LOGINAlif sudah ditinggalkan ayahnya sejak lama, ia tinggal berdua dengan ibunya yang sudah tua renta, almarhum ayahnya mewarisi beberapa perak kebun sawah untuknya. Alif kecil terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan salak kelilinh di sela-sela waktu luangnya sehabis pulanh sekolah. karena Emak Alif sudah tua renta, ia tidak mungkin mencari nafkah dalam usianya yang sudah tua itu. Alif bertekad untuk membahagiakan emaknya untuk membelikan ketupat opor serta baju gamis baru. Ketika Alif sedang istirahati masjid Alif bertemu dengan Rendi dan Nayla, ternyata wajah Alif mirip sekali dengan anak Rendi dan Nayla yang sudah meninggal beberapa waktu lalu. Mak Alif pun meninggal secara tiba-tiba, karena sebatang kara Alifpun menjadi anak angkat rendi dan juga Nayla yang kaya. Akankah Alif bahagia tinggal bersama mereka?
View MoreThe emerald silk felt like armour—beautiful, expensive, suffocating. Alexander had laid it out on our bed this morning, along with the diamond earrings and the Louboutin heels I could barely walk in. No discussion. No choice.
I navigated the Four Seasons ballroom like a minefield, champagne flute in hand, smile fixed in place. Across the room, Alexander stood with a group of investors, his posture relaxed, his laugh easy. But I could feel his eyes on me. Always on me. "You look beautiful, Elena," said Jenna, Marcus's wife, her hand resting on her pregnant belly. Seven months along with their second child. "That colour is stunning on you." "Thank you," I murmured, smoothing the silk. Marcus grinned. "Jenna's been craving Thai food at two in the morning. I'm basically a delivery service now." I laughed—a real laugh—remembering when life felt that simple. "Elena Rodriguez?" I turned. A young man approached, his face lighting with recognition. David Chen. We'd worked together at Morrison Gallery years ago, back when I had a career, an identity beyond Mrs. Alexander Blackwood. "David! How are you?" "Great! I'm a curator now. Can you believe it?" His enthusiasm was infectious. "I always said I learned everything from you." Pride flickered in my chest—a feeling so foreign I almost didn't recognize it. "That's wonderful. Congratulations." "We actually have an opening for a consultant position. You should—" He said something funny—I don't remember what—and I laughed. I really laughed, the sound escaping before I could stop it. Then I felt it. The hand on my waist came from behind, fingers spreading across my ribs. Not gentle. Never gentle anymore. "Darling," Alexander's voice was warm honey poisoned with arsenic. "We should mingle. The Hendersons are leaving soon." His fingers pressed harder, hidden by the drape of my dress. Pain bloomed beneath his touch. My smile never faltered—I'd learnt that trick well. "Of course," I said smoothly. "David, it was lovely seeing you." "Wait, let me give you my—" But Alexander was already steering me away, his hand a vice on my waist. I caught David's confused expression and Marcus's concerned one. "Who was that?" Alexander's voice was low in my ear, dangerous. "David Chen. We worked together at Morrison—" "You were laughing." Each word was precise and controlled. "Loudly. Everyone could hear you." "I was just being polite—" His fingers dug deeper into my ribs. I kept smiling, aware of the cameras, the watching eyes. Mrs. Alexander Blackwood, perfect wife, living the dream. Across the room, Catherine Blackwood stood with her society friends, elegant in silver Chanel. Our eyes met. She'd seen everything—the possessive grip, my rigid smile, the way I'd gone very still. She looked away. She always looked away. Near the bar, Vincent Blackwood held court, his booming laugh carrying across the ballroom. Alexander's father, who'd cheated on Catherine more times than anyone could count. Who'd taught his son that women were possessions to be controlled? The apple didn't fall far. I saw Sarah across the room, my best friend, making her way toward me. Her expression was worried and determined. "We need to say goodbye to the Hendersons," Alexander said, smoothly changing direction. I caught Sarah's eyes. Wanted to mouth ‘I'm okay’, but the lie wouldn't come. Because I wasn't sure it was true anymore. The car ride home was silent. Deadly silent. I sat perfectly still in the back of the town car, hands folded in my lap, watching Seattle's lights blur past tinted windows. The driver was present but ignored, separated by the privacy screen. I knew what was coming. I always knew. "You embarrassed me tonight." My stomach dropped. "Alexander, I was just being polite—" "Polite?" His laugh was sharp, cutting. "You were flirting. I saw how you looked at him." "I wasn't—" "Don't lie to me, Elena. I know what I saw." His voice was cold, controlled. "Throwing your head back, laughing like he was the funniest man alive. While I'm trying to close deals with investors." "It was just a colleague from—" "You're always so defensive. You know who gets defensive? Guilty people." My hands shook in my lap. Every word I said became evidence against me. Every explanation twisted into confession. There was no right answer. There never was. The car pulled into our building's parking garage. Concrete and fluorescent lights and nowhere left to run. "Give me your phone," Alexander said. My stomach dropped. "What? Why?" "If you have nothing to hide, it shouldn't be a problem." I handed it over with trembling fingers. Resistance only made things worse. I'd learnt that lesson too many times. He scrolled through my messages, his face illuminated by the screen's glow. I watched him search for crimes I hadn't committed, for evidence of betrayals that existed only in his mind. "Who's 'M'?" he asked, his voice sharp. "That's Marcus. Your brother." "Why is he texting you?" He held up the phone, showing me the innocent message: Coffee soon? "He was inviting both of us. For coffee with him and Jenna—" "When did this start? You and my brother texting?"Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..
Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun
Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada
“Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m
Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh R
“Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbari
KETUPAT UNTUK EMAK“Daffa, Daffa Sayang, kemana aja kamu, Nak?” Seorang perempuan muda memeluk Alif yang tengah tertidur di teras masjid.Alif terbangun karena pelukan dari perempuan tersebut serta suara berisik dari mulut perempuan itu. Ia mengerjapkan kedua matanya dan berusaha mencari tahu apa ya
Degh! Jantung Alif seolah berhenti berdetak saat itu juga. Nafasnya seakan tercekat di tenggorokan, peluh sebesar biji jagung mulai keluar dari pori-pori kulitnya."Pa, palsu? Kok bisa Mbak?" tanya Alif sambil tergagap."Ya mana saya tahu!"jawabnya dengan tatapan sinis.Alif pun mengambil uang itu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews