LOGINAfter she was dumped by her fiance just when they were about to wed, Bianca's parents decided to arrange for her to be married to Richard Smith, the Alpha's only son, believing it was the best thing for her. But she doesn't want this; going into something as big as marriage with someone she hadn't even seen before. To make matters worse, she learns he is a famous playboy who didn't sleep with the same girl twice. Rage filled her and she ended up in a nightclub. Under the influence of alcohol, she ends up having a passionate one-night stand with a very hot stranger who saved her from being taken advantage of that night. She thought it was just a one-night stand and it would be forgotten, but what if a twist of fate reveals that the hot stranger is none other than the famous playboy, her future husband, Richard Smith? Then what ultimately happens when Richard's long lost ex girlfriend who he never officially broke up with returns, ready to go any length to get back what's hers?
View MoreGadis itu masih terdiam kaku menatap marmer kotor penuh dengan noda darah dan beberapa cairan hitam juga cokelat. Beberapa lebih jauh ada butiran nasi yang berantakan.
Kedua tangannya terikat, dia berdiri dengan kaki berjinjit. Menunduk lusuh dengan rambut panjang lepek yang tergerai. Lepek bau anyir. Sudut bibirnya lebam diikuti bekas darah yang mengering. Matanya sayu, juga dipenuhi memar. Kedua pipinya merona bukan karena malu, tetapi karena tamparan seseorang. Pakaian putih selututnya kotor, penuh dengan noda pula darahnya.
Dia, Amitha Kanyaah, masih menampilkan seringaian. Meski dingin menembus kulit, tidak ada angin. Ruangan ini tertutup rapat, hanya saja tubuhnya berubah ringkih. Dia hanya mengenakan gaun terusan selutut tanpa lengan yang begitu tipis, mempertontonkan keindahan tubuhnya. Hanya ada tali yang mengantung di kedua bahunya.
Amitha Kanyaah masih sempat tertawa, beberapa hinaan yang diterima masih ia simpan di dalam hati. Telinganya memerah, seharusnya marah, tetapi wajah yang ditunjukan sungguh kebalikan. Amitha Kanyaah, benar-benar seperti orang gila.
Dia menatap bengis lelaki tampan di depannya. Segala serapah juga tanya tak akan pernah dijawab.
Ada banyak lelaki yang menghampirinya setiap hari. Selama tiga hari akan berganti yang berbeda. Setiap tiga hari itu ada 3 jenis lelaki, jenis pertama datang tiga orang, Kanyaah menyebutnya investigator. Orang jenis kedua sendirian, mendatanginya tiap pagi dan malam, Kanyaah menyebutnya si pemberi makan. Orang terakhir adalah orang yang sedikit berbeda. Pakaiannya serba putih, tampangnya lebih ramah dan selalu memberinya banyak obat. Kekerasan dari dua pria kekar sebelumnya tidak lebih keji dari pria tampan berbaju suci itu. Rasa sakit setelah disuntikan cairan aneh membuatnya tak bisa tidur semalaman. Hanya erangan dan teriakan, lalu pingsan.
Dari semua orang itu ada kesamaan. Mereka--selain dokter biadab--mengenakan kemeja polos hitam sedikit mengkilap, celananya pun hitam dengan sepatu hitam. Tidak ada yang botak atau gemuk, yang memberinya makan bahkan bisa dibilang tampan. Semuanya memiliki karisma, kekuatan, otot dan dominasi sendiri-sendiri. Jika Amitha Kanyaah gadis baisa, satu kali interogasi akan membuatnya menyerah. Mereka benar-benar tidak memiliki wajah biasa saja.
Karena Amitha Kanyaah gadis yang berbeda, dengan kemampuannya ia selalu mengingat segala detil. Itulah mengapa ia tahu waktu siang malam meski dikurung di ruang tertutup. Dia juga tahu, setiap orang yang mendatanginya akan memiliki gelang perak serba guna. Amitah Kanyaah menyebutnya komunikator.
Daripada ponsel, mereka memiliki teknologi yang lebih maju, menjadikan si perak serba guna itu sebagai pengganti ponsel. Kegunaanya juga lebih banyak, dia bahkan memiliki peta seluruh nusantara dan mengetahui setiap musuh dan anggota dengan titik-titiknya. Komunikator itu terhubung langsung dengan satelit bumi. Tidak ada yang tidak diketahui oleh si pemakai. Segala pertanyaan akan dijawab dengan benar dan fakta. Tidak seperti kakek gugel, krom, atau media surfing lainnya yang masih dipertanyakan kebenarannya. Semua yang berasal dari gelang perak itu valid! Dijamin 99.9%
Ruangan ini juga terlindungi oleh sistem. Mainframe sangat teliti dan jeli, hanya patuh dengan atasan. Tidak ada penjaga, tetapi Amitha Kanyaah yakin tak bisa kabur dari ruangan ini. Bahkan dindingnya terhubung langsung dengan mainframe. Orang gila di sekitar Kanyaah menyebutnya, Jelita.
"Jelita!" panggil salah satu pria berbaju hitam. Dia memutar cincin di jempolnya, memandang Kanyaah lebih bengis dari tatapan gadis itu.
Seorang gadis lucu dengan ikatan rambut dikuncir dua muncul di tengah ruang. Itu hanya bayangan dari mainframe. Dia menatap orang itu dan bekata, "Ya, Tuan Awan. Ada yang bisa saya bantu?"
Tak perlu khawatir, Kanyaah menduga Jelita punya kloning banyak. Dipanggil di sini bersamaan di ruang sebelah juga akan muncul. Penurut sekali. Mengapa Jelita dibuat dengan sosok gadis kecil
Huhu
"Panggil Dokter Dom kemari."
"Baik, Tuan!" jawabnya dengan senyuman. Karena jelita hanya sistem yang berarti bukan manusia. Tidak pula bisa dirasakan kehadirannya kecuali melalui visual, tentu saja dia menurut dengan senyuman. Tak peka dan berempati dengan Amitha Kanyaah yang sudah pucat dengan wajah ayunya yang sayu.
Dtang!
Denting pintu, seperti lift, pintu itu terbelah. Sosok pemuda tampan dengan jas putih masuk diikuti seorang lelaki berbaju putih khas perawat satu langkah di belakangnya. Dia mendesah berat, mengkode tiga lelaki di dalam untuk segera keluar.
"Masih enggan menjawab?" tanya Dom.
Kanyaah diam saja. Dia benci lelaki ini, meski tersenyum dengan ramah, obatnya jelas lebih mematikan dari pukulan dan tamparan dengan segala jenis kekerasan orang sinting berbaju hitam.
Lagi-lagi Dom mendesah, dia mengambil jarum suntik yang disiapkan asistennya. "Aku tak mengerti mengapa gadis cantik sepertimu tahan dengan siksaan ini lebih dari tiga bulan. Bos besar sampai bertanya," katanya sembari menggeleng. Kanyaah tahu, yang disebut Tuan oleh mainframe jelas lebih rendah dari Boss Besar yang sering mereka agungkan.
Dom mengecek fungsi jarum sebentar di depan Kanyaah.
"Selama ini, mereka hanya berhasil tahu namamu saja." Dom menggeleng keras. "Jika bukan Boss yang turun langsung, keluargamu mungkin aman-aman saja!"
"Bajingan!" umpat Kanyaah. Dia mendelik dengan desisan kasar yang disertai ringisan. Mulutnya juga hampa, dia dipaksa minum air mendidih. Sayangnya kekerasan dari dokter ini menyembuhkannya esok hari, membuat sikasaan neraka ini akan berlanjut sebab ia tak bisa mati.
"Tenanglah, aku berbeda dari mereka!"
Amitha Kanyaah berdecih.
Cuih
Meludah kasar hampir mengenai seragam Dom. Dom cukup beruntung, dia punya refkek bagus tak kalah tenaga dengan pria berbaju hitam.
Dengan sekali sentakan, Dom menusuk jarum itu di leher. Membuat Kanyaah meringis lalu meraskaan tulangnya hampir remuk. Dagingnya seperi tertarik, ototnya pun sama. Rasanya sepeti tubuhnya akan meledak. Segala kesengsaraan tak ada yang terlewat bahkan satu sel pun. Amitha Kanyaah benci perasaan lemah ini.
Dom hanya bisa menggeleng. "Kamu terlalu keras kepala. Boss, tidak seburuk itu," ucapnya. Lalu berbalik, melepas sarung tangan lateksnya dan membuang asal, sayangnya tepat ke tong sampah.
Jaraknya tiga langkah dari pintu ketika sistem membuka secara otomatis. Meninggalkan Kanyaah sendirian di ruangan tertutup.
"Alex!"
"Ya Dokter!"
"Suruh beberapa orang membersihkan ruangan itu. Akan lebih merepotkan jika dia terkena penyakit parah hanya karena ruangan kotor."
"Baik, Dokter."
"Gadis malang yang keras kepala! Bahkan Dokter Wen Ryi memiliki penilaian yang sama."
Dom menggeleng sekali lagi, wajah ramahnya tidak hilang. Hanya saja, tinggal di tempat kejam membuatnya berhati dingin, meninggalkan empati khusus. Perhatian kecil untuk Kanyaah hanya fakta dari otaknya, bukan dari hati. Dom pikir Kanyaah seharusnya menyerah saja. Namun, kekeras kepalaanya sunggguh tak terduga.
Sepanjang lorong, Dom terus berpikir. Mungkinkah gadis itu adalah gadis gila yang tidak memiliki rasa sakit. Namun, melihat bagaimana dia bereaksi setiap malam, menggeliat, berteriak, mendesah kasar. Dom tak bisa berpikir demikian, semua hipotesanya pasti salah. Pasti ada satu hal yang membuat Amitha Kanyaah begitu kukuh dengan pendiriannya
Latar kekanagnya pasti tidak sederhana. Keluarga yang 'tak sengaja' dikorbankan Boss pasti hanya keluarga di atas kertas. Bukan sesuatu yang mendasarinya seteguh itu. Lantas apa alasanya dia mampu menerima lara?
Dia ... Pemagut Lara.
Chapter 174 RICHARD’S POV Approaching B’s family house, I saw B stepping out, but the moment she saw me, she ran back inside. My heart hurt from seeing how she was avoiding me. “B please wait. Hear me out first. I have something important to tell you. The pregnancy was fake…I know everything now…” I said as I rushed out of the car and chased after her. But I didn’t think she heard me as she quickly slammed the door shut down on getting inside. I banged against the door, screaming for her. Apologizing. Pouring my heart out and letting her know how much I loved and missed her. I didn’t care if I was constituting a nuisance or being absurd, I just wanted her forgiveness. I wanted her back. But it all fell on deaf ears. No one opened the door for me. I wondered if my dad had come like he promised. Maybe he hadn’t yet. I wondered if her parents were around. Surely, they won’t approve of my behaviour and I didn’t even know how to explain the whole situation to their understa
Chapter 173 RICHARD'S POV By the time I made it back to the apartment, it was almost dusk. Heather’s parents had the heart to forgive her for lying to them. Despite all she did, they still loved her as their one and only daughter and were willing to take her back. After they left, my father noticed how troubled and unhappy I was, and I couldn’t help but tell him everything that happened. I needed someone to talk to. Someone who could understand and advise me. And right then, my father was the only one I could turn to. He advised me to be patient, to give B more time and not act rashly to avoid losing her completely. He also promised to go see her parents intercede on my behalf and convinced me to head back to the apartment and rest because I really needed it. As I was approaching my apartment from the elevator, I noticed the door was left ajar. I didn’t put too much thought into it because it was probably Gideon. I had seen him earlier that morning before stepping out.
Chapter 172 RICHARD’S POV I wasn’t sure where B could have gone, but the only place that came to my mind was her family house. I just hoped she hadn’t gone to any other place. It’ll be hard finding her if she did. No matter what, I had to get her back. I want her back. Not only is she the love of my life, but she’s also carrying my unborn child. She will be the mother of my children. Rushing into the room, I hurriedly pulled out the drawer of the nightstand, searching for my car keys. I couldn’t remember where last I kept it but I think it should be in the drawer because I usually left it there. Instead of finding my car keys, I found something else. My brows drew in curiously as I took out the paperwork. Going through the contents, terrible regrets assailed me as I shook my head in agony. B was pregnant. All these while, she has been carrying my child but kept it from me. All these while, I have been hurting and treating her badly not knowing my seed was growing inside her.
CHAPTER 171 RICHARD’S POV The news of Heather’s pregnancy hit me like a shockwave. I was so shocked I struggled to accept it. How did it happen? How am I the one responsible for it? As far as I knew, Heather and I hadn’t gotten into any intimate act since she returned. There must be a mistake somewhere. B was so shattered she couldn’t even look at me. But I wished she could just listen to what I had to say before jumping to any conclusions. This was all a misunderstanding. I knew nothing about it. I know I have been cold and mean towards her lately, but that was only because of the way she’d been acting towards Heather. I believe with time she’ll stop seeing Heather as a threat and apologize for her actions. I cared for Heather and promised to be by her side to make up for all those years I failed to protect her from Ben. But that doesn’t mean I’ll go as far as sleeping with her. I made it clear to her that I loved B and only B now. What Heather and I shared was all in the
CHAPTER 158BIANCA’S POVMy heart ached in my chest. I didn’t know why Richard was so blunt to me. From his expression, it was obvious he was still upset. I thought that was subsiding after I told him Ben might be responsible for Heather’s disappearance. Not me.Perhaps, Heather might have told him som
CHAPTER 157HEATHER’S POV “Heather… what the fuck!... Where have you been all this while…and…why do you look like this?”He welcomed me in, taking a close look at my face. I cried my way into the apartment, putting on a pitiful act after which he quickly closed the door.“Who did this to you?” He tucke
CHAPTER 156HEATHER’S POVEver since I saw her getting all cosy with Richard earlier in the morning during breakfast, rage ached every part of my body. I tried to make her look bad in front of him as I broke the news of our outing together to her because I knew she wouldn’t take it well. But Richard e
CHAPTER 155RICHARD’S POVB’s gaze and shoulders slumped in disappointment as I went out and closed the door of our room. I would have helped massage her feet, but that will only waste time. I needed to find where Heather was first. It was evening. In the blink of an eye, night will take over, and the












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews