MasukDevon berdecak kesal, sambil membuang muka“Permintaan Anda sungguh di luar batas, menikahi Vidya sama saja membangun gunung es yang pasti akan mencair , itu sama saja sia-sia,”jawab Devon“Hanya itu tawaranku Devon, atau Bara akan menjadi anak angkatku selamanya, lihatlah aku sudah mengadopsi Bara, secara legal, perlu waktu lama untukmu mengugatnya dan selama dia masih dalam gengamanku, aku bisa berbuat apa saja pada bayi mungil itu, akan sangat mudah melenyapkannya, dengan dalih sakit, iya kan?”“Anda sungguh biadap jika melakukan hal itu,”“Aku tak peduli, aku hanya pria tua yang menginginkan putri satu-satu sembuh, “timpal Mahesa serius.Devon terlihat marah tatapan menajam, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang bergetar dan berdering.Devon memgangkat ponsel, pangilan dari mbok War“Hallo mbok,”sapa Devon“Tuan, Non Nazha pingsan, saya sangat khawatir , keadaan memburuk, “jawab mbok War bernada cemas.“Aku akan segera pulang,”Devon dengan cepat menutup ponsel dan ba
Bibi Ratmi mengendong Bara.”Bagaimana ini tuan, apa kita harus mengembalikan Bara?”“Tidak Bi Ratmi, aku tidak akan mengembalikan Bara, setidaknya tidak semudah itu Bara kembali pada orang tuannya. Lihatlah siapa ayah dari Bara, apa kamu lupa pria itu?”Ratmi menajamkan penglihatanya di layar televisi, ia langsung membelalakan matanya“Ya ampun itu tuan Devon, pria yang membuat non Vidya depresi berat,”ujar Ratmi“Ini kesempatanku untuk membalas Devon, dia harus bertanggung jawab gara-gara dia Vidya puriku mengalami depresi.”Mehesa berkata dengan nada tegas.Mahesa melangkah menuju ruang kerjanya, lalu menelepon seorang pengacara, ia berencana, mengadopsi Bara, secara legal.Senyum kemenangan timbul di bibir Mahesa, pria tengah baya itu merencanakan sesuatu.“Mungkin ini saatnya Vidya sembuh dari depresinya,”gumam Mahesa menatap foto didrinya dan VidyaMahesa pun memutuskan untuk mengunjugi rumah sakit jiwa , tempat selama tujuh tahun ini Vidya dirawat.“Bagaimana perkembangan putrik
Devon dan Yuni pergi meninggalkan perkebunan karet, menuju sebuah pemukiman yang berjarak 200 meter dari perkebunan, Devon turun dari mobil, dan mulai menanyakan pada warga.“Apa warga disini, ada yang menemukan bayi, siang tadi diperkebunan karet?”tanya Devon“Para pekerja satu minggu ini libur, jadi disana sepi, aku rasa jika ada seseorang yang menemukan pasti sudah lapor pada ketua RT setempat,”jawab warga dengan sangat yakin“Heumm “desahan kecil, Devon putus asa, apa yang dikatakan warga ada benarnya, jika ada yang menemukan pasti sudah diserahkan ke kantor polisi.Yuni terdiam, merasa bersalah, apalagi melihat Devon yang sedih dan cemas, deringan ponsel, terdengar membuat Devon enggan mengangkat pangilan dari Nazha“Haloo Naz…kami belum menemukan Bara,”ucap Devon“Dev..kamu harus menemukan Bara,”mohon Nazha terdengar tangisan yang menyayat hati“Aku akan berusaha, “jawab Devon“Aku bisa mati jika kamu tak bisa menemukan anakku,”rengek Nazha“Maafkan aku Naz, aku pasti akan berus
BAB 79 MenghilangYuni duduk di jok belakang taksi, sambil memangku Bara yang kini terlelap.“Baguslah kamu tidur, lebih memudahkan aku untuk membuangmu, kamu tak pantas menjadi bagian dari keluargaku, anak haram, bahkan kami tak tahu benih apa yang ada didalam dirimu,’batin Yuni dengan kebencian yang teramat sangat.Sementara itu baby sister yang sudah selesai makan, mencari keberadan Bara dan Yuni, semua ruang dalam rumah dicarinya tapi Yuni tak didapatinya, hingga langkahnya menuju luar rumah, halaman depan ,halaman samping dan belakang tetap saja tak didapatinya Yuni dan Bara, lalu baby sister itu menuju pos security depan.“Apa kamu melihat Nyonya Yuni?”“Ohh..setengah jam lalu ia keluar dengan Bara, naik taksi,”jawab sang security“Kemana?”“Katanya mau berobat , Bara, lagi demam,”jawab security dengan tenang“Demam? Bara tidak demam,”sahut baby sitter bingung“Coba aku hubungi Nyonya Yuni dan menanyakannnya,”Security meraih ponsel, dan menghubungi Yuni, tapi ponsel Yuni tida
Nazha tersenyum bahagia. Dimana Dia, aku ingin melihatnya,”pinta Nazha“Aku akan meminta perawat untuk membawanya ke kamar,”Devon berdiri lalu berjalan keluar kamar, tak lama ia masuk bersama, seorang perawat yang mendorong box bayi kedalam ruangan“Bayi Bu Nazha sehat,, besok pagi sudah bisa dibawa pulang, tapi untuk Bu Nazha mungkin masih menalani perawatan di rumah sakit,”jelas perawat“Terima kasih suster, nanti saya akan memperkerjakan baby sister,”timpal Devon“Oke, saya tinggal dulu,”pamit perawatDevon mengendong bayi,lalu mendekatkannya pada Nazha, jemari Nazha mengusap lembut kepala sang bayi, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.“Kita akan beri mana siapa bayi tampan ini?”tanya DevonNazha terdiam, lalu menatap nanar kearah Devon.”Seandainya bayi ini darah dagingmu, mungkin kebahagiaan kita sempurna, “suara Nazha pelan dan ragu“Kita keluarga yang sempurna, kenapa kamu masih ragu?”“Maafkan aku Dev…”“Bagaimana jika kita memberinya nama Bara yang artinya Api,”Devon b
Menit terasa berjalan lama, Devon masih duduk di kursi tunggu kadang berdiri dan berjalan mondar- mandir meregangkan ketegangannya. Sampai akhirnya pintu ruang operasi terbuka dan terlihat seorang perawat dan dokter keluar“Anda suami pasien?”tanya Dokter“Betul.”“Operasi berjalan lancar, peluru sudah bisa diambil, untung tidak melukai daerah fital, pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan,”jelas Dokter“Baik Dokter.”Devon bernapas lega, lalu memgikuti brankar dimana tubuh Nazha berbaring , Nazha sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Devon dengan setia menungu, sembari merebahkan tubuhnya di sofa.Satu hari berlalu, kondisi Nazha membaik tapi belum sadarkan diri dan itu membuat Devon cemas, satu hari ia hanya mendapatkan nutrisi dari infus, dan terlihat perawatpun tampak cemas, karena Nazha belum menandakan kesadarannya.“Kami khawatir dengan kondisi bayinya, jika Bu Nazha belum sadarkan diri, ini sudah satu hari,”ujar perawat“Suster tolong aku ingin berbicara dengan Dokter,”
Andi duduk disofa, Sheren membawakannya secangkir kopi, keduanya mulai berbincang.“Minggu depan aku dan Pak Devon akan meninjau lokasi yang akan diirikan hotel di daerah puncak Bogor,”’ujar Andi”Apa kamu juga akan ikut?”tanya Sheren“Pastilah aku ikut, ““Kalau begitu, aku juga ikut, bolehkan?’
Reymon berubah pucat ia menelan ludah seakan sedang berpikir sesuatu.“Heumm Meira memang datang ke kamarku, ia ingin berbicara denganku,”“Apa yang Meira bicarakan apa dia ada masalah serius?”Devon menatap tajam ke arah Reymon“Meira mengatakan jika ingin mengakhiri pertunangannya denganmu, oleh k
Salma dan Dimas berjalan mendekati Nazha dan Devon, dengan jantung masih berdetak, ia menatap wajah Nazha, membayangkan waktu Nazha berusia dua tahun masih kecil bagi bocah seusianya harus ditinggalkan seorang ibu.“Bu Salma , Dimas, terima kasih atas kedatangan kalian,”ucap Devon sambill berjabat
Mobil jeeb hitam melaju sedang di jalanan ibu kota, waktu menunjukan pukul sepuluh pagi, Devon menghentikan mobilnya ketika sampai disebuah deretan pusat perbelanjanan,“Kita turun disini dulu,”ajak DevonTanpa membantah Nazha pun menuruti kemauan Devon, ia turun dari mobil, dan mengikuti langkah D







