuju ruang ganti.
“Anna, tunggu.” Victor menahan lengan Anna.
“Ya?” Anna menoleh pada pria tampan berkacamata tersebut.
Victor menghembuskan nafasnya dengan kasar, “Ya sudah aku anterin kamu pulang.”
“Tapi Kak Victor katanya masih mau menjaga pasien?”
“Sudah cepatan, enggak usah cerewet. Aku tunggu kamu di mobil.” Ucap Victor dengan wajah menahan kesalnya dan kemudian berjalan meninggalkan Anna yang masih bergeming di tempatnya.
***
Bukan pertama kalinya Anna diantar oleh Victor, bahkan Victor sudah seperti sopir cadangannya. Kedekatan hubungan Victor dan Alvino membuat Victor tidak mempunyai pilihan lain selain harus memperlakukan Anna dengan baik.
“Lain kali, kalau kamu cari jadwal, samain saja sama Vino, kalian kan bisa pulang bareng.”
Anna mencibirkan bibirnya, “Bukan aku Kak yang nentuin jadwal, kan dari kepala rumah sakit, ya mana aku tau bisa barengan terus sama Kak Victor. Apa kita memang jodoh ya? Ouch!! Sakit!” Tiba-tiba tangan Victor menggetok kepala Anna.
“Kamu itu sudah seorang perawat sekarang, bukan mahasiswi lagi. Hilangin pikiran konyolmu. Memalukan instansi keperawatan saja!” ucap Vino kesal.
“Ck.. Kak Victor ini serius banget sih. Bisa-bisa pasien cepat mati ditangani dokter galak begini.” cibir Anna.
Victor yang tersinggung kembali memberi tatapan tajam pada Anna, “Kalau semua dokter bertingkah dan berpikiran konyol seperti kamu, enggak ada pasien yang selamat!”
“Eits… jangan salah, hati yang gembira adalah obat. Justru kalau dokternya murah senyum, ramah, suka bercanda, itu akan memberikan afirmasi positif bagi pasiennya.”
“Sok tau. Sudah sampai, cepatan turun. Aku harus balik ke rumah sakit lagi.”
“Iya..iya.. Makasih.” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, mobil Victor telah melaju kencang meninggalkannya.
Anna sedikit terkejut namun dia sudah terbiasa dengan kelakuan Victor. Walau Victor selalu galak padanya, namun nyatanya dia tetap perhatian tidak membiarkan Anna pulang sendirian. “Aku yakin kamu juga mencintaiku.” Senyuman terukir di sudut bibir gadis itu.
*Koas adalah ko-asisten atau dokter muda yang baru menyelesaikan kuliah kedokteran.
Calvin terkejut, “Bukankah kalian...”Anna mengangguk, “Ya, dia memintaku untuk balikan tapi...” Anna menghela nafas panjang, “Aku nggak tau, aku hanya takut ketika aku memberinya kesempatan dan dia mengulangi hal yang sama, aku nggak yakin akan sekuat ini lagi.”“Even the strongest heart gets tired.” Ucap Calvin.“Ya, jadi.. aku hanya harus belajar untuk merelakan dan kehilangan sosok pria yang dulu aku kagumi. Ternyata mencintai dengan tulus itu tidak cukup. Batubara tidak akan menjadi berlian kan?” Ucap Anna sambil tersenyum sarkas.“Anna, a diamond is just a piece of coal that did well under pressure. When your intentions are pure, you don’t lose people, people lose you.” Calvin membelai halus pipi Anna. Gadis itu terdiam, kemudian mengangguk.“Kita tidur sekarang. Good night.” Ucap Anna bersiap memejamkan mata, namun kemudian dirasakan bahwa keningnya disentuh oleh sesuatu yang terasa dingin dan juga kenyal. Calvin mengecup keningnya dengan sangat lembut. Sebuah sentuhan yang mem
Calvin menggeserkan tubuhnya ketika Anna mulai merebahkan tubuhnya di samping pria itu, memberi ruang lebih pada gadis itu.“Kamu tidur biasa pakai guling nggak?” tanya Calvin, mengarahkan tubuhnya ke arah Anna. Kini dengan posisi mereka miring saling menatap.Anna mengangguk, “Biasanya pakai.”“Sayang banget nggak ada guling di sini, tapi kalau memang harus banget pakai guling, nggak apa-apa aku relain aja akunya jadi guling.” Ucap Calvin ringan.Mata Anna membulat, mulutnya terbuka ingin protes namun tidak ada kata yang berhasil dikeluarkan.Calvin terkekeh, “Aku bercanda. Kamu gemesin banget kalau lagi kaget gitu.” Ucap Calvin sambil mengacak lembut rambut Anna, sebuah gerakan sederhana yang menimbulkan gelenyar aneh di seluruh tubuh gadis itu. “Ya uda, kita tidur deh.” Ucap Calvin sambil memejamkan matanya.Anna mengangguk dalam diam, walau mungkin Calvin tidak melihat jawabannya. Anna kemudian membalikkan posisinya menjadi terlentang karena jantungnya tidak sanggup lagi. Janganka
Suara dering handphone Calvin menghentikan ciuman mereka yang baru saja dimulai. Anna segera mengambil kesempatan untuk beranjak dari atas tubuh Calvin, karena jujur saja posisi tadi sangat membahayakan bagi mereka berdua. Anna bahkan tidak pernah sedekat dan seintim ini dengan seorang pria, apalagi pria itu bukanlah miliknya.“Hallo, Ma?” Calvin segera menahan lengan Anna, tidak membiarkan gadis itu meninggalkannya.“Vin, kata Stef kamu sakit?” suara panik terdengar di seberang telpon.Calvin mendecakkan lidahnya, sepupunya satu itu memang selalu saja heboh. Pria itu menghela nafas panjang, “Cuma sedikit demam kok, Ma. Mungkin kecapean aja.”“Yakin nggak apa-apa? Apa papa dan mama jemput kamu sekarang pulang?”“Ma, nggak perlu. Calvin beneran nggak apa-apa kok.”“Kamu itu suka nutupin kalau kamu sakit, mama kan khawatir.”Calvin tersenyum, “Mama nggak perlu khawatir, ada suster cantik yang jagain aku kok, Ma.” Ucapnya sambil memandang Anna yang wajahnya kini semerah tomat.“Suster? K
Anna terdiam, tebakannya benar. Calvin telah menemukan pengganti Olivia dan... anehnya membuatnya patah hati.Mencoba tersenyum, gadis itu tetap menyuapi Calvin dengan pelan. “Bagus kalau kamu sudah bisa menemukan seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum.”“Ya... kadang ketika patah hati, kita merasa seolah dunia akan berakhir, nyatanya... life must go on dan kita tidak pernah tau akan dipertemukan dengan sosok lain yang terbaik buat kita.”Anna tersenyum, “Sepertinya aku harus belajar dari kamu cara menyembuhkan patah hati dengan cepat.”“When pain turns into lessons, the real healing starts. Sometimes, the right way to love is to leave.” Ucap Calvin tersenyum.Anna terdiam kemudian mengangguk. Gadis itu kemudian menghela nafas panjang, “Lalu.. jika kamu sudah menemukan yang baru.. berarti.. maksud aku.. bukankah seharusnya dia yang ada di sini sekarang?” Anna berdehem, “Maksud aku, kita tidak perlu pura-pura pacaran lagi kalau memang kamu sudah ada pacar sungguhan.” kenapa rasanya
“Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t
Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari
Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam
“Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews