MasukMilea menoleh ke belakang. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan. Sepasang matanya menatap ke jalanan yang tertinggal di belakang sana.
“Ada apa?” tanya Ardito seraya ikut menoleh ke belakang. Pria itu melirik sang istri. Sepasang rahang yang terkatup kini mulai saling menekan. Pikiran buruk kembali muncul. “Kamu mencari Kai?”
“Hah? Kai?” Milea mengerjap. Wanita itu segera meluruskan kembali kepalany
Milea membuka daun pintu. Mulut yang sudah terbuka itu langsung tertutup detik berikutnya. Dadanya masih bergerak cepat secepat degup jantung di dalam sana.“Milea?”Milea mengangguk. Wanita itu menoleh cepat ke belakang. Khawatir ada Ardito di belakangnya. Hembusan napas lega keluar dari celah bibir yang sedikit terbuka. Ardito tidak terlihat. Milea meluruskan kembali pandangan ke depan.Sekali lagi Milea menghembus napas lega. Awalnya ia takut yang berada di luar kamarnya adalah Aurora. Ia bersyukur lantaran bukan mantan sahabatnya yang mengetuk pintu kamar.“Ini, ada titipan pesan dari seseorang.” Seorang pria dengan seragam pegawai hotel memberikan lipatan kertas kepada Milea. Milea menatap lipatan kertas itu. Detik selanjutnya, Milea segera mengambilnya. Tangan kanan yang memegang lipatan kertas tersebut bergerak ke belakang tubuh. “Terima kasih,” ucap Milea dalam bahasa Inggris. Pria di depan Milea mengangguk sebelum kemudian berpamitan. Milea memperhatikan petugas hotel tersebu
Suara ponsel yang cukup keras membuat Ardito menggeram karena merasa terganggu. Dia sedang menikmati penyatuan bersama sang istri dan suara itu benar-benar mengganggu konsentrasinya.Dengan napas yang sudah memburu, Milea menoleh ke arah meja tempatnya meletakkan ponsel. Untuk beberapa saat wanita itu masih sibuk mengatur tarikan dan hembusan napasnya yang begitu cepat karena adrenalin yang terpacu. Sentuhan Ardito selalu saja berhasil membuatnya melupakan segalanya. “Aku benar-benar akan marah pada orang yang terus menerus menghubungimu.” Ardito dengan terpaksa melepas penyatuan. Pria yang tubuhnya tampak mengkilat karena keringat itu, menjauh dari tubuh molek yang setiap kali menyentuhnya, berhasil membuat Ardito kehilangan akal sehat. Yang ada dalam otaknya hanyalah terus menikmati tubuh itu.“Siapa pengganggu itu? Temanmu?”Mendengar kata teman, sepasang mata Milea langsung terbelalak. Otaknya bekerja dengan cepat. Teman. Aurora. Wanita itu beranjak dengan cepat lalu menahan sebe
Milea melenguh, merasa terganggu mendengar suara ponsel yang terus meraung-raung. Wanita itu dengan terpaksa membuka mata. Menoleh, Milea mengedip–melihat sosok pria yang berbaring terlentang dengan tubuh bagian atas polosnya terlihat. Satu lembar kain selimut warna putih hanya menutupi sebagian kaki hingga pinggangnya. Tangan kiri pria itu dijadikan bantalan kepala oleh sang pemilik.Wajah tampannya nampak begitu tenang. Ingin Milea terus menatap wajah tampan di sampingnya, namun suara ponsel itu benar-benar mengganggunya. Milea akhirnya menggeser pelan tubuhnya ke tepi ranjang. Tidak ingin membangunkan Ardito yang sedang begitu lelap. Milea duduk di tepi ranjang. Milea membungkuk memunguti pakaiannya, kemudian dengan cepat memakainya sebelum beranjak dan berjalan dengan langkah lebar ke arah suara mengganggu itu berasal. Dari benda dengan ukuran tak seberapa besar yang Ardito hadiahkan untuknya.Ya … benda yang masih terus mengeluarkan suara setelah berhenti sejenak itu adalah ponse
Pagi pertama Milea di Rio De janeiro. Ya, akhirnya mereka berdua berbulan madu di Brazil. Bukan tanpa alasan. Karena kepergian itu terlalu mendadak untuk mengurus visa. Maka salah satu negara yang bisa mereka tuju tanpa harus memiliki visa adalah Brazil. Ada beberapa negara lain yang bisa mereka pilih, yang tidak memerlukan visa untuk berkunjung. Seperti Jepang, Malaysia, Turki dan masih banyak lagi, namun Melia dengan asal menyebut nama Brazil yang berjarak belasan ribu km dari Singapura. Melia tidak memiliki tujuan selain hanya untuk melarikan diri dari Aurora.Setelah melakukan penerbangan puluhan jam, akhirnya mereka tiba di Rio De Janeiro, kota terbesar kedua di Brazil setelah Sao Paulo. Meskipun begitu, Rio De Janeiro lebih populer sebagai destinasi tempat wisatanya.Bentang alam Rio De Janeiro yang menjadi tempat pertemuan antara pegunungan, kota dan lautan–dimana alam dan kehidupan perkotaan berpadu secara harmonis menjadikan tempat ini salah satu yang terindah di Brasil.Deng
Kai menghentak keras napasnya. Pria itu memutar kepala, memperhatikan perempuan yang kini masuk ke dalam mobil sedan merah. Hampir saja ia menghantam perempuan itu.'Brengsek!" umpat Kai marah.Masih sambil memperhatikan mobil merah, Kai mengambil ponsel. Pria itu kemudian mengalihkan perhatian pada benda di tangannya. Setelah itu, Kak memutar tubuh. Melangkah, satu tangan yang bebas menarik gagang pintu mobil.“Halo, mulai sekarang mobil yang baru saja keluar itu tidak boleh masuk ke rumah ini. Aku akan mengirim foto pemilik mobil itu. Pastikan dia tidak pernah mendekati rumah pak Ardito.” Setelah memberikan perintahnya, pria yang sudah duduk di dalam mobil itu menurunkan ponsel.Dadanya bergerak kentara ke atas, lalu kembali bergerak ke bawah setelah beberapa detik terlewat. Kai berusaha untuk mengembalikan ketenangannya.“Kita ke kantor.” K
Milea menoleh ke belakang. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan. Sepasang matanya menatap ke jalanan yang tertinggal di belakang sana.“Ada apa?” tanya Ardito seraya ikut menoleh ke belakang. Pria itu melirik sang istri. Sepasang rahang yang terkatup kini mulai saling menekan. Pikiran buruk kembali muncul. “Kamu mencari Kai?”“Hah? Kai?” Milea mengerjap. Wanita itu segera meluruskan kembali kepalanya ke depan. Milea menarik napas pelan. “Kenapa bawa-bawa Kai?” Milea berbicara dengan nada rendah, dan pelan. Ia menoleh menatap sang suami.Sepasang bibir merah itu berkerut sebelum kembali terbelah. “Apa bisa kusimpulkan seberapa besar perasaanmu padaku dengan kecemburuanmu itu?”Ardito mengernyit. Pria itu membalas tatapan mata sang istri.Milea tersenyum. “Jika benar kamu menyukaiku sebesar itu&ndash






