INICIAR SESIÓN
Di dalam koper itu adalah Daniel Poplin.Suamiku.Ayah dari Lolly.Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa perkiraan waktu kematiannya adalah sekitar 48 jam lalu.Pelakunya bernama Johan Agustian.Sebulan lalu, dia pindah ke toko di lantai bawah apartemen kami dengan alasan membuka toko bunga.Usianya 34 tahun. Dia pernah 2 kali dituntut karena melakukan penguntitan, tetapi kedua kasus tersebut dihentikan karena kurangnya bukti.Dia bukan pembunuh yang memilih korbannya secara acak. Dia sudah lama mengincar Daniel.Polisi menemukan satu dinding penuh foto di ruang bawah tanah toko bunga yang disewanya.Semuanya adalah foto keseharian kami bertiga saat pergi berbelanja, mendorong kereta bayi, menjemur pakaian di balkon.Foto paling lama diambil 4 bulan lalu.Selama 3 bulan, dia mempelajari Daniel. Dia mempelajari cara bicaranya, cara berjalannya, dan kebiasaan sehari-harinya.Bahkan, dia berhasil mendapatkan ponsel lama Daniel dan membaca seluruh riwayat percakapan di dalamnya.Dia
Pukul 4 sore, Kapten Wira berhasil mendapatkan surat penggeledahan.Aku duduk di dalam mobil polisi, memperhatikan enam polisi masuk ke gedung tempat rumahku berada.Radio komunikasi dibiarkan menyala. Aku bisa mendengar semua suara dari sana.Ketukan di pintu.Pintu terbuka.“Pak Daniel, kami menerima laporan dan perlu melakukan pemeriksaan rutin di kediaman Anda. Ini surat penggeledahannya.”“Apa? Penggeledahan? Memangnya ada apa di rumahku sampai harus digeledah?”Suara itu, suara Daniel, terdengar marah sekaligus tidak percaya.“Mohon bekerja samalah dengan kami.”Terdengar suara langkah kaki, suara lemari dibuka, suara barang-barang dibongkar dan diperiksa.Dua puluh menit berlalu.Suara seorang teknisi terdengar dari radio.“Kapten, kamar mandi kamar utama tidak ada kejanggalan. Dapur juga tidak ada. Ruang tamu ....”“Kamar sebelah?”“Kamar sebelah adalah kamar anak. Ada ranjang bayi, meja ganti popok, dan satu lemari pakaian. Isinya semua pakaian anak.”“Bagian bawah lemari?”“T
Pukul 2 siang, Kapten Wira kembali datang ke kantor polisi.Kali ini, dia bersama tiga orang.Seorang teknisi, seorang ahli forensik, dan seorang pria berpakaian sipil yang tidak kukenal.Mereka membawaku ke sebuah ruang rapat kecil.Kapten Wira menutup pintu, menurunkan tirai, lalu membuka laptop.“Pagi ini kami melakukan beberapa hal.”Dia membuka berkas pertama.“Pertama, kami mengambil data penggunaan ponsel suamimu selama 3 bulan terakhir.”Di layar muncul sebuah grafik garis.“Cara membuka ponsel suamimu menggunakan sidik jari dan pengenalan wajah, benar?”“Benar.”“3 bulan lalu, tingkat keberhasilan pengenalannya mencapai 99,7% dan itu normal. Tapi mulai 2 hari lalu, tingkat keberhasilan pengenalan wajahnya tiba-tiba turun menjadi 61%.”Aku menatap garis pada grafik itu.Dua hari lalu.Dua hari sebelum aku berangkat dinas.“Pengenalan wajah memang tidak seratus persen akurat, tetapi orang normal tidak akan tiba-tiba mengalami penurunan dari 99% menjadi 61%. Kecuali ada perubahan
Pukul 9 pagi.Ibuku tiba di kantor polisi dan mengambil alih untuk menjaga Lolly.Aku menceritakan semuanya kepadanya dari awal sampai akhir.Setelah mendengarnya, wajah ibuku memucat, tetapi dia tidak bertanya "apa aku sudah gila." Dia hanya berkata, "Ayahmu meninggal ketika kamu masih kecil. Ibu membesarkanmu seorang diri.Ibu sangat mengerti dirimu. Kamu bukan orang yang akan tiba-tiba menjadi gila tanpa alasan."Kemudian dia menggendong Lolly dan duduk di sudut ruangan. Setelah itu, tidak berkata apa-apa lagi.Pukul 10.30, Kapten Wira menelepon.“Memang ada bekas pot tanaman di ambang jendela kamar tamu di rumahmu, tetapi tidak ada satu pun pot tanaman di seluruh kamar.”“Dia sudah memindahkannya.”“Aku sudah tanyakan. Dia bilang tempat itu tidak pernah digunakan untuk meletakkan pot tanaman.”“Kalau begitu, dari mana bekas itu berasal?”Kapten Wira tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru memberitahuku hal lain.“Kami sudah memeriksa ulang rekaman CCTV lorong pada waktu ibu mert
Pukul 5 dini hari.Aku duduk di ruang penerimaan kantor polisi sambil menggendong Lolly.Lolly sempat terbangun sekali, merengek pelan, lalu kembali tertidur.Aku mendekapnya erat-erat, bersandar di dinding dan tidak berani memejamkan mata sedetik pun.Pukul 06.10, Kapten Wira datang.Di tangannya ada sebuah kantong barang bukti transparan. Dia duduk di hadapanku.“Ibu mertuamu sudah dibawa ke rumah sakit. Kaki kirinya patah dan remuk, tiga tulang rusuknya patah, dan ada pendarahan di dalam tengkorak. Dia masih dalam penanganan darurat.”Aku mengertakkan gigi tanpa berkata apa-apa.“Kami sudah memeriksa kamar tamu. Kunci jendelanya dibuka dari dalam dan tidak ada tanda-tanda perlawanan di ambang jendela.”“Dari kondisi di lokasi, memang lebih terlihat seperti dia membuka jendela sendiri lalu tidak sengaja terjatuh.”“Ibu mertuaku tidak mungkin membuka jendela tengah malam.”“Aku tahu kamu berpikir begitu, tapi aku perlu bukti.”Dia mendorong kantong barang bukti itu ke hadapanku. Di da
Saat mobil berhenti di depan kompleks apartemen, sudah ada dua mobil polisi yang tiba lebih dulu.Aku langsung turun dari mobil, tetapi Kapten Wira segera menarikku.“Kamu tidak boleh naik.”“Putriku di atas!”Sudah ada orang di lokasi. Kalau kamu naik, kamu hanya akan mengacaukan situasi.”“Lalu ibu mertuaku ....”“Dengarkan aku.” Dia mencengkeram lenganku dengan kuat.“Ibu mertuamu jatuh dari jendela kamar tamu. Dari lantai empat.”Kakiku langsung lemas.“Dia masih hidup. Ambulans sudah datang, tapi lukanya cukup parah.”“Lolly bagaimana?”“Rekanku bilang anak itu tertidur di ranjang bayinya. Dia baik-baik saja.”“Orang itu bagaimana?”“Suamimu …. Atau orang yang kamu maksud itu …. Ada di ruang tamu. Katanya dia mendengar suara sesuatu lalu berlari keluar. Dia bilang mungkin ibu mertuamu terbangun untuk ke toilet, tapi karena masih mengantuk, jadi tidak sengaja menabrak jendela sampai terbuka.”“Omong kosong.”Suaraku serak, sampai-sampai terdengar seperti bukan suaraku sendiri.“Ibu