“Kamu yang akan dibunuh Dax terlebih dulu,” timpal Teressa, memperhatikan jam di tangannya yang menunjukkan pukul 9:45.“Kita sudah sangat terlambat. Segera ganti bajumu jika tidak ingin gajimu dipotong lagi.” Tanpa menatap Vivienne, Teressa mengambil satu set pakaian dari lemari mereka, lalu melemparkannya ke wajah kusut sahabatnya.Vivienne mendengus. Bukan hal aneh lagi baginya kalau pak tua pemilik akademi tempat ia bekerja itu sangat tidak berperikemanusiaan, teganya memotong upah hasil kerja keras seseorang hanya karena beberapa kali terlambat dua sampai tiga jam.Namun bukan hal itu yang dipikirkan Vivienne saat ini, ada hal lain yang lebih mendesak dan membutuhkan perhatiannya, yaitu ayahnya.Ia tidak peduli jika seluruh dunia ingin mengarak kepalanya yang terpenggal di sepanjang jalan ibu kota, tapi jika itu ayahnya, beliau tidak akan mengampuninya bahkan dalam kematiannya. Terlebih, ia tahu pasti apa yang akan menyambutnya setelah menginjakkan kaki di luar rumah tampungan."S
Baca selengkapnya