Mag-log inKeesokan paginya, sinar matahari yang menerobos celah gorden tidak membuat suasana hati di kamar itu menjadi lebih terang.Rachel terbangun dengan mata yang sangat sembab dan kepala yang berdenyut nyeri. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara ingatannya perlahan memutar kembali kejadian semalam seperti kaset rusak.Rasa perih di tangannya mengingatkannya pada pecahan kaca, tapi rasa perih di hatinya jauh lebih hebat.Pintu kamar terbuka pelan. Nathan masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Wajah pria itu tampak lelah, jelas sekali ia tidak benar-benar tidur semalaman karena terus mengecek keadaan Rachel setiap jam."Hei," sapa Nathan lembut, meletakkan nampan di nakas. "Gimana perasaanmu?"Rachel tidak menjawab. Ia hanya mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya tertuju pada perban di tangannya yang terbalut rapi."Nathan," suara Rachel pecah, hampir seperti bisikan. "Apa aku harus datang?"Nat
“Argh!” Rachel menepis semua barang yang ada di meja wastafel di kamar mandi hingga terdengar suara barang pecah dan gemuruh yang membuat Nathan terkejut. “Kenapa?” isak Rachel terduduk di lantai kamar mandi dengan tubuh yang gemetar hebat. Darah segar keluar dari tangannya, karena tergores barang yang dia tepis dengan keras tadi. “Bahkan, sampai detik ini pun, yang dia pikirkan hanya keluarga barunya. Apa aku tidak pernah dia pikirkan sedikitpun? Kenapa?” batinnya menjerit keras. “Apa aku memang tidak pernah dia anggap anak dan bagian penting dalam hidupnya?”Nathan langsung memutar gagang pintu, tapi terkunci.Ia mengetuk lebih keras, suaranya penuh kecemasan.“Rachel! Sayang, buka pintunya!”Di dalam, suara isak Rachel semakin keras, bercampur napas tersengal dan gemerisik barang yang berserakan di lantai. Nathan bisa mendengar getaran ketakutannya.“Argh!”Rachel kembali memukul lantai dengan telapak tangannya, membuat rasa sakit menyebar sampai ke si
“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan menoleh ke arah Rachel saat mobil sudah berhenti di sebuah parkiran basemen. Rachel masih diam menatap lurus ke depan, wajahnya sudah seputih dinding dan kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. Melihat itu, Nathan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rachel, sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya. “Eh?” Rachel menoleh ke arah Nathan dengan sorot mata yang tidak fokus. “Aku di sini. Aku selalu bersamamu, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun, percayalah,” ujar Nathan menguatkan Rachel. Rachel berusaha tersenyum walau sulit. Terlihat matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang terucap di sana. “Mau turun sekarang?” tanya Nathan lagi dengan lembut. “Aku-“ Rachel bergumam lirih. “Takut.” “Kamu tidak perlu takut apapun, aku akan melindungimu,” ucap Nathan tersenyum sambil merapikan anak rambut Rachel
Nathan terpaku melihat hasil laporan yang baru saja diberikan oleh dokter Maya. Kertas itu terasa berat di tangannya, seolah angka-angka yang tertera di sana mampu mengguncang seluruh isi dadanya.Depresi: 40 – Sangat BeratKecemasan: 39 – Sangat BeratStres: 32 – BeratLidahnya kelu. Matanya membaca ulang angka-angka itu, berharap ada kesalahan cetak, berharap bahwa semua ini tidak benar. Tapi kenyataan menamparnya telak. Istrinya… perempuan yang selama ini ia peluk setiap malam, yang ia yakinkan akan baik-baik saja, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam, jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.“Apa... ini sudah lama, Dok?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar, nyaris berbisik.Dokter Maya mengangguk pelan, menatap Nathan dengan penuh empati. “Rachel sudah mengalami gangguan ini sejak lama, mungkin sejak awal trauma itu terjadi. Tapi seperti yang tadi dia ceritakan, semuanya memburuk lagi sejak pelaku dibebaskan. Itu menjadi pemicu utama yang mengguncang kestabilan emosiny
Langit tampak mendung saat mobil hitam milik Nathan melaju perlahan memasuki area parkir rumah sakit. Rachel duduk di sampingnya dengan wajah muram, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Meski tubuhnya tampak tenang, dalam hati ia merasa bergemuruh. Hari ini adalah hari di mana ia akan kembali bertemu dengan seorang dokter spesialis kejiwaan.Nathan melirik sekilas ke arah istrinya sebelum mematikan mesin mobil. “Kita sudah sampai, Sayang,” ucapnya lembut, tangan kirinya terulur menyentuh punggung tangan Rachel, memberikan kekuatan dalam diam.“Ya...”“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan memastikan Rachel tidak tertekan.Rachel menoleh ke arah suaminya dengan senyuman kecilnya. “Ya, aku baik-baik saja.”“Syukurlah. Tenang saja, aku akan terus mendampingimu,” ujar Nathan dengan lembut.Rachel mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di pelataran rumah sakit.Langkah mereka perlahan menyusuri koridor demi koridor, diiringi aroma khas
“Pagi, Sayang.” Nathan menyapa Rachel dengan senyum lebar dan merekah. Rachel tersenyum manis di sana. Pria itu sedang berdiri di area dapur dengan celemek terpasang di tubuhnya. Cukup lama Rachel memandangi suaminya itu yang menyambutnya dengan senyuman hangat di sana. Wanita itu berjalan perlahan mendekati Nathan. Saat Rachel sudah berdiri di hadapannya, Nathan menyentuh rambut Rachel. “Masih basah? Kamu tidak mengeringkannya?” tanya Nathan. Bukannya menjawab, Rachel malah memeluk tubuh Nathan, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan Nathan. “Kenapa?” tanya Nathan. Sekali lagi Rachel tidak menjawab, wanita itu semakin erat memeluk Nathan. Dan hal yang membuat Nathan yakin ada yang tidak beres adalah cara Rachel meremas ujung kaos milik Nathan. Wanita itu seperti sedang gelisah, walau Nathan sendiri tidak tahu apa yang membuatnya segelisah itu. Nathan mengusap lembut kepala belakang dan pung







