LOGINSatu hari Panji Sanjaya terbaring di tengah pondok, dan barulah ia membuka matanya.Hal pertama yang Panji rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Hawa dingin karena angin dari luar berhembus, dan membelai kulit Panji yang tak memiliki penutup apapun.Panji membuka mata, dan ia kaget saat tahu ia masih tak gunakan pakaian apapun."Sialan, dia meninggalkan aku dengan kondisi telanjang!" ucap Panji dan buru-buru gunakan pakaiannya yang tergeletak di samping tubuhnya.Dan barulah Panji menatap ke luar pondok, menatap ke kegelapan malam yang sangat pekat."Berapa lama aku tidur?" tanya Panji Sanjaya.Tapi, sudah pasti Panji tidak akan tahu apa jawaban untuk pertanyaan itu. Karena hanya dia seorang yang ada di pondok di tengah hutan itu."Tubuhku!" ucapnya.Panji memeriksa seluruh tubuhnya namun ia tak merasakan akan adanya yang beda dari tubuhnya. Sedikitpun tidak ada.Panji juga mencoba keluarkan tenaga dalam, namun itu pun tak ada yang berubah. Sedikitpun Panji tak merasakan
Asap putih yang membentuk satu tubuh itu berdiri di hadapan Panji Sanjaya. Tubuhnya tinggi semampai, cantik dan menggoda bagi mata yang tak mampu menahan nafsu dunia.Namun tidak bagi Panji Sanjaya, dia mengenal sosok itu, meskipun sudah lama, namun wajah perempuan yang ada di hadapannya tetap tersimpan di kepala Panji Sanjaya."Kau ingat aku, Panji?" kata sosok perempuan itu."Dewi Sukowasih? Benar, bukan?" kata Panji."Hihihi, kau masih ingat diriku, sungguh beruntung!" kata perempuan itu.Dia berjalan, dan menuju ke arah danau yang ada di samping pondok ki Ageng. Dan Panji ikuti dia dari belakang.Tanpa terasa mereka berdua berjalan di atas air danau, dan berhenti tepat di tengah danau luas itu."Kemampuan yang kau miliki sangat jauh berkembang, Panji. Kau diluar ekspektasi yang aku harapkan!" kata Dewi Sukowasih."Aku berlatih semua tenaga, Dewi!" kata Panji."Aku merasakan itu, dan kau sungguh sosok yang jauh berbeda!" kata Dewi Sukowasih.Perempuan itu bersila di atas air danau,
"Aku akan antar dan menjaga keselamatanmu tuan Panji!" kata naga Paruka pada Panji."Baik, aku setuju!" kata Panji Sanjaya.Panji dekati nyai Rindani."Ayo nyai!" ajak Panji Sanjaya.Naga Paruka keluar dari istana naga putih, dan setelah itu ia menutup matanya.Cahaya putih keperakan menyelubungi seluruh tubuh naga Paruka, dan cahaya itu terus menutupi tubuh salah satu Panglima bangsa naga putih itu.Roaaarrrr!!Dan tiba-tiba saja, suara raungan yang sangat keras terdengar dari dalam cahaya itu.Saat cahaya putih keperakan itu sudah hilang, yang kini ada di hadapan Panji adalah seekor naga yang sangat besar, dan memiliki mata yang merah."Mari aku antarkan tuan Panji hingga ke ke tepian pantai!" kata naga Paruka yang kini dalam wujud aslinya. Wujud seekor naga."Apa yang harus aku lakukan?" tanya Panji."Naik ke atas kepalaku, tuan Panji!" kata naga Paruka."Baik!" kata Panji.Panji angkat tubuh nyai Rindani, dan setelah itu Panji juga naik ke kepala naga raksasa itu."Kami pergi nag
Satu tubuh dengan pakaian putih melesat diantara pepohonan, hingga akhirnya pemilik tubuh itu sampai di kaki gunung naga hitam, dia baru saja turun dari puncak gunung itu."Maafkan aku, Panji. Aku terpaksa membawamu sendirian!""Naga Paruka, harusnya kau juga bawa guruku!" kata Panji."Aku bukan tak mau Panji, hanya saja itu malah akan membunuh gurumu!"Panji ingat akan ucapan gurunya, yang mengatakan kalau jiwa dan tubuhnya sudah diikat oleh bangsa naga hitam."Apa maksudmu itu?" tanya Panji menanyakan tentang nasib yang menimpa gurunya."Ki Ageng kini tak ubahnya seperti budak bagi raja naga Pertiga!" kata naga Paruka."Aku tidak akan akan biarkan hal seperti itu terjadi pada guruku!""Pikirkan apa yang bisa kau lakukan Panji? Kau bukan lawan bagi naga Pertiga, dia bangsa naga terkuat. Bahkan raja naga putih bukan lawan baginya!" kata naga Puraka."Guru!" teriak Panji dengan suara yang sangat keras.Bukkk!!Dia jatuhkan tubuhnya, dan menatap ke arah puncak gunung naga hitam. Menatap
Bammmmmmm!!Raja naga Surak menusuk ujung tombak mata tiga miliknya ke tanah, dan tanah terbelah dua, dan itu mengarah pada Panji Sanjaya."Guru, menjauh!" teriak Panji.Huppppp!!Panji berteriak keras sekalian melompat dengan sangat tinggi, melompat menjauh dari retakan tanah itu.Blarrrr!!Cahaya merah meledak tepat di pijakan kaki Panji, dan jika Panji tidak menjauh dari sana, bukan tak mungkin ledakan itu akan melukai Panji Sanjaya."Pukulan petir biru!"Haaaaaaaaaaa!!Dari telapak tangan Panji, melesat satu cahaya, dan itu menyerang ke arah raja naga Surak.Raja naga Surak memegang tombaknya, dan memutari tombaknya, untuk hindari serangan Panji Sanjaya.Trakkkkkk!!Dan setelah itu, Raja naga Surak mencabut tombak mata tiga miliknya, dan melesat menusuk tubuh Panji Sanjaya.Tusukan Raja naga Surak sangat kuat dan penuh dengan aura yang kuat, namun sedikitpun itu tak mengganggu pergerakan Panji Sanjaya.Tukkkkkk!!Panji mentotol jari telunjuk ke ujung salah satu mata tajam rombak
Sesuai dengan semua petunjuk dari naga Surika, Panji melesat menuju ke selatan, dan setelah itu, lanjut Panji melompat dan kini sudah ada di belakang istana kerajaan siluman naga hitam."Ini dia!" kata Panji.Huppppp!!!Dengan satu kali lompatan saja, Panji sudah berhasil melewati pagar tinggi yang menutupi bagian belakang istana kerajaan naga hitam.Selanjutnya, sesuai dengan petunjuk dari naga Surika, Panji melesat ke arah barat, dan empat kamar dari kamar pertama, disanalah keberadaan ruangan Ki Ageng dengan putri Andini."Tidak!" kata Panji karena melihat ada belasan penjaga di depan pintu ruangan itu. Jelas itu sesuatu yang harus Panji hindari."Untuk saat ini tidak mungkin! Memang hanya pertarungan yang bisa aku lakukan!" kata Panji Sanjaya.Yang Panji lihat itu tak lain adalah, panglima naga Garpa bersama prajurit naga. Jumlah mereka tak terlalu banyak, namun Panji merasakan kalau panglima Garpa akan menyulitkan dirinya."Langkah petir!"Whusssssssss!!Panji melesat layaknya pe







