Tok! Tok! Tok!"Pak Lukas, ada di dalam nggak? Saya ada perlu sedikit.""Sialan."Ayah tiri mengumpat pelan. Dengan sisa napas tertahan, dia buru-buru merapikan bagian bawahnya, memakaikan bajuku, dan membereskan ruangan sebelum mempersilakan mantan guru matematika yang ada di luar untuk masuk.Dia sempat berbisik tepat di telingaku, "Kamu ngapain aja tiap hari di atap, kamu sendiri yang tahu. Nanti malam pakai seragam sekolahmu tanpa pakaian dalam, tunggu aku di kamar. Kalau nggak, foto-foto itu bakal aku kirim ke ibumu."Rasa panik seketika menyerang, tubuhku dibanjiri keringat dingin. Aku terpaksa berpura-pura tenang dan menghiburnya, "Ayah, sekarang pun aku bisa tunggu Ayah, hanya saja kesenangan kita baru saja diganggu orang. Nanti malam habis ibu tidur, Ayah jangan lupa datang menemuiku ya."Aku mengeratkan jaket untuk menutupi tubuh, lalu melangkah keluar pintu. Di sana aku berpapasan dengan dosen matematika yang dulu. "Halo, Pak.""Liana, ya. Apa kabar? Ayahmu lagi ngapain di d
Baca selengkapnya