LOGINSemenjak kecil, Selene Ardelia selalu dianggap pembawa sial. Ibunya meninggal saat melahirkannya, ayahnya menghilang tanpa jejak, dan setiap orang yang dekat dengannya selalu berakhir dalam tragedi. Selene memilih mengabaikan semua itu sebagai kebetulan, hingga suatu malam ia menyaksikan pembunuhan mengerikan yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh manusia. Pelakunya adalah Eric Draven. Pria tampan, dingin, dan misterius yang ternyata merupakan Raja Malam terakhir—penguasa bangsa vampir yang telah hidup lebih dari seribu tahun. Demi menjaga rahasia dunia supernatural, Eric seharusnya membunuh Selene malam itu. Namun, ketika mencium aroma darah gadis itu, sesuatu yang mustahil terjadi. Kutukan yang selama berabad-abad menggerogoti tubuhnya mendadak melemah. Selene bukan manusia biasa. Darahnya adalah Blood Moon, garis keturunan kuno yang telah lama dianggap punah. Darah itu mampu menyelamatkan Raja Malam atau justru menjadi satu-satunya senjata yang dapat mengakhiri hidupnya. Ketika para vampir, manusia serigala, dan penyihir mulai memburu Selene demi kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya, Eric hanya memiliki satu cara untuk melindunginya. Menjadikan Selene sebagai pengantin Raja Malam. Namun pernikahan itu bukanlah akhir, melainkan awal dari rahasia yang jauh lebih kelam. Sebab setiap seribu tahun sekali, Raja Malam memang ditakdirkan memiliki seorang pengantin dan tidak satu pun dari mereka pernah berhasil hidup hingga akhir. Akankah Selene menjadi perempuan pertama yang mampu mematahkan kutukan itu atau justru menjadi korban berikutnya dari takdir yang telah ditulis oleh darah?
View MoreMalam itu, hujan turun tanpa belas kasihan. Butiran air menghantam aspal dengan suara berirama, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti jalanan kota Ravenhill. Lampu-lampu jalan tampak redup di balik tirai hujan, sementara angin dingin bertiup membawa aroma tanah basah yang menusuk hidung.
Selene Ardelia menarik ranselnya lebih erat ke dada.
"Kenapa juga aku harus lembur di perpustakaan sampai malam begini..." gumamnya pelan.
Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 23.47. Layar itu berkedip lemah sebelum akhirnya mati.
"Ayolah, jangan sekarang..."
Ia menekan tombol daya beberapa kali. Tetap tidak menyala.
"Habis baterai."
Selene mengembuskan napas panjang. Sempurna. Taksi daring tak bisa dipesan. Bus terakhir sudah lewat hampir satu jam lalu. Pilihannya hanya satu yaitu berjalan kaki. Untung apartemen kontrakannya tidak terlalu jauh dari kampus. Jika melewati jalan utama, ia membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, tapi ada jalan pintas. Jalan kecil yang membelah Hutan Blackwood.
Sebagian mahasiswa menghindari tempat itu setelah matahari terbenam. Konon, sudah banyak orang yang menghilang di sana. Ada pula yang mengaku melihat sosok-sosok aneh berkeliaran ketika bulan purnama muncul. Selene selalu menganggap cerita itu omong kosong.
"Kalau benar ada hantu, mungkin mereka juga lagi berteduh kehujanan."
Ia terkekeh kecil pada leluconnya sendiri. Payung hitam dibukanya. Lalu ia mulai melangkah menuju jalan setapak yang gelap.
Hutan Blackwood selalu terasa berbeda saat malam. Pepohonan pinus menjulang tinggi seperti dinding hitam yang menelan cahaya. Suara jangkrik yang biasanya riuh justru menghilang. Suasananya terlalu sunyi. Hanya suara hujan dan langkah sepatu Selene yang terdengar.
Ctak.
Ctak.
Ctak.
Entah mengapa bulu kuduknya mulai meremang. Ia mempercepat langkahnya. Beberapa menit berlalu, kemudian...
Bruuk!
Suara benturan keras menggema dari balik pepohonan. Selene berhenti, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Mungkin ranting jatuh..." gumamnya.
Ia mencoba menenangkan diri, namun belum sempat melangkah lagi...
"Tolong..."
Terdengar suara yang sangat lirih.
"...ampuni aku..."
Selene membeku. Itu suara manusia. Ia menoleh ke arah datangnya suara. Sekitar lima puluh meter dari jalan setapak, tampak cahaya redup menerobos sela pepohonan.
Siapa yang berada di sana tengah malam begini?
Naluri logisnya berkata agar segera pergi, namun hati kecilnya tidak tega mengabaikan seseorang yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan. Selene menggigit bibir bawah.
"Tidak apa-apa Selene, coba lihat sebentar saja mana tau ada seseorang yang memang perlu pertolongamu," ucapnya pelan mencoba memberanikan dirinya.
Ia mematikan senter kecil di ponselnya yang sudah mati agar tidak menarik perhatian, lalu berjalan perlahan di antara semak-semak. Semakin dekat, suara itu semakin jelas.
"Jangan... tolomg ampuni saya, saya tidak akan mengulanginya lagi."
Selene berjongkok di balik batang pohon besar. Pandangannya menembus celah dedaunan. Lalu, napasnya langsung tercekat. Seorang pria berlutut di tanah. Tubuhnya penuh luka dengan wajah yang pucat.
Di hadapannya berdiri seorang pria lain yang mengenakan mantel hitam panjang. Posturnya tinggi, sekitar seratus sembilan puluh sentimeter. Rambut hitamnya basah terkena hujan, tetapi tidak tampak berantakan. Ia berdiri sangat tenang. Seolah hujan, darah, dan jeritan di hadapannya sama sekali tidak berarti.
"Yang Mulia..."
Pria yang berlutut itu menangis.
"Ampuni saya..."
Selene mengernyit.
Yang Mulia?
Apa ini semacam permainan peran?
Pria bermantel hitam itu akhirnya berbicara. Suaranya terdengar rendah dan tenang, namun dingin hingga membuat udara di sekitar terasa membeku.
"Aku sudah memberimu kesempatan."
Pria yang terluka menggeleng panik.
"Saya dipaksa!"
"Bohong."
"Saya bersumpah—"
"Kau menjual informasi kerajaanku."
Selene mengerutkan dahi.
Kerajaan?
Apa mereka sedang syuting film?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, pria bermantel hitam mengangkat tangan kanannya. Tidak ada senjata, tidak ada gerakan mencolo, tapi tubuh pria yang berlutut itu tiba-tiba terangkat beberapa senti dari tanah, seolah dicekik oleh tangan tak kasatmata.
"Akh...!"
Matanya membelalak. Kakinya menendang-nendang udara. Selene refleks menutup mulutnya sendiri.
"Apa...?"
Mustahil. Ini pasti trik. Harusnya ada tali atau alat untuk mengangkat tubuh pria itu. Pasti ada kamera dan kru film yang tak terlihat. Sebelum pikirannya selesai, pria bermantel hitam melangkah maju lalu memiringkan kepalanya. Dalam cahaya bulan yang sesekali muncul di balik awan, Selene melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Dua taring panjang perlahan muncul dari balik bibir pria itu. Itu bukan gigi palsu ataupun efek cahaya. Taring itu benar-benar tumbuh. Mata pria itu berubah dari hitam menjadi merah menyala.
"Tidak..."
Selene berbisik tanpa sadar. Ia menggeleng tidak percaya.
"Ini pasti mimpi. Tidak.. tidak mungkin ada manusia seperti itu di muka bumi ini," ucap Selene masih dengan suara bersisik.
Pria bermantel hitam menatap korbannya tanpa belas kasihan.
"Kau telah mengkhianati sumpah darah."
Lalu, ia menundukkan kepala dan menggigit leher pria itu. Jeritan menggema memecah malam.
"Aaaaaaahhh!!"
Selene memejamkan mata. Tubuhnya gemetar hebat. Suara itu...Suara seseorang yang sedang benar-benar sekarat dan beberapa detik kemudian suasana kembali hening.
Ketika ia membuka mata kembali, pria yang tadi memohon ampun sudah terkulai tak bergerak. Kulitnya berubah pucat seperti kertas dengan mata yang kosong. Sementara pria bermantel hitam berdiri tegak. Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia mengusapnya perlahan dengan ibu jari. Ekspresinya tetap datar. Seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin.
Selene merasakan isi perutnya bergejolak. Ia mundur satu langkah. Kakinya menginjak ranting kering.
Krek!
Suara kecil itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan. Jantung Selene seakan berhenti berdetak. Pria bermantel hitam itu langsung mengangkat kepala. Tatapannya beralih tepat ke arah tempat Selene bersembunyi. Mata merah itu, menatap lurus ke arahnya.
"Keluar."
Suara itu datar, namun mengandung tekanan yang membuat napas Selene tercekat.
Ia tidak bergerak. Mungkin pria itu hanya menggertak. Detik berikutnya, sosok itu menghilang begitu saja. Seolah larut bersama hujan.
"Apa—"
Belum sempat Selene menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan dingin tiba-tiba mencengkeram lehernya dari belakang. Tubuhnya terangkat dari tanah. Payungnya jatuh dan ranselnya ikut terlempar.
"Akh...!"
Selene berusaha menarik napas. Pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Mustahil...Baru sedetik yang lalu jaraknya puluhan meter. Bagaimana mungkin sekarang...Mata merah itu menatapnya tanpa sedikit pun emosi. Wajahnya begitu tampan hingga terasa tidak nyata. Kulit pucat seperti marmer, rahang tegas, alis hitam yang tajam dan mata merah yang tampak seperti bara api di tengah hujan.
"Apa yang kau lihat?"
Selene tidak mampu menjawab. Cengkeraman di lehernya semakin kuat.
"Aku... tidak..."
"Kau melihat semuanya."
Bibir pria itu bergerak pelan.
"Manusia tidak boleh mengetahui keberadaan kami."
Selene merasakan ujung jarinya mulai mati rasa. Jadi...
Dia benar-benar akan dibunuh?
Air mata menggenang di sudut matanya, bukan karena menyerah, melainkan karena tubuhnya mulai kekurangan udara. Pria itu mengangkat wajah Selene sedikit lebih tinggi. Tatapannya tiba-tiba berubah. Hidungnya bergerak pelan. Seolah sedang mengendus sesuatu.Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi dingin di wajahnya retak. Mata merahnya membelalak.
"...Mustahil."
Suara itu nyaris tak terdengar. Ia menundukkan wajahnya mendekati leher Selene. Menghirup aroma yang keluar dari kulit gadis itu. Tatapannya berubah menjadi campuran keterkejutan... dan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.
Selene ikut membeku.
Mengapa pria itu mendadak berhenti?
Dan mengapa... sorot matanya berubah seolah baru saja menemukan sesuatu yang telah ia cari selama ratusan tahun?
Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta
Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y
Angin malam berubah semakin dingin. Selene masih terpaku di tempatnya, sementara dadanya naik turun dengan napas yang belum kembali teratur. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan beberapa menit lalu. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya kembali berdegup kencang. Seorang pria menggigit leher manusia. Mayat yang mengering dalam hitungan detik. Pria itu bermata merah seperti api, memiliki taring dan kata yang terus terngiang di kepalanya adalah Blood Moon."Aku pasti mengalami halusinasi..." ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.Namun bahkan pikirannya sendiri menolak mempercayai alasan itu. Halusinasi tidak meninggalkan bekas rasa sakit di leher. Halusinasi juga tidak membuat tanah dipenuhi bau darah yang begitu nyata hingga membuat perutnya mual. Ia menelan ludah, tangannya tanpa sadar meraba saku jaket, mencari ponselnya. Kosong, tidak ada benda apapun di sana. Ia baru ingat ponselnya terjatuh ketika pria bernama Eric itu mencekikny
Hujan masih turun. Butiran air membasahi wajah Selene yang memucat. Napasnya memburu, dadanya naik turun berusaha merebut udara yang hampir habis karena cengkeraman di lehernya.Tiba-tiba tekanan itu mengendur. Selene terbatuk keras begitu kedua kakinya kembali menyentuh tanah."Kh... khuk...!"Tangannya refleks memegang leher yang terasa perih. Pria itu mundur satu langkah. Tatapan merahnya tak lagi dipenuhi niat membunuh. Sebaliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Pria itu terlihat kebingungan atau lebih tepatnya ketidakpercayaan."Aneh..."Suara rendah itu terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Selene mengangkat kepala perlahan. Pria itu masih berdiri di depannya. Wajahnya nyaris sempurna. Kulit pucat tanpa cela. Rambut hitam yang basah oleh hujan jatuh menutupi sebagian dahinya dan yang paling mencolok tetaplah kedua matanya yang berwarna merah pekat seperti darah segar."Apa... kau..." suara Selene bergetar. "Kau vampir?" lanjutnya.Pria itu tidak langsung menjaw






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.