LOGIN
Wajah Collin berkedut beberapa kali. Puncak tahap akhir tingkat penyeberangan petaka. Kekuatan Emerson jelas telah mencapai puncak tahap akhir tingkat penyeberangan petaka.Sebagai seorang Pelindung Dunia, Collin hanya pernah merasakan aura setingkat ini dari pemimpin tertinggi organisasi Penjaga Ketertiban, yaitu "Utusan Kehendak". Bahkan, aura Emerson terasa lebih berbahaya dan lebih tajam dibandingkan Utusan Kehendak.Sampai-sampai Collin meragukan, kalau Utusan Kehendak benar-benar turun tangan, belum tentu dia bisa mengalahkan Emerson. Sama-sama berada di puncak tahap akhir tingkat penyeberangan petaka, kekuatan setiap orang tetap bisa berbeda jauh.Dalam legenda, Emerson dikabarkan telah menembus belenggu kehendak alam dan meninggalkan dunia ini. Kini tampaknya, kabar itu tidak benar. Emerson masih berada di dunia bumi ini. Meskipun dia juga belum menapaki Jalan Langit, kekuatannya jelas tidak perlu diragukan lagi.Collin menarik napas dalam-dalam. Dia menahan rasa malu dan ketid
Bam!Pada saat ini, Aidil yang tadi ditampar terbang akhirnya menghantam tanah dengan keras. Pesilat puncak tahap akhir tingkat pencapaian agung itu terlihat sudah tak sadarkan diri, bahkan darah mengalir deras dari hidung dan mulutnya. Untungnya, pendekar pedang berjubah putih itu masih menahan diri. Kalau tidak, Aidil pasti sudah tewas seketika akibat tamparan tadi.Sesaat kemudian, Collin menarik napas dalam-dalam lalu segera turun ke tanah. Sepasang matanya menatap tajam pria berjubah putih yang membawa pedang di punggungnya. Bahkan dengan kekuatannya yang sudah mencapai tingkat penyeberangan petaka tahap awal, dia tetap merasakan bahwa orang di hadapannya ini sulit dipahami dan tak terukur.Collin bertanya dengan suara berat, "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menyerang Pak Aidil dari organisasi Penjaga Ketertiban kami?"Berbeda jauh dari sikapnya yang arogan dan menekan saat menghadapi Afkar sebelumnya, kini sikap Collin jelas jauh lebih berhati-hati, bahkan mengandung unsur sop
Sikap Collin seperti ini membuat hati Afkar dipenuhi rasa tidak adil. Bahkan, setelah mendengar bahwa para eksekutor telah dibunuh, orang itu sama sekali tidak menanyakan alasannya dan langsung menyatakan bahwa Afkar memang pantas mati.Padahal Afkar sempat berpikir, kedatangan seorang petinggi lain dari organisasi Penjaga Ketertiban setidaknya akan membawa penanganan yang lebih adil. Paling tidak, dia akan menanyakan dulu sebab musababnya. Kalaupun pada akhirnya dia tetap harus dihukum mati, Afkar masih bisa menerimanya tanpa banyak bicara.Namun jelas, Collin sama sekali tidak berniat menelusuri apa yang sebenarnya terjadi. Sikapnya sudah sangat jelas. Selama seseorang membunuh anggota organisasi Penjaga Ketertiban, orang itu wajib mati.Lucu sekali. Mungkin di dunia ini, organisasi Penjaga Ketertiban sudah terlalu lama memegang hak hidup dan mati atas orang lain. Cara bertindak mereka sungguh sewenang-wenang dan arogan.Mendengar pertanyaan itu, Collin tersenyum mengejek. Dia lalu m
Namun, tepat ketika Aidil mengira sudah tidak ada lagi kekuatan yang bisa menghentikannya membunuh Afkar, suara ringan tetapi tegas seseorang tiba-tiba menggema di langit. "Berhenti!"Swish!Hampir bersamaan dengan suara itu, muncul sesosok pria tua berjubah tradisional dan berambut abu-abu. Di punggungnya, tergantung sebilah pedang panjang berwarna hitam pekat. Sebuah tekanan tak terlihat langsung terbentuk dan memaksa Aidil yang hendak menukik turun untuk mundur kembali.Begitu melihat sosok ini, raut wajah Aidil langsung berubah. Di momen ini, ekspresinya sangat muram dan alisnya berkerut rapat. Dia bertanya, "Pak Collin, kenapa kamu datang ke sini?""Pak Collin?""Itu benaran Pak Collin?""Calvina benar-benar berhasil memanggil Pak Collin!""Syukurlah! Pak Collin akhirnya tiba tepat waktu!"Begitu melihat pria tua berambut abu-abu itu dan mendengar panggilan Aidil, Aurel dan Rose langsung menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus gembira. Itu adalah Collin, salah satu dari 18 Pelindu
Bam!Di udara, serangan Aidil bertabrakan langsung dengan rudal. Seketika, ledakan dahsyat mekar menjadi bola api besar di langit.Wuuush! Wuuush!Hanya saja belum sempat semua orang bernapas lega, helikopter tempur yang ditumpangi Daru kembali meluncurkan dua rudal lagi. Kali ini, Aidil justru berdiri tegak di udara. Dia sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah membiarkan kedua rudal itu menghantam tubuhnya secara langsung.Bam! Bam!Ledakan beruntun mengguncang langit. Sosok Aidil seketika tertelan oleh kobaran api dan gelombang ledakan yang mengamuk di udara. Pemandangan ini membuat banyak orang tertegun tak percaya."Apa dia sudah mati?""Dia benaran terbunuh?""Itu rudal lho!"Aurel, Rose, dan seluruh anggota Sekte Surya Rembulan, termasuk Daru dan orang-orangnya, semuanya menatap dengan sorot mata penuh harapan.Namun di dalam kawah, Afkar yang sudah terluka parah dengan susah payah bangkit dari tanah, lalu perlahan menggelengkan kepalanya. Dia tahu betul, kalau itu dirinya
Saat mengatakan hal itu, sebenarnya hati Aurel sangat gugup dan tidak yakin sama sekali. Begitu juga dengan Rose. Mereka hanya tahu bahwa Calvina telah meminta seorang senior dari Pulau Abadi Balasa untuk menghubungi Collin yang merupakan salah satu Pelindung Dunia.Hanya saja apakah sudah berhasil dihubungi dan bagaimana hasilnya, mereka sama sekali tidak tahu. Apakah Collin yang memiliki jabatan tinggi bersedia turun tangan dan ikut campur dalam urusan ini atau tidak, semua itu masih tanda tanya besar.Akan tetapi, situasinya sekarang sudah sangat genting. Aidil bisa membunuh Afkar kapan saja. Dalam kondisi seperti ini, kedua wanita itu tidak punya pilihan lain selain "meminjam nama besar" Pelindung Dunia dan berharap gelar itu cukup untuk menekan Aidil.Setelah kata-kata itu terucap, ekspresi Aidil berubah muram dan sorot matanya berkilat beberapa kali. Dia bertanya, "Ini benar-benar maksud dari Pak Collin?""Benar. Pak Collin menyuruh kami datang lebih dulu, justru untuk mencegah k







