Share

Bab 3

Author: Gorilla
Aku mendengar ibu dan ayah tiri sudah mulai melakukannya di ruang tamu hari ini.

Suara ibu terdengar sangat kencang, seolah dia benar-benar sedang digempur habis-habisan.

Suara kecipak air terdengar sangat jelas, tapi karena ibu takut membangunkanku, dia hanya bisa menggigit bibir merahnya dan mengeluarkan desahan halus yang tertahan.

Suara hantaman kulit tidak kunjung berhenti, deru napas berat dari luar ruangan itu tidak bisa berbohong.

Aku mendengarnya sampai merasa terbakar gairah, lalu secara refleks mengeluarkan mainan kecil dari laci samping tempat tidur.

Aku meletakkan mainan yang cukup besar itu di sela-sela paha, lalu tidak tahan untuk mulai mengatur kecepatannya sementara tanganku meraba ke arah dada.

Hasratku mulai memuncak.

Aku terpaksa memasukkan mainan itu ke dalam tubuh, waktu merasakan ada cairan yang mengalir turun di sela kakiku, aku pun pergi ke lemari untuk mengambil pembalut agar ibu tidak melihatku membasahi seprai.

Lemari itu terletak tepat di samping pintu. Dari celah pintu, aku bisa melihat pemandangan panas di luar sana.

Ibu berbaring di atas sofa sementara ayah tiri bergerak naik turun di atas tubuhnya, memperlihatkan alat yang ukurannya lebih besar dari milik keledai itu keluar masuk dari bagian bawah tubuh ibu.

Melihatnya membuatku merasa sangat cemburu. Akan jauh lebih baik kalau aku yang menggantikan ibu jika dia sudah tidak sanggup lagi.

Aku menyetel mainanku ke kecepatan tertinggi. Rasa nikmat yang dahsyat menyerang pikiranku dan membuatku tenggelam di dalamnya.

Sambil gemetaran, aku berpegangan pada lemari sambil terus menonton pertunjukan hebat di luar sana.

Ayah tiri membungkukkan badannya dan berkata dengan suara pelan, "Dasar nakal, enak nggak?"

Dia berbicara sambil terus memberikan hantaman yang kuat.

Suara ibu sudah berubah nada, "Ah ... Sayang, punyamu terlalu besar, pelan-pelan sedikit, aku nggak kuat."

"Dasar nakal, bagian bawahmu menjepit kencang sekali, bicaramu nggak sesuai sama tubuhmu." Sambil berkata begitu, ayah tiri menggendong ibu dan memulai babak baru hantaman mereka.

Dia bergerak sambil terus melakukannya, memasukkan seluruh alat itu dan menyodoknya sambil berjalan.

"Ah ... pelan sedikit." Ibu akhirnya tidak tahan lagi dan mulai mendesah dengan kencang.

Ayah tiri berjalan dan akhirnya berhenti tepat di depan pintu kamarku, lalu menyudutkan ibu ke pintu dan mulai menghantamnya di sana.

"Sayang, pelan sedikit, jangan sampai kedengaran Nana."

"Kalau dia dengar, aku bakal sekalian sikat kalian berdua." Kata-kata kotor ayah tiri masuk ke telingaku, tapi aku sama sekali tidak merasa jijik. Yang ada justru sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Permainan di luar belum berhenti. Di dalam kamar, aku pun membebaskan diriku sepenuhnya. Aku meremas ujung dadaku dengan keras, rasanya seperti ada kembang api yang tiba-tiba meledak indah di dalam tubuh, seluruh sarafku bersorak gembira.

Mainan di bawah sana masih terus bergerak, aku dihantam sampai hampir tidak kuat berdiri.

Seberkas cahaya putih melintas, aku mencapai klimaks ....

Baru saja aku ingin mengelap tubuh dan kembali ke tempat tidur.

Ceklek!

Pintu didorong terbuka dengan paksa oleh ayah tiri, aku hanya bisa sedikit memiringkan tubuh dan bersembunyi di balik pintu.

"Ah ... aku keluar!" Ibu memekik saat dia mencapai puncak klimaks.

"Sayang, habis ini aku nggak bakal masuk ke dalam lagi, aku cuma bakal gesek-gesek dari luar aja," hibur ayah tiri.

Baru saja aku ingin memanfaatkan kegelapan malam untuk kembali ke tempat tidur, aku justru merasakan sodokan ayah tiri melalui pintu.

Ayah tiri memegang pintu sementara ibu berada di pelukannya. Di balik pintu, aku baru mau melepaskan mainanku.

Mainan itu justru tertekan oleh sodokan ayah tiri hingga mencapai titik terdalamku, masuk dengan kuat ke dalam tubuhku berulang kali.

Rasanya seperti sedang disetubuhi oleh ayah tiri tepat di depan mata ibu.

Mainan itu terasa seperti milik ayah tiri, keluar masuk dengan paksa di tubuhku hingga cairanku membasahi lantai.

Padahal klimaks tadi sudah membuatku lemas. Rasa sensitif setelahnya yang justru diserang lagi oleh mainan itu membuat kenikmatanku melonjak drastis.

Aku merasa ada sebuah tangan yang meraba pangkal pahaku, memegang mainan itu, lalu mendorongnya masuk lebih dalam dengan kuat.

Apa mungkin ayah tiri menemukanku? Stimulasi ganda ini membuatku gemetar karena kegirangan.

Mainan itu menyentuh bagian terdalam hingga membuat tubuhku lemas dan bersandar pada lemari.

Tangan itu masih terus mengacau di bawah sana, menggerakkan mainan besar yang bergetar itu keluar masuk.

Dia tiba-tiba menjentik bagian paling sensitifku. Seketika itu juga aku mencapai klimaks.

Dengan tubuh yang gemetar, aku kembali mengeluarkan cairan.

Ayah tiri yang sedang menindih ibu akhirnya juga mengeluarkan spermanya, aku merasakan ada sesuatu yang tersemprot ke tanganku.

Ibu sudah pingsan sejak hantaman tadi, hanya bisa mengeluarkan napas yang halus.

Ayah tiri menggendong ibu yang pingsan kembali ke kamar mereka. Saat menutup pintu, dia sempat-sempatnya meremas dadaku dengan kuat.

Tubuhku gemetaran. Aku pun mengeluarkan mainan kecil itu. Karena remasan tadi, aku kembali mencapai klimaks.

Aku mendengar mereka sudah kembali ke kamar, barulah aku dengan hati-hati mengeluarkan mainan itu. Aku takut kalau tanganku gemetar dan malah mencapai klimaks lagi.

Tanganku yang satunya penuh dengan aroma sperma. Entah kenapa aku justru menjilatnya.

Begitu tersadar, aku sudah menjilat habis cairan kental di tanganku.

Aku pun berjalan kembali ke pinggir kasur untuk mengelap pangkal paha, bagian bawahku rasanya sudah membengkak.

Tidak berani melanjutkan lagi, aku mengambil tisu untuk mengelap air yang tadi berceceran di dekat pintu.

Cairan itu menyemprot ke mana-mana di depan pintu, jadi aku terpaksa berjongkok untuk mengelapnya.

Saat itu aku tiba-tiba tersadar waktu melihat air yang mengalir keluar itu. Ternyata lantai di luar penuh dengan cairanku, dan dari sudut itu, dia bisa melihat dengan jelas tempatku berdiri tadi.

Bukankah itu berarti sejak awal aku mulai bermain sendiri, ayah tiri sudah melihatnya? Lalu, apa dia juga ingin melakukannya padaku?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab10

    Sejak saat itu, suasana rumah kembali tenang seperti sedia kala.Pagi hari, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam kamar, membangunkanku untuk memulai hari yang baru.Ibu akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan bergizi buatku. Kami duduk bersama di meja makan, berbagi cerita tentang hal-hal kecil dalam hidup.Saat akhir pekan, kami akan pergi jalan-jalan ke taman, menghirup udara segar, dan menikmati keindahan alam.Kabut kelam yang dulu pernah ada perlahan sirna. Aku berhasil menemukan kembali kebahagiaan hidup. Di kampus pun, aku bisa fokus belajar, bermain bersama teman-teman dan menikmati masa muda yang indah.Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya berhasil lulus dan masuk ke kampus impianku.Di lingkungan yang baru, aku bertemu dengan banyak teman yang satu pemikiran. Ketulusan dan semangat mereka membuatku merasakan indahnya hubungan antar manusia.Pengalaman mengerikan itu pun lambat laun menjadi masa lalu. Kejadian itu membuatku menjadi lebih kuat dan lebih

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 9

    Wiu wiu wiu!Suara sirine polisi meraung-raung.Wajah ayah tiri seketika suram. Tatapan matanya memancarkan sinar bengis, benar-benar berbeda dari biasanya."Sialan, tiap kalinya kurang sedikit lagi!"Sambil mengumpat, dia buru-buru memakai celananya dan bergegas keluar.Tak disangka, karena merasa punya salah, suara sirine polisi yang kebetulan lewat saja sudah cukup membuatnya lari terbirit-birit ketakutan.Kedua kakiku terasa lemas, otakku kosong, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Namun, hal pertama yang kulakukan adalah segera mengunci pintu kamar rapat-rapat.Aku duduk di atas ranjang dengan perasaan yang tidak karuan.Aku sadar tidak bisa hanya berdiam diri menunggu nasib. Aku harus membuat ibu tahu soal kejadian ini.Keesokan paginya, ayah tiri sudah datang ke kamarku sangat awal untuk memanggilku."Jangan pikir masalah ini selesai begitu saja. Fotomu masih ada di aku. Siang ini, datang temui aku di kantor."Dia kembali berucap dengan nada yang sangat kejam."Tidur denga

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 8

    Sekitar satu jam kemudian, suara dari sebelah berangsur-angsur mereda ....Aku terpaksa menuruti permintaannya. Aku melepas bra dan celana dalam, lalu menunggu dia datang dengan hanya memakai seragam kampus tanpa pakaian dalam.Tak lama, dia melangkah masuk ke kamarku dan langsung mengunci pintu.Udara di dalam kamar seolah membeku seketika, aku bisa mendengar dengan jelas suara napas sendiri yang memburu."Nana ...."Dengan senyum palsu yang menjijikkan, dia mengeluarkan foto dari saku dan menggoyang-goyangkannya di depan mataku. "Kalau foto ini sampai dilihat ibumu, menurutmu apa yang bakal terjadi?"Gambar di foto itu bagaikan kilatan petir yang menyengat mataku. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa seperti binatang yang tidak bisa mengontrol hasrat sampai terpergok dan difoto olehnya di atap.Aku berusaha keras menahan gemetar di tubuh agar tetap tenang, lalu mencoba membuat suaraku terdengar sedatar mungkin, "Kamu sebenarnya mau apa?"Dia melangkah maju mendekatiku setahap demi

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 7

    Aku sampai di rumah setelah kuliah usai.Ibu sudah sibuk masak makan malam, sementara ayah tiri belum pulang karena harus mengajar mandiri malam di kampus.Aku mencoba memancing dengan bertanya, "Bu, Ibu dulu kenalan sama Om gimana ceritanya?""Waktu itu di depan gerbang kampus kamu, dia nyapa Ibu, lalu setelah beberapa kali mengobrol akhirnya kami jadi dekat," jawab ibu."Kenapa, Nana? Kamu nggak nyaman tinggal sama dia? Kalau ada apa-apa langsung kasih tahu Ibu ya. Buat Ibu, Nana tetap yang paling penting."Aku merasa lega mendengar perkataan ibu. Masalahnya sekarang adalah foto-fotoku yang dia pegang. Bagaimana cara mengambilnya kembali, bagaimana pula agar ibu tahu sifat aslinya?Aku tahu! Aku akan memasang kamera tersembunyi di kamar, merekam aksinya, lalu lapor ke polisi untuk menuntutnya!Bayangan akan kemungkinan buruk yang terjadi terasa seperti batu besar yang menghimpit dada, membuatku sesak napas.Selagi ibu tidak memperhatikan, aku melangkah pelan masuk ke kamar, mengeluar

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 6

    Tok! Tok! Tok!"Pak Lukas, ada di dalam nggak? Saya ada perlu sedikit.""Sialan."Ayah tiri mengumpat pelan. Dengan sisa napas tertahan, dia buru-buru merapikan bagian bawahnya, memakaikan bajuku, dan membereskan ruangan sebelum mempersilakan mantan guru matematika yang ada di luar untuk masuk.Dia sempat berbisik tepat di telingaku, "Kamu ngapain aja tiap hari di atap, kamu sendiri yang tahu. Nanti malam pakai seragam sekolahmu tanpa pakaian dalam, tunggu aku di kamar. Kalau nggak, foto-foto itu bakal aku kirim ke ibumu."Rasa panik seketika menyerang, tubuhku dibanjiri keringat dingin. Aku terpaksa berpura-pura tenang dan menghiburnya, "Ayah, sekarang pun aku bisa tunggu Ayah, hanya saja kesenangan kita baru saja diganggu orang. Nanti malam habis ibu tidur, Ayah jangan lupa datang menemuiku ya."Aku mengeratkan jaket untuk menutupi tubuh, lalu melangkah keluar pintu. Di sana aku berpapasan dengan dosen matematika yang dulu. "Halo, Pak.""Liana, ya. Apa kabar? Ayahmu lagi ngapain di d

  • Ayah Tiriku jadi Dosen Matematikaku   Bab 5

    Ayah tiri menyuruhku datang ke kantornya untuk makan siang.Tok! Tok! Tok!"Masuk."Begitu masuk ke kantor, tirai ruangan tertutup rapat. Ayah tiri berbalik untuk mengunci pintu.Meski merasa bingung, aku hanya bisa berdiri di sampingnya.Ayah tiri segera duduk di kursi, matanya memandangi tubuhku dari atas ke bawah. Dia memandangi bagian-bagian tertentu dalam waktu yang lama."Nana, kamu kenapa belakangan ini? Kenapa nilai matematikamu turun drastis?""Ah, nggak ... nggak kok ...." Melihatnya membuatku teringat kejadian semalam, jadi aku hanya menjawab seadanya."Mungkin karena tekanan belajarnya besar.""Mulai hari ini, kamu harus datang ke kantor Ayah setiap siang buat les tambahan. Kamu nggak mau bikin ibumu khawatir, 'kan?"Aku hanya bisa mengangguk setuju, tapi di dalam kantor tidak ada kursi lain."Kantor ini cuma Ayah yang pakai, tidak enak kalau ada dua kursi. Toh aku ini ayahmu, jadi duduk saja di pangkuan Ayah buat belajar."Mengingat alat bawahnya itu yang semalam saja suda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status