เข้าสู่ระบบKai mengangkat tubuh Milea, kemudian membawanya ke tepi pantai. Pria itu menurunkan Milea di bangku batu di sekitaran pantai. Kai menghentak keras napasnya. Dengan wajah gusar, pria itu menatap tajam Milea.
“Tolong jangan melakukan hal gila seperti itu lagi.” Kai berkacak pinggang. Dengan kulit wajah memerah, Kai menekan-nekan katupan rahangnya.
Pria itu berusaha keras menahan emosi yang sudah akan meledak. Kai sampai membuang muka melihat wajah Milea. Kesal setengah mati, namun tidak tega melihat wajah memelas wanita itu.
Sedangkan Milea menundukkan kepala. Dia tidak sadar sudah masuk ke dalam air. Pikirannya benar-benar sedang kacau. Dia sedang marah, kecewa, sakit hati.
Dia sebenarnya tidak berencana untuk bunuh diri. Dia sadar Tuhan tidak akan mengampuni dirinya jika ia melakukan dosa besar itu. Sesulit apapun hidupnya selama ini, dia tidak pernah berpikir mati adalah jalan keluarnya. Milea meremas-remas jalinan tangan di pangkuan.
Angin malam itu cukup kencang. Hawa dinginnya kini terasa semakin menusuk masuk sampai ke tulang. Milea semakin meremas jari-jemarinya, berharap bisa mendapatkan kehangatan darinya.
Suara ponsel memecah keheningan. Kai segera mengeluarkan benda penghubung miliknya, lalu memeriksa siapa yang sedang berusaha terhubung dengannya. Begitu melihat nama Ardito, Kai langsung menerima panggilan tersebut.
“Halo.” sambil menempelkan ponsel ke telinga kanan, Kai mengangkat tangan kiri, melirik benda mahal yang melingkari pergelangannya. Seharusnya bos nya itu belum sampai di Jepang.
“Bagaimana istriku, Kai?”
“Baik, Pak. Sekarang sedang menikmati suasana pantai. Kami sedang berada di kafe,” terang Kai berbohong. Dia tidak ingin mendapat masalah.
“Oh … kafe yang mana?”
Mendengar pertanyaan sang bos, Kai menoleh ke arah Milea yang masih menunduk. Instingnya mulai bekerja. “Apa anda tidak jadi pergi ke Jepang?” tebak Kai.
Suara Kai terdengar jelas oleh Milea, membuat wanita itu mengangkat kepala hingga tatapannya bertemu dengan sepasang manik coklat itu. Milea menatap bertanya Kai.
“Baik, Pak. Sepertinya nyonya sudah selesai. Jadi, Bapak bisa langsung pulang ke rumah. Tidak perlu menyusul ke sini.” Kai menjawab, sementara sepasang matanya masih terpaut dengan netra Milea.
Milea yang paham, segera beranjak dari tempat duduk. Wanita itu berjalan dengan kaki telanjang sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“Baik, Pak. Baik.” Kai menurunkan telepon genggamnya setelah Ardito mengakhiri sambungan mereka. Pria itu memutar langkah. Menatap punggung Milea seraya menghembus napas panjang. Bola mata pria itu bergerak ke bawah saat melihat Milea nyaris terjatuh.
Kai memasukkan ponsel ke saku jaket lalu mengayun kaki sambil mengedarkan pandangan mata ke sekitar tempat Milea nyaris menceburkan diri di laut. Begitu melihat apa yang dicari, pria itu berlari. Kai mengambil sepatu Milea, lalu kembali berlari menyusul Milea.
Milea masih mengayun kedua kakinya saat tiba-tiba sebelah tangannya ditarik dari belakang. Membuat langkah kakinya berhenti, lalu wanita itu memutar kepala ke belakang. Milea menatap bertanya Kai.
“Pakai sepatu anda.” Kai berjongkok, meletakkan sepatu milik Milea ke atas pasir. Pria itu kemudian menarik kaki kanan Milea pelan, hingga mau tidak mau Milea membungkuk dan berpegangan pada kepala Kai. Begitu sadar, Milea menarik tangannya, berusaha menjaga keseimbangan saat merasakan telapak tangan Kai membersihkan butiran pasir dari telapak kakinya.
Kai memasukkan kaki kanan Milea ke dalam sepatu. “Silahkan berpegangan di kepala saya. Tidak masalah.” Lalu setelah mengatakan hal tersebut, Kai menarik kaki kiri Milea. Membersihkan telapak kaki itu dari butir-butir pasir yang menempel sebelum kemudian memasangkan sepatunya.
Setelah selesai, Kai berdiri. Pria itu menatap Milea yang juga sedang menatapnya. “Saya tidak akan mengatakan apapun pada pak Ardito. Itu untuk kebaikan kita berdua. Saya harap anda bisa bekerja sama.”
“Kai, aku bukan Aurora.” Sekali lagi Milea mencoba untuk meyakinkan Kai. Sayangnya, Kai hanya menatapnya lalu berjalan mendahului dirinya. Membuat kedua bahu Milea terjatuh. Benar-benar tidak ada harapan lagi, batinnya pilu.
“Ayo, Pak Ardito akan pulang. Anda pasti mendengar tadi. Dia tidak jadi pergi ke Jepang.” Kai memberitahu. Pria itu masih mengayun kakinya. Yakin jika sang nyonya akan mengikuti.
Dengan bahu terjatuh, Milea memutar langkah lalu mulai berjalan. Langkahnya begitu berat, namun tetap Milea paksakan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Pertanyaan itu berkali-kali berputar di dalam kepalanya. Berharap mendapat jalan keluar, namun sepertinya semua jalan itu kini sudah tertutup. Tidak ada yang bisa membantunya. Milea pasrah.
****
Ardito tersenyum. Pria itu menyandarkan punggung. Dia sudah akan terbang saat menerima panggilan dan akhirnya ia tidak perlu pergi ke Jepang di malam pertama setelah menyandang status sebagai suami.
“Lebih cepat lagi,” pinta pria itu tidak sabar.
“Baik, Pak.” Laki-laki muda yang duduk di belakang kemudi segera menekan pedal gas lebih dalam. Memutar kemudi untuk mendahului kendaraan yang melaju di depannya.
Ardito mengangkat tangan kiri, memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangan. Seharusnya kurang dari 30 menit ia akan tiba kembali di kediamannya. Garis bibir pria itu tertarik, melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.
Dia akan menikmati malam pertamanya. Rasanya sudah tidak sabar. Akhirnya ia menikah juga. Mulai sekarang, dia tidak harus mendengar pertanyaan ‘kapan akan menikah’ setiap berkumpul dengan keluarga besar orang tuanya.
Umurnya baru 30 tahun, namun keluarganya menganggap ia sudah terlalu tua. Tanpa sadar Ardito berdecak. Dia masih fokus dengan karirnya. Dia ingin membangun bisnisnya, sebelum kemudian berumah tangga.
Akan tetapi, semua itu kini sudah terlewat. Dia sudah menemukan seseorang yang dia yakin akan bisa menjadi pendamping dan bisa mendorong bisnisnya semakin berkembang. Aurora.
Ardito juga yakin akan memiliki keturunan berkualitas unggul nantinya, mengingat bibit, bebet dan bobot yang dimiliki oleh istrinya. Hidupnya benar-benar akan semakin sempurna. Ardito menarik pelan, namun panjang napasnya. Pria itu sudah tidak sabar ingin segera tiba di kediamannya.
****
Sementara Milea dan Kai tiba kembali di rumah besar milik Ardito setelah kurang dari 10 menit perjalanan. Milea langsung berlari naik ke lantai dua kemudian masuk ke dalam kamar.
Milea segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuh, lalu mengganti pakaian dengan cepat. Setelah itu Milea naik ke atas ranjang. Berbaring miring memeluk guling lalu menutup kedua matanya. Milea menata tarikan dan hembusan napas yang memburu.
Membayangkan Ardito akan segera sampai, Milea merasa takut. Jantungnya berdegup sangat cepat. Alat pemompa darahnya itu seperti melonjak-lonjak ingin keluar dari tempat persembunyiannya. Sungguh, Milea takut membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.
Berulang kali Milea mengatur tarikan dan hembusan napas, berusaha menenangkan rontaan di dalam sana.
‘Ceklek!’
Suara pintu terbuka membuat degup jantung Milea bukannya menjadi tenang, namun justru semakin menggila. Milea semakin merapatkan kedua kelopak matanya seraya berusaha menenangkan degup jantungnya. Milea berusaha mengatur napasnya seperti layaknya orang yang sedang tidur. Dia tidak ingin Ardito curiga.
Susah payah wanita itu menekan gerak jantungnya. Mengatur ritme napasnya. Suara langkah kaki terdengar. Semakin lama semakin jelas. Dalam hati Milea menguntai doa agar Tuhan menyelamatkannya malam ini. Sungguh, ia tidak siap. Apa yang akan Ardito lakukan padanya? Bayangan itu membuat Milea ketakutan.
“Ara.” Suara bariton yang terdengar rendah itu membuat Milea semakin ketakutan. “Kamu sudah tidur?”
Milea bertahan menutup kedua kelopak matanya. Pun berusaha untuk tetap menjaga ritme tarikan dan hembusan napas agar Ardito percaya ia memang sudah tidur.
“Kamu pasti kelelahan.”
Lalu Milea bisa merasakan pergerakan pada ranjang. Pun dia bisa merasakan seseorang duduk di belakangnya. Susah payah Milea bertahan agar tetap terlihat se-normalnya orang yang sedang tidur.
“Sepertinya benar kata Kai. Kamu benar-benar kelelahan. Dia bilang kamu tadi sempat bermain di pantai. Maafkan aku karena bukan aku yang menemanimu tadi.”
Milea bertahan tanpa bergerak sedikitpun.
“Sayang ….”
Milea tetap bertahan, menjaga kelopak matanya untuk tidak terbuka.
“Ini malam pertama kita. Apa kita hanya akan tidur di ranjang yang sama tanpa melakukan apapun?”
Selamat datang di lapak NasaNasa. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa simpan cerita ini di pustaka kalian, serta tinggalkan jejak di kolom komentar. Nasa
Hidup Milea yang sedang menyamar sebagai Auora–anak seorang pengusaha kaya itu seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak single parent miskin yang untuk kuliah saja bergantung pada bea siswa, kini menjadi seorang istri komisaris perusahan besar. Tinggal di Singapura. Di sebuah rumah super mewah yang lokasinya tidak jauh dari pantai.Tidak seperti yang ditakutkan oleh Milea, Ardito memperlakukannya dengan baik. Malam pertama mereka tidur satu ranjang, Milea bangun di pagi hari dalam pelukan Ardito. Milea pikir Ardito akan memaksakan keinginan sebagai seorang suami, namun nyatanya tidak. Malam berikutnya, Milea membuat alasan sedang datang bulan hingga ia selamat selama 10 hari setelahnya. Yang Ardito lakukan hanya memeluk saat tidur.Pria itu juga tidak memaksa pergi berbulan madu ketika Milea memilih berada di rumah. Ardito menyiapkan semua kebutuhan Milea. Dari pakaian-pakaian branded, sepatu, perhiasan, jam tangan, make up. Semua kebutuhan perempuan Ardito siapkan. Bukan yang
Kai mengangkat tubuh Milea, kemudian membawanya ke tepi pantai. Pria itu menurunkan Milea di bangku batu di sekitaran pantai. Kai menghentak keras napasnya. Dengan wajah gusar, pria itu menatap tajam Milea.“Tolong jangan melakukan hal gila seperti itu lagi.” Kai berkacak pinggang. Dengan kulit wajah memerah, Kai menekan-nekan katupan rahangnya.Pria itu berusaha keras menahan emosi yang sudah akan meledak. Kai sampai membuang muka melihat wajah Milea. Kesal setengah mati, namun tidak tega melihat wajah memelas wanita itu.Sedangkan Milea menundukkan kepala. Dia tidak sadar sudah masuk ke dalam air. Pikirannya benar-benar sedang kacau. Dia sedang marah, kecewa, sakit hati.Dia sebenarnya tidak berencana untuk bunuh diri. Dia sadar Tuhan tidak akan mengampuni dirinya jika ia melakukan dosa besar itu. Sesulit apapun hidupnya selama ini, dia tidak pernah berpikir mati adalah jalan keluarnya. Milea meremas-remas jalinan tangan di pangkuan. Angin malam itu cukup kencang. Hawa dinginnya ki
“Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal dan menemani anda.”“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”“Anda istri bos saya.”“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat men
Milea hanya bisa mengumpat sang teman yang ternyata sedang melakukan hal terlarang bersama sang kekasih–Elias. Ponsel sudah tak lagi melekat di telinga, dan panggilan sudah tak lagi tersambung. Milea sudah mematikan sambungan tersebut.Wanita itu berkali-kali menghentak keras napasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Siapa yang bisa ia mintai pertolongan, selain dua orang yang masih bergumul di atas ranjang itu? Milea memukul-mukulkan pelan ponsel di tangan kanan ke telapak tangan kirinya, sementara isi di dalam kepala wanita itu sedang bekerja keras. Haruskah dia menghubungi Zayn? Milea mendesah. Hubungannya dengan Zayn sudah putus satu tahun lalu. Apa yang akan Zayn pikirkan jika ia tiba-tiba menghubungi pria tersebut?Milea resah. Saat ini waktu yang tepat untuk berusaha pergi karena Ardito sedang tidak ada di rumah. Milea tidak tahu bagaimana cara melarikan diri jika pria itu sudah kembali nanti. Jadi, tidak ada pilihan lain. Lupakan prasangka Zayn saat ia menghubungi pr
Milea tak punya kuasa menolak pernikahan tersebut. Otaknya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga kata ‘SAH’ itu terdengar. Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan yang digelar hanya di halaman rumah dan dihadiri oleh tidak lebih dari 50 orang itu benar-benar terjadi. Kilat foto menghujani sang pengantin baru.Semua orang tersenyum. Mereka terlihat ikut berbahagia setelah menjadi saksi pernikahan seorang pengusaha sukses asal Indonesia yang kini menetap di Singapura.Meskipun acara itu tampak sederhana, namun semua makanan mewah yang tersaji, serta dekorasi elegan di tempat berlangsungnya acara, memperlihatkan nilai sang pengantin. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian segera mendapatkan momongan.”“Terima kasih.” Ardito mengangguk sambil tersenyum. Pria itu memegang tangan sang istri yang melingkar di lengan kirinya. Ardito mengayun langkah bersama Auroranya. Menyapa tamu di tiap meja sebelum kemudian duduk di meja yang memang disiapkan untuk mereka berdua."Ayo k
“Saya bukan Aurora. Tolong hentikan semua ini. Saya bukan perempuan yang anda inginkan.”“Sebenar lagi kita menikah. Bicaralah lebih non formal. Rasanya telingaku panas mendengar cara bicaramu yang seperti bawahanku.”Milea menelan ludah susah payah.****Mereka tiba 2 jam lalu di sebuah rumah besar milik Ardito. Yang membuat Milea terkejut adalah ketika melihat halaman rumah itu sudah didekorasi untuk sebuah acara. Lalu, saat masuk ke dalam rumah, sudah ada banyak orang yang sedang sibuk mengatur ini itu. Lalu ia dibawa ke sebuah kamar.Di dalam kamar itu dua orang perempuan berusia sekitar 30 tahun sudah menunggunya. Perempuan itu langsung memintanya untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, Milea harus memakai gaun pengantin. Semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah tidak memberi tempat bagi Milea untuk sekedar memikirkan apa yang terjadi. Dalam sekejap ia sudah dimake up sedemikian rupa, dan siap dengan penampilan sebagai seorang calon pengantin.Milea yang sedang berada di tempa