Share

Bab 3

Author: Skyy
last update publish date: 2025-09-22 19:33:46

Mendengar suara itu, Harris tidak tersentak. Dia hanya menoleh perlahan, matanya yang kini jernih dan tajam bertemu dengan tatapan dingin wanita itu. Di masa lalu, komentar sarkastis seperti itu akan membuatnya menunduk malu. Kini, dia hanya merasakan ketenangan yang aneh.

Pengetahuan yang membanjiri benaknya telah mengubah bukan hanya tubuhnya, tetapi juga cara dia memandang dunia. Dia bisa melihat ketegangan tipis di bahu Queen, tarikan napasnya yang terkontrol, dan aura ambisi sedingin es yang mengelilinginya.

Dia duduk tegak di ranjang, seprai sutra yang mahal bergeser tanpa suara. "Kecoak bertahan hidup," balas Harris, suaranya masih sedikit serak tetapi mantap. "Aku tidak hanya bertahan. Aku akan berkembang biak."

Queen berhenti di tengah ruangan, sedikit terkejut oleh respons yang tidak terduga itu. Dia mengharapkan seorang pria yang hancur dan berterima kasih, bukan seseorang yang balas menatapnya dengan percikan pemberontakan di matanya. Dia menyembunyikan keterkejutannya dengan baik, wajah mulusnya tetap tanpa ekspresi.

"Baguslah kalau begitu," katanya sambil berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke taman yang basah oleh hujan. "Karena aku tidak menyelamatkanmu untuk melihatmu merengek. Anggap saja ini investasi."

"Investasi?" tanya Harris, nadanya tenang, mengundang penjelasan.

"Kakekku, Hardi Hendrawan, dan kakekmu, Devin Gunawan, adalah sahabat lama," Queen mulai menjelaskan, tatapannya menerawang ke luar jendela. "Sebelum mereka meninggal, mereka membuat perjanjian bodoh, cucu-cucu mereka akan dinikahkan untuk menyatukan kekuatan medis keluarga Gunawan dan kekuatan finansial keluarga Hendrawan."

Dia berbalik, menatap Harris dengan intensitas seorang CEO yang sedang menilai aset. "Liontin giok itu adalah buktinya. Aku menyelamatkanmu karena liontin itu membuktikan siapa dirimu. Setidaknya, siapa dirimu ‘dulu’."

Harris tetap diam, membiarkannya melanjutkan. Setiap kata yang keluar dari mulut Queen adalah kepingan teka-teki dari kehidupannya yang tidak pernah ia ketahui.

"Keluargaku," lanjut Queen dengan sedikit nada pahit, "Terdiri dari sekumpulan serigala tua yang tidak sabar untuk menjualku kepada penawar tertinggi demi memperluas pengaruh mereka. Mereka menekanku untuk menikah. Dengan memiliki tunangan—pewaris sah dari keluarga Gunawan yang legendaris—aku bisa membungkam mereka untuk sementara waktu."

Dia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya. "Ini adalah transaksi, Harris. Kau butuh tempat untuk pulih, sumber daya untuk membalas dendam pada pasangan pengkhianat itu. Aku bisa memberimu semua itu—uang, informasi, koneksi. Sebagai gantinya, kau akan memainkan peranmu sebagai tunanganku. Kau akan menjadi perisaiku."

Sebuah tawaran yang menggiurkan bagi siapa pun yang berada di posisi Harris beberapa jam yang lalu. Tapi Harris yang sekarang bukan lagi orang yang sama. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya.

"Perisai, katamu?" Harris menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak tertarik menjadi perisai seseorang, Nona Hendrawan. Perisai adalah benda pasif. Dihantam, ditangkis, dan pada akhirnya bisa retak dan dibuang."

Dia turun dari ranjang, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan dirinya sendiri. Dia berjalan mendekati Queen, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk mengubah dinamika ruangan. Kini, mereka berdiri berhadapan sebagai dua kekuatan yang setara.

"Kau salah menilai situasinya," lanjut Harris, suaranya kini terdengar lebih kuat, lebih dalam. "Kau tidak sedang menawarkan perlindungan. Kau sedang memohon bantuan. Kau butuh seseorang yang cukup kuat untuk berdiri di sisimu dan membuat para serigala tua di keluargamu berpikir dua kali. Seorang pecundang yang baru keluar dari penjara tidak akan bisa melakukan itu."

Mata Queen menyipit berbahaya. "Jaga bicaramu. Kau masih berada di rumahku, hidup karena kemurahan hatiku."

"Dan kau masih terjebak dalam sangkar emasmu, hidup di bawah belas kasihan para tetua," balas Harris tanpa gentar. "Kita berdua butuh sesuatu. Jadi, mari kita buat kesepakatan yang lebih jujur."

Dia menatap lurus ke dalam mata wanita itu, pikirannya yang tajam menganalisis setiap detail. "Ini bukan pernikahan, dan aku bukan tunanganmu. Ini adalah aliansi. Aku tidak akan menjadi perisaimu. Aku akan menjadi senjatamu. Aku akan menjadi solusi untuk masalah keluargamu, momok yang akan membuat musuh-musuhmu tidak bisa tidur nyenyak."

Napas Queen tertahan sejenak. Keberanian pria di hadapannya ini sungguh di luar dugaan.

"Sebagai gantinya," Harris menyimpulkan, nadanya final, "Semua sumber daya keluarga Hendrawan akan menjadi milikku untuk digunakan. Bukan sebagai hadiah, bukan sebagai pinjaman. Anggap saja aku sedang menyewa kekuatan keluargamu untuk menyelesaikan masalahku. Setelah aku mendapatkan kembali semua milikku dan menghancurkan mereka yang mengkhianatiku, aliansi kita berakhir. Kau bebas, aku bebas."

Keheningan menyelimuti ruangan. Ketegangan di antara mereka terasa nyata, seperti senar yang ditarik kencang hingga nyaris putus. Queen menatap Harris, benar-benar melihatnya untuk pertama kali. Pria di hadapannya bukan lagi pecundang dari selokan. Ia adalah seekor naga yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Setelah beberapa saat keheningan, senyum tipis yang dingin dan misterius terukir di bibir merah Queen. Tawa kecil yang kering keluar dari tenggorokannya.

"Menarik," desisnya, matanya berkilat dengan kalkulasi yang dingin. "Sangat menarik. Aku tidak pernah menyangka pewaris Gunawan ternyata memiliki taring."

Dia mengulurkan tangannya yang ramping dan terawat. "Baiklah, sekutu. Aku terima aliansimu."

Harris tidak menjabat tangannya. Sebuah gestur persetujuan antar pebisnis. Hubungan mereka lebih dari itu. Dia hanya mengangguk sekali.

"Lalu, apa langkah pertamamu?" tanya Queen, langsung beralih ke mode strategis. "Kudengar Simon dan Sera akan menghadiri Pameran Giok Keluarga Wijaya besok malam. Mereka sedang berusaha keras merebut hati Tuan Besar Hidayat."

Harris mengangkat sebelah alisnya. "Tuan Hidayat? Penguasa properti di pesisir selatan itu?"

"Tepat," Queen mengonfirmasi. "Orang tua itu menderita penyakit misterius yang tidak bisa didiagnosis oleh dokter mana pun. Simon dan Sera mengincar 'Giok Penenang Jiwa', sebuah artefak langka yang akan dilelang besok. Mereka pikir dengan memberikan giok itu, mereka bisa memenangkan hati sang taipan dan mengamankan proyek reklamasi pantai."

Harris tersenyum dingin. Senyuman itu mengubah wajahnya, membuatnya tampak berbahaya. Di dalam benaknya, informasi tentang kondisi Tuan Hidayat muncul dengan jelas seolah dia baru saja membaca rekam medisnya. Penyumbatan energi di meridian jantung, diperparah oleh racun dingin yang langka. Memberinya giok dengan energi Yin yang kuat hanya akan mempercepat kematiannya.

"Mereka salah alamat," jawab Harris, matanya berkilat dengan cahaya yang tak terbaca. "Orang tua itu tidak butuh batu."

Ia berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung di udara, sebelum menyelesaikan kalimatnya dengan keyakinan mutlak yang membuat bulu kuduk Queen meremang.

"Dia butuh aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 369

    Sebelum membuka pintu, dia berbisik kepada orang yang diyakininya masih berada di belakang. "Target kemungkinan ada di kamar ini. Begitu bergerak, selesaikan secepat mungkin. Jangan buang waktu."Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Keheningan yang ganjil membuatnya mengernyit, lalu dia menoleh dengan waspada. Seketika, pupil matanya menyusut ketika mendapati lorong di belakangnya telah kosong tanpa jejak seorang pun.Rasa dingin langsung menjalar ke sekujur tubuhnya. Anak buahnya adalah pembunuh terlatih yang tidak mungkin bertindak sembarangan, apalagi meninggalkan posisi tanpa perintah. Namun, sejak awal dia tidak mendengar suara pertempuran, jeritan, ataupun tanda-tanda penyergapan. Mereka seolah menghilang begitu saja, ditelan oleh kegelapan.Pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal itu membuat napasnya mulai tidak teratur. Keyakinannya mulai runtuh karena musuh yang dihadapinya mampu melenyapkan tiga pembunuh berpengalaman tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Seolah bayan

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 368

    Mata Aurora langsung membelalak. Dia menoleh perlahan mengikuti arah pandang Harris.Di balik kaca kamar mandi, sesosok pria berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup topeng sedang bergantung terbalik di luar gedung. Kepalanya perlahan bergerak ke kiri dan kanan, mengintip ke dalam kamar mandi, seolah memastikan apakah masih ada orang di sana.Beruntung, Harris sudah lebih dulu bereaksi.Begitu lampu padam, dia langsung menarik Aurora menjauh dari area yang dapat terlihat dari jendela. Posisi mereka kini tersembunyi di balik sudut dinding, membuat pria bertopeng itu sama sekali tidak menyadari keberadaan keduanya.Melihat keadaan di dalam kamar mandi tampak aman, pria bertopeng itu perlahan membuka jendela tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dengan gerakan yang ringan dan terlatih, dia melompat masuk ke dalam.Seluruh proses berlangsung begitu senyap, nyaris tanpa suara.Sret!Namun, tepat saat kedua kakinya menyentuh lantai, kilatan cahaya merah darah melintas di depan matanya.S

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 367

    "Ahhhhhhh!"Jeritan yang jauh lebih nyaring langsung menggema memenuhi seluruh suite."K-kamu... keluar sekarang juga!"Aurora berseru dengan wajah semerah tomat. Dengan panik, dia meraih handuk mandi di dekatnya lalu segera membungkus tubuhnya. Matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Harris dengan campuran malu dan kesal, seolah air mata bisa jatuh kapan saja.Bagi pria kebanyakan, melihat Aurora dalam keadaan seperti itu mungkin akan membuat hati mereka goyah. Namun, Harris bukanlah pria biasa. Pengalaman hidupnya yang panjang telah menempa ketenangannya. Setelah sempat terkejut sesaat, dia segera memalingkan pandangan dan bersiap menutup kembali pintu kamar mandi.Tok! Tok! Tok!Tepat pada saat itu suara ketukan pintu terdengar."Nona Aurora! Apa yang terjadi? Apa Anda baik-baik saja?"Suara para pengawal terdengar penuh kepanikan dari balik pintu suite. Dari nada mereka, jelas mereka siap mendobrak masuk jika tidak segera mendapat jawaban.Aurora langsung tersentak, wajahnya semak

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 366

    Waktu berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa malam pun tiba.Pihak Hotel Cendana mengantarkan makan malam ke dalam kamar. Harris dan Aurora akhirnya keluar dari kamar masing-masing untuk makan bersama. Meski begitu, Aurora tampak sedikit murung. Sesekali dia melirik Harris dengan tatapan kesal yang membuat pria itu benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya.Usai makan malam, Harris tidak kembali berkultivasi. Kali ini dia memilih bersantai di sofa sambil menonton televisi. Tak lama kemudian, Aurora yang mulai bosan berada sendirian di kamar ikut keluar dan duduk di sampingnya untuk menonton bersama.Belum lama mereka menikmati acara di televisi, Aurora tiba-tiba mengernyit. Kepalanya sedikit dimiringkan, seolah sedang berusaha menangkap sesuatu."Apa kau mendengarnya?" bisiknya pelan.Mengira ada sesuatu yang mencurigakan, Harris langsung waspada. Dia mengecilkan volume televisi, lalu memusatkan seluruh indranya ke sekeliling kamar hotel.Beberapa detik kemudian, mereka akhirnya m

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 365

    Namun, Aurora segera mengangkat tangan untuk menghentikan Monica. "Kak Monica, tidak apa-apa." Dia menoleh ke arah Harris sambil tersenyum tipis. "Harris adalah teman Kirana. Aku percaya pada karakternya, dia bukan orang seperti itu."Monica membuka mulut, tetapi akhirnya memilih menghela napas dan duduk kembali. Dia masih menyimpan kekhawatiran, namun tidak ingin membantah keputusan Aurora di depan semua orang.Harris tetap terlihat tenang. Dia hanya menganggukkan kepala sebagai bentuk penghargaan atas kepercayaan tersebut. "Terima kasih atas kepercayaanmu, Nona Aurora."Aurora tersenyum lebih hangat. "Mulai sekarang, panggil saja aku Aurora."Setelah makan malam selesai, Kirana dan Sera berpamitan lebih dulu. Harris kemudian mengikuti Aurora menuju kamar yang telah dipesan di Hotel Cendana.Begitu pintu terbuka, Harris tidak langsung membiarkan siapa pun masuk. Dia terlebih dahulu memeriksa seluruh ruangan dengan teliti, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga setiap sudut yang b

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 364

    Harris kemudian berbalik menghadap Aurora. Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya ketika dia berkata dengan nada santai, "Nona Aurora, bagaimana keputusanmu? Tiga senjata kelas tinggi sebagai imbalan karena aku menjamin keselamatanmu selama tiga hari. Apa kau setuju?"Aurora masih belum sepenuhnya pulih dari rentetan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, dia menatap Harris dengan sorot mata yang jauh berbeda dari sebelumnya, lalu mengangguk tanpa ragu."Baik. Aku setuju."Setelah menyaksikan sendiri kekuatan Harris, Aurora tidak lagi ragu. Hampir tanpa berpikir panjang, dia langsung menyetujui kesepakatan untuk mempekerjakan Harris sebagai pengawal pribadinya selama tiga hari dengan imbalan tiga senjata kelas tinggi.Di mata Aurora, kesepakatan itu justru sangat menguntungkan. Tiga senjata kelas tinggi memang bernilai luar biasa, tetapi mendapatkan perlindungan dari seorang ahli seperti Harris jelas jauh lebih berharga.Tak lama kem

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 1

    Aroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah,

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 6

    "Sentuh aku, dan dia akan berhenti bernapas dalam sepuluh detik," ujar Harris, tatapannya terkunci pada putra Tuan Hidayat, Bima.Ada aura tak terbantahkan dalam dirinya, sebuah ketenangan sedingin es di tengah badai emosi, yang membuat kedua pengawal berbadan tegap yang maju menjadi ragu. Langkah

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 5

    "Kau sudah punya alatnya. Sekarang apa?" tanya Queen saat mereka berada di dalam Bentley, melaju tanpa suara melewati jalanan lengang di kawasan elite. Di dalam mobil, aroma kulit mahal berbaur dengan aroma samar kayu cendana dari kotak yang tergeletak di pangkuan Harris. "Kau tidak bisa langsung m

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 4

    Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"Sar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status