FAZER LOGINHarris sebenarnya tidak berniat memperpanjang masalah. Namun provokasi yang terus-menerus membuatnya kehilangan kesabaran. Dengungan yang berulang memang tidak melukai, tetapi cukup menjengkelkan.Aruna tertawa keras. “Kau pikir ucapanmu bisa mengubah kenyataan? Bahkan keluarga Arkana tidak bisa mengatur perusahaan keluarga Adhyra!”Arya ikut mencibir. “Aku ingin melihat bagaimana kau melakukannya.”Harris tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor.Tak lama kemudian, suara wanita terdengar dari seberang.“Halo?”Keira Adhyra.Senyum tipis muncul di wajah Harris. “Ini aku.”Nada suara di ujung telepon langsung berubah. “Tuan Harris?”Nada terkejut tidak bisa disembunyikan. Pertemuan sebelumnya masih meninggalkan kesan kuat bagi Keira, baik sikap Harris yang sulit dipahami maupun cara tegasnya menyelesaikan masalah.Harris berbicara singkat. “Ada seorang manajer umum bernama Arya di perusahaan keluarga Adhyra. Mulai hari ini—”Ia belum sempat menjelaskan lebi
Di aula keluarga Nasution, suasana membeku total. Semua orang terpaku. Mulut mereka terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.Kepala keluarga Arkana menghormati Harris Gunawan?Bahkan mengatakan dirinya tidak layak menjadi temannya?Bagaimana mungkin?Dari ujung sambungan telepon, suara Arman kembali terdengar. Nadanya jauh lebih sopan dibanding sebelumnya, bahkan cenderung merendah.“Saya mendengar bahwa Nona Sera Nasution telah bertunangan dengan Tuan Harris. Hari ini beliau datang berkunjung ke keluarga Nasution. Liontin Warisan Cakra dan gelang Giok Zamrud Primordial itu memang saya siapkan sebagai tanda penghargaan untuk Tuan Harris. Saya harap keluarga Nasution tidak keberatan menerimanya.”Galang terdiam sesaat sebelum buru-buru menggeleng.“Tidak… tentu tidak.”Keberatan?Nilai kedua benda itu mencapai angka yang bahkan sulit dibayangkan. Tidak ada seorang pun yang berani mengeluh, apalagi menolak.Suara Galang sedikit bergetar saat ia melanjutkan, “Terima kasih atas penjel
Keraguan sempat melintas di benak Galang. Mungkinkah Harris benar-benar memiliki hubungan dengan kepala keluarga Arkana?Namun pikiran itu segera ia buang. Arman adalah sosok berpengaruh di Kota Arcapura. Tidak masuk akal jika orang seperti itu memiliki kedekatan dengan pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang.Mustahil.Di sisi lain, Aruna mengibaskan tangannya dengan santai, seolah perkara ini sudah jelas. “Apa lagi yang perlu dipastikan? Semua sudah terlihat. Harris mencuri liontin dan gelang giok itu. Menurutku, lebih baik kita langsung mengikatnya dan menyerahkannya kepada Tuan Arman untuk dihukum.”Ezra tidak langsung menyetujui. Ia mengernyit, mempertimbangkan kemungkinan lain. “Kita harus berhati-hati. Jika kita salah langkah dan menyerahkannya begitu saja, bagaimana jika justru kita yang terkena dampaknya? Jangan lupa, Harris masih memiliki hubungan pertunangan dengan Sera.”Aira tertawa ringan, seolah persoalan itu sangat sepele. “Itu mudah, kita katakan saja pertunangan i
Suasana aula mendadak terasa pengap dan berat.Wajah Ezra dan Aira memucat drastis. Ekspresi mereka kaku, seolah baru saja menelan sesuatu yang amat menjijikkan. Tak satu pun dari mereka pernah membayangkan bahwa Harris, pemuda yang mereka anggap tak berguna, justru datang membawa harta yang nilainya mampu menghancurkan logika.Mereka baru saja menuduh liontin itu palsu. Sekarang kenyataan menampar mereka tanpa ampun.Di sisi lain, Aruna menggenggam tangannya begitu erat hingga ujung kukunya menekan telapak kulit. Dadanya naik turun tak beraturan.“Tidak mungkin…” gumamnya lirih. “Ini tidak masuk akal…”Baru beberapa menit lalu, ia masih mengejek Harris tanpa ampun. Kini, ejekan itu berubah menjadi bumerang yang menghantam wajahnya sendiri.Sementara itu, Arya berdiri kaku. Wajahnya panas, seakan baru saja ditampar di depan umum. Ia teringat kata-katanya sendiri tentang rumah, mobil, pekerjaan, bahkan hinaan soal membersihkan toilet. Sekarang semuanya terdengar seperti lelucon murahan
Satu kata itu membuat udara di aula seolah membeku.Arya Mahendra terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya memerah oleh amarah. Tatapannya menusuk Harris seperti ingin mencabik-cabik.“Ulangi,” katanya dingin. “Kalau kau punya nyali, ulangi sekali lagi!”Harris tidak bergeming. “Keluar!”Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi, namun justru itulah yang membuatnya terdengar menekan.“Kau sendiri yang cari mati!” Arya melangkah maju dengan wajah bengis.Namun sebelum ia sempat mendekat, sesosok tubuh ramping berdiri di depan Harris.“Cukup!” Sera membuka kedua tangannya. “Kau tidak boleh menyentuh dia.”Langkah Arya terhenti, amarah di wajahnya bercampur ragu. Ia tidak berani benar-benar menyentuh Sera.Ia mendengus dan menatap Harris dengan sinis. “Baik, aku beri kau kesempatan terakhir. Tinggalkan Sera, dan aku akan membiarkan semua ini berlalu. Kalau tidak, kau akan dipermalukan sampai tidak bersisa.”Setelah itu, ia mundur dengan ekspresi puas, seolah yakin Harris sudah berada di uj
Satu berisi liontin giok bermotif burung roc, pahatan halus dan berwibawa. Yang lain, sepasang gelang giok hijau zamrud, bening dan hangat.Tarikan napas terdengar di sekeliling ruangan.Namun Aira tetap mencibir. “Giok palsu pun sekarang bisa dibuat seperti ini. Kau kira kami bodoh?”Ucapan itu membuat ekspresi beberapa orang berubah. Keraguan mulai muncul.Tatapan ke arah Harris pun kembali dingin.Wajah Arvin dan istrinya tampak kelam. Kemasannya memang mewah, namun jika isinya benar-benar palsu, maka itu bukan sekadar kesalahan, melainkan penghinaan.Aira melangkah maju tanpa ragu. Ia mengambil liontin giok itu, memeriksanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke meja dengan suara keras. “Menjijikkan,” katanya dingin. “Ini bukan hanya barang murah, tapi jelas bekas pakai. Memberi hadiah seperti ini, apa kau tidak punya rasa malu?”Ia segera mengeluarkan tisu dan menggosok tangannya berulang kali, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Ekspresi Arvin semakin mengeras. Sisa







