MasukPenyidikan kecelakaan yang menimpa Alexa, telah sampai pada garis akhir, ketika akhirnya polisi mendapatkan petunjuk dari kamera mobil yang sempat mengambil gambar pelaku. Walaupun memory chip dari kamera mengalami kerusakan yang cukup parah, nyaris habis terbakar, tetapi ada beberapa bagian yang dapat diselamatkan. Penggunaan teknologi digital, membuat tim penyidik mendapatkan petunjuk yang lebih jelas. Suasana di ruang laboratorium digital forensik langsung berubah tegang. Inspektur Baskoro mondar-mandir di depan layar besar, sementara Briptu Rian kembali mengotak-atik baris kode di komputernya. Petunjuk tentang mobil boks milik *Eagle Security* tadi membuka tabir baru: kecelakaan Alexa bukanlah kelalaian biasa, melainkan sebuah **sabotase yang terencana**. **Inspektur Baskoro:** "Tunggu, Rian. Tahan dulu perintah penjemputan ke tim opsnal. Ada yang janggal. Kalau mobil boks itu memotong jalur Alexa hingga dia terperosok, kenapa hasil olah TKP awal menyatakan ini kecelakaan tun
Pagi menjelang siang, Karel baru tiba di rumah sakit, karena semalam ia tidak menunggui Alexa. Ia pulang karena ia tahu, Alexa belum terlihat nyaman dengan kehadirannya dan ia memberikan ruang unttuk Alexa agar ia tidak merasakan adanya tekanan untuk mengingat. Sementara, ibu dan Aldryn sempat berbincang mengenai Alexa sebelum Karel tiba, di saat Alexa masih tertidur. "Bu, aku semalam mimpi, kayak hmm gimana yaa...?""Gimana apanya? Kamu itu ngomong apa?" tanya ibu. "Hmm aku mimpi, kalau semua kemalangan yang terjadi sama mbak Al, itu ada hubungannya sama mas Karel," jawab Aldryn. "Maksudnya?""Bukan nuduh lho Bu, tapi semenjak dekat sama mas Karel, ada aja yang terjadi sama mbak Al. Bisnis katering yang merugi dan akhirnya tutup karena fitnah dari mantannya mas Karel. Trus, sekarang mbak Al harus kehilangan ingatannya dan yang hilang adalah mas Karel sama anak-anaknya, bukannya itu pertanda kalau mas Karel harusnya dilupakan aja, mungkin dia secara nggak langsung mendatangkan bah
Ada kelegaan di hati Karel, karena walaupun Alexa tidak lagi mengenalnya, ia tidak sedikitpun menolak kehadirannya. Alexa tidak menunjukkan keengganan atau penolakan terhadap kehadiran Karel. Pada hari ke-empat setelah ia sadar, terapi fisik mulai dilakukan untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya dan dilakukan bertahap sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan tubuh Alexa. Pagi itu, tirai jendela dibuka. Cahaya matahari masuk perlahan. Beberapa saat sebelum dimulainya terapi, Karel menyuapi Alexa sarapan paginya. "Ada bubur ayam, buah sama puding. Mau yang mana dulu?" tanya Karel. "Buah aja, baru buburnya." Karel membuka plastik penutup, sementara Alexa memandanginya tanpa berkedip dan saat Karel menyadari, Alexa tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Karel. Karel pun tersenyum, duduk di samping tempat tidur dan mulai menyuapi Alexa. "Aku mau makan sendiri," tolak Alexa. Karel mendorong meja mendekati tempat tidur, lalu memposisikan meja di depan Alexa. Walaupu
Alexa duduk di ranjang, bersandar pada kasurnya yang ditinggikan empat puluh lima derajat. Wajahnya pucat namun tenang, ia tersenyum menatap ke arah tiga putrinya. Ketika suara pintu dibuka dan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan ayah, keningnya berkerut dan membuatnya menoleh. Matanya bertemu mata Karel—sebentar saja. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada kejutan. Hanya tatapan lembut dua orang dewasa yang belum saling mengenal. “Assalamu'alaikum,” sapa Karel dengan suara yang ia jaga tetap stabil. Alexa menjawabnya dengan nada sedikit bingung, seakan bertanya siapakah pria berperawakan tinggi besar itu. Karel tersenyum dan mendekati perlahan sambil bertanya, "Boleh aku mendekat?" Alexa tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya, ada rasa asing sekaligus ketenangan yang tidak ia mengerti saat ia melihat Karel. Kimi tahu, kedua orangtuanya membutuhkan waktu berdua, maka ia memberikan kode kepada Rangga untuk mengikuti kata-katanya. "Bu, ibu ngobrol dulu aja,
Mendengar pertanyaan yang diajukan Kimi, Karel menjawabnya dengan senyum getir, "Iya, tapi nggak amnesia total, ibu masih ingat kalian kok." "Terus, ibu lupa bagian yang mana?" tanya Kimi lagi. "Kalau dari pemeriksaan awal tadi, ibu itu lupa di bagian abi dan tiga jagoan ini. Kalau kalian semua, nggak ada masalah. Besok masih ada observasi tambahan, yang jelas sudah dikonsulkan ke dokter saraf dan psikolog," jawab Karel. Lalu, tiba-tiba putra bungsunya berucap, "Bi, tapi kalau orang lupa sama kita, kitanya masih boleh sayang, kan?" Karel memeluk Raffi dan berucap lirih di telinganya, "Tentu boleh, terkadang ... justru itu bentuk sayang yang paling jujur dan tulus.” "Menyayangi seseorang yang tidak mengingat kita, tidak mengenal kita, itu adalah bentuk rasa sayang yang paling tulus, karena tanpa mengharapkan balasan. Nah, sekarang karena ibu nggak mengenal kita yang laki-laki ini, jadinya untuk sementara waktu kita gantian menjenguknya dan pelan-pelan, khawatir kaget dan ota
Sang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?" Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali. Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang tahu berada di mana?" Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?" "Ibu mengenal bapak ini?" Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki
Mimpi itu datang menelusup di sela kelelahan yang akhirnya membuat Karel tertidur sangat nyenyak. Ia berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding. Langit tampak rendah, berwarna kelabu pucat seperti pagi yang berawan. Di hadapannya, Alexa berdiri mengenakan gaun putih yang sangat cantik—bukan gau
Senja berganti malam, Karel masih berjaga di rumah sakit, sementara keenam putra-putrinya telah berada di rumah Nisa, sesuai permintaan Karel. Kafe kecil di lantai dasar rumah sakit itu hampir kosong. Lampu-lampunya redup, aroma kopinya menenangkan dan menghangatkan. Karel duduk di sudut cafe,
Di balik semua kabel, perban, dan monitor, Alexa sedang berjuang dengan cara yang tak terlihat, ada rasa sakit yang belum ia sadari. Tubuhnya masih tenggelam dalam keheningan pascaoperasi. Lampu tidak seterang ruang bedah, tapi tetap cukup untuk membaca setiap perubahan kecil. Selama enam jam pert
Dua pekan berlalu, butik yang akhirnya disepakati dengan nama Relax, yang merupakan penggabungan nama Karel dan Alexa, akhirnya resmi dibuka pada Ahad, pukul sembilan pagi. Mengambil tempat di sebuah ruko berlantai tiga, di kawasan eksklusif timur Jakarta, butik Relax berdiri dengan anggun, mengguna







