Masuk"Kamu yakin ingin mengakhirinya seperti ini?" suara berat Nathan, sang kapten pilot, terdengar tenang, tapi matanya menyimpan pergolakan. Rachel menatapnya tanpa ragu. "Aku sudah cukup lelah, Nathan. Aku ingin kebebasan, bukan sekadar menjadi istri seorang kapten yang lebih mencintai langit dibanding rumahnya sendiri." Nathan menghela napas, menatap wanita yang pernah menjadi dunianya. "Jadi ini keputusan akhirnya?" Rachel tersenyum tipis, lalu meletakkan surat cerai di meja. "Kecuali kamu punya alasan kuat untuk menahanku." Nathan menggenggam dokumen itu, jemarinya sedikit gemetar. "Dan jika aku berkata aku masih mencintaimu?" Rachel tersenyum pahit. "Cinta saja tidak cukup, Kapten. Kamu sangat tau, apa yang aku inginkan." #fb : indriani_sonaris
Lihat lebih banyak“Selamat pagi, Sayang,” sapa Nathan saat melihat Rachel bangun dari tidurnya. “Pagi,” jawab Rachel melihat Nathan yang masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan pagi. “Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?” tanyanya lagi. Rachel tersenyum lemah. “Ya, kurasa aku sudah merasa lebih baik,” jawab Rachel menatap wajah suaminya dalam diam. “Kenapa?” tanya Nathan membalas tatapan Rachel. “Sarapan dulu, ya. Nanti baru kita bersiap ke rumah tante Laela.” “Apa kamu sudah sarapan?” tanya Rachel. “Aku bisa sarapan nanti,” jawab Nathan. “Sekarang kamu sarapan dulu, mau aku suapin? Mengingatkan saat-saat kita pacaran, kamu selalu ingin disuapin,” godanya. Rachel kembali tersenyum lemah. “Aku akan makan sendiri, Nathan. Kamu juga sebaiknya sarapan juga,” jawab Rachel.Nathan terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar lega karena melihat Rachel sudah bisa memberikan respons yang lebih tenang p
Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos celah gorden tidak membuat suasana hati di kamar itu menjadi lebih terang.Rachel terbangun dengan mata yang sangat sembab dan kepala yang berdenyut nyeri. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, sementara ingatannya perlahan memutar kembali kejadian semalam seperti kaset rusak.Rasa perih di tangannya mengingatkannya pada pecahan kaca, tapi rasa perih di hatinya jauh lebih hebat.Pintu kamar terbuka pelan. Nathan masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas susu. Wajah pria itu tampak lelah, jelas sekali ia tidak benar-benar tidur semalaman karena terus mengecek keadaan Rachel setiap jam."Hei," sapa Nathan lembut, meletakkan nampan di nakas. "Gimana perasaanmu?"Rachel tidak menjawab. Ia hanya mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya tertuju pada perban di tangannya yang terbalut rapi."Nathan," suara Rachel pecah, hampir seperti bisikan. "Apa aku harus datang?"Nat
“Argh!” Rachel menepis semua barang yang ada di meja wastafel di kamar mandi hingga terdengar suara barang pecah dan gemuruh yang membuat Nathan terkejut. “Kenapa?” isak Rachel terduduk di lantai kamar mandi dengan tubuh yang gemetar hebat. Darah segar keluar dari tangannya, karena tergores barang yang dia tepis dengan keras tadi. “Bahkan, sampai detik ini pun, yang dia pikirkan hanya keluarga barunya. Apa aku tidak pernah dia pikirkan sedikitpun? Kenapa?” batinnya menjerit keras. “Apa aku memang tidak pernah dia anggap anak dan bagian penting dalam hidupnya?”Nathan langsung memutar gagang pintu, tapi terkunci.Ia mengetuk lebih keras, suaranya penuh kecemasan.“Rachel! Sayang, buka pintunya!”Di dalam, suara isak Rachel semakin keras, bercampur napas tersengal dan gemerisik barang yang berserakan di lantai. Nathan bisa mendengar getaran ketakutannya.“Argh!”Rachel kembali memukul lantai dengan telapak tangannya, membuat rasa sakit menyebar sampai ke si
“Kamu baik-baik saja?” tanya Nathan menoleh ke arah Rachel saat mobil sudah berhenti di sebuah parkiran basemen. Rachel masih diam menatap lurus ke depan, wajahnya sudah seputih dinding dan kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. Melihat itu, Nathan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Rachel, sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya. “Eh?” Rachel menoleh ke arah Nathan dengan sorot mata yang tidak fokus. “Aku di sini. Aku selalu bersamamu, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun, percayalah,” ujar Nathan menguatkan Rachel. Rachel berusaha tersenyum walau sulit. Terlihat matanya berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang terucap di sana. “Mau turun sekarang?” tanya Nathan lagi dengan lembut. “Aku-“ Rachel bergumam lirih. “Takut.” “Kamu tidak perlu takut apapun, aku akan melindungimu,” ucap Nathan tersenyum sambil merapikan anak rambut Rachel
“Sial!” keluh Nathan menundukkan kepalanya. Hatinya sakit bukan main. Sudah tidak hari lamanya, dia memberikan waktu pada Rachel, berharap wanita itu berhenti marah dan mau pulang, tetapi kenyataannya dia tetap menolak permintaan Nathan. Pria itu menatap layar ponselnya yang di
Tok tok tokLaela membuka pintu rumah pagi itu, ekspresi terlihat tenang tanpa ada keterkejutan, karena tidak ada lagi tempat untuk Rachel sembunyi selain di tempat ini. “Pagi, Tante. Apa Rachel ada di sini?” tanya Nathan. “Rachel masih tidur, apa perlu Tante bangunkan?” tanya Laela.Nathan mengg
Nathan memasukkan kode ke layar sentuh di pintu rumahnya. Dengan bunyi klik halus, kunci otomatis terbuka, dan dia mendorong pintu cukup lebar untuk masuk sambil menarik koper kecilnya.Begitu melangkah ke dalam, udara dingin langsung menyergapnya. Rumah besar itu terasa hampa, sepi, dan menyesakka
Hujan rintik-rintik menyelimuti landasan bandara ketika Nathan melangkah keluar dari kokpit. Seragam kapten pilotnya masih rapi, tapi matanya menyiratkan kelelahan. Dia baru saja menyelesaikan penerbangan belasan jam. Di tengah lorong kedatangan, Rachel berdiri dengan mantel cokelatnya yang elegan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan