Share

Bab 4 Rahasia Karel

Penulis: Leneva
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-05 20:56:16

Pertemuan tak disangka antara Alexa dengan Karel, membuat Alexa menjadi lebih pendiam. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi Zasky, yang tidak biasa melihat atasannya ini menjadi begitu pendiam.

"Bu, ada apa? Eh kenapa?" tanya Zasky dari balik kemudi.

"Nggak ada apa-apa dan nggak kenapa-kenapa," jawab Alexa sambil memandang jauh ke jendela mobilnya.

"Tapi tadi ibu sudah tanda tangan kontrak kerjanya kan?" tanya Zasky untuk memastikan.

"Sudah, makanya sekarang kita pulang, karena urusannya sudah selesai," jawab Alexa sambil memejamkan matanya dan menurunkan sandaran kursinya.

Melihat Alexa yang sepertinya ingin beristirahat, membuat Zasky mengurungkan pertanyaannya. Tetapi, rasa penasaran itu sungguh mengganggu, membuat Zasky menanyakan hubungan pribadi Alexa dengan Karel, "Bu, maaf mau nanya, boleh nggak?"

"Biasanya kalau mau nanya, juga tinggal nanya aja, kok sekarang pakai minta izin?" jawab Alexa dengan mata terpejam.

"Karena aku mau nanya tentang bapak bule ganteng tadi, yang ngeliat ibu dengan pandangan mesra yang bikin orang baper," tutur Zasky kemudian.

Alexa telah menduga akan pertanyaan yang diajukan oleh Zasky, walaupun ia sangat tidak ingin menjawabnya, tetapi pada akhirnya ia memilih untuk menjawabnya, "Oh dia teman SMP aku dulu. Dia memang paling jago bikin orang baper, tapi ya just bikin baper aja."

"Woaa, temen SMP? Ibu dulu sekolah dimana, sampai bisa punya temen ganteng kek gitu?!" seru Zasky penuh semangat.

"Zas, kamu fokus nyetir aja, saya mau merem sebentar," ucap Alexa tanpa memperdulikan pertanyaan Zasky.

Alexa melepaskan pandangannya ke jendela, dilihatnya kendaraan yang memenuhi lalu lintas ibukota yang membuat perjalanannya tersendat.

Tiba-tiba suara notifikasi WA-nya berbunyi dari nomor yang belum tersimpan di HP-nya.

Siapa? batin Alexa sambil membuka pesannya, yang tertulis, assalamu'alaikum, Al. It's me Karel. Please, save my number. Al, may I have a time with you, tomorrow at lunch time ? I'll be waiting at Secret Garden Cafe and Grill.

Alexa hanya memandangi pesan di handphone-nya tanpa membalasnya. Lalu ia kembali melepaskan pandangannya ke jendela.

What do you up to, Karl? gumam Alexa.

Walaupun terbersit di hati Alexa, keinginan untuk kembali dekat dengan Karel karena perhatian Karel yang tak pernah pudar dan selalu membuatnya merasa sebagai seorang yang sangat penting bagi Karel, tetapi tetap saja Alexa tidak memiliki keyakinan akan hubungan romantisme antara dirinya dan Karel.

Semuanya berawal dua tahun setelah ia lulus SMA, ketika ia bertemu dengan Dyah, teman SMA-nya yang juga masih memiliki hubungan darah dengan Karel.

"Al, kamu kenal Karel?" tanya Dyah di suatu ketika.

"Kok kamu tahu Karel?" tanya balik Alexa, sambil mengernyitkan dahinya.

"Aku masih sepupunya Karel, ibuku kakak dari ibunya," jawab Dyah.

"Al, kamu tahu nggak kehidupan Karel sebenarnya?" tanya Dyah yang membuat Alexa kebingungan.

"Maksudnya?" tanya Alexa tidak mengerti.

"Iya kehidupan asli seorang Karel Hardys, yang dari memiliki semuanya menjadi tidak memiliki apapun, bahkan hutang keluarganya membengkak," tutur Dyah yang mengejutkan Alexa.

"Karel? Kok bisa? Kamu serius, Dy?" tanya Alexa tak percaya.

"Iya, aku serius. Aku mau cerita ke kamu, karena aku merasa kamu harus tahu agar kamu siap dengan apa yang terjadi kedepannya," jawab Dyah yang kembali membuat Alexa bertanya-tanya akan maksudnya.

"Maksudnya apa? aku kan cuma berteman aja?"

"Iya, kalian berteman tetapi berbeda. Kamu telah dikenal oleh ibunya dan adiknya. Sementara Karel pun telah dikenal baik oleh ibu dan kakak perempuanmu, iya kan?"

Alexa pun semakin tidak mengerti akan arah pembicaraan ini, "Kok kamu tahu? Trus maksudnya berbeda itu apa?"

"He told me," jawab Dyah.

"Berbeda karena ada sesuatu hal yang membuat Karel menyimpan semuanya dari kamu, aku juga nggak tahu apa alasannya. Intinya aku mau cerita tentang kehidupan seorang Karel Hardys."

Alexa pun mulai mendengarkan dengan seksama apa yang akan Dyah ceritakan.

"Om Hardys itu asli Belanda yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, bahkan jauh sebelum menikah dengan tante Nur, ibunya Karel. Dia bukanlah ekspatriat yang tajir melintir, tetapi ya serba cukuplah, ya mungkin sedikit berlebih."

"Hingga beberapa tahun yang lalu, tak lama setelah Karel lulus SMA, om Hardys sakit dan akhirnya meninggal."

"But he's not a muslim," lanjut Dyah yang membuat Alexa tercengang.

"Iya, jadi tante Nurul sama om Hardys itu nikah beda agama. Bahkan sampai akhir hayatnya, om Hardys enggan mengucapkan dua kalimat syahadat dan disitulah awal masalah yang dihadapi Karel."

"Maksudnya ?" tanya Alexa.

"Om Hardys dimakamkan secara katolik sesuai dengan agama yang dianut oleh keluarga Belandanya. Karel sangat terpukul dengan itu, akhirnya entah bagaimana ia terjerumus dengan obat-obatan terlarang."

"Karel kena narkoba?!" tanya Alexa yang tidak percaya dengan apa yang barusan Dyah ucapkan.

"Iya, bahkan dia sempat sakau. Tante Nurul sampai nangis-nangis ngeliat Karel kesakitan karena sakau, tapi alhamdulilah Karel berhasil melewati masa kritisnya dan setelah itu dia bersih, sampai sekarang."

"Nah, sewaktu om Hardys meninggal, keluarga Belandanya datang dan mengatakan akan membantu Karel dan dua adiknya hingga lulus kuliah, asal keluar dari Islam," lanjut Dyah.

"Karel disuruh murtad?!" tanya Alexa tidak percaya.

"Iya, dengan iming-iming harta. Alhamdulillah mereka tolak mentah-mentah. Jadi sebenarnya, pernikahan om Hardys sama tante Nurul itu nggak direstui sama keluarga Belandanya, selain perbedaan keyakinan tapi yang lebih utama adalah tante Nurul bukanlah orang terpelajar, ia hanya lulusan SMP. Bahasa Inggris aja sama sekali nggak bisa. Ya kamu tahukan gimana rata-rata orang Betawi asli?"

Alexa pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

"Lalu, selama om Hardys masih ada, semua kebutuhan keluarganya tidak ada yang tak tercukupi, semuanya ada, tetapi setelah om Hardys meninggal, tagihan dari rumah sakit yang jumlahnya puluhan juta itupun membuat tante Nurul kebingungan, karena selama ini yang ia ketahui adalah semua dibayar oleh kantor."

"Belum selesai sama tagihan rumah sakit, tiba-tiba di bulan berikutnya muncul tagihan kartu kredit, yang biasanya dikirim ke kantor, tetapi karena om Hardys sudah meninggal, jadi dikirim ke rumah. Tante Nurul ya kebingungan untuk bayar tagihannya, karena total sama tagihan kartu kredit itu diatas seratus juta."

"Kok bisa?" tanya Alexa.

"Alasan yang konyol dan sangat bodoh sih sebenarnya. Jadi, mereka mengira kartu kredit itu adalah fasilitas dari kantor yang tagihannya akan dibayarkan oleh kantor, jadi mereka santai aja makenya tanpa mikir itu sebenarnya adalah uang yang harus mereka bayarkan nantinya."

"Jadilah tagihan membengkak dan berbunga. Rumah akhirnya dijual dan mereka pindah ke perkampungan di Bekasi. Tante Nurul mulai jualan kecil-kecilan, tapi hasilnya buntung semua. Hutang pun bertambah. Nisa nggak kuliah tapi setelah lulus SMK ia langsung kerja di hotel, lumayanlah pendapatannya, sedikit-sedikit bisa untuk bayar hutang. Alhamdulillah barusan ini, Nisa nikah."

"Nisa sudah nikah ?"

"Iya, baru beberapa bulan. Trus Nura sekarang kerja di PT apalah, dibagian adminnya," jawab Dyah.

"Oh pantesan, waktu itu Karel sempat pinjam uang untuk bayar SPP kuliahnya," sahut Alexa.

"Jadi Karel pernah pinjam uang ke kamu?" tanya Dyah.

"Iya, beberapa ratus ribu untuk bayar kuliah, tapi aku nggak mau dia ngutang, jadi aku kasih aja," jelas Alexa.

"Semoga Allah akan menggantinya berkali-kali lipat," ucap Dyah untuk mendo'akan kebaikan Alexa.

"Aamiin."

"Tapi sekarang dia benar-benar sudah bersih, kan?" tanya Alexa untuk memastikan.

"In syaaAllah sudah bersih."

Sepotong ingatan akan masa lalu Karel sangat memberikan pengaruh akan perubahan sikap Alexa, yang menjadi sangat berhati-hati terhadap Karel. Berhati-hati agar ia tidak menambah kesedihan dan kesulitan yang dihadapi Karel.

Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sebuah rumah mewah milik orang tua Alexa di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Ky, aku pergi dulu," ucap Alexa sambil meminta kunci mobilnya dari Zasky.

"Mau kemana, Bu?" tanya Zasky sambil memberikan kunci mobilnya kepada Alexa.

"Saya ada urusan sebentar, kamu lanjutin pengecekan bahan-bahan untuk keseluruhan menu pesanan besok. Sudah ya, assalamu'alaikum," ucap Alexa yang bergegas melajukan kendaraannya.

Sembari menyetir, Alexa pun mencoba menghubungi seseorang untuk bertemu.

"Ta, can we meet?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 75 Fisioterapi

    Ada kelegaan di hati Karel, karena walaupun Alexa tidak lagi mengenalnya, ia tidak sedikitpun menolak kehadirannya. Alexa tidak menunjukkan keengganan atau penolakan terhadap kehadiran Karel. Pada hari ke-empat setelah ia sadar, terapi fisik mulai dilakukan untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya dan dilakukan bertahap sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan tubuh Alexa. Pagi itu, tirai jendela dibuka. Cahaya matahari masuk perlahan. Beberapa saat sebelum dimulainya terapi, Karel menyuapi Alexa sarapan paginya. "Ada bubur ayam, buah sama puding. Mau yang mana dulu?" tanya Karel. "Buah aja, baru buburnya." Karel membuka plastik penutup, sementara Alexa memandanginya tanpa berkedip dan saat Karel menyadari, Alexa tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Karel. Karel pun tersenyum, duduk di samping tempat tidur dan mulai menyuapi Alexa. "Aku mau makan sendiri," tolak Alexa. Karel mendorong meja mendekati tempat tidur, lalu memposisikan meja di depan Alexa. Walaupu

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 74 Seperti Pertama Kali

    Alexa duduk di ranjang, bersandar pada kasurnya yang ditinggikan empat puluh lima derajat. Wajahnya pucat namun tenang, ia tersenyum menatap ke arah tiga putrinya. Ketika suara pintu dibuka dan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan ayah, keningnya berkerut dan membuatnya menoleh. Matanya bertemu mata Karel—sebentar saja. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada kejutan. Hanya tatapan lembut dua orang dewasa yang belum saling mengenal. “Assalamu'alaikum,” sapa Karel dengan suara yang ia jaga tetap stabil. Alexa menjawabnya dengan nada sedikit bingung, seakan bertanya siapakah pria berperawakan tinggi besar itu. Karel tersenyum dan mendekati perlahan sambil bertanya, "Boleh aku mendekat?" Alexa tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya, ada rasa asing sekaligus ketenangan yang tidak ia mengerti saat ia melihat Karel. Kimi tahu, kedua orangtuanya membutuhkan waktu berdua, maka ia memberikan kode kepada Rangga untuk mengikuti kata-katanya. "Bu, ibu ngobrol dulu aja,

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 73 Memberitahu Anak-anak

    Mendengar pertanyaan yang diajukan Kimi, Karel menjawabnya dengan senyum getir, "Iya, tapi nggak amnesia total, ibu masih ingat kalian kok." "Terus, ibu lupa bagian yang mana?" tanya Kimi lagi. "Kalau dari pemeriksaan awal tadi, ibu itu lupa di bagian abi dan tiga jagoan ini. Kalau kalian semua, nggak ada masalah. Besok masih ada observasi tambahan, yang jelas sudah dikonsulkan ke dokter saraf dan psikolog," jawab Karel. Lalu, tiba-tiba putra bungsunya berucap, "Bi, tapi kalau orang lupa sama kita, kitanya masih boleh sayang, kan?" Karel memeluk Raffi dan berucap lirih di telinganya, "Tentu boleh, terkadang ... justru itu bentuk sayang yang paling jujur dan tulus.” "Menyayangi seseorang yang tidak mengingat kita, tidak mengenal kita, itu adalah bentuk rasa sayang yang paling tulus, karena tanpa mengharapkan balasan. Nah, sekarang karena ibu nggak mengenal kita yang laki-laki ini, jadinya untuk sementara waktu kita gantian menjenguknya dan pelan-pelan, khawatir kaget dan ota

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 72 Ternyata Belum Berakhir

    Sang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?" Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali. Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang tahu berada di mana?" Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?" "Ibu mengenal bapak ini?" Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 71 Pagi yang Penuh Ketegangan

    Mimpi itu datang menelusup di sela kelelahan yang akhirnya membuat Karel tertidur sangat nyenyak. Ia berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding. Langit tampak rendah, berwarna kelabu pucat seperti pagi yang berawan. Di hadapannya, Alexa berdiri mengenakan gaun putih yang sangat cantik—bukan gaun pengantin, bukan pula gaun pesta. Gaun itu sederhana, jatuh lembut mengikuti tubuhnya, seolah cahaya sendiri memilih beristirahat di sana. Alexa tidak menggunakan jilbabnya, rambutnya yang bergelombang terurai indah, wajahnya tenang, dan senyum itu… senyum yang membuat dada Karel menghangat sekaligus perih. “Alexa …,” panggilnya. Suara itu keluar dari bibirnya, tapi tak pernah benar-benar sampai, seolah udara menelannya kembali. Alexa hanya diam. Senyumnya tak pudar, matanya menatap Karel dengan kasih yang dalam, bahkan terlalu dalam untuk sekadar mimpi. Tatapan itu bukan perpisahan, bukan juga kerinduan. Karel melangkah maju, tetapi kakinya terasa berat, seakan tanah menahann

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 70 Ketegangan yang Belum Berakhir

    "Dasar bajingan pengkhianat! Kamu juga termasuk bagian dari... " "Tetapi nalarku masih berjalan dan aku tidak ingin jauh terlibat dengan kalian." Sebuah kalimat yang sangat dingin keluar dari Karel, tanpa ada rasa takut ataupun terancam. Karel muda adalah seorang yang berjuang dengan menghalalkan segala cara, bahkan hingga ia nekat menjadi anggota jaringan peredaran barang haram, narkoba. Tetapi, hari nuraninya selalu berontak, untuk itu, ia melakukannya dalam diam, sangat rapi dan tersembunyi, bahkan ibu dan kedua adiknya tidak mengetahui bisnis haram yang dilakukan Karel. Setelah dua tahun bergelut dengan barang haram, pundi-pundi di dalam rekening banknya telah membengkak dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Tetapi disaat itulah ia tertangkap dan penyidik mempunyai rencana yang lebih indah untuk Karel. "Kami akan mengurangi hukuman atau bahkan melepaskanmu, juga menghapus catatan kejahatan ini, kalau kamu memberikan kami nama-nama dan lokasi transaksi kalian." Setelah memp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status