Mag-log inPagi Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu dan Kak Eny Rahayu atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Budi Kisworo Adi, KaK Arinto Ario Triharyanto, Kak Chamimchabib, Kak Lola Ayu, Kak Ekadermawan89, Kak Reswarajalinutama, Kak Tekfie Tjen, Kak 4yah Daff4, dan Kak Junaidi Salat atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat membaca (◠‿・)—☆
Di bawah tatapan penuh kengerian dan ketakutan dari semua orang yang berkumpul, Henry Sora melompat tinggi ke udara dengan postur tubuh yang kekar dan penuh kekerasan—seperti naga atau harimau yang menerkam mangsa.Kemudian dengan gerakan yang brutal, pukulan lurus ditembakkan seperti bola meriam yang mematikan—udara meledak dengan suara keras yang menakutkan. Membawa niat membunuh tanpa batas dan kekuatan yang menghancurkan, tinju tersebut menghantam dengan kejam menuju dada Ryan Wayne."Kau benar-benar cukup menyebalkan dan mengganggu." Sebagai tanggapan terhadap serangan mematikan tersebut, Ryan Wayne justru memberikan senyum malas yang terlihat bosan. Dengan gerakan yang lambat dan santai dia mengangkat telapak tangannya yang putih bersih seperti giok. Kemudian dengan gerakan yang terlihat ringan dan lapang—seolah sedang memukul lalat yang mengganggu—Ryan Wayne membalas dengan tamparan telapak tangan yang terlihat sangat biasa.BRAK!Pada detik berikutnya, kejadian yang tidak t
Henry Sora memang bisa dianggap sebagai genius bela diri yang berbakat di kalangan generasi muda. Meskipun usianya baru dua puluhan tahun, dia sudah berhasil mencapai level Internal Force—prestasi yang luar biasa untuk usianya.Namun kekuatan tersebut masih jauh terlalu rendah dan tidak sebanding jika dibandingkan dengan Ryan Wayne yang merupakan Grandmaster Ramah Divine. Ryan Wayne bahkan tidak merasa perlu repot-repot mengangkat satu jari untuk menghadapi Martial Artist dari tingkat rendah seperti ini."Menurutmu kau siapa sampai bisa bicara sombong seperti itu?" Henry Sora mengerutkan alisnya dengan ekspresi yang dipenuhi ketidakpercayaan dan kemarahan. Wajahnya memerah karena merasa dihina. "Apa yang memberimu hak untuk bersikap begitu arogan di hadapanku?"Britney Tosker yang melihat kesempatan untuk mendekati pihak yang kuat, matanya melesat ke sana kemari sebelum berkata dengan suara manis yang dibuat-buat, "Saudara Henry Sora yang hebat, namanya adalah Ryan Wayne. Dia dulun
"Hmph, Ryan Wayne itu hanya punya bawahan yang sedikit terampil dan pengaruh keluarga yang sudah hampir habis..." Ferdinand Elbern melirik Ryan Wayne dengan tatapan jijik yang jelas terlihat. Matanya hampir melotot keluar dari rongganya—seolah Ryan Wayne akan melarikan diri dengan pengecut kapan saja. "Tapi bagaimana mungkin dia berani melawan Henry Sora yang legendaris? Dia sudah menggali kuburannya sendiri!"Mendengar penjelasan mengerikan dari Ferdinand Elbern tentang reputasi brutal Henry Sora, Merry Liana langsung menjadi cemas luar biasa. Air matanya yang baru saja kering kembali jatuh membasahi pipi—kali ini karena khawatir akan keselamatan Ryan Wayne. Dengan suara yang gemetar penuh kepanikan dia berkata,"Ryan Wayne, ayo cepat pergi dari sini sebelum terlambat! Kalau Henry Sora yang mengerikan itu benar-benar datang dan menghalangi jalan kita, kita semua akan mati dengan cara yang mengerikan!"Di luar dugaan semua orang, Ryan Wayne bahkan tidak bergeming atau menunjukkan ke
"Dasar bajingan sombong yang tidak tahu diri!" Gao berdiri dengan tenang sambil menatap Grey Luthor yang tergeletak dengan tatapan dingin. Dengan suara berat yang penuh ancaman dia melanjutkan, "Dengan kekuatan lemah sepertimu, aku bisa menendangmu sampai mati hanya dengan satu tendangan serius saja!""Seandainya bukan karena kebaikan hati tuanku yang mulia, kau pasti sudah menjadi mayat sekarang!"Tatapan mata Gao dipenuhi cahaya yang menyeramkan ketika berbicara—membuat semua yang menyaksikan merinding ketakutan."Astaga, bagaimana mungkin orang tua ini begitu kuat dan menakjubkan!" Britney Tosker berteriak dengan mata yang melotot tidak percaya. "Ini seperti adegan dalam film laga yang paling spektakuler!""Anak buah Ryan Wayne ternyata sebenarnya adalah seorang ahli bela diri sejati yang tersembunyi!" Maria Carrey menambahkan dengan suara yang bergetar karena shock.Melihat demonstrasi kekuatan yang luar biasa tersebut, mulut Maria Carrey dan Britney Tosker ternganga lebar—wajah
"Ryan Wayne, kamu..." Merry Liana yang mendengar pernyataan tegas tersebut menatap Ryan Wayne dengan mata yang membelalak penuh keheranan. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan dan kekaguman yang mendalam.Yang paling mengejutkan semua orang yang hadir di sana adalah kenyataan bahwa Ryan Wayne benar-benar berani melawan Grey Luthor secara langsung dan terang-terangan—dengan sikap yang begitu tegas dan tidak ada kompromi sedikitpun.Terlepas dari apakah Ryan Wayne benar-benar memiliki kemampuan untuk mendukung kata-katanya atau tidak, keberanian dan tekad yang ditunjukkannya saja sudah cukup menyentuh hati Merry Liana dengan dalam.Yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa Ryan Wayne selalu memanggilnya dengan sebutan hormat "Bu Dosen Liana"—menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada wanita dan memberikan perasaan yang menyegarkan serta menyenangkan di hatinya. 'Bagaimana mungkin Ferdinand Elbern yang bersikap seperti penjahat dan bajingan cabul itu bisa dibandingkan dengan Ryan Wayne y
"Tidak mau pergi dengan baik-baik?" Grey Luthor tersenyum tipis namun senyumnya tidak mencapai matanya yang dingin. Dengan nada yang berubah menjadi mengancam dia melanjutkan, "Kalau begitu sepertinya aku harus mengajakmu ikut dengan cara yang tidak menyenangkan!"Tatapan Grey Luthor kini berubah seperti predator yang menatap kelinci putih kecil yang sekarat dan tidak berdaya—atau seperti harimau ganas yang sudah mengunci target buruannya dan siap memangsa kapan saja."Nona Merry Liana, tolong ikuti kami dengan tenang!" Para teman dan pengikut Grey Luthor maju ke depan dengan gerakan yang terkoordinasi—mengancam akan menculiknya dengan paksa jika dia tidak mau bekerja sama dengan baik.Mata Merry Liana kini dipenuhi rasa takut dan putus asa yang mendalam. Air mata sebening kristal mengalir deras di pipinya yang halus seperti butiran manik-manik mutiara yang pecah satu per satu.'Begitu aku dibawa ke tempat mereka, hidupku akan seperti jatuh ke sarang harimau yang lapar—tanpa ada kes







