Beranda / Romansa / Balada Cinta Duda Belanda / Bab 3 Pertemuan Karel dan Alexa

Share

Bab 3 Pertemuan Karel dan Alexa

Penulis: Leneva
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-05 20:44:21

Liburan singkat di akhir pekan pun berlalu, Karel harus kembali berjibaku dengan rutinitas hariannya di kantor. Tetapi ada yang sedikit berbeda dari dirinya, yang merupakan hasil dari liburan singkat itu, dimana membuat dirinya tampak lebih relaks dan ceria, hal itu terlihat dari raut wajahnya yang tidak sekaku seperti di hari-hari sebelumnya.

Di awal pekan ini, seperti biasanya Sekar akan melaporkan jadwal kegiatan yang harus dihadiri Karel.

"Tolong beri saya list nama-nama mitra yang tergabung pada peluncuran besok. Oiya satu lagi, tolong berikan saya nomor kontak untuk setiap mitra," pinta Karel, yang masih tetap menatap lurus ke arah layar monitornya tanpa sedikitpun melihat ke arah Sekar.

"Baik, Pak, permisi," jawab Sekar yang kemudian meninggalkan ruangan kerja Karel untuk kembali ke mejanya.

Reaksi Karel yang sering kali dingin memang bukan rahasia umum lagi, sehingga Sekar yang telah menjadi sekretaris Karel selama hampir dua tahun ini pun tidak pernah terganggu dengan betapa dingin sikap yang ditunjukkan oleh direkturnya ini.

Hanya pada momen-momen tertentu saja, Karel dapat bersikap hangat dan humoris. Tetapi itu adalah momen langka yang patut dirayakan.

Di tempat yang berbeda, kesibukan di awal pekan pun dirasakan oleh Alexa yang telah memenangkan tender, untuk acara PT. Lazeesfood di tengah pekan, tanpa mengetahui siapa salah satu petinggi perusahaan tersebut. Tetapi sebelum itu, ia harus menandatangani kontrak kerjanya terlebih dahulu, maka di hari Senin itu, selepas jam istirahat makan siang, Alexa pergi menuju kantor manajemen Lazeesfood, ditemani oleh Zasky, asistennya.

"Bu, kita kesini cuma buat tandatangan aja, kan?" tanya Zasky yang sedang mengemudikan mobil SUV milik Alexa.

"Iya, cuma tandatangan aja. Kenapa?" tanya balik Alexa, sambil menatap keramaian lalu lintas yang dilewatinya.

"Nggak papa, cuma menurut informasi yang beredar, katanya salah satu direkturnya ada yang super ganteng dan single, alias duren!" jawab Zasky bersemangat.

Mendengar jawaban Zasky, Alexa sudah mengetahui arah percakapan yang akan dibahas oleh asistennya ini, maka ia harus segera menghentikannya, "Huss, kamu ini! Sekarang itu urusan kerja, bukan nyari duda."

"Ih ibu, kan sekalian. Siapa tahu nemplok, trus ceritanya jadi ketika janda bertemu duda, uhuy!" goda Zasky dengan penuh semangat

"Halumu harus ditraining lagi," ucap Alexa datar.

"Apa lagi nih? Halu kok ditraining? Ibu beneran deh, ibu itu butuh duda tajir nan sholih! Pokoknya aku do'ain, biar ibu bisa segera bertemu dengan duda ganteng, tajir dan sholih, trus nggak pake lama langsung nikah! Aaamiiin!" seru Zasky penuh semangat.

"Bu, kok diem. Diaminin dong?!"

"Iya, aamiin," jawab Alexa dengan terpaksa.

Perjalanan di saat istirahat makan siang itu cukup padat, dimana para pengendara harus menyediakan cadangan kesabaran lebih banyak, jika tidak ingin tekanan darahnya meningkat dengan drastis. Udara yang panas, ditambah asap knalpot, kerlipan lampu rem di belakang kendaraan dan jeritan suara klakson yang berulang-ulang, merupakan perpaduan terbaik untuk menimbulkan stres.

Alexa memilih untuk memejamkan matanya, guna merileksasikan pikirannya. Akhirnya setelah melalui beberapa titik kemacetan, Zasky berhasil sampai di lokasi, di sebuah gedung pencakar langit berlantai tiga puluh lima, terpampang megah di depannya.

Tanpa menunggu lagi, Alexa dan Zasky memasuki lobby gedung tersebut setelah melewati pintu yang dilengkapi dengan alat pendeteksi logam. Lalu, mereka harus menuliskan data diri pada buku tamu, guna keamanan dan juga untuk mendapatkan tanda pengenal pengunjung. Setelah itu keduanya pun menunggu lift untuk menuju kelantai tiga, tempat kantor HRD PT. Lazeesfood berada.

Tak lama menunggu, pintu lift pun terbuka dan keduanya segera memasuki lift yang nyaris kosong itu. Tetapi jantung Alexa tiba-tiba berdegup dengan kencang, ketika ia melihat seorang pria bertubuh tinggi besar yang berdiri di dalam lift dan berdiri tepat di depannya.

Keduanya pun berdiri berhadapan dan membeku. Tiada kata dan sapa dari keduanya, hanya saling menatap. Hingga akhirnya pria itu memutuskan keheningan.

"Assalamu'alaikum, Al."

Bibir Alexa kelu, ia tidak dapat berkata apapun untuk menjawab salam dari pria yang pernah menjadi cinta pertamanya itu.

"Kok nggak dijawab, Al? Apa diriku terlalu memukau?" canda Karel dengan senyum manisnya yang menghipnotis.

Mendengar kalimat Karel, secara refleks Alexa memukul lengan Karel dengan tas yang berada pada genggamannya.

"Astaghfirullah! I'm glad, you're still Al that I know!" seru Karel sambil tertawa kecil dan mengelus-elus lengannya akibat serangan mendadak dari Alexa.

"Wa'alaikumsalam. Wait a minute, jangan-jangan kamu direktur bule ganteng yang banyak diomongin orang-orang?"

Mendengar pertanyaan Alexa, Karel pun tertawa sejadinya sambil berucap, "Ya Allah, Al! Kamu benar-benar nggak berubah!"

"Karena aku bukan Satria Baja Hitam, Karl," sahut Alexa santai.

Suara nyaring dari lift pun terdengar, menandakan mereka telah sampai pada lantai yang dituju.

"Hmm aku tahan liftnya atau kamu ikut aku ke kantorku. Kita ngobrol sebentar, eit no nolak nolak!" ucap Karel berbarengan dengan terbukanya pintu lift di lantai paling atas.

"Lho kok, lantai tiga puluh? Aku kan janjian di lantai tiga?" tanya Alexa kebingungan.

"Kamu salah naik lift, Al. Kamu barusan naik lift khusus direktur," jawab Karel santai.

"Please, follow me," lanjut Karel.

Mendengar ajakan Karel, membuat Alexa kembali terdiam, ia pun tidak beranjak dari dalam lift.

"Come on," ajak Karel lagi.

Tetapi Alexa masih tetap bertahan di dalam lift tanpa bergerak sedikitpun, membuat Zasky sang asisten tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya Karel menggunakan jurus terampuhnya untuk membuat Alexa mengikuti ajakannya.

"Kalau kamu tetap di dalam lift, aku akan tarik tanganmu..."

Tanpa menunggu lebih lama, Alexa pun melangkahkan kakinya ke luar lift.

"Nah, gitu dong. So, please follow me," ajak Karel sekali lagi.

Dengan berat hati, akhirnya Alexa mengikuti Karel dari belakang.

"Bu, saya tunggu disini aja, ya," bisik Zasky saat melewati lobby.

"Nggak, kamu ikut saya!" paksa Alexa.

"Nggak, ibu aja, saya nunggu disini. Sudah cukup adegan di lift tadi yang bikin saya panas dingin. Saya nggak sanggup kalau harus menyaksikannya lagi, mana pakai acara di dalam ruangan direkturnya. Good luck Bu, fighting!" ucap Zasky sembari mengambil koran dan langsung duduk manis di sofa lobby.

Alexa pun memberikan pandangan penuh kekesalan kepada asistennya itu, tetapi Zasky sudah menutupi wajahnya dengan koran agar ia tidak perlu melihat reaksi Alexa.

Sementara itu, dengan hati yang dongkol Alexa mengikuti Karel memasuki ruang kerjanya, tetapi sebelumnya ia melewati meja sekretaris Karel dimana ia melihat seseorang yang ia kenal dekat tengah asyik di depan layar komputernya.

"Sekar? Sekar, help me!" lirih Alexa kepada Sekar.

Mendengar namanya disebut, Sekar pun mencari tahu siapa yang memanggilnya. Ia pun terkejut sekaligus terkekeh ketika melihat Alexa sedang berjalan memasuki ruang kerja Karel, lalu ia pun lirih berkata, "Good luck, Mbak."

Alexa pun membalasnya dengan ekspresi wajah seolah-olah ia berada di sebuah wahana yang berputar-putar, yang membuat Sekar tertawa.

Karel pun mempersilahkan Alexa untuk memasuki ruang kerjanya terlebih dahulu.

"After you," ucap Karel sambil membuka pintunya.

Alexa pun dibuat terpukau oleh keeksklusifan desain ruang kerja Karel, yaitu sebuah ruang kerja yang bergaya maskulin dengan menghadirkan warna alam yang menenangkan. Tetapi kekagumannya berubah menjadi kecanggungan, setelah ia menyadari dimana ia berada.

Melihat kecanggungan Alexa, akhirnya Karel berjalan ke arah Alexa dan menarik kursi untuknya.

"Have a seat," ucap Karel bersamaan dengan senyum manisnya.

"Thank you," jawab Alexa sambil menduduki kursi di sampingnya.

"Puasa?" tanya Karel sambil memandang wajah Alexa.

"Nggak," jawab Alexa sedikit gugup karena pandangan Karel.

"Two hot cappucino, please," ucap Karel kepada Sekar melalui interkom.

"Karl..."

"How are you? Kenapa weekend kemarin pulang duluan?" tanya Karel tanpa basa-basi, karena itulah gaya yang disukai oleh Alexa.

"I'm good. Kenapa, ya? Karena memang tidak ada rencana nginap disana. Mahal," jawab jujur Alexa yang membuat Karel tertawa kecil.

"I can pay the bill," ucap Karel setelahnya.

"I don't want to debt," sahut Alexa cepat.

"Sejak kapan aku akan menghitungnya sebagai hutang. Aku saja masih berhutang sama kamu, Al. Aku belum sempat mengganti uang SPP kuliahku dulu," kenang Karel akan bantuan yang pernah ia terima dari Alexa agar ia dapat melanjutkan kuliahnya.

"Aku sudah lupa, emangnya berapa?"

"Satu milliar," jawab Karel sekenanya.

Alexa pun membuang nafasnya dengan kasar, lalu dengan malas, ia berucap, "Aku nyerah, Karl. Langsung to the point aja."

"Kamu ada urusan apa ke kantorku?" tanya Karel penasaran.

"Mau tanda tangan kontrak katering," jawab Alexa cepat, agar ia dapat segera keluar dari ruangan itu.

"Kontrak katering? Untuk acara apa?" tanya Karel lagi.

"Lah, kamu kan direkturnya, kok nggak tahu kalau ada acara peluncuran Instanshopme?" jawab Alexa dengan bertanya balik.

"Oh acara itu? Jadi kamu yang nanganin kateringnya?" tanya Karel dengan hati berbunga-bunga.

"Iya, pekan lalu aku lolos test food, jadi sekarang tandatangan kontrak kerja," jelas Alexa.

"Oh gitu, tunggu sebentar, ya," ucap Karel yang segera menghubungi bagian HRD untuk membawakan kontrak kerjasama yang dimaksud.

"Tanda tangan di sini aja," ucap Karel sambil mengendurkan posisi duduknya agar lebih santai.

"But, by the way, sejak kapan punya bisnis katering?" tanya Karel penasaran.

"Sejak dua tahun yang lalu," jawab Alexa yang kembali singkat.

Tak lama, terdengar suara pintu diketuk, lalu terlihat Sekar memasuki ruangan dengan membawakan dua cangkir capuccino panas dan diikuti oleh perwakilan dari bagian HRD yang datang membawa lembaran kontrak kerja.

"Silahkan diminum dulu, terus tanda tangan disini," ucap Karel.

"Kopinya aman kan?" canda Alexa sambil menyeruput capuccino panasnya.

"Yang plus sianida, sudah nggak ada, tapi kalau plus dia cinta mungkin ada," balas Karel diikuti dengan senyum nakalnya.

Mendengar jawaban Karel, Alexa pun mulai kembali ke karakternya, "Kamu masih usaha, ya?"

Mendengar pertanyaan balasan dari Alexa, Karel pun tertawa terbahak-bahak.

"Kamu nggak berubah, Al, kamu masih seperti Alexa yang kukenal tiga puluh tahun yang lalu," ucap Karel kemudian.

"Sungguh aneh, padahal aku tidak mengkonsumsi formalin, but kamu juga masih sama, cuma beda di penambahan lemak aja," balas Alexa lagi.

"But still look sexy, right?"

"Yup, like always."

Lalu keduanya terdiam beberapa saat, hingga Karel kembali bertanya dengan mimik wajah yang serius.

"Al, how are you?" tanya Karel dengan intonasi yang dalam.

Alexa pun menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan, sebelum menjawabnya, "Not too good, but I'm okay."

"Is there anything that I can help you?" tanya Karel.

"Nggak ada, Karl. Makasih, for asking."

"Apa kabar anak-anak ?" tanya Karel lagi.

"They are good. How 'bout you?"

"The kids are good too. They've grown so fast," jawab Karel sambil tersenyum.

"Karl, mau sampai kapan kita ngobrol basa-basi seperti ini?" tanya Alexa yang sudah mulai tidak nyaman.

"I don't know, sampai kamu bosan aja, gimana? Soalnya kalau aku nggak akan bosan ngobrol sama kamu, jadi sekarang tergantung maunya kamu gimana."

"Karl, are you seducing me?" selidik Alexa dengan memicingkan matanya.

"Al, kata-kata apa yang berkonotasi dengan seducing yang kamu maksud?" tanya Karel balik sambil menggelengkan kepalanya.

"Lagian, buat apa aku ngegodain kamu. Kamu adalah the queen of ice, yang sangat sulit untuk dicairkan," tambah Karel.

Well, you don't know when you never try, gumam Alexa.

"Aku tanda tangani disini, kan?" tanya Alexa yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

"Yes, right there."

"Setelah dari sini, kamu mau kemana?" tanya Karel.

"Pulang," jawab Alexa sambil menyerahkan lembaran kontrak kerjanya.

"Where do you live now?"

"In a house," jawab malas Alexa.

"Al?"

"Masih di rumah yang dulu, aku nggak pindah-pindah kok," jawab Alexa.

Membaca bahasa tubuh Alexa yang tampak tidak nyaman, membuat Karel kembali bertanya, "Al, do you hate me?"

"Why would I ?" jawab Alexa dengan cepat.

"Because it's been years since we have met, but you don't seem to happy to see me. You're making my heart broken once again, Al," jawab Karel yang benar-benar serius dengan ucapannya.

"Karl, aku nggak ada waktu untuk gombalanmu. You have a wife, kenapa masih nyari aku?!"

"Apa kamu nggak dengar gosip tentang direktur duda keren?" tanya Karel sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

"Jadi gosip itu beneran?" tanya Alexa tidak percaya.

"Yup, itu sangat benar."

"Why? Terus, semua status tentang anak-anak dan kamu bersama Meita itu..."

"Itu masa lalu, Meita sudah memiliki yang lain. Kamu dan aku sama, Al. Kita berdua korban dari pasangan yang tidak setia," ucap Karel dalam.

"How come, Meita? Seriously?" tanya Alexa sekali lagi karena ia masih belum mempercayai pendengarannya.

"Iya Al, she has someone else," jawab Karel sambil bersandar pada kursi kerjanya.

Mimik wajah Alexa pun melunak, rasa prihatin terpancar dari wajahnya. Lalu, Alexa kembali bertanya, "When?"

"About a year ago, well almost a year," jawab Karel.

Rasa penasaran Alexa pun terus mendera, ia menanyakan semua perihal hak asuh ketiga putra Karel dan juga tentang kepemilikan rumah mewah milik Karel.

"Untuk anak-anak, mereka sama ibunya. Kami berbagi pengasuhan, tidak ada pembatasan dimana dan kapan," jelas Karel yang terlihat sendu ketika ia mulai membahas tentang anak-anaknya.

"Untuk rumah, aku kasih ke Meita, agar anak-anak juga tetap nyaman tinggal di tempat dimana mereka biasa tinggal. Aku sekarang pindah ke komplek sebelahnya, yaa mungkin cuma sekitar lima ratusan meter aja, jadi kapanpun anak-anak mau ketemu, mereka tinggal naik sepeda ke rumahku," tambah Karel yang menyiratkan kesedihannya yang mendalam.

Alexa pun mencoba kembali bertanya dengan hati-hati, "Jadi setahun ini, kamu tinggal sendiri?"

"Iya. Kamu mau nemenin aku?" canda Karel dengan senyum lebarnya yang membuat hati Alexa, sesaat terhipnotis.

Tetapi, mendengar pertanyaan yang dilontarkan Karel, membuat Alexa melemparkan pulpennya ke arah Karel, tetapi dengan sigap ia menangkapnya sambil tertawa.

"Kenapa sih, main lempar muluk? Kamu atlet lempar lembing atau apa sih, Al?"

"Aku mau pulang, urusanku sudah selesai," ucap Alexa sambil beranjak dari kursinya tanpa memperdulikan pertanyaan Karel.

"Thank you, Al," ucap Karel sambil berdiri untuk mengantarkan Alexa ke luar ruangannya.

"Duduk aja, Karl. Aku nggak perlu diantar, aku tahu kok pintunya," tolak Alexa yang kembali dengan sikap dinginnya.

"Assalamu'alaikum," salam Alexa sambil membuka pintunya dan kemudian menghilang dari pandangan Karel.

"Wa'alaikumsalam," jawab Karel lirih.

Mata Karel hanya dapat mengantarkan Alexa hingga pintu tertutup lalu setelah ia menghilang, sakit kepala itu datang kembali tetapi kali ini ditambah dengan denyut jantungnya yang sangat kencang, hingga membuatnya kesulitan bernafas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 75 Fisioterapi

    Ada kelegaan di hati Karel, karena walaupun Alexa tidak lagi mengenalnya, ia tidak sedikitpun menolak kehadirannya. Alexa tidak menunjukkan keengganan atau penolakan terhadap kehadiran Karel. Pada hari ke-empat setelah ia sadar, terapi fisik mulai dilakukan untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya dan dilakukan bertahap sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan tubuh Alexa. Pagi itu, tirai jendela dibuka. Cahaya matahari masuk perlahan. Beberapa saat sebelum dimulainya terapi, Karel menyuapi Alexa sarapan paginya. "Ada bubur ayam, buah sama puding. Mau yang mana dulu?" tanya Karel. "Buah aja, baru buburnya." Karel membuka plastik penutup, sementara Alexa memandanginya tanpa berkedip dan saat Karel menyadari, Alexa tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Karel. Karel pun tersenyum, duduk di samping tempat tidur dan mulai menyuapi Alexa. "Aku mau makan sendiri," tolak Alexa. Karel mendorong meja mendekati tempat tidur, lalu memposisikan meja di depan Alexa. Walaupu

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 74 Seperti Pertama Kali

    Alexa duduk di ranjang, bersandar pada kasurnya yang ditinggikan empat puluh lima derajat. Wajahnya pucat namun tenang, ia tersenyum menatap ke arah tiga putrinya. Ketika suara pintu dibuka dan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan ayah, keningnya berkerut dan membuatnya menoleh. Matanya bertemu mata Karel—sebentar saja. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada kejutan. Hanya tatapan lembut dua orang dewasa yang belum saling mengenal. “Assalamu'alaikum,” sapa Karel dengan suara yang ia jaga tetap stabil. Alexa menjawabnya dengan nada sedikit bingung, seakan bertanya siapakah pria berperawakan tinggi besar itu. Karel tersenyum dan mendekati perlahan sambil bertanya, "Boleh aku mendekat?" Alexa tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya, ada rasa asing sekaligus ketenangan yang tidak ia mengerti saat ia melihat Karel. Kimi tahu, kedua orangtuanya membutuhkan waktu berdua, maka ia memberikan kode kepada Rangga untuk mengikuti kata-katanya. "Bu, ibu ngobrol dulu aja,

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 73 Memberitahu Anak-anak

    Mendengar pertanyaan yang diajukan Kimi, Karel menjawabnya dengan senyum getir, "Iya, tapi nggak amnesia total, ibu masih ingat kalian kok." "Terus, ibu lupa bagian yang mana?" tanya Kimi lagi. "Kalau dari pemeriksaan awal tadi, ibu itu lupa di bagian abi dan tiga jagoan ini. Kalau kalian semua, nggak ada masalah. Besok masih ada observasi tambahan, yang jelas sudah dikonsulkan ke dokter saraf dan psikolog," jawab Karel. Lalu, tiba-tiba putra bungsunya berucap, "Bi, tapi kalau orang lupa sama kita, kitanya masih boleh sayang, kan?" Karel memeluk Raffi dan berucap lirih di telinganya, "Tentu boleh, terkadang ... justru itu bentuk sayang yang paling jujur dan tulus.” "Menyayangi seseorang yang tidak mengingat kita, tidak mengenal kita, itu adalah bentuk rasa sayang yang paling tulus, karena tanpa mengharapkan balasan. Nah, sekarang karena ibu nggak mengenal kita yang laki-laki ini, jadinya untuk sementara waktu kita gantian menjenguknya dan pelan-pelan, khawatir kaget dan ota

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 72 Ternyata Belum Berakhir

    Sang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?" Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali. Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang tahu berada di mana?" Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?" "Ibu mengenal bapak ini?" Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 71 Pagi yang Penuh Ketegangan

    Mimpi itu datang menelusup di sela kelelahan yang akhirnya membuat Karel tertidur sangat nyenyak. Ia berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding. Langit tampak rendah, berwarna kelabu pucat seperti pagi yang berawan. Di hadapannya, Alexa berdiri mengenakan gaun putih yang sangat cantik—bukan gaun pengantin, bukan pula gaun pesta. Gaun itu sederhana, jatuh lembut mengikuti tubuhnya, seolah cahaya sendiri memilih beristirahat di sana. Alexa tidak menggunakan jilbabnya, rambutnya yang bergelombang terurai indah, wajahnya tenang, dan senyum itu… senyum yang membuat dada Karel menghangat sekaligus perih. “Alexa …,” panggilnya. Suara itu keluar dari bibirnya, tapi tak pernah benar-benar sampai, seolah udara menelannya kembali. Alexa hanya diam. Senyumnya tak pudar, matanya menatap Karel dengan kasih yang dalam, bahkan terlalu dalam untuk sekadar mimpi. Tatapan itu bukan perpisahan, bukan juga kerinduan. Karel melangkah maju, tetapi kakinya terasa berat, seakan tanah menahann

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 70 Ketegangan yang Belum Berakhir

    "Dasar bajingan pengkhianat! Kamu juga termasuk bagian dari... " "Tetapi nalarku masih berjalan dan aku tidak ingin jauh terlibat dengan kalian." Sebuah kalimat yang sangat dingin keluar dari Karel, tanpa ada rasa takut ataupun terancam. Karel muda adalah seorang yang berjuang dengan menghalalkan segala cara, bahkan hingga ia nekat menjadi anggota jaringan peredaran barang haram, narkoba. Tetapi, hari nuraninya selalu berontak, untuk itu, ia melakukannya dalam diam, sangat rapi dan tersembunyi, bahkan ibu dan kedua adiknya tidak mengetahui bisnis haram yang dilakukan Karel. Setelah dua tahun bergelut dengan barang haram, pundi-pundi di dalam rekening banknya telah membengkak dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Tetapi disaat itulah ia tertangkap dan penyidik mempunyai rencana yang lebih indah untuk Karel. "Kami akan mengurangi hukuman atau bahkan melepaskanmu, juga menghapus catatan kejahatan ini, kalau kamu memberikan kami nama-nama dan lokasi transaksi kalian." Setelah memp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status