Share

Bab 6

Author: Skyy
last update publish date: 2025-09-29 20:02:07

"Sentuh aku, dan dia akan berhenti bernapas dalam sepuluh detik," ujar Harris, tatapannya terkunci pada putra Tuan Hidayat, Bima.

Ada aura tak terbantahkan dalam dirinya, sebuah ketenangan sedingin es di tengah badai emosi, yang membuat kedua pengawal berbadan tegap yang maju menjadi ragu. Langkah mereka melambat, lalu berhenti. Ancaman itu tidak diucapkan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan yang membawa bobot kematian.

Bima menatap Harris dengan amarah dan duka yang bergejolak di matanya. "Omong kosong apa yang kau bicarakan! Kau pikir kau siapa?!"

Di samping ranjang, seorang pria paruh baya berkacamata tebal dan berjas putih—dokter keluarga Hidayat—melangkah maju. "Anak muda, kondisi Tuan Besar sangat kritis. Ini bukan waktunya untuk lelucon murahan. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa."

Harris mengalihkan pandangannya pada sang dokter, dan dalam sekejap, tatapannya berubah dari dingin menjadi tajam menusuk. "Semua yang kalian bisa? Kalian bahkan tidak tahu apa yang kalian lawan."

Tanpa menunggu jawaban, Harris mulai berbicara dengan kecepatan dan presisi yang mengerikan. "Gagal jantung yang diinduksi oleh racun, menyebabkan detak jantung cepat dan tidak normal. Itu diagnosis modern kalian, bukan? Tapi kalian tidak bisa menemukan jejak racunnya karena itu bukan racun kimiawi. Ini adalah Racun Yin Dingin dari Bunga Es Abadi, merusak meridian jantung secara perlahan selama bertahun-tahun. Getaran frekuensi rendah dari mesin ventilator dan monitor ini," Harris menunjuk ke peralatan canggih itu dengan dagunya, "Justru mempercepat penyebaran racun di sepanjang sirkulasi Qi-nya yang sudah lemah. Kalian tidak menopang hidupnya, kalian mencekiknya secara perlahan."

Keheningan total menyelimuti paviliun. Setiap kata yang diucapkan Harris—baik modern maupun kuno—menghantam mereka. Wajah dokter keluarga itu berubah dari skeptis menjadi pucat pasi. Informasi tentang 'Racun Yin Dingin' dan 'meridian' adalah omong kosong baginya, tetapi diagnosis gejala yang begitu spesifik dan penjelasan tentang dampak getaran mesin itu adalah hipotesis mengerikan yang tidak pernah berani ia pertimbangkan.

Keputusasaan di wajah Bima kini berperang dengan secercah harapan yang mustahil. Pria ini tahu terlalu banyak. Dia tahu hal-hal yang rahasia. Di titik ini, logika dan akal sehat tidak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah kesempatan terakhir, sekecil apa pun itu.

Dia melangkah maju, menatap Harris dengan mata merahnya. "Aku tidak peduli siapa kau atau bagaimana kau tahu semua ini," geramnya, suaranya serak karena emosi. "Aku akan memberimu kesempatan."

Dia mengangkat tangannya, menunjukkan lima jari yang gemetar. "Lima menit!" bentaknya, suaranya pecah. "Aku memberimu lima menit untuk membuktikan omong kosongmu! Jika dalam lima menit ayahku tidak membaik, aku bersumpah dengan nyawaku sendiri, kau tidak akan pernah melihat matahari terbit!"

Harris hanya mengangguk sekali, seolah ultimatum hidup dan mati itu hanyalah formalitas sepele. Dia berjalan ke sisi ranjang, membuka kotak kayu cendana itu dengan gerakan yang tenang dan penuh hormat. Sembilan Jarum Naga Langit terbaring di atas sutra merah, memantulkan cahaya lampu dengan kilau perak yang lembut dan hidup.

"Matikan mesinnya," perintahnya tanpa menoleh.

Setelah ragu sejenak, Bima memberi isyarat kepada sang dokter. Dengan tangan gemetar, dokter itu mematikan satu per satu mesin pendukung kehidupan. Suara yang monoton berhenti, digantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga. Kini, satu-satunya suara adalah napas Tuan Hidayat yang nyaris tak terdengar.

Tangan Harris bergerak.

Gerakannya begitu cepat dan lancar hingga menjadi kabur. Sembilan Jarum Naga Langit menari di antara jemarinya, menjadi sembilan berkas cahaya perak yang melesat ke tubuh Tuan Hidayat. Tusukannya tidak seperti akupunktur biasa. Jarum-jarum itu menembus titik-titik yang mustahil. Di antara tulang rusuk, di ujung jari kaki, bahkan satu jarum bergetar lembut tepat di atas kelopak matanya yang tertutup.

Kemudian, hal yang paling menakjubkan terjadi. Harris meletakkan telapak tangannya beberapa senti di atas dada Tuan Hidayat. Aliran energi hangat keemasan yang samar namun terlihat jelas mengalir dari telapak tangannya, menyebar melalui jarum-jarum perak itu, dan masuk ke dalam tubuh sang kakek tua. Seluruh paviliun seakan menjadi lebih hangat.

Waktu seolah merangkak.

Tiga menit berlalu. Tidak ada perubahan. Wajah Bima menegang, kepalan tangannya memutih.

Empat menit. Napas Tuan Hidayat tampak semakin lemah. Penyesalan dan amarah mulai membakar mata Bima.

Tepat saat menit kelima hampir berakhir, keajaiban itu terjadi.

Bip... Bip... Bip...

Monitor detak jantung yang tadinya hanya menampilkan garis putus-putus yang lemah dan kacau, tiba-tiba berbunyi dengan ritme yang stabil dan kuat. Bukan ritme panik yang dipaksakan oleh mesin, tetapi detak jantung yang tenang dan penuh kekuatan.

Grrrrkkkk~

Sebuah erangan pelan keluar dari bibir Tuan Hidayat yang pucat. Tubuhnya yang lunglai sedikit bergerak. Perlahan, dengan susah payah, kelopak matanya yang keriput bergetar dan terbuka, menampakkan sepasang mata yang keruh namun sadar.

Keheningan total yang menyelimuti ruangan kini terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara ritmis dari mesin. Bima membeku di tempat, mulutnya sedikit terbuka, air mata mulai mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Keluarga yang lain menutup mulut mereka dengan tangan, terisak dalam diam.

"Ini... ini mustahil..." bisik dokter keluarga itu, kacamatanya melorot di hidungnya. "Secara medis... ini tidak mungkin."

Tepat pada saat momen puncak yang sureal itu, sebuah suara wanita yang tenang dan anggun memecah keheningan dari arah pintu.

"Maaf mengganggu."

Semua orang menoleh ke sumber suara. Queen Hendrawan berdiri di sana, anggun dalam balutan gaun malamnya, seolah memiliki tempat itu. Dia melangkah masuk dengan ketenangan seorang ratu yang mengunjungi wilayah kekuasaannya, matanya yang tajam melirik sekilas pada Tuan Hidayat yang sudah siuman, sebelum akhirnya berhenti pada Harris.

Dia tersenyum tipis. "Saya datang untuk menjemput tunangan saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 348

    Kirana berkedip pelan. Dia segera memahami maksud di balik ucapan Harris dan karena memang sudah memperkirakan respons itu, ia hanya tersenyum sebelum berkata, "Harris, kau pasti tahu apa yang dikerjakan Keluarga Kasarius, bukan?"Ekspresi Harris tetap datar. "Mereka adalah keluarga pembuat senjata.""Benar." Kirana mengangguk. "Keluarga Kasarius dikenal sebagai keluarga pandai besi nomor satu. Teknik penempaan mereka merupakan warisan rahasia yang tidak pernah diwariskan kepada orang luar. Setiap senjata yang mereka hasilkan memiliki nilai yang sangat tinggi."Harris mengangguk kecil. "Aku tahu sebagian besar senjata yang beredar di dunia kultivasi berasal dari tangan Keluarga Kasarius. Meski berbasis di dunia sekuler, mereka menguasai sumber daya dari kedua dunia sehingga menjadi salah satu kekuatan raksasa.""Selain beberapa keluarga puncak, hampir tidak ada pihak yang berani memusuhi mereka."Kirana sempat tertegun mendengar penjelasan itu. Bahkan dirinya sendiri tidak mengetahui

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 347

    Melihat senyum pahit Harris, Kirana tampaknya menangkap sesuatu, meski pemahamannya jelas melenceng. Dia pun memilih tidak membahasnya lagi dan segera mengalihkan topik pembicaraan. "Harris, sebenarnya selain mengajak kalian makan siang, ada satu hal penting yang ingin kubicarakan."Harris memutuskan mengabaikan apa pun yang sedang dipikirkan Kirana dan langsung bertanya, "Apa itu?"Ekspresi Kirana berubah serius. "Aku ingin meminta bantuanmu untuk melindungi seorang temanku.""Siapa?""Aurora."Nama itu membuat Harris sedikit mengernyit. Dia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang orang tersebut.Sebaliknya, Sera langsung membelalakkan mata karena terkejut. "Apa? Aurora?"Harris menoleh ke arahnya. "Kau mengenalnya?"Sera langsung menatap Harris seolah sedang melihat makhluk aneh. "Harris, jangan bilang kau benar-benar tidak kenal Aurora? Dia penyanyi yang sangat terkenal. Selain cantik, suaranya juga luar biasa. Penggemarnya mencapai puluhan juta orang!"Tiba-tiba dia seperti ter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 346

    Harris mengambil sedikit salep lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arah Nadira. Saat jemarinya semakin mendekat, tubuh Nadira tanpa sadar bergetar pelan. Rona merah yang telah menghiasi wajahnya semakin menyebar hingga ke leher, membuat seluruh tubuhnya tampak memerah karena rasa malu.Meski sudah mempersiapkan diri, membayangkan Harris akan menyentuh tubuhnya tetap membuat jantung Nadira berdebar tak karuan. Bagaimanapun juga, Harris adalah pria pertama yang melihat tubuhnya dalam keadaan seperti ini.Untungnya, dia masih memejamkan mata sehingga tidak perlu bertatapan langsung dengan Harris. Namun, Nadira sendiri tidak yakin apakah dia masih mampu tetap tenang saat tangan pria itu benar-benar menyentuh kulitnya.Memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuat pikirannya kacau balau. Wajahnya terasa semakin panas, sementara suasana di dalam kamar tanpa sadar berubah menjadi canggung dan dipenuhi ketegangan yang sulit dijelaskan.Tepat ketika tangan Harris hampir menyentuh tubuh Nadi

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 345

    Harris mengabaikan ancaman itu. Dia berjalan ke sisi ranjang, mengangkat perlahan lengan Nadira yang patah, lalu berkata dengan suara pelan, "Ini mungkin akan sedikit sakit, jadi tahan sebentar."Nadira mengangguk pelan. Wajahnya memang pucat, tetapi sorot matanya tetap tenang.Harris menarik napas dalam, lalu ekspresinya seketika menjadi serius. Tangannya bergerak sangat cepat hingga meninggalkan bayangan.Krek! Krek! Krek!Serangkaian bunyi pergeseran tulang langsung terdengar. Dalam sekejap, tulang-tulang yang patah kembali ke posisi semula.Setelah itu, Harris mengambil kain yang telah disiapkannya, membalut lengan Nadira dengan perban, lalu melilitkannya beberapa kali hingga terpasang dengan rapi.Proses itu berlangsung sangat cepat.Nadira bahkan belum sempat merasakan sakit ketika lengannya sudah selesai dibalut, sedangkan Kayla yang berdiri di samping hanya bisa membelalakkan mata karena terkejut. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.‘Cepat sekali…’Namun, Harris tidak memperdu

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 344

    Sosoknya yang menjulang lebih dari dua meter tampak sangat canggung saat kabur dalam keadaan panik. Pemandangan itu membentuk kontras yang begitu besar dengan penampilannya yang arogan dan mendominasi ketika baru tiba di Universitas Arcapura.Namun, Ariel sudah tidak peduli lagi. Hatinya dipenuhi kepahitan dan rasa tidak rela. Meskipun demikian, dia sama sekali tidak berani memendam niat balas dendam terhadap Harris. Karena dia tahu dengan sangat jelas, dia bukan tandingan pria itu.Kali ini dia masih bisa bertahan hidup karena Harris memilih untuk mengampuninya. Jika ada kesempatan kedua, dia belum tentu seberuntung sekarang.Tak lama kemudian, bayangan Keluarga Viresta dari Kota Adhirajasa muncul di benaknya.Tatapan Ariel langsung berubah dingin. Kilatan niat membunuh yang pekat melintas di kedua matanya. “Brengsek!”Seandainya bukan karena permintaan Keluarga Viresta, bagaimana mungkin dia berakhir dalam kondisi seperti ini?Bukan hanya terluka parah, nyawanya bahkan hampir melaya

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 343

    Pada saat yang sama, Harris hanya melirik sekilas ke arah punggung Vina yang menjauh sebelum mengabaikannya sepenuhnya. Perhatiannya segera kembali tertuju pada Ariel. Dia melangkah perlahan menuju pria itu."A-Apa yang ingin kau lakukan?" Ariel yang terbaring di tanah tanpa sadar bergeser mundur.Padahal luka Harris jauh lebih parah dibandingkan dirinya, tetapi entah mengapa, saat melihat pria itu mendekat, rasa takut yang tak terkendali justru memenuhi hatinya. Seolah-olah yang sedang berjalan ke arahnya bukan seorang manusia, melainkan iblis yang perlahan mendekat untuk mencabut nyawanya.Bahkan suaranya sampai bergetar. Kesombongan dan keangkuhan yang sebelumnya dia miliki sudah lenyap tanpa bekas.Namun, Harris sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Dia berhenti di hadapan Ariel, menatapnya tanpa emosi, lalu berkata dengan nada datar. "Keluarga Viresta dari Kota Adhirajasa yang memintamu datang untuk membunuhku?""I-Itu benar..." Ariel menelan ludah dengan susah payah sebelum

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 1

    Aroma parfum mahal dan anggur terbaik berbaur di udara, menjadi musik latar bagi denting gelas kristal dan tawa renyah para elite kota. Di dalam aula utama Hotel Movi yang bermandikan cahaya keemasan, setiap sudut adalah panggung kekuasaan. Karpetnya begitu tebal hingga mampu meredam suara langkah,

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 5

    "Kau sudah punya alatnya. Sekarang apa?" tanya Queen saat mereka berada di dalam Bentley, melaju tanpa suara melewati jalanan lengang di kawasan elite. Di dalam mobil, aroma kulit mahal berbaur dengan aroma samar kayu cendana dari kotak yang tergeletak di pangkuan Harris. "Kau tidak bisa langsung m

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 4

    Queen mengangkat sebelah alisnya yang terpahat sempurna, sebuah gestur kecil yang memancarkan keraguan sedingin es. "Kau?" ejeknya, nada suaranya tajam menusuk. "Seorang pria yang beberapa jam lalu sekarat di selokan, akan menyembuhkan penyakit yang bahkan ditolak oleh tim dokter kepresidenan?"Sar

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 3

    Mendengar suara itu, Harris tidak tersentak. Dia hanya menoleh perlahan, matanya yang kini jernih dan tajam bertemu dengan tatapan dingin wanita itu. Di masa lalu, komentar sarkastis seperti itu akan membuatnya menunduk malu. Kini, dia hanya merasakan ketenangan yang aneh.Pengetahuan yang membanji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status