Share

Bab 4

Author: Skyy
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-22 19:35:06

Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"

Sarkasme dalam suaranya begitu kental, cukup untuk membuat pria normal mana pun merasa ciut. Tapi Harris hanya menatapnya dengan ketenangan yang membingungkan. Dia tidak membela diri, tidak juga menjelaskan sumber kekuatannya yang baru. Itu akan membuang-buang waktu. Sebaliknya, dia melukis sebuah gambaran dengan kata-kata, sebuah gambaran yang seharusnya tidak mungkin ia ketahui.

"Tuan Besar Hidayat tidak menderita penyakit," ujar Harris, suaranya tenang namun bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Dia diracun. Racun dingin yang bekerja sangat lambat, meniru gejala kegagalan organ alami."

Mata Queen sedikit melebar, keterkejutannya nyaris tak terlihat. Informasi itu sangat rahasia.

Harris melanjutkan, seolah sedang membacakan sebuah laporan dari dalam benak sang taipan. "Setiap malam tepat jam satu, dada kirinya terasa seperti ditusuk balok es, membuatnya sulit bernapas selama tepat sebelas menit. Denyut nadinya kacau—cepat di pergelangan kanan, nyaris tak terasa di kiri. Dan yang terpenting," Harris berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Queen, "Sia selalu melihat bayangan mendiang istrinya di sudut kamarnya saat demamnya memuncak. Benar, bukan?"

Keheningan total.

Wajah Queen yang biasanya seperti topeng porselen kini menunjukkan keretakan. Gejala terakhir itu adalah informasi yang hanya diketahui oleh dirinya, Bima Hidayat, dan dokter pribadi keluarga. Sebuah rahasia yang dijaga ketat untuk melindungi mental sang kakek tua.

"Bagaimana... bagaimana kau tahu semua itu?" bisik Queen, profesionalismenya goyah untuk pertama kali.

"Pengetahuan itu tidak penting," jawab Harris, melambaikan tangannya seolah menepis pertanyaan sepele. "Yang penting adalah solusinya. 'Giok Penenang Jiwa' itu memiliki energi Yin yang sangat dingin dan murni. Memberikannya pada Tuan Hidayat yang tubuhnya sudah dipenuhi racun dingin sama saja seperti menuangkan bensin ke dalam api. Giok itu tidak akan menyembuhkannya. Giok itu akan membunuhnya dalam waktu kurang dari seminggu."

Logika dalam penjelasan Harris, meski berakar pada konsep yang asing, terasa sangat masuk akal. Queen adalah seorang pebisnis ulung. Naluri utamanya adalah mengenali peluang dan menimbang risiko.

Di hadapannya berdiri sebuah anomali, seorang pria yang bangkit dari kematian, memiliki informasi mustahil, dan memancarkan kepercayaan diri yang nyaris arogan. Ini adalah pertaruhan dengan risiko tertinggi, namun dengan potensi keuntungan yang tak terbayangkan.

Jika Harris benar, dia tidak hanya akan mendapatkan kesetiaan penuh dari keluarga Hidayat, tetapi juga membuktikan nilai dari senjata barunya ini.

Dia menarik napas dalam-dalam, keputusannya telah dibuat. "Apa yang kau butuhkan?" tanyanya, nadanya kembali menjadi tajam dan efisien.

Harris tahu dia telah memenangkan babak pertama. "Aku tidak butuh uangmu," katanya, sebuah pernyataan yang lagi-lagi mengejutkan Queen. "Aku hanya butuh tiga hal. Pertama, satu set jarum perak kualitas terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Bukan jarum akupunktur biasa, cari yang dibuat oleh pengrajin ahli."

"Diatur," jawab Queen tanpa ragu, otaknya sudah memutar daftar kontak pemasok barang-barang langka.

"Kedua, aku butuh akses ke apotek herbal terlengkap di kota ini. Bukan toko obat modern, tapi yang tradisional. Aku akan pergi sendiri."

"Akan ku siapkan daftar dan mobilnya."

"Dan ketiga," Harris menatap pantulan dirinya yang samar di jendela, melihat pakaian rumah sakit yang dipakainya. "Aku butuh setelan jas yang layak. Aku tidak bisa menemui calon klien dengan penampilan seperti ini."

Satu jam kemudian, setelah mengenakan setelan Armani hitam yang pas di badan, Harris berdiri di depan sebuah toko tua yang terjepit di antara dua bangunan modern yang menjulang. Papan namanya yang terbuat dari kayu sudah lapuk, catnya terkelupas, menampakkan tulisan "Warisan Leluhur".

Aroma apek dari ribuan jenis herbal kering menyambutnya begitu ia mendorong pintu yang berderit.

Tempat itu remang-remang dan berdebu. Seorang pria tua dengan punggung yang sangat bungkuk sedang menata beberapa akar ginseng di etalase kaca yang retak. Setiap gerakannya tampak menyakitkan.

"Selamat datang," sapanya dengan suara serak, bahkan tanpa menoleh. "Cari apa, anak muda?"

Harris tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam memindai pria tua itu, mendiagnosis kondisinya dalam sekejap. Saraf lumbar terjepit, peradangan kronis, diperparah oleh aliran Qi yang tersumbat akibat terlalu lama duduk. Penderitaan selama puluhan tahun.

"Aku mencari jarum perak," jawab Harris. "Tapi sebelum itu, sepertinya Anda yang lebih membutuhkan bantuan."

Pria tua itu, Pak Lin, akhirnya berbalik dan tertawa getir. "Bantuan? Nak, aku sudah mencoba semua terapi di kota ini. Dokter, sinse, tukang urut. Punggungku ini sudah jadi temanku selama dua puluh tahun. Tidak ada yang bisa menolongnya."

"Boleh saya pinjam satu jarum akupunktur dari etalase Anda?" tanya Harris dengan tenang.

Pak Lin menatapnya dengan curiga, tetapi ada sesuatu dalam tatapan pemuda itu yang membuatnya mengangguk dan menyerahkan sebuah jarum biasa.

Harris mengambilnya. "Berdirilah tegak, Pak. Sebisa mungkin."

Dengan susah payah, Pak Lin mencoba meluruskan punggungnya, wajahnya meringis kesakitan. Tanpa peringatan, tangan Harris bergerak secepat kilat. Jarum di tangannya menjadi seberkas cahaya perak, menusuk dengan presisi sempurna di satu titik yang aneh—bukan di punggung, melainkan di lekukan belakang lutut kanan Pak Lin.

KLANG~

Sebuah sensasi seperti sengatan listrik ringan menjalar dari lutut Pak Lin langsung ke pinggangnya. Sumbatan yang telah menyiksanya selama dua dekade seolah hancur lebur. Rasa sakit yang tajam dan tumpul yang selalu ada, tiba-tiba lenyap.

Dia mengerjapkan matanya. Perlahan, dia mencoba membungkuk, lalu meluruskan punggungnya. Tidak ada rasa sakit. Sama sekali. Dia bahkan bisa berdiri tegak sempurna untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

"Ini... ini..." Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. Dia menatap Harris dengan campuran rasa tak percaya, syukur, dan kekaguman yang luar biasa. "Keajaiban!"

Harris hanya tersenyum tipis dan mencabut kembali jarum itu. "Hanya melancarkan yang tersumbat."

Pak Lin terisak, air matanya kini mengalir deras. Dia bergegas ke belakang toko, kembali dengan sebuah kotak kayu cendana yang sudah tua namun sangat terawat. Auranya terasa kuno dan kuat.

"Aku tidak punya uang untuk membayarmu atas keajaiban ini," katanya dengan suara bergetar. "Tapi ambillah ini. Ini adalah harta warisan keluargaku. Aku sudah terlalu tua dan tidak layak menyimpannya. Benda ini menunggu pemilik yang tepat."

Dia membuka kotak itu. Di dalamnya, di atas bantalan sutra merah yang sudah pudar, terbaring sembilan jarum perak. Jarum-jarum itu tidak seperti jarum biasa. Warnanya lebih pekat, dan di setiap pangkalnya terukir relief naga kecil yang tampak hidup. Saat kotak itu terbuka, Harris bisa merasakan gelombang energi hangat yang samar mengalir darinya, seolah jarum-jarum itu memanggilnya.

"Ini bukan jarum biasa, Nak," bisik Pak Lin, matanya penuh dengan kekhidmatan. "Ini adalah 'Sembilan Jarum Naga Langit'."

Dia berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Harris sebelum mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara penuh arti.

"Alat bagi seorang dewa."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 215

    Sementara itu, wajah Naira memerah. Ia menundukkan kepala, terlihat seperti gadis kecil yang baru saja dipuji.Tania Velora memperhatikan dengan tatapan aneh. Ada sesuatu yang berbeda.Naira yang biasanya tegas kini justru gelisah. Pipinya terus memerah, bahkan tak berani menatap Harris.Tania menyilangkan tangan, mengamati keduanya dari atas ke bawah. Semakin dilihat, semakin terasa, mereka tampak serasi.Akhirnya ia menghela napas dan maju. "Harris, aku mewakili Naira, terima kasih. Kalau bukan karena kamu, dia mungkin tak akan lepas dari bajingan itu hari ini."Ia sengaja membuka percakapan.Setidaknya, ia harus membantu sahabatnya mengambil langkah pertama.Tania sengaja memecah keheningan yang canggung di antara Harris dan Naira.Namun Harris hanya tersenyum tipis. "Itu cuma bantuan kecil."Baginya, tindakan itu wajar. Naira pernah membantunya, dan ia hanya membalas.Tania menyenggol lengan Naira, memberi isyarat agar gadis itu berbicara. Tetapi Naira justru menunduk makin dalam.

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 214

    Reyhan tertawa dingin. "Kau pikir cukup bilang ‘tidak suka’ lalu selesai? Aku yang meminjamkan uang. Tanpa aku, ayahmu sudah mati. Begitu balasanmu?"Mata Naira langsung memerah. "Itu tidak benar! Kau yang diam-diam membayar rumah sakit, lalu memaksaku meminjam darimu. Aku sudah bekerja selama liburan dan mengembalikan semuanya. Kita sudah tidak ada hubungan!"Suaranya bergetar.Reyhan mencibir. "Yang kau bayar cuma pokoknya. Bunganya? Dengan bunga majemuk, kau masih berutang seratus juta.""Seratus juta?" Tania meledak. "Biaya rumah sakit cuma empat puluh juta! Kau mau merampok?"Reyhan menatapnya dingin. "Aku bicara dengan Naira, diam!" Ia lalu kembali menatap gadis itu. "Kalau tak bisa bayar… nyawa ayahmu sebagai gantinya. Adil, kan?"Air mata Naira akhirnya jatuh.Melihat itu, Reyhan menyeringai. "Atau ada pilihan lain. Ikut denganku ke hotel malam ini. Serahkan dirimu dan bunga itu lunas. Bahkan mungkin kuberi dua juta. Tawaran yang bagus, bukan?"Tatapannya menjilat tubuh mungil

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 213

    Dari jendela lantai empat, seorang gadis terkejut. "Aduh! Salah orang!"Suara lain yang lembut segera menyusul. "Kalau begitu cepat turun, kita minta maaf."Beberapa saat kemudian, dua gadis berlari keluar. Salah satunya tinggi dan berotot dengan kulit gelap, sedangkan yang lainnya berwajah lembut dengan tubuh mungil dan aura tenang. Harris langsung mengenalinya.Naira Putri.Kenangan lama muncul. Di masa lalu, gadis ini pernah membantunya saat ia diintimidasi. Saat semua orang hanya menonton, Naira berdiri di depannya dan mengusir para perundung.Namun waktu itu ia terlalu rapuh untuk menerima bantuan, bahkan pergi tanpa berterima kasih. Sejak saat itu, setiap sapaan Naira ia abaikan, hingga mereka tak pernah lagi berbicara sebelum lulus.Itu menjadi salah satu penyesalan kecilnya.Kini, ia memiliki kesempatan untuk menebusnya.Naira berhenti beberapa langkah darinya, menatapnya ragu. "Kamu… Harris?"Ia hampir tidak mengenali pemuda di depannya. Dulu, Harris pendiam, berpakaian seder

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 212

    Ia tidak percaya dirinya yang seorabg jenius keluarga Valendra di Fase Fondasi, dikalahkan oleh seorang pemuda dari dunia fana. Rasa dingin menjalar di punggungnya, dan untuk pertama kalinya ia menyadari kesalahan besar yang baru saja ia buat.Di sisi lain, wajah Reynard benar-benar pucat. Harapan terakhirnya runtuh. Jika bahkan Darius kalah dalam satu pukulan, maka keluarga Mahatama tidak memiliki apa pun lagi untuk diandalkan.Ketakutan menyelimuti dirinya, dan sebuah pikiran mengerikan muncul, Keluarga Mahatama… benar-benar akan musnah.Ruanganan tenggelam dalam kesunyian.Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar pelan. Harris berjalan mendekati Darius dengan ekspresi datar, seolah hanya sedang berjalan santai."Apa… apa yang ingin kau lakukan?" suara Darius bergetar. Ia mundur tanpa sadar. Pukulan sebelumnya telah melumpuhkan lengannya dan mengguncang organ dalamnya. Setiap tarikan napas terasa seperti tubuhnya akan hancur.Harris berhenti di depannya. "Aku memberimu

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 211

    Mereka menatap mayat di lantai, wajah pucat, napas tersendat. Kultivator yang baru saja tewas adalah yang terkuat di antara mereka, hampir mencapai ambang Fase Fondasi berikutnya, namun ia terbunuh tanpa sempat melawan. Kesadaran itu menghancurkan sisa keberanian mereka.Tanpa ragu, sembilan orang itu menjatuhkan diri. Lutut mereka menghantam lantai, kepala tertunduk dalam. Sikap mereka berubah total—tak lagi sebagai petarung, melainkan manusia yang menyerahkan hidupnya.Harris mengangguk tipis, lalu memanggul kembali lonceng perunggu raksasa dan berjalan menuju aula belakang.Di ruang belakang, suasana sunyi menekan. Wajah Reynard tegang saat ia menatap Darius. "Tuan muda… bukankah Anda mengatakan mereka akan membuatnya terluka parah?"Nada suaranya penuh kegelisahan. Dari awal hingga akhir, Harris menghancurkan semuanya tanpa kesulitan.Ekspresi Darius menggelap. "Dia hanya beruntung mendapatkan artefak. Tanpa itu, dia bukan apa-apa."Nada suaranya dingin, sarat niat membunuh. "Begi

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 210

    Di aula, kesepuluh kultivator tidak memberi waktu. Niat membunuh mereka melonjak, memenuhi ruangan hingga terasa menyesakkan."Bunuh dia!"Dalam sekejap, mereka bergerak.Pedang melesat dari sepuluh arah, cepat dan presisi, menutup seluruh ruang di sekitar Harris tanpa celah. Setiap lintasan mengarah ke leher, dada, perut, semua ditujukan untuk mengakhiri hidup dalam satu serangan.Dalam satu momen, Harris terkepung sepenuhnya. Namun ia tetap berdiri di tempatnya. Tubuhnya tegak, napasnya stabil, dan di sudut bibirnya tersisa senyum tipis yang tidak berubah, seolah serangan itu tidak memiliki arti.Di ruang belakang, Reynard menahan napas. Di benaknya hanya ada satu kesimpulan, semuanya sudah berakhir.Di belakangnya, Bagas bahkan hampir tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Balas dendam terasa begitu dekat hingga membuat tubuhnya gemetar.Namun saat matanya tertuju pada wajah Harris di layar, ia justru terdiam.Harris tidak menunjukkan rasa takut. Tidak ada kepanikan di wajahnya, Hany

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status