Share

Bab 4

Penulis: Gorilla
Pagi ini aku harus bangun awal untuk pergi ke kampus.

Ibu segera bertanya padaku, "Gimana istirahatmu semalam? Meskipun tekanan belajar buat ujian pascasarjana besar, kamu harus tetap jaga kesehatan ya."

"Kemarin Nana nggak ngerjain banyak soal kok, Bu, jadi tidurnya lumayan awal."

Ayah tiri sedang makan di samping kami, mendengarkan percakapan itu sambil sesekali melirik ke arah kami.

Membayangkan kejadian semalam, aku tidak tahan hingga celana dalamku kembali basah. Aku pun terpaksa diam-diam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab10

    Sejak saat itu, suasana rumah kembali tenang seperti sedia kala.Pagi hari, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam kamar, membangunkanku untuk memulai hari yang baru.Ibu akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan bergizi buatku. Kami duduk bersama di meja makan, berbagi cerita tentang hal-hal kecil dalam hidup.Saat akhir pekan, kami akan pergi jalan-jalan ke taman, menghirup udara segar, dan menikmati keindahan alam.Kabut kelam yang dulu pernah ada perlahan sirna. Aku berhasil menemukan kembali kebahagiaan hidup. Di kampus pun, aku bisa fokus belajar, bermain bersama teman-teman dan menikmati masa muda yang indah.Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya berhasil lulus dan masuk ke kampus impianku.Di lingkungan yang baru, aku bertemu dengan banyak teman yang satu pemikiran. Ketulusan dan semangat mereka membuatku merasakan indahnya hubungan antar manusia.Pengalaman mengerikan itu pun lambat laun menjadi masa lalu. Kejadian itu membuatku menjadi lebih kuat dan lebih

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 9

    Wiu wiu wiu!Suara sirine polisi meraung-raung.Wajah ayah tiri seketika suram. Tatapan matanya memancarkan sinar bengis, benar-benar berbeda dari biasanya."Sialan, tiap kalinya kurang sedikit lagi!"Sambil mengumpat, dia buru-buru memakai celananya dan bergegas keluar.Tak disangka, karena merasa punya salah, suara sirine polisi yang kebetulan lewat saja sudah cukup membuatnya lari terbirit-birit ketakutan.Kedua kakiku terasa lemas, otakku kosong, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Namun, hal pertama yang kulakukan adalah segera mengunci pintu kamar rapat-rapat.Aku duduk di atas ranjang dengan perasaan yang tidak karuan.Aku sadar tidak bisa hanya berdiam diri menunggu nasib. Aku harus membuat ibu tahu soal kejadian ini.Keesokan paginya, ayah tiri sudah datang ke kamarku sangat awal untuk memanggilku."Jangan pikir masalah ini selesai begitu saja. Fotomu masih ada di aku. Siang ini, datang temui aku di kantor."Dia kembali berucap dengan nada yang sangat kejam."Tidur denga

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 8

    Sekitar satu jam kemudian, suara dari sebelah berangsur-angsur mereda ....Aku terpaksa menuruti permintaannya. Aku melepas bra dan celana dalam, lalu menunggu dia datang dengan hanya memakai seragam kampus tanpa pakaian dalam.Tak lama, dia melangkah masuk ke kamarku dan langsung mengunci pintu.Udara di dalam kamar seolah membeku seketika, aku bisa mendengar dengan jelas suara napas sendiri yang memburu."Nana ...."Dengan senyum palsu yang menjijikkan, dia mengeluarkan foto dari saku dan menggoyang-goyangkannya di depan mataku. "Kalau foto ini sampai dilihat ibumu, menurutmu apa yang bakal terjadi?"Gambar di foto itu bagaikan kilatan petir yang menyengat mataku. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa seperti binatang yang tidak bisa mengontrol hasrat sampai terpergok dan difoto olehnya di atap.Aku berusaha keras menahan gemetar di tubuh agar tetap tenang, lalu mencoba membuat suaraku terdengar sedatar mungkin, "Kamu sebenarnya mau apa?"Dia melangkah maju mendekatiku setahap demi

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 7

    Aku sampai di rumah setelah kuliah usai.Ibu sudah sibuk masak makan malam, sementara ayah tiri belum pulang karena harus mengajar mandiri malam di kampus.Aku mencoba memancing dengan bertanya, "Bu, Ibu dulu kenalan sama Om gimana ceritanya?""Waktu itu di depan gerbang kampus kamu, dia nyapa Ibu, lalu setelah beberapa kali mengobrol akhirnya kami jadi dekat," jawab ibu."Kenapa, Nana? Kamu nggak nyaman tinggal sama dia? Kalau ada apa-apa langsung kasih tahu Ibu ya. Buat Ibu, Nana tetap yang paling penting."Aku merasa lega mendengar perkataan ibu. Masalahnya sekarang adalah foto-fotoku yang dia pegang. Bagaimana cara mengambilnya kembali, bagaimana pula agar ibu tahu sifat aslinya?Aku tahu! Aku akan memasang kamera tersembunyi di kamar, merekam aksinya, lalu lapor ke polisi untuk menuntutnya!Bayangan akan kemungkinan buruk yang terjadi terasa seperti batu besar yang menghimpit dada, membuatku sesak napas.Selagi ibu tidak memperhatikan, aku melangkah pelan masuk ke kamar, mengeluar

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 6

    Tok! Tok! Tok!"Pak Lukas, ada di dalam nggak? Saya ada perlu sedikit.""Sialan."Ayah tiri mengumpat pelan. Dengan sisa napas tertahan, dia buru-buru merapikan bagian bawahnya, memakaikan bajuku, dan membereskan ruangan sebelum mempersilakan mantan guru matematika yang ada di luar untuk masuk.Dia sempat berbisik tepat di telingaku, "Kamu ngapain aja tiap hari di atap, kamu sendiri yang tahu. Nanti malam pakai seragam sekolahmu tanpa pakaian dalam, tunggu aku di kamar. Kalau nggak, foto-foto itu bakal aku kirim ke ibumu."Rasa panik seketika menyerang, tubuhku dibanjiri keringat dingin. Aku terpaksa berpura-pura tenang dan menghiburnya, "Ayah, sekarang pun aku bisa tunggu Ayah, hanya saja kesenangan kita baru saja diganggu orang. Nanti malam habis ibu tidur, Ayah jangan lupa datang menemuiku ya."Aku mengeratkan jaket untuk menutupi tubuh, lalu melangkah keluar pintu. Di sana aku berpapasan dengan dosen matematika yang dulu. "Halo, Pak.""Liana, ya. Apa kabar? Ayahmu lagi ngapain di d

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 5

    Ayah tiri menyuruhku datang ke kantornya untuk makan siang.Tok! Tok! Tok!"Masuk."Begitu masuk ke kantor, tirai ruangan tertutup rapat. Ayah tiri berbalik untuk mengunci pintu.Meski merasa bingung, aku hanya bisa berdiri di sampingnya.Ayah tiri segera duduk di kursi, matanya memandangi tubuhku dari atas ke bawah. Dia memandangi bagian-bagian tertentu dalam waktu yang lama."Nana, kamu kenapa belakangan ini? Kenapa nilai matematikamu turun drastis?""Ah, nggak ... nggak kok ...." Melihatnya membuatku teringat kejadian semalam, jadi aku hanya menjawab seadanya."Mungkin karena tekanan belajarnya besar.""Mulai hari ini, kamu harus datang ke kantor Ayah setiap siang buat les tambahan. Kamu nggak mau bikin ibumu khawatir, 'kan?"Aku hanya bisa mengangguk setuju, tapi di dalam kantor tidak ada kursi lain."Kantor ini cuma Ayah yang pakai, tidak enak kalau ada dua kursi. Toh aku ini ayahmu, jadi duduk saja di pangkuan Ayah buat belajar."Mengingat alat bawahnya itu yang semalam saja suda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status