FAZER LOGINUntuk sementara pembangunan hotel dihentikan Devon dan Nazha kembali ke Jakarta, sementara si Mandor melaksanakan tugasnya, untuk menyelidiki Jamal, pelaku penusukan.Dua minggu berlalu Jamal, sudah keluar dari penjara dan langsung menuju rumah sakit, disana ia menemui Eneng putri satu-satunya yang sakit, dan hari ini gadis kecil itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan hal itu membuat jamal senang.“Bapak senang kamu sembuh, “ucap Jamal memeluk putrinya lalu memberesi pakaian berjalan keluar kamar. Tanpa sepengetahuan Jamal, Mandor mengikuti setiap gerak geriknya , hingga Jamal sampai di rumah berdinding kusam sederhananya,“Bapak cari uang dulu ya, “ujar JamalJamal terus berjalan menuju arah pasar, seperti biasa memungut parkir liar disepanjang jalan pasar.Sementara itu di Jakarta, Nazha sedang membantu Devon menganti perban bekas luka tusuk, dengan cekatan Nazha mengolesi obat sebelum luka ditutup kembali, Devon menatap wajah cantik Nazha,yang begitu dekat , hidung mancung, d
Tiga hari berlalu, Devon sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit“Sebelum ke Jakarta aku ingin ke proyek hotel Meira dulu,”kata Devon sambil tangannya memegang perutnya yang terluka.“Apa sebaiknya kamu istirahat dulu, jangan pikirkan dulu soal proyek hotel,”Nazha membantu Devon memakaikan kancing kemeja.“Tidak Naz..aku juga ingin tahu kenapa ada kesalah pahaman dengan warga, hingga memicu pertengkaran ini.”Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Nazha mempersilahkan pengetuk pintu masuk dan terlihat dua orang polisi melangkah masuk“Pak Devon sudah bisa kami mintai keterangan?”tanya polisi“Silahkan.”jawab Devon“Orang yang melakukan penusukan belum teridentifikasi karena wajahnya tertutup kain, tapi sudah dipastikan jika itu dari kelompok preman,”jelas polisiLalu polisi memperlihatkan gambar wajah pria yang tertutup kain itu pada Devon. “Mungkin anda mengenalnya?”tanya polisi“Aku tidak mengenalnya , apa lagi setengah wajahnya tertutup.”“Baiklah, menurut investigasi kam
Taksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan operasi dan menyelesaikan administrasi rumah sakit,”ucap staf resepsionis“Baik.”Setelah menyelesaikan semuanya Nazha berjalan ke arah ruang operasi, ia duduk disalah satu bangku hatinya gelisah dan sekaligus takut, takut kehilangan Devon karena saat ini hanya dialah yang dimilki Nazha, bulir bening dan rapalan doa terus dipanjatkan. Menit-menit berlalu terasa lama, cemas dan takut menjadi satu hingga pintu ruang operasi terbuka, terlihat dokter keluar, Nazha langsung berdiri“Dok..bagaimana operasinya?”suara Nazha gemetar“Operasinya berhasil, kurang satu senti pisau itu merobek, lambungnya,”jelas dokterNazha terduduk lemas, tapi sedikit lega, setidaknya nyawa Devon terselamatkan.Brankar
Sang preman terpaku dan tersenyum sinis.”Maksudnya orang yang tadi, pemilik hotel itu?”“Betul, habisi dia, dalam kerusuhan kamu harus bisa mengerahkan beberapa temanmu dan membuat kekacauan disana, bataklah pertemuan kalian dan buat kerusuhan dan ambil kesempatan untuk menghabisi Devon, aku akan membayarmu banyak jika berhasil!”perintah DimasPria berbadan besar itu tampak berpikir lalu teringat saat ini ia membutuhkan uang dalam jumlah banyak untuk pengobatan anaknya.“Baiklah, saat ini aku butuh 5 juta, berikan aku uang 5 juta, sisanya setelah pekerjaan berhasil,”“Oke, satu lagi tutup mulutmu, jangan libatkan aku!”perintah Dimas dengan bernada tegas“Oke..aku sudah banyak menghajar orang, keluar masuk penjara, asalkan kamu memenuhi janjimu, aku siap menangung resikonya,”jawab sang preman dengan sangat seriusMalam berlalu dengan cepat, Devon yang semalam beristirahat disalah satu hotel, kini sudah siap mengadakan pertemuan dengan perwakilan preman yang menganggu jalannya proyek.
Devon menatap penuh arti ada yang menganjal hatinya, ketika melihat tatapan Dimas pada istrinya, tatapan seorang pria yang tengah jatuh cinta.Makan siang berlalu, setelah Dimas dan dokter Nia serta seorang staf pun berpamitan meninggalkan apartemen.“Ahhh…semuanya berjalan lancar, terima kasih Devon, kamu sangat membantuku dan mendukungku,”ucap Nazha sambil membereskan semua perabotan kotor.“Lihatlah hujan deras sekali diluar sana, aku lebih tenang jika kamu ada di apartemen, “sahut Devon menatap balkon apartemen yang terkena hujan lebat.“Kamu benar,”***Dimas menikmati secangkir kopi malam dingin, hujan sudah mulai reda tersisa rintik -rintiknya, pria itu tampak serius memikirkan sesuatu, niatnya sudah bulat yaitu meninginkan Nazha dan jalan-satu-satunya adalah melenyapkan Devon. Tangannya meletakan cangkir kopi yang telah habis, ditatapnya luka sayat di tanganya, terkena pisau waktu melawan Devon.‘Devon..kamu harus mati, dengan begitu Nazha akan menjadi miliku, dan kami akan
Beberapa jam berlalu, Nazha sudah ada di depan pintu unit apartemenya dengan pelan dibukanyaCeklek.. ketika pintu terbuka terlihat Devon bernapas lega dan berjalan mendekati Nazha, memeluknya sangat erat, seakan tak mau terlepas lagi.“Syukurlah kamu baik-baik saja, apa yang terjadi, aku menemukan ponselmu di proyek mall terbengkalai ?”tanya Devon“Jadi kamu mencariku ke sana?”“Iya, aku sudah mencoba menghubungi Dimas, tapi ponselnya mati, sedangkan ponselmu aktif tapi kamu tidak mengangkatnya, aku takut terjadi sesuatu yang buruk, jadi aku melacak GPS ponselmu,”ungkap Devon“Maaf Dev, aku membuatmu cemas“Sudahlah , kamu pasti capek, lebih baik beristirahat,”ajak Devon lalu menarik tangan Nazha ke dalam kamar“Hai kenapa lenganmu, seperti tersayat benda tajam?”“Semalam waktu aku mencari ponselmu, ada seseorang yang menyerang, mungkin dia pencuri, atau anak brandal yang mabuk,”jawab Devon“Apa sudah diobati?”“Sudah, jangan cemas, ini luka kecil, ““Wajahmu juga penuh memar Dev, a







