Se connecter
Aroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah, seolah hanya bisikan transaksi miliaran rupiah yang pantas terdengar di sini.
Di tengah kemewahan itu, Harris Gunawan berdiri seperti sebuah sketsa usang yang salah tempat. Setelan jas murah yang dipinjamnya tampak kusam di bawah lampu gantung megah, dan kerahnya sedikit berjumbai. Lima tahun di balik jeruji besi telah mengikis semua cahaya dari dirinya, meninggalkan sepasang mata yang terlalu dalam dan diam. Dia tidak bisa bicara. Jerat kawat panas yang membakar pita suaranya di penjara telah memastikan itu.
Pandangannya terkunci pada dua sosok di panggung kecil di ujung aula. Sera—istrinya, dan Simon—sahabatnya. Tatapannya kosong, dipenuhi dengan keterkejutan yang mendalam.
Sera dalam balutan gaun malam berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, tampak seperti dewi. Di sisinya, Simon tersenyum puas, satu tangannya melingkari pinggang Sera dengan posesif. Mereka adalah raja dan ratu malam ini.
"Harris, aku tidak menyangka kau punya nyali untuk datang," bisik sebuah suara di sampingnya.
Harris menoleh. Itu Sera. Entah sejak kapan wanita itu sudah turun dari panggung dan berdiri di hadapannya. Senyum di bibirnya indah, namun matanya sedingin es.
"Lihat dirimu," lanjutnya, suaranya pelan agar hanya Harris yang mendengar, namun setiap katanya adalah tamparan. "Seorang narapidana yang bau terasi, berani menginjakkan kaki di perayaanku? Kau tahu, jas yang kau pakai itu bahkan tidak seharga satu botol anggur di meja sana," timpalnya seraya melirik ke arah meja nomor 8.
Harris mengepalkan tangannya di dalam saku. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Dia ingin berteriak, ingin memaki, ingin menanyakan kenapa. Tapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah sunyi. Keheningan yang memuakkan.
"Oh, aku lupa," Sera terkekeh pelan, sebuah suara merdu yang kini terdengar mengerikan. "Kau bahkan tidak bisa memohon lagi, ya? Mesin jahit kecilku yang malang."
Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, aroma manis parfumnya menusuk hidung Harris. "Dengar, Harris. Semua aset keluargamu, semua yang kakekmu bangun, sudah kujual. Ludes. Sekarang kau bukan siapa-siapa. Hanya pecundang bisu yang tidak punya apa-apa."
Dunia Harris seakan runtuh untuk kedua kalinya. Lima tahun lalu, dia menyerahkan segalanya pada wanita ini atas nama cinta, masuk penjara untuk menutupi kesalahannya. Dia pikir pengorbanannya akan dihargai. Betapa bodohnya.
Amarah, panas dan membara, akhirnya meluap. Dia menatap Sera dengan tatapan membunuh, mengambil satu langkah maju.
"Eits, mau apa kau?" Suara Simon memotong. Pria itu kini berdiri di antara mereka, senyum mengejek terpasang di wajahnya. "Jangan galak begitu, sobat. Kau harusnya berterima kasih padaku."
Simon merangkul bahu Harris dengan sok akrab, cengkeramannya terasa menyakitkan. "Istrimu kesepian selama kau pergi. Kalau bukan aku yang dengan baik hati menemaninya... yah, kau tahu, kan? Bahkan di malam pernikahan kalian saat kau mabuk seperti babi, akulah yang menunaikan ‘tugas’mu."
Tawa pecah di sekitar mereka. Beberapa tamu yang mendengar percakapan itu mulai menatap dengan senyum sinis. Badut pertunjukan telah tiba.
Cukup.
Sebuah raungan tanpa suara meledak di dalam dada Harris. Logika lenyap, digantikan oleh insting murni untuk menghancurkan. Dia menerjang maju, meninju wajah Simon yang terkejut.
Tapi itu hanya satu pukulan. Simon yang tubuhnya lebih besar dan terawat, segera membalas. Sebuah bogem mentah menghantam rahang Harris, membuatnya terhuyung. Sebelum dia bisa kembali seimbang, Sera bergerak.
KRAAK!
Nampan logam berisi gelas kosong diayunkan dengan kekuatan penuh ke belakang kepala Harris. Rasa sakit yang tajam meledak, diikuti oleh sensasi hangat dari darah yang merembes ke rambutnya. Pandangannya kabur, dan lututnya lemas. Dia jatuh ke karpet tebal, suara tawa di sekelilingnya terdengar menjauh.
"Aku akan memberitahumu satu rahasia lagi, anjing," desis Simon, berjongkok di sampingnya. Bau alkohol dari napasnya membuat Harris mual. "Semua 'kecelakaan' yang kau alami di penjara? Pisau di punggungmu, kawat panas di lehermu? Itu semua ide cemerlang Sera. Kami tidak menyangka kau bisa selamat. Tapi lihatlah, kau jadi bisu. Hasil yang cukup bagus, bukan?"
Sambaran petir. Itulah rasanya.
Pengorbanan, harapan, cinta... semuanya ternyata hanya lelucon kejam yang mereka rancang. Air mata panas bercampur dengan darah mengalir dari pelipisnya. Dia tidak membenci mereka. Dia membenci dirinya sendiri.
"Buang sampah ini," perintah Simon kepada petugas keamanan.
Tubuh Harris diseret tanpa perlawanan, melewati tatapan-tatapan menghina, dan dilempar ke gang belakang hotel yang gelap dan basah. Hujan mulai turun, dingin dan menusuk, membersihkan darah dari wajahnya, namun tidak bisa memadamkan api di dalam jiwanya.
Dia terbaring di selokan yang bau, air hujan yang kotor merembes ke dalam lukanya. Seekor tikus melintas di dekat kakinya. Dia tidak peduli. Dia hanya menatap langit kelabu, sebuah tekad yang mengerikan mulai terbentuk di dalam hatinya yang hancur.
‘Aku tidak akan mati di sini. Aku akan kembali. Dan aku akan mengambil semuanya.’
Saat kesadarannya mulai memudar, sepasang lampu mobil yang menyilaukan menembus kegelapan gang. Sebuah Bentley hitam berhenti dengan anggun. Pintu belakang terbuka, menampakkan sepasang kaki jenjang berbalut stoking sutra hitam, diakhiri dengan sepatu hak tinggi berwarna biru malam.
Seorang wanita dengan aura sedingin es keluar dari mobil. Gaunnya yang pas di badan tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang sempurna. Di tengah hujan lebat, wajahnya tetap tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak berarti.
"Nona, dia—" seorang pengawal berpayung mencoba bicara.
"Diam," potong wanita itu, suaranya tajam namun merdu. Dia melangkah mendekat, air hujan membasahi ujung gaunnya. Matanya yang tajam menatap wajah Harris yang babak belur. "Jadi, ini tunangan yang Kakek pilihkan untukku? Pewaris keluarga Gunawan... berakhir seperti ini?"
Ada nada keraguan dalam suaranya, tapi kemudian matanya menangkap kilau samar dari balik kemeja Harris yang robek. Sebuah liontin giok. Sama persis dengan yang melingkar di lehernya.
"Bawa dia," perintahnya dengan dingin. "Ke kamarku."
Saat Bentley itu melesat menembus malam, tak ada yang menyadari bahwa di gang kotor itu, takdir baru saja memutar rodanya. Sang Dokter Dewa, yang tertidur selama beberapa generasi, mulai membuka matanya.
Keesokan harinya.Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela jendela, menyapu kamar dengan warna keemasan yang hangat.Di atas tempat tidur, Harris perlahan membuka matanya. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Sera yang berada sangat dekat di depannya. Napas hangat wanita itu menyapu pelan wajahnya, membawa aroma lembut yang samar.Harris tersenyum kecil, ia berusaha bangun tanpa suara agar tidak membangunkan Sera. Namun baru saja tubuhnya bergerak sedikit.Bruk.Sera langsung memeluknya lebih erat seperti gurita yang takut mangsanya kabur. Semakin Harris mencoba bergerak, semakin kuat wanita itu menempel padanya. Melihat tingkah itu, Harris hanya bisa terkekeh pelan sebelum mengulurkan tangan dan mencubit hidung kecil Sera dengan gemas.“Sudah bangun masih pura-pura tidur? Cepat lepaskan.”Sera mengerutkan hidungnya sambil tetap memejamkan mata. Suaranya terdengar malas dan manja. “Tidak mau… Aku mau tinggal sedikit lebih lama.”Nada lembut itu langsung membua
Harris berdiri diam di tempat sambil memperhatikan punggung mereka menjauh. Tanpa sadar, senyum kecil kembali muncul di wajahnya. Meskipun kepribadian Evelyn di kehidupan ini sedikit berbeda dari yang dia ingat, ada beberapa hal yang memang tidak pernah berubah.Baik dulu maupun sekarang, Evelyn tetaplah wanita dengan harga diri dan kemauan sekeras baja. Dia tidak akan pernah menerima pria yang lebih lemah darinya.Karena itulah Harris sengaja mengatakan akan mengalahkannya dalam satu tahun. Itu satu-satunya cara.Selain itu, Harris tiba-tiba teringat wajah Rudolf dan tidak bisa menahan senyum geli. Bantuan calon adik iparnya tadi memang cukup besar. Kalau ada kesempatan nanti, mungkin dia benar-benar harus mentraktir pria itu makan besar.Setidaknya untuk membalas bantuan kecilnya hari ini.Secara keseluruhan, hasilnya jauh lebih baik dari perkiraannya. Namun begitu memikirkan kembali janji satu tahun tadi, sorot mata Harris perlahan berubah serius.Ia mengembuskan napas pelan. “Sepe
Evelyn memang sempat terdiam beberapa saat, tetapi rasa jijik di wajahnya perlahan memudar. Sebaliknya, sorot matanya justru berubah sedikit berbeda saat memandang Harris.“Ah…?” Wanita itu terkekeh pelan. “Bagus! Menarik…”Evelyn melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Harris lebih dalam dari sebelumnya. “Awalnya kupikir kau akan menunduk, memohon belas kasihan, lalu meminta kesempatan dariku seperti pria-pria tidak berguna lainnya.” Bibirnya melengkung tipis. “Pengecut seperti itu bahkan tidak layak mendapat perhatianku.”“Namun kau tidak melakukan itu.”“Sebaliknya, kau justru mengatakan akan mengalahkan dan menaklukkanku dalam satu tahun?” sorot mata Evelyn semakin tajam, tetapi kali ini bukan lagi penuh penghinaan. “Entah itu keberanian atau kesombongan… setidaknya kau punya nyali.”Suasana ruangan mendadak sunyi.Rudolf bahkan sampai menahan napas tanpa sadar. Karena dia tahu betul, ini adalah pertama kalinya Evelyn benar-benar mengakui seseorang.Kemudian, di tengah ke
Evelyn tetap memasang ekspresi datar. Sepasang matanya mengamati Harris dari atas ke bawah dengan sorot tajam seolah sedang menilai sesuatu yang bahkan tidak layak diperhitungkan. Beberapa saat kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh penghinaan.“Cih! Hanya seorang kultivator Fase Resonansi, tetapi sudah berani bermimpi setinggi langit. Apa kau tahu berapa banyak jenius di dunia kultivasi yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melihatku dari dekat?”“Kau ingin menikah denganku?” Evelyn menyipitkan mata. “Menurutmu, apa yang membuatmu pantas?”Nada suaranya tajam dan menusuk tanpa sedikit pun memberi muka.“Kakak!” Rudolf mengernyit keras. Ucapan itu terlalu berlebihan.Namun Evelyn sama sekali tidak mempedulikannya. Tatapannya tetap tertuju lurus pada Harris, seolah sedang menunggu bagaimana pria itu akan bereaksi setelah dihina habis-habisan.Akan tetapi, di luar dugaan mereka, Harris tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun. Pria itu justru menganggu
Kalimat itu membuat tubuh Evelyn sedikit membeku. Tatapannya perlahan berubah rumit. Sejak kecil, seluruh hidupnya memang hanya berpusat pada adiknya. Ia bekerja keras demi adiknya. Berkultivasi tanpa henti demi melindunginya.Bahkan semua tekanan yang ia tanggung selama bertahun-tahun di Sekte Cakrawala Arunika tidak pernah ia pedulikan selama Rudolf baik-baik saja. Namun sekarang, adik laki-lakinya justru berdiri di depannya dan mengatakan hal seperti itu.“Aku tahu kau sudah banyak berkorban untukku sejak kecil,” Rudolf menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Karena itu, aku juga ingin kau punya kehidupanmu sendiri.”Tatapan Evelyn sedikit bergetar, aura dingin di sekelilingnya perlahan melemah.Sementara itu, Harris hanya berdiri diam di samping sambil menatap mereka. Ekspresinya tanpa sadar menjadi lebih lembut. Ia memahami perasaan Rudolf lebih baik daripada siapa pun.Di kehidupan sebelumnya, kematian Rudolf adalah luka terbesar yang menghancurkan Evelyn sepenuhnya. Itulah aw
Di sana, berdiri sebuah sosok anggun dengan pakaian putih yang berkibar pelan diterpa angin malam. Rambut hitam panjangnya bergerak lembut di bawah cahaya bulan. Wajah cantik yang nyaris sempurna perlahan terlihat jelas.Evelyn Ardena.Di bawah cahaya bulan yang redup, Evelyn berdiri dengan tenang, sementara sebuah pedang panjang bersarung berada di tangannya. Wajah cantiknya terlihat dingin dan tanpa emosi, seolah sosok yang baru keluar dari lukisan kuno. Tatapannya turun perlahan ke arah Harris.Sementara itu, Harris hanya berdiri diam. Matanya terpaku pada sosok di atas paviliun tanpa bergeser sedikit pun. Meskipun ia sudah lama menduga Evelyn akan datang mencarinya, saat benar-benar melihat wanita itu berdiri di hadapannya, emosi yang selama ini ia tahan akhirnya kembali berguncang.“Hampir tidak berubah...” gumam Harris pelan.Tatapannya perlahan melembut. “Evelyn... sudah lama sekali.”Alis Evelyn langsung berkerut tipis. Ia merasakan sesuatu yang aneh dari tatapan Harris. Selam
Namun saat itu, telinganya menangkap suara sangat pelan dari arah kamar mandi.Ia tersenyum miring. “Ah… jadi masih ada satu lagi.”Ia menatap Reno dengan mata dingin. “Kalau kau tak patuh, aku akan membunuh orang tuamu. Dan adikmu yang bersembunyi di kamar mandi.”Ia tertawa pelan. “Berapa umurnya
Namun Kayla tetap berdiri di tempatnya. “Aku tidak akan membiarkanmu maju.”Sikap keras kepala Kayla membuat kepala Harris Gunawan terasa berdenyut. Ia tahu gadis itu tidak bermaksud buruk. Bahkan, mereka pernah menghabiskan waktu bersama. Justru karena itulah Harris berada dalam dilema, ia tak mun
“Lihat makhluk itu, dia berubah!” Suara Liora terdengar tegang, nyaris tenggelam oleh dengungan medan yang kembali hidup. Cahaya biru berkedip tak stabil, seperti denyut nadi yang dipaksa bekerja di luar batas.Harris berdiri di tengah ruang rawat, matanya tajam. “Apakah dia sedang berusaha meniru?
Harris mengangkat tangannya, menghentikan langkah Liora sebelum wanita itu benar-benar berbalik. “Liora.” Suaranya datar, namun mengandung perintah yang sulit diabaikan. “Jangan sentuh Sera.”Liora menatap tangannya sendiri yang terhenti sebelum menaikkan wajah, ia menatap Harris dengan tatapan pen







