ログイン"Setelah beristirahat dari pekerjaan selama dua hari, saya merasa seperti terlahir kembali," kata Sebastien memutar bahunya perlahan, sejalan menggerakkan sendi lehernya ke kanan dan ke kiri sampai terdengar bunyi—krek—cukup keras. Di seberang meja makan darurat di kamar sang Kaisar, Vivienne yang sedang mengiris daging memutar bola matanya dengan malas dalam tunduknya. "Tetapi sepertinya saya akan mengambil waktu libur satu hari lagi sebelum kembali ke penyiksaan itu." Sebastien menyandarkan tubuhnya, lalu membicarakan sesuatu yang tidak dia pikirkan dua kali. "Bisakah Anda menemani saya tidur sekali lagi?" Ujung pisau Vivienne berhenti sesaat di atas daging. Dia menghirup napas dalam sebelum menjawab dengan suara sedingin salju di luar sana. "Aku tidak mau terbangun lagi karena mimpi burukmu itu. Sangat mengganggu." Satu alis Sebastien terangkat. Dia kemudian menopangkan sisi kepalanya pada tangan yang ditekuk di atas meja. "Saya tidak tahu apa-apa tentang mimpi buruk yang Anda
Lima belas menit kemudian, pintu kamar akhirnya terbuka. Dokter keluar lebih dahulu, lalu disusul Darrel beberapa detik kemudian."Princesse."Darrel membersihkan darah di tangannya menggunakan sapu tangan, sebelum menghampiri calon istri sahabatnya yang tampil begitu mengejutkan dengan wajah penuh ketegangan."Kaisar baik-baik saja, Anda tidak perlu khawatir. Apa yang terjadi hanya efek dari kelelahan. Dia sedang istirahat saat ini." Tanpa pertanyaan, dia menjelaskan segalanya. "Namun jika Anda ingin memastikannya sendiri agar lebih tenang, Anda bisa menemuinya."Aku tidak khawatir, sahut Vivienne dalam hati. Alih-alih menjawab, dia menggeser pandangannya kepada Claude. Pria itu tersenyum—senyum tipis yang entah mengapa membuat dirinya tidak nyaman. Tanpa mengatakan apa-apa, dia melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan kedua pria itu yang saling bertukar satu pandangan.Di antara bau darah yang masih menggantung berat di udara, dan kapur sirih yang menusuk ke otak. Mata Vivienne
"Ada apa dengan—"Kalimat Vivienne terputus saat Sebastien mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu kala pria itu melanjutkan langkah.Dua langkah. Tiga langkah. Dia hanya mengamati bagaimana tubuh pria itu semakin membungkuk di setiap langkahnya. Napasnya yang terdengar kasar dan berat, seolah setiap tarikannya dipaksa melewati tenggorokan yang telah dipenuhi luka, tanpa ada niat untuk sekadar mendekat.Dia tidak punya alasan untuk melakukannya. Sebastien bukan seseorang yang pantas untuk diselamatkan. Bukan pula seseorang yang harus dia pedulikan.Hingga langkah kelima pria itu goyah oleh batuk yang berkelanjutan. Suara benturan tempurung lutut dengan lantai menyusul kerasnya cairan hitam serupa tinta yang menyembur dari sela-sela jemarinya. Lalu, sebelum Vivienne sempat memutuskan untuk melakukan sesuatu, kakinya membawa dirinya mendekat."Men—gkh!"Kalimat Sebastien tercekat oleh darah yang memenuhi tenggorokannya. Namun meski terbata, satu kalimat penolakan terlontar begitu tegas.
Menarik napas selaras mengedipkan mata, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Vivienne menghampiri mereka, lalu merendahkan badan sekadarnya dihadapan Patriarch."Salam, Yang Mulia Patriarch."Vivienne tidak membutuhkan suara untuk mengetahui apa yang akan dikatakan beliau melalui tatapan yang bergerak dari ujung kepala hingga kakinya."Apa-apaan ini Lady Vivienne? Berani sekali Anda berkeliaran dalam keadaan seperti ini."Vivienne diam. Tidak berniat menjelaskan apa pun, karena memang tidak ada yang harus dijelaskan."Sebagai seorang calon Permaisuri, Anda seharusnya tahu bahwa Anda tidak boleh berkeliaran dalam keadaan seperti ini—kotor dan tidak pantas. Bukan hanya nama Anda yang akan ternoda karena tindakan ceroboh Anda, melainkan seluruh martabat keluarga kekaisaran."Jemari Vivienne mengetuk pelan sisi tubuhnya, terlalu bosan mendengar petua lama. Namun dalam hati dia berharap Patriarch terus berbicara. Kalau keputusannya ini membuat penghinaan yang dilontarkan cukup parah, mun
"Tidak bisakah kamu membawaku saja?" tanya Vivienne, memperhatikan seberkas cahaya keemasan di antara bayang-bayang daun beku yang menari diterpa angin senja.Tidak ada jawaban yang datang. Dia mengangkat wajah, dan mendapati sepasang mata madu yang tengah menatapnya dengan senyum hangat."Aku pasti akan membawamu...." Benjamin menarik kedua sisi kerah mantelnya yang menyelimuti tubuh sang kekasih hingga tertutup rapat, lalu mengusap pipinya lembut, ".... tapi tidak dalam waktu dekat ini. Beri aku waktu, masih ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan."Menangkap penolakan di wajah wanitanya, dia buru-buru menambahkan. "Bukan untuk kebaikanku, tapi demi keamananmu. Ingat, kamu bukan lagi putri Duke, melainkan calon Permaisuri kekaisaran ini. Mereka tidak akan ragu memenggal kepalamu dan menghancurkan nama baikmu—""Aku tahu dan aku tidak peduli," potong Vivienne. "Kamu pikir aku susah payah melarikan diri dari tempat itu, berlari jauh untuk menemuimu hanya untuk berhubungan badan?""
"Sekarang mulailah bergerak."Kelopak mata Vivienne yang terbuka setengah, meruncing tajam. Pelan-pelan dia mulai menaik-turunkan tubuhnya."Mnh... ah..."Udara terhisap patah-patah dari celah bibirnya yang dikulum. Tangannya menekan paha Benjamin, dan dadanya mendongak ke depan, hingga putingnya menggesek ujung bibir pria itu."Aku akan tertidur jika kamu terus bergerak seperti siput," kata Benjamin memainkan kedua pucuk payudara wanitanya di antara dua jarinya.Vivienne tidak langsung menjawab. Dia memutar pinggulnya sembari mengetatkan dinding senggamanya, hingga keluhan tersebut melebur menjadi geraman berat."Sepertinya kamu yang tidak terbiasa," cicitnya memperhatikan ekspresi wajah Benjamin yang mengerut cemas.Benjamin terkekeh pendek mendengar pernyataan Vivienne. Dia membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit melorot, lalu tangannya kembali pada pantat bulat wanitanya itu—merenggangkan lipatannya sembari membukanya."Kamu benar." Dia menampar tumpukan lemak itu dengan keras.Sa
“Istri? tidak masuk akal!"Peduli apa Vivienne dengan kesopanan. Kata ‘istri’ menjadi perhatian penting baginya.“Hari ini, adalah hari pertunangan kita," lontar Sebastien, melanjutkan pembicaraan.Kakinya bergerak lagi, tapi bukan pada Vivienne, melainkan membuka kunci pintu balkon dan mempersilahk
Rembulan telah sepenuhnya merajai semesta ketika Vivienne menjejalkan selembar uang kertas 50 euro ke dalam kaleng seorang pengemis di depan toko roti. Senyuman pak tua itu merekah sampai pada batas tidak terlihat—dipenuhi syukur dan nikmat tiada tara.Berdiri di bawah lampu penyeberangan dengan mem
“Maaf, Yang mulia. Saya tidak mengerti maksud Anda.”“Benarkah, Lady Vivienne?” timpal Natan memejamkan mata, membiarkan aroma madu yang kental, berlapis susu yang manis dari tubuh Vivienne membelai kesadarannya.Jika Vivienne adalah bunga, Natan akan menjadi lebah untuknya. Menyesap segala cairan y
Sudut bibir Vivienne mencibir. "Benarkah, Yang Mulia?" Nada bicara si pangeran mahkota itu terdengar angkuh sekali.Mengelap sisa darah dari gunting ke lengan baju, sejalan melangkah mundur sampai beton pembatas menyentuh punggungnya. Vivienne mengunci tatapan pada sorot biru Sebastien yang terbakar







