Share

07. ~BCSI~

"Karan! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu gila!"

Pakaian yang dikenakan Arcelia kini basah kuyup. Hingga mencetak dibagian tertentu.

Melihat pemandangan indah, wajah marah Karan seketika berubah menjadi datar. 'Sial! Jangan lemah hanya karena melihat itu, Karan!' Makinya dalam hati.

Melihat wanita seksi biasanya tidak berpengaruh pada Karan, namun entah mengapa melihat Arcelia cukup membuat jiwa lelakinya terusik. Mungkinkah efek halal.

Karan meraih pergelangan tangan Arcelia, menyeret sang istri masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Arcelia kesulitan berjalan karena pergelangan kaki yang masih sakit akibat terkilir.

"Kamu apa-apaan sih!" Arcelia mencoba melepaskan cengkraman tangan Karan.

Menoleh pada Arcelia, Karan menatap wajah sang istri begitu intens. "Sekali saja, apa kamu tidak bisa menurut pada suami?" ucapnya dengan nada dingin. Tidak seperti sebelumnya.

'Peran apa lagi yang sedang dia mainkan?' batin Arcelia bingung.

"Lepas bajumu," perintah Karan.

Reflek, Arcelia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Gadis itu menatap Karan dengan tatapan galak.

"Jangan berani-berani, Karan!"

"Lepas atau aku yang melepaskannya?" Ekspresi Karan benar-benar berbeda dari sebelumnya.

"Aku tidak mau!"

"Baiklah." Karan kembali menarik Arcelia, memposisikan gadis itu di bawah shower, kemudian menyalakan air.

Keduanya saling dorong dibawah guyuran air shower.

"Minggir, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan!" Pikiran Arcelia sudah sangat jauh, membayangkan apa yang akan Karan lakukan padanya. Ia takut tidak bisa melawan Karan dalam keadaan kaki yang pincang.

"Membuatmu suci kembali!" Balas Karan galak.

"Menyucikanku? Kamu pikir aku terkena najis?" Tanya Arcelia sembari masih mencoba melarikan diri.

Kewalahan dengan perlawanan Arcelia. Karan memilih mendekap gadis itu. Membuat Arcelia tidak bisa berkutik.

"Dengar ini baik-baik Arcelia. Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain," katanya tepat di dekat telinga Arcelia.

"Apa maksudmu?" Arcelia belum paham.

Satu tangan Karan meraih botol sabun cair berukuran besar, kemudian ia memberikan pada Arcelia. "Mandi pakai ini, bila perlu sampai isi sabun ini habis supaya bersih."

Arcelia menatap botol sabun berukuran besar itu, lalu mendongak menatap Karan. Wajah keduanya berjarak begitu dekat, Arcelia segera menunduk lagi, takut kena cium.

"Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirmu," gumam Arcelia.

"Tidak perlu bingung." Karan melepaskan pelukannya, ia meraih jemari Arcelia, menaruh paksa botol sabun besar itu di tangan Arcelia.

"Cepat mandi, jika tidak, aku yang akan memandikanmu!" Setelah berucap seperti itu, Karan meninggalkan Arcelia.

Menatap pintu yang ditutup dengan begitu keras, Arcelia memiringkan kepalanya, masih memikirkan tingkah aneh Karan.

"Ada apa dengannya? Aku kira dia akan mengeksekusiku. Ya ampun, aku semakin tidak bisa menebak apa yang akan dia lakukan."

Pada akhirnya Arcelia mandi, tapi gadis itu tidak benar-benar menghabiskan isi sabun.

Tidak ada baju ganti, terpaksa Arcelia keluar menggunakan handuk model kimono yang tersedia.

Membuka pintu secara perlahan, Arcelia kemudian melangkah dengan begitu pelan supaya Karan tidak memperhatikannya.

"Sudah menghabiskan isi sabunnya?"

"Astaga!" Arcelia terlonjak kaget, tidak menyangka Karan sedang bersandar di dekat pintu untuk menunggunya.

"Sudah mandi dengan benar?" Karan menatap Arcelia dari bawah hingga atas berulang kali.

"Sudah." Arcelia melanjutkan langkahnya. Baru beberapa langkah, gadis itu kembali dikejutkan karena tiba-tiba tubuhnya melayang. Tentu saja karena Karan mengangkatnya.

"Karan! Kau benar-benar berniat membunuhku, ya! Jantungku nyaris lepas dari tempatnya!" Arcelia berteriak.

"Orang sepertimu sepertinya tidak akan mudah untuk mati. Tapi, bukankah sebelumnya kamu yang mengancam akan membunuhku?" Karan menaruh Arcelia di atas kasur. Kali ini laki-laki itu tidak membanting tubuh Arcelia.

Dari pada membalas ucapan Karan. Arcelia segera mengambil posisi aman. Hanya memakai handuk adalah situasi yang sangat berbahaya.

"Aku tidak akan membunuhmu, Arcelia. Aku hanya ingin-"

Ucapan Karan terpotong oleh suara ketukan pintu.

"Tetap diposisimu. Jangan berpindah, percuma saja kamu tidak akan bisa lari kemana-mana." Usai berucap, Karan lantas melangkah menuju pintu.

"Siapa?"

"Bryan, Kak."

Karan membuka pintu, hanya sedikit. Sengaja supaya Bryan tidak bisa melihat Arcelia. Karan masih mengingat bagaimana Bryan yang bertanya padanya tapi matanya tertuju pada Arcelia, bahkan Bryan berani-beraninya menggendong istrinya.

Ingin rasanya, Karan mencolok serta memberi tinju pada sang adik.

"Ada apa?"

"Itu, tadi kaki kakak ipar terkilir. Ini obat untuknya." Bryan, menyodorkan satu kotak obat.

Sebelumnya, Arcelia kembali ke kamar saat Bryan berkata mencarikan obat untuknya. Sebab Arcelia tidak ingin menghadapi Mona yang memakinya saat melihat Bryan menggendong dirinya.

Sejenak Karan menatap kotak obat itu lalu menerimanya. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa mengurusnya."

Karan segera menutup pintu lagi. Saat laki-laki itu menoleh ke atas kasur, Arcelia sudah tidak ada di sana. "Dia benar-benar bandel," geramnya.

Sebelum mencari keberadaan Arcelia. Karan melempar kotak obat pemberian Bryan ke dalam tempat sampah. Laki-laki itu kemudian mengambil obat lain dari dalam lemari.

"Arcelia!" Panggil Karan menuju walk in closet.

Sementara itu di dalam walk in closet, Arcelia tengah duduk meringkuk dibawah meja, gadis itu masih mengenakan handuk, belum sempat mengenakan baju. Sementara otaknya terus berputar mencari tipu muslihat untuk menghindari Karan.

"Sudah aku bilangin kamu tidak akan bisa kemana-mana." Karan sudah berada di tepat di depan Arcelia. Tangannya terulur untuk menggapai kaki gadis itu.

"Stop! Karan, ini tidak adil. Lepaskan kakiku, kondisiku sedang tidak memungkinkan untuk melawanmu." Arcelia mencoba bernegosiasi.

Karan mengabaikan ocehan sang istri, ia semakin menarik kaki Arcelia yang terus mempertahankan diri.

"Aku bilang menurut, Arcelia," geramnya, demi menghadapi Arcelia, Karan mengabaikan rasa pusing yang masih tersisa.

"Tidak! Menurut dan percaya padamu adalah hal yang sesat!" Arcelia menggeser dirinya lebih menjauh.

Kehabisan rasa sabar yang memang sangat tipis, Karan menarik keras kaki Arcelia yang tidak terluka.

"Karan, jangaaan!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status